
"Hadi dari tadi mukanya cemberut terus, kalau di lihat-lihat Hadi banyak berubah sekarang.
Waktu dulu..." Latika berseru dalam hati, mengingat kembali waktu dulu dia dengan Hadi...
Dulu.
Latika dan Hadi bisa dibilang bukan seperti sekarang ini bercanda, bersahabat dengan akrab seperti ini.
Jauh berbeda saat mereka waktu SD, karena waktu SD Latika anak yang cengeng, sebab karena Latika anak yang cengeng makanya Hadi terus saja membuat tangis Latika, tiada hari Latika di sekolah tampa tangis, setelah itu diejeknya lagi Latika tambah nangis Latika.
Ada satu waktu Latika pernah meminju mukanya itu, karena satu sebab Latika meninjunya, Ayahnya pernah bilang "Biar orang sepuasnya mengejekmu asal jangan mengejek orang tuamu," ucapan ayah itu benar-benar Latika camkan di hati, dan karena Hadi mengejek orang tuanya, hasilnya dia merasakan kepalan jambu tangan Latika.
Ha... Karena kejadian itu orang tua mereka dipanggil ke sekolah.
Ketika ayah mereka saling bertemu di kantor kepala sekolah saling memasang muka yang sangar, dan masam. Latika kira mereka akan bertengkar, ternyata di luar dugaan orang tua mereka saling berpelukan dengan senyum yang lebar, rupanya ayah mereka itu teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Latika kira orang tuanya Hadi akan menuntut dia ternyata tidak, dan Latika kira lagi mereka akan membela anaknya sendiri, ternyata tidak, malah mereka yang kena marah.
Semenjak hari itu Latika dan ayahnya sering mengajak ayahnya Hadi ke rumah, dan begitu juga sebaliknya, karena mereka sering bertemu dan main bersama walau ujung - ujungnya berkalahi, Hadi sedikt demi sedikit berubah ia jadi tidak gangu Latika lagi, malah mereka jadi teman dekat, setelah tamat SD. Latika tidak satu sekolah lagi denga Hadi waktu SMP, tapi mereka sering bertemu, bahkan orang tua Hadi sudah mengangap Latika sebagai anak perempuannya.
Eh... Tidak disangka mereka satu sekolah lagi saat SMA.
Sekarang Hadi sudah banyak berubah
....
Teng.... Tong....
Bunyi lonceng memutuskan lamunan Latika.
"Latika, ayo ke kelas," ajak Hadi sudah meranjak dari kursinya.
"Oke." Latika bangkit dari duduknya, langkahnya mengikuti langkah Hadi menuju kelas.
Jam terakhir ini kelas 11 IPA A belajaran PAI dengan Ustadz Sarif.
Latika sampai di Kelas, ia melihat teman dekatnya duduk rapi dengan wajah yang pias, Latika mau mendekat mereka tapi keburu Ustadz Sarif datang, Latika membatalkan niatnya duduk di tempat duduknya.
"Assalamu'alaikum..." Sarif masuk mengucapkan salam pada muridnya, suara serak menyebar luas di kelas. Sarif selalu mengucapkan salam pada muridnya ketika masuk Kelas atau berjumpa di Jalan.
SMA Ayyubiyah rata-rata semua muridnya beragama Islam.
"Wa'alikumssalam..." Para murid serenatak menjawab salam dari Sarif.
"Apa kabar semua?" Sarif memulai pembicaraan setelah salam dengan bertanya kabar muridnya.
Para murid menjawab serenpak, "Baik."
"Alhamdulillah," kata Sarif bersyukur mendengar kabar muridnya baik, walau itu hanya kata-kata.
"Ustadz bagaimana kabarnya?," tanya Salasiah dengan nada suara yang lemah lmbut, tersenyum lebar malu-malu kucing. Pertanyaannya menarik perhatian teman-temannya padanya,
"Mulai sudah ini anak," guma Nana pelan, mengalihkan pandangannya dari Salasiah yang duduk di depannya.
"Modus," dengus Hadi sudah paham dengan Salasiah.
