
Kina andriani nama murid baru itu, cewek yang cantik jelita, berambut pirang kayak kayak orang barat, kulit putih glowing, body angka 8 yang waw depan aduh ditambah lagi bagian belakang aduh bergerak kiri kanan kiri kanan senggol sikit jazzzz... Mentok.
Baru saja masuk gosip mengenai dirinya tersebar luas, para cowok tidak henti - hentinya mengombali dia, dan sebahagian para cewek yang kelewat cantik darinya malah mencibir karena kelewat cantik darinya. Tapi, itu hanya sebahagian cewek, yang sebahagian laginya malah mau berteman dengan dia, tapi anehnya dengar - dengar gosip dia pilih - pilih teman, katanya gak selevel dengan anak yang ekonominya pas - pasan, apalagi yang kecantikanya standar, makanya gosip buruk juga beredar dalam sekejap.
Sampai teman Latika juga ikut - ikutan mengosip, sepagi ini Latika mendengar banyak gosip tentang dia, sehingga Latika jadi penasaran dengan murid baru itu seperti apa sih rupanya?.
Sedangkan di kantor kepala sekolah.
Afriadi yang senyum - senyum sendiri di ruangannya, bukan di situ saja waktu mengajar di kelas 11 IPA A tadi juga sedikit - dikit tersenyum sendiri, murid cewek malah salah tanggap, dan murid cowok malah salah paham, gara - gara senyumnya itu, murid cowok mengaggap Afriadi kegatalan, genit.
Bukan baru ini ia tersenyum, tapi sudah dari rumah tadi.
Dari ia bangun tidur sudah tersenyum sambil mengusap - usap kepalanya, waktu sarapan juga, ia tersenyum manis kepada Latika. Sampai Latika, dan Bik Ipah jadi heren.
Apalah yang ia pikirkan?.
Jadinya tebawa sampai ke sekolahan.
Pas sekali hari ini ada mata pelajarannya di kelas Latika.
Dari ia masuk, dan mengajar, sedikit - sedikit tersenyum ke arah Latika.
Latika jadi gagal fokus, ada rasa senang gimana gitu dalam dirinya, hatinya berseru salah tingkah, "Apa Abang tersenyum ke arahku?.
Ngapain senyum ke arahku?.
Ugh... Jangan senyum ke arahku, terus jantung ini tak sanggup.
Duh... Jadi gak konsen."
Baru saja merasa senang. tapi, dalam sekejap hilang, melihat teman sekelas ceweknya yang kegirangan melihat senyum Afriadi.
"Iih... Dia senyum ke arahku."
"Apaan sih dia senyum ke arahku."
"Gak, kearah kalian tapi ke arahku.
Tampan, uuuuhhhh..."
Masing-masing siswi mengaku Kalau senyum itu untuk dia, bukan untuk mereka.
"Em... Kalau guru yang mengajar semua seperti bapak. Haduh... Semangat betul belajar," guma Salasiah pandangannya terus fokus pada Afriadi tidak beralih ke yang lain.
"Memang belajar seperti ini lebih asik," guma Hana pelan.
Mendengar siswi ribut - ribut, siswa hanya bisa diam saja, di jam ini siswa yang paling tenang, dibandingkan siswi.
Tampa Latika ketahui Hadi diam-diam memperhatikannya yang kebawa perasaan.
Tidak terasa bel istirahat kedua sudah berbunyi.
Ting... Tong...
__ADS_1
"Tugasnya dikumpul." Afriadi menagih tugas yang ia berikan kemarin.
Semua bergegas mengantar PR ke depan.
Setelah sudah mengantar, hadi menyiapkan..
"Hadi kumpulakan tugasnya antar ke kantor," perintah Afriadi segera meninggalkan membawa bukunya.
"Sip pak." Hadi bergegas ke depan meja guru mengambil buku teman-temannya, ketika ia berbalik badan minta bantuan temannya yang lain, mereka sudah menghilang kabur ke luar
Kelas melambaikan tangan pada Hadi, "Woy! Bantu sebentar."
"Ke kantin, ah." Latika bangkit dari tempat duduknya mau pergi ke Kantin menyusul teman-temannya.
"Latikaaaaa~~~"
Hadi menghampiri Latika, meminta tolong, dengan suara yang mendayu - dayu.
"Apaaa~~~" Latika membalas serupa.
"Tolong dong~~~ Antarkan buku ini, berat." Hadi meletakan buku tugas seluruh temannya sekelasnya di atas meja Latika.
"Yang lainya mana?," tanya Latika melihat tumpukan buku yang lumayan berat, "Kau sendiri bisa juga kan."
