Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Rahasia Bocor


__ADS_3

UN tinggal beberpa hari saja lagi. Latika sibuk Afriadi juga ikut sibuk mengurus sesuatu, kejutan buat Latika.


Di sekolah.


Latika dan temannya membicarakan soal ujian UN, tanpa Nana.


Hari ini kelihatan baik-baik saja.


Namun keesokan harinya, ada yang berbeda.


Sungguh ada yang berbeda.


"Hana." Latika menghampiri Hana yang lagi berjalan di lorong kelas,


"Em, aku ada urusan sebentar, aku dulu ya, bu Laila manggil." Hana pergi, ia seakan menghindari Latika.


"Oh, ya."


"Latika. Cepat." Salasiah menarik tangan latika, membawanya berlari.


"Kemana?" tanya Latika.


"Cepat ikut aku. Na-" Salasiah kesusahan mau bicara, pengap habis berlari.


"Ha, kenapa dengan Nana?" tanya Latika agak kaget dengan kata Na yang ia sangka temannya Nana.


Salasiah tak menjawab terus lari membawa Latika ke kantin


"Mana Nana?" tanya Latika ketika duduk di kursi.


"Mana ada Nana?" Salasiah membawa 2 mangkuk Nanas rebus, "Nanas lah. Nah, ambil ini." Ia memberikan satunya untuk Latika.


"Dari mana kau dapat nanas?" tanya Latika.


"Aku minta dengan ibu kantin, soalnya lama sudah tak makan nanas rebus. Khusus untuk kita saja ini. Makan lagi sebelum masukan." Salasiah menikmati nanas rebusnya.


Latika hanya melihat nanas rebus itu, ia tahu Nana suka sekali dengan nanas rebus.


"Makan lagi." Gerakan tangan Salasiah berhenti ketika lihat Latika termenung.


Latika sadar, mengambil sendok,


"Ya. terimakasih."


Tak sempat Latika makan Sahril datang mengambil mangkok Latika, menumpahkan nanas rebus itu ke lantai.


Semua Siswa yang ada di kantin melihat mereka. Saling bisik, mulai menghisap.


Sahril menatap Latika dengan tatapan yang tak biasanya.


"WOY, SAHRIL. APA APAAN INI." Salasiah tak tinggal diam melempar sendok di tangannya ke Sahril.


Sahril pergi begitu saja tampa bicara apa-apa, lari secepat mungkin.


"SAHRIIIIILL!!!" teriak Salasiah, meangkat roknya tinggi-tinggi sampai kelihatan celana lepasnya, bersiap mau mengejar Sahril, tapi Latika tahan.


"Tak usah Sal, biarkan saja. Lanjutkan makanmu." Latika tenang-tenang saja, bingung saja lihat Sahril kayak gitu.


Sahril masih berlari, pandangannya terus melihat ke belakang memastikan Salasiah atau Latika tak mengejarnya. Sampai ia tidak melihat-lihat lagi ke depan, sampai ia tertabrak Afriadi.


Bruk....


Sahril terjatuh Afriadi termundur sedikit, untung bisa menjaga keseimbangan

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?"


Afriadi menberikan tangannya, membantu Sahril berdiri,


"Lain kali jalan itu lihat-lihat ke depan.'


Bukanya terimakasih Sahril malah pergi menyelonong behitu saja, menyengol bahu Afriadi. Dengan kepala sekolah seperti itu, nilaimu terancam Sahril.


"Ada apa dengan anak itu?" Afriadi bingung saja, untung mood Afriadi bagus kalau tak is is is is


Tak jauh Sahril pergi, ia di hadang Nana, dengan wajah yang tak bersahabat.


Bruuuk..


Dengan kuat Nana mendorong Sahril ke tembok sekolah.


"Kenapa kau lakuian itu pada Latika? Apa maksud kau Sahril?"


Semua mata siswa yang ada di depan Labor melihat mereka. Kira mereka, Nana tak terima dirinya di putuskan sama Sahril atau Sahril ketahuan selingkuh.


"Aku bisa jelaskan," kata Sahril dengan suara pelan.


"Jelaskan apa?" Nada suara Salasiah meninggi. Memperkuat dugaan para siswa mengenai hubungan mereka.


"Ikut aku ke atas. Aku tak bisa memberi tahumu di sini, banyak orang," bisik Sahril.


Nana melihat sekeliling semua mata para siswa marah padanya, ia mengikuti Sahril ke atas atap sekolah.


Sesampainya di sana Nana tak membuang-bidang waktu lagi langsung melemparkan pertanyaan pada Sahril,


"Cepat bilang apa maksud kau lakukan itu dengan Latika?"


"Hah, aku tahu kau juga sudah tahu bukan alasannya apa? Ini." Sahril melihatkan sesuatu. Foto di ponselnya. Foto kejadian waktu itu, waktu Latika di hakimi di tengah masa dengan foto kurang jelas sebab ia menggunakan ponsel butut milik kakeknya.


Waktu itu ia ada di sana, di desa tempat Latika di nikahkan. Sahril di sana menghadiri acara khitanan sepupunya yang di adakan meriah dengan adat sekali. Ia tak menyangka juga malamnya bertemu dengan teman sekolahnya yang tak begitu ia kenali karena wajahnya kotor dan pakaiannya juga, di tambah lagi ia melihat dari arah kejauhan tambah tak jelas lagi. Tapi sayangnya nya ia tak melihat sampai mereka menikah keburu di tarik sama neneknya pulang.