"Alhamdulillah, kurang sehat.
Uhuk... Uhuk..." Sarig sedikit terbatuk-batuk, Salasiah tak berkedip melihat Sarif, yang di tatap merasa tidak enak dengan tatapan Salasiah lebih memilih untuk memulai pelajaran, "Kita mulai pelajarannya, sambung pelajaran minggu lalu, sampai mana sudah kita belajarnya?"
"Bab 1 sudah habis pak, masuk bab 2 lagi." Latika menyahut lebih dulu, mendahului Bunga juara 1 di Kelasnya.
Bunga yang duduk di depan memasang wajaj cemberut memurunkan tangannya.
"Oh... Iya, cepatnya sudah.
Uhuk...
Kita masuk bab 2, buka bukunya halaman 25.
A. pengertian Hudud.
Dalam fikih jinayat Hudud merupakan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh allh swt...
Uhuk..."
Kelihatan Ustadz Sarif memang kurang sehat, selama ia mengajar sebentar - bentar batuk, sebentar - bentar batuk, suaranya yang serak hampir hilang tidak membuatnya terganggu dalam mengajarkan ilmu.
Sedangkan di kantor kepala sekolah, Afriadi yang masih tersenyum-senyum sendiri, sambil mengkoreksi tugas kelas 11 A.
Pas tinggal buku Latika lagi yang belum dikoreksi.
"Tinggal buku adek lagi." Afriadi mulai mengkoreksi tugas Latika.
Betapa terkejutnya dia mengoreksi tugas Latika.
"Em... Adeeeekk. Kenapa begini?" Afriadi memberi palang pada setiap jawaban Latika yang salah.
Selama mengoreksi Afriadi menghela nafas panjang, sakit lihat jawaban Latika.
Setelah selesai mengoreksi Afriadi membolak balik buku Latika.
"Hah... Apa ini?"
Afriadi membaca coretan di belakang buku Latika.
"Egh, apa ini?" Afriadi mengerutkan dahinya setelah membaca coretan di delakang buku Latika.
Dreeettt... Panggilan masuk di ponsel Afriadi. Ponselnya bergetar di atas meja. Afriadi melepas buku Latika, melihat nomor yang masuk, "Nomor tak dikenal, siapa?" Afriadi meangkat panggilan yang masuk.
"Hallo," sapa Afriadi mendapat balasan yang serupa.
Wajah Afriadi sedikit tertekan berbincang dengan orang yang menelponnya yang tak lain adalah Papa Kina. Papa Kina menelpon Afriadi minta tolong anatarkan Kina pulang, ia tidak bisa menjemput Kina karena ada halangan dan ia percaya pada Afriadi untuk mengantarkan anaknya pulang, selama ini Kina selalu dijemput dan diantar Papanya ke Sekolah atau ke tempat lainnya.
Mau tidak mau Afriadi terima permintaan Papa Kina, mengingat penyakit yang diderita Papa Kina.
Tut... Afriadi mengakhiri panggilan
Tidak terasa waktu jam pelajaran terakhir sudah habis.
Ting... Tong...
Ini dia yang di tunggu - tunggu oleh semua murid, lonceng panjang berbunyi menandakaaaannnn..
Boleh pulang
Seperti biasa Hadi menyiapkan, dan Sarif keluar dari kelas 11 IPA A, disusul murid dari belakangnya. Begitu juga dengan kelas lainnya, para guru dari Kelas disusul dengan murid di belakang mereka.
Latika ke luar dari kelas dengan senyuman yang mekar, tangan kirinya memperbaiki tali tas di pundaknya, ia mengingat kegiatan hari ini, "Em... Habis ini langsung ke rumah Salasiah. Ah... Iya, aku belum minta izin."
Latika mencoba menghidupkan ponselnya. Tapi, tidak bisa.
Ooohhh... Tidak...
"Em... Kok, tidak mau.
Ah... Batrainya habis.
Aduh... Bagaimana ini? Bagaimana memberi kabar padanya?"
Latika mulai panik, karena ponselnya tidak bisa hidup, "Ah... Iya, abang masih di sini, jadi temui izin di sini saja."