"Mereka sudah kabur. Ala, tolonglah sebentar, tangan aku sakit ini habis semalam dipukul sama Lily pakai reket nyamuk." Hadi menjawab sambil mengusap-usap lengan kanannya yang kelihatan bekas pukulan Lily.
Em... Latika berpikir dua kali.
Yang benar saja, semua cowok di kelas ini sudah pergi keluar semua, entah ke mana mungkin lihat anak baru itu, kecuali yang satu ini.
" Oke." Setelah disogok baru Latika mau.
Latika membantu Hadi membawa buku-buku itu ke kantor kepala sekolah, kalau dipikir - pikir manalah berat, buku tulis cuman, jumlah seluruh murid kelas Latika 40 orang, hari ini nihil, jadi pas 20, 20 sorang.
Mereka berjalan menuju kantor kepala sekolah. Selama perjalanan menuju kantor kepala sekolah, Latika bertanya pada Hadi soal dia yang dapat hadiah dari Lily, "kenapa bisa dipukul Lily?"
"Hahaha... Itu, aku tidak sengaja membakar foto idolnya, aku lagi bakar fotoku bersama dengan si dia tahu-tahunya foto idolnya ada ikut terselit dan kebakar tuh. Jadinya dapat ini dari dia."
Latika tertawa terkikik-kikik mendengar cerita Hadi, walau tidak lucu sebenarnya. Latika membayangkan ekspresi Hadi ketika di kejar adiknya pakai reket nyamuk, terbirit-birit mungkin Hadi larinya mencari perlindungan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di kantor kepala sekolah.
Tok... Tok... Tok... Hadi mengetuk pintu kantor kepala sekolah yang sudah terbuka sebahagian.
"Permisi pak. Boleh masuk pak?"
"Masuklah." Afriadi menyahut dari dalam, mempersilahkan mereka masuk.
"Permisi." mereka berdua masuk ke dalam kantor. Tidak disangka - sangka kalau mereka akan bertemu dengan murid baru itu di sana.
Ketika mereka masuk Latika bertemu dengan murid baru yang duduk di kursi.
Seberangnya Afriadi.
__ADS_1
"Wow inikah murid baru itu. Cantik," guma Latika.
"Dia lagi, malas banget lihat dia," gerutu Hadi pelan, melihat sekilas saja.
"Kau kenal dengan dia?," tanya Latika pada Hadi pelan.
Hadi tidak menjawab meletakkan buku tugas di meja Afriadi.
"Ternyata kita satu sekolah." Kina berkata dalam hati, sepertinya dia kenal dangan Hadi.
Ini pertama kali Latika melihat dia, Latika begitu kagum, kagum karena cantik. Tapi Hadi kelihatan biasa saja, tidak seperti lainnya.
"Tapi, kenapa dia ada di sini? Dekat lagi duduknya." Hati Latika mulai apa gitu.
Tadinya dia senag melihat murid baru, jadi tidak senang lagi gara - gara melihat pemandangan yang tidak enak di pandang, "Masa iya duduk harus sedekat itu."
Sebenarnya tidak dekat juga Latika saja yang mengangap dekat. Lah, mereka duduk berhadapan doang.
"Yuk, Latika."
Hadi mengajak pergi. Latika ikut ke luar bersama Hadi, matanya masih menatap mereka berdua sampai hilang dari pandangannya.
Raut muka Afriadi berubah setelah melihat Latika pergi.
Batin Afriadi berseru memanggil Latika,
"Adek... Jangan salah paham."
"Cih... Apa - apaan cewek itu..." Hati Kina mencibir Latika.
Latika dan Hadi pergi ke kantin, makan.
Ketika sampai di sana.
Semua murid yang ada di kantin mengosip tentang murid baru itu.
Latika duduk di kursi yang kosong.
Hadi melihat siswa dan siswi yang bergosip tentang murid baru itu, batinya bersorak sebal, "Tidak adakah lagi yang digosipkan selain dia."
"Latika, kau mau makan apa?," tanya Hadi yang masih berdiri di depan Latika.
"Em... terserahlah, aku ikut kau saja." Latika meangkat bahu, ikut Hadi saja.
"Tunggu ya!" Hadi menjauh pergi memesan makanan.
"Hadi kelihatan cemberut terus sejak melihat murid baru itu, ada apa ya?," guma Latika.
Selang beberapa menit Hadi datang membawa soto.
"Nih, soto. Jangan komen, tadi mintanya terserah saja." Hadi meletakkan soto di hadapan Latika, duduk di depannya.
"Makasihhh." Latika meambil sendok dan mulai menyantap makanan tak lupa baca bismillah.
__ADS_1
Selama mereka makan, mereka mendengar gosip itu, tadinya sudah berhenti. Eh, datang lagi yang bertanya tentang dia. Behhh... Tambah jadi lagi.