"Ya, aku sudah tahu," kata Sahril makan pandangannya.


"Bagaimana bisa? Ini semua."


"Awalnya aku tak menyengka juga. Tapi, itulah kenyataannya."


"Apa kau diberitahu seseorang?"


"Sebelum orang itu memberitahu aku, aku lebih dahulu tahu aku-"


"JADI KAU SUDAH TAHU SEMUA INI DARI DULU. KENAPA TIDAK BERITAHU."


"Aku tak percaya waktu itu mereka berdua ... Aku kira yang aku lihat bukan mereka tapi orang lain. Namun salah... Aku curuga dengan Latika... sampai akhirnya orang itu datang memberitahu aku menguatkan kecurigaanku selama ini, barulah aku percaya. Kalau... Kalau.. Kalau Latika dan Bapak itu suami istri ..."


"Apa?" Seseorang kaget dengar pemgakuan Sahril.


Wusssss...


Angin panas lewati mereka.


"Hadi." Mereka serempak menyebut Hadi, kaget lihat dia ada di sana juga mendengar semua perkataan mereka.


Tadi ia melihat Sahril membawa Nana ke atas, ia sangka kalau mereka pacaran rencanannya mau mempergoki namun nyatanya Hadi jadi tahu informasi yang sama sekali tidak ia ketahui.


"Apa telinga aku tidak salah dengar?" Hadi mengorek telinganya.


"Hadi." Sahril sedikit takut, ia tahu watak Hadi jika sudah mengetahui kebenaran yang di sembunyikan darinya atau mengetahui penghianatan, biasanya ia akan mengajar orang itu sampai babak belur. Tapi itu semua tak berlaku pada wanita palingan dia hanya menjauhi saja.

__ADS_1


"SAHRIIIILLL !!!" teriak Hadi menerkam Sahril, tangannya menggenggam kerah baju Sahril,


"APA KAU CAKAP TADI SAHRIL. KAU SELAMA INI TAHU. KENAPA KAU TIDAK BERI TAHU AKU. SAHRIL. KENAPA KAU MALAH MENYURUH AKU MENEMBAK LATIKA BERKALI-KALI? PADAHAL KAU TAHU KALAU LATIKA... LATIKA. LATIKA SUDAH MENIKAH. KENPA SAHRIIIILLL?!!!"


"SUDAH HENTIKAN," kata Nana dengan suara tinggi, tapi peringatan itu tak di dengarkan mereka.


BUUK...


Tinju Hadi menghantam tembok, sedikit lagi kena wajah Sahril.


Mata Sahril melirik tangan Hadi di sebelah kiri, menelan ludah ngeri.


"KENAPA? Kau mau aku jadi perusak Rumah tangga orang," lanjut Hadi, menatap bengis Sahril.


"Maaf Had, aku tak menyangka juga waktu itu. Aku tak percaya. Maaf, Had." Sahril memohon.


"HAAAAH..."


Hadi melepas cengkeramannya, pergi dari sana secepat mungkin. Sebelum ia menghajar Sahri sampai babak belur. Ia kelihatan kesal sekali.


Hadi lari di lorong sekolah, perkataan Sahril terus berdengung di telingannya. Ia kesal sekali sama mereka semua, perasaannya selama ini hanya di permaikan saja.


"Latika, kenapa? kenapa kau sembunyikan semua ini dariku? Kenapa? Kenapa Latika? Kenapa? Kau sama saja dengan Sahril," batin Hadi menggerutu kesal.


Hadi terlalu kesal sampai ia tak melihat-melihat lagi di depannya ada orang, sehingga..


Bruuukk..


Hadi menabrak Pria yang kebetulan muncul di persimpangan.


Mereka terjatuh, bokongnya terhempas ke Lantai.


"Agh.." Hadi merasa sakit dengan bahunya, mata Hadi kaget setengah mati lihat siapa yang ia tabrak.


Pria itu bangkit dari jatuhnya.


"M-maaf P-Pak..." tergagap-gagap Hadi minta maaf.


"Jalan itu lihat-lihat jangan pakai tabrak saja," kata Pria itu.


"Dia, Suami Latika," tunjuk batin Hadi, ia melamun melihat Afriadi. Batinya bertanya-tanya kenapa dia bisa jadi Suami Latika?


"Hy! Dengar tidak?" kata Afriadi tegas. Ia tak suka melihat tatapan Hadi itu.


Hadi bangkit dari jatuhnya, tak menjawab pertanyaan Afriadi langsung pergi begitu saja.


"Ada apa dengan itu anak?" tanya batin Afriadi.


"Sial." Hadi berjalan galak. Menuju kelas. Latika yang kebetulan habis dari kantin mau ke kelas. Bertemu Hadi. Pas di depan kelas.


"Latika," batin Hadi berseru galak, menatap Latika dengan tajam.


"Hy! Hadi." Latika menyapa.


Hadi acuh tak acuh dengan Latika melangkah masuk.


"Ada apa dengan Hadi?" tanya Latika pada teman-temannya.


"Entah, galau kot." Salasiah menyahut.


Batin Hana, berkata, "Jangan-jangan Hadi..."


Latika masuk mendekati Hadi, yang di dekati membuang muka tak menghiraukan Latika.

__ADS_1


"Hadi." Latika sedih.


"Huuusss.." Hana menarik tangan Latika, menjauh darinya


__ADS_2