Cepat Latika berlari menuju tempat parkiran kendaraan guru.
Angin membelai lembut pipinya, langkahnya terhenti ketika sampai di sana, ia terkejut dan tidak menyangka.
Seakan waktu berjalan lambat, hanya terdengar detak jantungnya yang memompa darah ke otak dengan cepat dan suara nafasnya yang tak beraturan.
Latika melihat Afriadi di dalam mobil bersama anak baru itu di sebelahnya.
Murid baru itu tertawa bahagia, begitu juga Afriadi.
"Apa abang akan mengantar murid baru itu pulang?.
Sejak kapan abang akrab dengan dia?," batin Latika bertanya-tanya, dadanya sesak dan terasa di tusuk-tusuk.
Waktu berjalan kembali setelah Mobil Afriadi pergi, Latika tidak sempat minta izin padanya.
Tidak lama Afriadi pergi, Salasiah datang menghampiri Latika, "Latika, dari mana saja kau, aku mencarimu dari tadi untung ada yang lihat kau lari ke sini."
Latika tidak mendengarkan perkataan Nana, merasa kesal tidak dihiraukan Nana menepuk bahu Latika memutuskan lamunannya, "Hoy! Hari ini jadikan?"
"Mestilah." Latika menjawab lemah, melihat mobil Afriadi yang sudah menjauh.
"Kau langsung pulang bareng aku saja ya, bagaimana?" Salasiah melambaikan rangannya di depan Latika yang masih melihat ke depan walau mobil Afriadi sudah tidak kelihatan lagi, "Hoy! Lihat apa sih? Dengar tidak."
Latika menyeringai menggeleng, ia tidak mendengarkan betul kata Salasiah tadi, Salasiah memutar bola matanya, lebih memilih menarik tangan Latika membawanya pulang bersama dengannya dari pada mengulangi perkataannya tadi. Latika tak mau berkomentar kakinya ikut melangkah tapi pikirannya masih bertanya-tanya tentang Afriadi dan Kina.
Mereka pergi menuju gerbang, tinggal berapa langkah lagi merela sampai di gerbang, tiba-tiba Salasiah berhenti melangkah.
"Eee... Tunggu-tunggu." Salasiah berhenti, tangannya menghalangi jalan Latika sampai membuat Latika sadar akan keadaan yang sekarang.
"Kenapa?," tanya Latika prihatin pada temannya yang memegang perutnya, wajahnya pucat seperti menahan sakit perut.
"Aku kebelet. Tunggu sebentar ya." cepat Salasiah lari menuju toilet tampa mendengarkan tawaran Latika lagi.
"Em... Bagaimana ya?," guma Latika bingung mau beri kabar pada Afriadi, ponselnya sudah k.o di dalam tas. Ia melihat-lihat sekitar, berjalan pelan menuju gerbang.
Tahu-taunya Latika sudah di kagetkan dengan sosok di luar gerbang yang mengendarai motor seraya melambai-lambaikan tangannya dan berteriak memanggil, "Non... Non..."
Sosok itu seperti tidak asing di mata Latika, ia menyipitkan matanya mengamati sosok itu sudah kayak Nenek usia 90 melihat orang yang kelihatan asing namun tak asing, "Ah... Mang Juneb, pas sekali." Latika kembali ceria, cepat berlari menghampiri Mang Juneb.
__ADS_1
"Yuk Non, kita pulang," ajak Mang Juneb setelah Latika menghampirinya, memberikan helem pada Latika.
"Ah... Anu, Mang hari ini saya pulang bareng teman langsung ke rumahnya, jadi tidak pulang ke rumah, pulang ke rumah nanti sore."
Oh... Mang Juneb meangguk pelan, paham.
"Mang... Mang... Bilang sama Abang ya Mang."
"Sip... Non tenang saja. Kalau gitu mamang dulu ya Non?" Mang Juneb melaju motornya, tak banyak tanya dengan Latika.
"Nanti aku kabari dia lagi, setelah dampai di rumah Salasiah beri makan ponsel ini dulu," guma Latika melihat Mang Juneb yang semakin menjauh.
Mang Juneb pergi, Salasiah datang sudah selesai dengan urusannya.
Pas sekali Salasiah ada, mobilnya datang. Salasiah mengajak Latika masuk ke dalam mobilnya.
Hari ini Latika tidak pulang ke rumah dulu, tapi Latika langsung ke rumah Salasiah, untuk belajar make up.
Tidak lama di perjalanan, mereka sudah sampai di rumahnya Salasiah.
Ya... Rumah Yang mewah, tingkat 2 gaya rumanya gaya jaman now.
Em... Tidak heran lagi, teman-teman Latika orang yang punya materi. Ayah sama Ibu mereka tajir dari keturunan.
Sesampainya di depan pintu utama, mereka sudah disambut oleh para maid. Salasiah dan Latika memberikan tasnya pada maid.
"Yuk masuk Latika, jangan segan," ajak Salasiah, sudah melangkah masuk di ikuti Latika dari belakang.
Kalau di pikir-pikir Rumah Salasiah banyak maidnya sedangkan di Rumah Afriadi tidak ada hanya Bik Ipah dan Mang Juneb saja yang bekerja di Rumah, rumah yang segede itu cuman 2 saja pekerjanya. Tak habis pikir bukan? Hal tersebut juga pernah Latika pertanyakan sama Bik Ipah.
Dan Bik Ipah menjawab Afriadi tidak suka terlalu ramai di Rumahnya, ia lebih suka menyendiri dan ketenangan setelah kejadian 5 tahun yang lalu itu. Jadi semua pekerjaan Rumah di tangani Bik Ipah, lagian Bik Ipah juga cepat dan lihai dalam bekerja dan Mang Juneb juga turut membantu.
Begitulah.
"Latika ke kamarku dulu yuk, ganti baju. Tenang kau pakai bajuku saja, setelah itu kita makan, sambil tunggu Nana, dan Hana. " Salasiah bicara terlalu cepat ketularan Latika. Latika mengikuti Salasiah dari belakang.
Setelah Salasiah dan Latika ganti baju, mereka turun ke bawah makan siang yang sudah di sediakan di atas meja.
Tidak lama kemudian Hana, dan Nana datang.
Salasiah membawa teman-temannya ke salah satu ruangan di rumanhnya yang nyaman, dan tidak ada yang ganggu. Sewaktu mereka mau keruangan itu, mereka melewati ruang keluarga, di sana mereka melihat papa salasiah bernyanyi, lagu banjar lagi, karena tertarik mereka mengintip sebentar.
"Oi... Oi... Dengar." Nana berhenti melangkah, ia mendengar suara nyanyian, di lihatnya papa dan mama Salasiah di sana lagi karokean,
"Papa dan mama Salasiah karokean."
"Mama dan papa aku memang sering karoke. Sudah hobi penghuni rumah ini, abaikan saja mereka," kata Salasiah menyela pembicaraan.
"...🎶 Siti ropeaaahhh orangnya bungaaaaass, pandai beaksiiiiii pakaian seksiiiii..
....
Ropeahhhhh..
Sayangi akuuuu..
Ropeahhh..
Aku takutan ikam diambil orangggg..🎶"
Papa Salasiah dengan semangatnya menyanyikan lagu banjar berjudul Siti Ropeah, lengkap dengan goyangan sekali.
Mama Salasiah yang duduk tak jauh darinya menikmati lagu yang dibawakan, bertepuk tangan mengiringi lagu seraya tertawa melihat Suaminya.
Hahahaha... Salasiah dan temannya tertawa pelan, bersembunyi di balik rak melihat mereka dari kejauhan.
"Haha... Sal, Papa kau hebat juga ya nyanyinya, apa lagi goyangannya, aduh kalah goyangan biduan yang montok. Hihihi..." Nana memuji goyangan Papa Salasiah, menyengir lebar. Hana dan Latika hanya menggelengkan kepala melihat goyangan Papa Salasiah.
"Hahah... Siapa dulu, Papa gue. Body Kina saja kalah. Haha.."
Teman-temannya menatap Salasiah yang santai menyebuti Papanya sendiri.
"Kualat kau." Latika menyenggol bahu Salasiah yang berada di sampingnya.
"Dah... Yuk, kita make up saja," ajak Hana, singkat waktu.
"Ayuk ah, sakit perutku lihat papa kelamaan." Salasiah meninggalkan tempat di ikuti temannya dari belakang, ketika Hana dan Latika sudah mengikuti Salasiah, sedangkan Nana masih asik melihat Papa Salasiah karokean.
Hana yang sadar Nana tidak ada bersama mereka, menghampiri Nana dan menariknya menjauh dari sana, yang di tarik mengerutu kesal, Latika tertawa lebar melihat temannya.
Ketika sampai di tempat tujuan, tepat di lantai satu, tempat di mana biasanya Salasiah belajar Make up dan buat video. Mereka duduk di atas karpet berbulu nyaman di duduki. Salasiah meletakan sekeranjang harta karunnya di atas karpet di depan temannya, temannya hanya melongo melihat harta karun Salasiah, silih berganti mata mereka melihat harta karun Salasiah dengan orangnnya, lalu saling lirik satu sama lain.
"Banyaknya!," serempak mereka bilang.
Nana mengambil salah satu alat Make up, "Kau pakai ini semua? Banyak, ngeri aku lihatnya. Jumlah semuanya berapa? Muka satu tapi anunya banyak. Cik cik cik cik.. Mau buka salon Neng?" Nana menggelengkan kepalannya.
"Aku pakai semua, tapi tak berlebihan juga, yang sering aku pakai hanya berbahan ringan. Em.. Jumlah semuanya hehe.. Lebih 50."
Salasiah mendapat anggukan dari temannya.
Mereka mulai...
Salasiah mempraktekan pada dirinya, dan di perhatikan teman-temannya, lalu mereka peraktek pada alis masing-masing.
Ah... Latika melupakan sesuatu, ia lupa untuk memberi makan ponselnya dan lupa sama sekali untuk memberitahu Afriadi, terlalu fokusnya make up.
Sedangkan di Rumah.
Afriadi duduk di meja makan, ia baru selesai makan.
Tingkahnya agak aneh, senyum-senyum sendiri sampai Bik Ipah yang lagi membersihkan meja makan dibuatnya kebingungan, "Em... Tuan kenapa dari tadi senyum - senyum terus, dari pagi tadi malah?"
Afriadi hanya membalas dengan senyuman, meminum air putih.
Bik Ipah penasaran, bertanya lagi, "Ada apa sih tuan? Apa ada kejadian malam tadi?"
Afriadi membalas dengan anggukkan dan senyuman.
"Seriusan tuan? Kejadan apa malam tadi? Cerita lah tuan." Bik Ipah antusias sekali ingin tahu.
Afriadi mengeleng, tidak mau memberi tahu.
Bin Ipah tak memaksa Afriadi untuk cerita. Karena, Bik Ipah sudah tahu apa yang terjadi.
Melihat dari pagi tadi Afriadi mengelus rambutnya dan tersenyum, Bik Ipah menduga kalau Afriadi dapat elusan dari Latika, ia jadi ingat waktu pertama kali ia dielus Suaminya.
Afriadi melamun, meingat malam tadi, hatinya juga ikut melamun berkata, "Malam tadi aku tahu itu kamu, walau gelap aku dapat dapat merasakan kalau itu kamu, dan sambungan kata yang adek tak tasbung, Say... Itu sambungannya Sayang kan."
Afriadi terbuai akan elusan yang ia dapat malam tadi.
"Tapi ingat tuan pepatah orang dulu.
Kalau senang ingat sus-"
Perkataan Bik Ipah yang terpotong bel rumah.
Ting... nung...
Bel rumah berbunyi, berarti ada tamu datang.
Bik Ipah segera melepas pekerjaannya berjalan ke luar, meninggalkan Afriadi yang lagi termenung.
Tak lama Bik Ipah kembali lagi menemui Afriadi.
"Tuan, ada tamu yang mencari Tuan." Bik Ipah menepuk pelan bahu Afriadi, memutuskan lamunannya.
"Ah... Jangan sekarang," desah Afriadi tak senang.
Mau tak mau Afriadi pun menemui tamu tersebut.
Tak disangka kalau tamu itu...
"Bapak." Seorang wanita muda berdiri dari sofa, mengenali Afriadi.
Suara itu tak asing bagi Afriadi, suara yang terdengar akrab, Afriadi melihat ke depan ke arah suara yang memanggilnya, matanya membulat melihat wanita muda itu, ia kenal siapa lagi kalau bukan si Kina, anak pindahan.
"Hy! Kina." Afriadi menyapa lemah.
Afriadi bingung melihat Kina membawa Papanya, hati Afriadi berbisik pada dirinya sendiri, "Dia bawa Papanya. Ada apa ini?"
"Hallo Nak Afriadi," Sapa Papa Kina, berdiri dari sofa menyodorkan tangan, Afriadi menerima salam darinya, "Saya Kahrul, Papa Kina."
"Ah... Iya, Pak Kahrul. Kita bertemu pagi tadi."Afriadi menyuruh mereka kembali duduk, "Silahkan duduk."
Tampa disuruh dua kali mereka duduk di sofa, Kina duduk dengan anggun.
"Ada apa ya Pak Kahrul ke sini?," tanya Afriadi ikut duduk.
"Anu Nak Afriadi, sebelumnya saya minta maaf telah merepotkan Nak Afriadi mengantar Kina ke Rumah. Biasanya saya yang antar jemput Kina, karena baru pindah semalam jadi sibuk mengurus ini itu. Aduh, jadi gak enak. Baru pindah sudah merepotin tetangga
"
"Gak apa-apa, lagian satu arah juga. Saya paham." Afriadi meangguk. Ia tahu semalam ada tetangga baru dan Rumahnya tepat di samping sebelah Kiri. Tapi, ia tidak tahu kalau tetangga baru sebelah rumahnya itu, Kina dan Papanya.
"Nak Afriadi, kedatangan saya dan anak saya ke sini selain untuk silaturahmi, saya juga minta tolong dengan Nak Afriadi untuk jadi guru bimbel Kina. Dia sudah banyak ketinggalan pelajaran di sekolah, jadi nak Afriadi boleh tidak kalau Kina bimbel sama Nak Afriadi, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan kadang lembur, jadi tidak bisa menemani Kina belajar, dan mengajari dia. Tolong ya Nak," kata Kahrul membuat Afriadi sedikit kaget.
"Bimbel?" Afriadi melirik Kina yang mengkedipkan sebelah mata, menggoda kejadian serupa juga ia dapat di Sekolah waktu ia bertemu Kina dan jam Istirahat. Ia kembali melirik Kahrul, "Ah... Pak bimbel di tempat lain kan bis-"
"Itu, saya tak yakin melepas Kina jauh-jauh takutnya nanti terjadi sesuatu saman Kina. Kalau jauh saya sulit kontrol, apa dia belajar atau tidak?" Kahrul memotong perkataan Afriadi, "Boleh ya Nak?... Sebentara saja Nak, sekarang ini saya lagi mencari guru bimbel yang dapat dipecaya, jadi tidak apa-apa kan? Dua semester saja." Kahrul sedikit memaksa.
__ADS_1
"Hah... Ya." Afriadi terpaksa menerima, meangguk setuju.
Wow... Papa kina lamgsung memeluk Afriadi yang berada di dekatnya.
Kina bertepuk tangan dalam hati.
Hari itu juga kina bimbel dengan Afriadi.
Belangar 1 jam Kina duduk rapi di seberang Afriadi, belajar.
Hati Afriadi gelisah, bertanya-tanya, "Adek di mama? Kenapa belum pulang juga?" Afriadi cek ponselnya, mana tahu ada pesan masuk dari Latika, "Tidak ada pesan masuk."
Hati Kina megerutu geram, "Kanapa sih Bapak dari tadi memperhatikan ponsel terus? Iiiiihh... Sebel..."
"Pak... Pak... ini Bagaimana sih?"
Kina mencuil pinggang Afriadi, yang di cuil terperanjat kaget. Kina tertawa melihat ekspresi kaget Afriadi.
Hah... Afriadi menghela nafas, kembali mengajar kina.
Sedangkan di Rumah Hadi.
Hadi dan Sahril duduk main geme di kamar.
"Hah... Kanapa sih dia harus mansuk sekolah di sana? Kenapa tidak yang jauh-jauh biar aku tidak bisa lihat dia lagi, kalau bisa seumur hidup?" Hadi mengerutu kesal, menekan kuat remot kontrol, main dengan penuh emosi.
"Haha... Lo kok kamu cemberut amat dari tadi, apa itu karena cewek itu?" Sahril main PS dengan heboh.
Em... Hadi berhenti main, terbaring.
"Alah.... Lupakan saja cewek yang seperti itu, tak pantas untuk di ingat. Lupakan saja."
Sahril masih sibuk dengan geme, ia juga merasa prihatin pada temannya.
Hadi bangkit dari tidurannya, Hadi mengacak rambut, "Sudah aku sudah lupakan itu cewek tapi, kenangan itu muncul lagi."
"Gawat tuh," seru Sahril, melirik hadi sekilas lalu kembali pada geme, "Bisa-bisa kau jatuh cinta lagi dengan dia."
Hah... Hadi mendesah, kembali menumbangkan dirinya, menatap langit-langit kamarnya.
Tak terasa sudah jam 17:15 sore.
"Haduh... Sudah jam segini aku harus pulang." Latika melihat langit di luar jendela besar, orange sudah sore.
"Mau diantar gak Latika?," tawar Hana.
"Aduh... Gawat jika aku diantar, harus bisa beralasan," guma Latika dalam hati, melirik Hana.
"Ah... Gak perlu aku bisa pulang sendiri."
"Latika kau pulang pakai apa?," tanya Nana, melihat wajahnya di cermin, serong sedikit senyum.
"Aaa... Itu..."
"Kau naik gojek saja, aku sudah pesankan."
"Eh... Makasih Nana."
"Ya."
***
Akhirnya Latika pulang pakai gojek.
Selama di kendaraan Latika membersihkan mukanya dari make up.
Tadinya temannya melarang untuk menghapus make upnya, katanya bagus, Latika kelihatan cantik dia juga memuji dirinya ketika melihat cermin tadi, lalu foto bersama temannya. Tapi, Latika tidak bisa, ia takut kalau nanti Afriadi merasa aneh melihatnya, ah.. Bukan aneh tapi lebih tepatnya takut nafsu Afriadi bergejolak melihatnya cantik. Jadi ia hapus.
Selesai Latika menghapus make up, tak lama ia sampai di Rumah.
Ketika ia memasuki halaman Rumah ia berpasan dengan Kina, Latika keget dibuatnya.
"Dia lagi. Kenapa dia ada di sini?" Latika beryanya-tanya dalam hati menatap Kina di hadapannya.
Kina menatap jijik Latika, "Cih... Anak ini."
"Apa - apaan tatapanya itu," ketus hati Latika.
Hem... Kina membuang muka, melewati Latika.
"Sombong amat," gerutu Latika berjalan ke depan matanya ke belakang lihat Kina. Sampai Kina menghilang dari balik pagar, ia sampai Rumah. Matanya terus melihat ke belakang, ketika ia membalikan kepala ke depan.
BAAA... Ia terkejut melihat Panglima Afriadi sudah berdiri di depan pintu, menghadangnya.
"Haaaa..." Latika tersenyum getir.
"Adek habis dari mana?."
Afriadi kelihat kesal sampai nada suaranya sedikit naik. Jelas saja dia kesal, ia sudah menunggu Latika sampai khawatir dia tak pulang dan tak ada kabar sama sekali memberi kepastian.
Karena Latika juga kesal gara-gara melihat ia dan Kina berduaan di Sekolah dan di parkiran termasuk yang barusan, nada suaranya juga ikut naik, kesal, "Rumah teman."
"Kenapa Adek tak izin dulu? Biasanya Adek izin."
"Ponsel Adek mati, dan lupa kasih makan tadi di Rumah teman, di sekolah tadi Adek mau beritahu Abang tapi tak jadi sebab Abang." Latika tak melanjutkan kalimatnya, ia menutup mulutnya mencegah untuk keceplosan.
Hatinya berkata, "Ups... Jangan lanjutkan lagi, nanti tahu kalau tadi aku melihat semuanya."
Em... Afriadi meangkat sebelah alisnya, tak paham dengan kalimat akhir yang terputus.
Latika melewatkan bagian itu, langsung meloncat ke bagian selanjutnya, "Adek juga sudah titip pesan sama Mang Juneb."
Pas sekali Mang Juneb lewat, melihat Mang Juneb Afriadi memanggilnya, "Mang Juneb.
Sini sebentar."
"Aduh... Kena nih, aku terseret dalam pertengkaran mereka," guma Mang Juneb, mendekat kepalanya terus menunduk tak berani menatap mata Afriadi kalau dia lagi marah.
"Mang apa benar latika ada titip pesan?."
"Pesan..."
Mang Juneb mencoba menginggat.
"Astaghfirullah..." Mang Juneb menepuk jidatnya baru ingat,
"Benar Tuan Non ada titip pesan kalau Non akan pulng sore, dia ke rumah temannya. Maaf Tuan saya lupa beritahu."
"Astaghfirullah..." Afriadi mengusap mukanya.
"Tuan kalau tidak ada apa-apa lagi, saya pamit dulu.
Sekali lagi saya minta maaf."
Mang Juneb lergi begitu saja.
Merasa bersalah, ia minta maaf, "Dek... Abang mita maaf ya soalnya tadi kasar sama adek."
Em... Latika meangguk menunduk,
"Bilang sekarang aja." Hatinya mendorong untuk minta izin.
"Mandi lagi sana," titah Afriadi.
Latika memberanikan diri minta izin setelah dapat dorongan dari hatinya, "Bang, mulai besok Adek akan pulang jam segini terus. Em... Boleh tak?
"Setiap hari, jam segini." Afriadi merespon, logatnya tak setuju.
Latika meambil sebuah kertas coretan dan mamberikan catatan jadwal selepas pulang sekolah pada Afriadi.
Egh... Afriadi terkejut membaca kegiatan selepas sekolah selama seminggu.
Hatinya ikut membaca,
"Sabtu, Minggu, senin, selasa, belajar di rumah teman. Rabu, silat. Kamis, pramuka. Jum'at, pengajaian."
"Boleh, tak Bang?"
"Tak boleh."
"Apaaaa?"
"Tak boleh."
"Kenapa tak boleh?"
"Abang bilang tak boleh, ya tak boleh lah." Afriadi mengeluarkan nada kasarnya.
Hem... Latika mengembungkan pipinya, mukanya merah padam, "Kenapa Adek tak boleh, sedangkan Abang boleh?"
"Abang boleh apa? Maksud Adek apa?"
"Alah... Pakai tak tahu lagi. Abang boleh pun dekat dengan cewek itu tadi di sekolah, di mobil, sampai di rumah pun Abang dekat dengan dia. Kenapa Adek tak boleh, melakukan kegiatan Adek?... Ini tak adil..." Latika menghentakan kakinya ke lantai.
Tampa sadar Latika mengeluarkan emosinya, tak tahu lagi ia membentak Afriadi.
Latika lari masuk ke dalam, bahunya tersenggol Afriadi. Ia lari menuju kamar, sepanjang langkah ia berlari, cairan bening keluar dari matanya mengalir membasahi pipinya, "Kenapa air mata ini keluar? Hiks..."
Latika kecewa, ia berharap betul Afriadi memberikan izin namun nyatanya tidak. Malah sekarang ia menangis tampa tahu sebabnya apa?
__ADS_1
Sedangkan Afriadi berdiri di sana, termenung memikirkan perkataan Latika tadi dan mengkaitkan dengan perkataan yang tidak ia teruskan.