
"Ah... Adek. Em... soal yang tadi..." Afriadi membahas kejadian di taman tadi, soal ia yang menarik tangan Latika, meambil somai miliknya.
"Gak apa - apa." Latika menggeleng,
O... Afriadi ber-o pendek, ia mengomel dalam hati memarahi dirinya sendiri, "Baru saja bisa dekat dengan Adek, sekarang jadi cangung lagi.
Haduh... Aftiadi seharusnya tadi jangan gegabah."
"Em... Adek, kita ke Mesjid dulu, setelah itu baru pulang."
Afriadi menyetir mobilnya menuju Mesjid terdekat.
Setelah sampai mereka segera mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat.
Setelah selesai sholat Asar mereka melanjutkan perjalanan pulang, sewaktu perjalanan tiba-tiba saja terdengar suara guntur di perut Latika.
KRUUUKKK... Perut Latika berbunyi, demo minta makan.
"Haduh... Kenapa sih bunyi sekarang, bukanya tadi sudah diganjal dengan somai," omel Latika dalam hati, mengomeli perutnya yang demo minta makan.
"Adek lapar?," tanya Afriadi.
"Enga-"
KRUUUKKK... Belum selesai Latika bicara, perutnya yang menjawab pertanyaan Afriadi.
"Jujur amat kau jadi perut." Latika teriak dalam hati.
Afriadi tahu Latika lapar, siang tadi ia tidak makan hanya makan somai saja, ia juga tahu kalau Latika pasti menolak tawarannya dan minta pulang, Latika malu jika minta singgah makan dulu, "Kita makan dulu baru pulang, bagaimana?"
"Em... pulang saja."
KRUUUKKK...
Perut Latika berbunyi terus.
"Tidak kita pergi makan dulu setelah itu baru pulang," kata Afriadi, mengajak Latika makan.
Latika menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Batinya berkata, "Haduh... Malunya, sudah cangung tambah cangung lagi."
__ADS_1
"Mau makan apa?," tanya Afriadi.
"Terserah." Latika menjawab pelan.
"Oke. Kita makan bakso saja bagaimana?," tawar Afriadi.
Sekali dengan bakso, komat-kamit hati Latika tergiur dengan bakso, "Waw sudah lama tidak makan bakso. Mau... Mau... Mau..." Latika meangguk pelan, mau.
Latika sudah bisa melihat di tepi jalan di depan sana, deretan gerobak jualan termasuk gerobak bakso.
Tapi, Afriadi tidak singah pun malah dia melewati deretan gerobak tersebut.
"Katanya ingin makan bakso tapi, kok di lewati." Hati Latika mengerutu, kesal, kecewa, "Kurasa tidak jadi makan bakso, pulang saja."
Afriadi terus mengemudi, sampai tiba di suatu tempat yang menjual bakso juga, baru Latika sadari kalau makan di pingir jalan tadi bisa - bisa mereka ketahuan, mana tahu ada teman sekolahnya atau gurunya melihat mereka berdua. Jadi Afriadi membawa Latika ke tempat yang lebih tertutup.
Mereka turun dari mobil.
Memasuki warung itu.
Afriadi memesan bakso, "Bik 2 mangkok bakso."
"Mau yang jumbo?," tanya Afriadi pada Latika di sebelahnya.
Hati Latika bersorak milih yang jumbo, tapi akhirnya ia pilih yang biasa saja, "Yang biasa saja."
"Yang biasa saja Bik," kata Afriadi pada pemilik warung yang sedang bekerja menyiapkan pesanannya.
"Yuk duduk," ajak Afriadi duduk di sudut dekat jendela, kebetulan di sana kosong.
Sambil menunggu pesanan, Latika memainkan ponselnya, dan dia juga memainkan ponselnya.
Perasaan Latika cangung sekali duduk di sebelahnya, dekat lagi tu. Apa lagi dia malah asik main ponsel, Latika merasa dicuekkan. Jadinya Latika juga sibuk main ponsel untuk menghilangkan rasa cangung. Sebenarnya Afriadi juga merasa dicueki Latika dengan melihat ia fokus main ponsel terus.
Tidak lama pesanan mereka datang, Latika langsung melepas ponselnya dan langsung menyantap bakso yang dipesan tadi tak lupa baca doa. Baru mau menyuap ke dalam mulut malah tidak jadi, ia baru ingat kalau makan bakso itu kurang enak kalau tidak pakai sambal atau saos cabenya, tangannya mengambil saos dan menumpahkan ke mangkok, entah kenapa matanya melirik Afriadi yang masih asik dengan ponselnya, kalau dilihat - lihat raut mukanya kelihatan serius sekali.
Tampa ia sadari saos yang ia tumpahkan terlalu banyak, sontak Latika panik.
"AAAA!!! Terlalu banyak, bagaimana ini? Aku tidak kuat makan pedas." Hati Latika panik, "Masukkan balik tidak apa kan?."
Latika asik melihat baksonya yang tertumpah saos cabe yang banyak, ia mau memasukkan kembali saos ke dalam tempatnya, sebelum memasukkan ia melirik Afriadi memastikan apa dia melihat atau tidak? Ternyata tidak, Latika menghela nafas pelan mulai beraksi memasukkan saos ke dalam tempatnya, Latika membuka tutup saosanya dan sendok sudah menyentuh bibir tempat saos, ketika ingin menumpahkan matanya melirik Afriadi.
__ADS_1
Kyaa... Jerit Latika, sendok di tangganya terlepas sehingga tumpah saos yang tertampung di sendok tumpah ke meja. Latika kaget, melihat Afriadi yang memperhatikannya. Cepat Afriadi mengambil lap tangan mengelap saos yang tumpah di meja.
"Banyak sekali saosnya," kata Afriadi kaget.
"Em. . . Terlalu banyak menumpahnya." Latika cengengesan, serba salah.
"Adek sanggup makan itu?," tanya Afriadi
Latika mengeleng kepala menandakan ia tidak sanggup.
"Sini tukaran dengan punya abang." Latika kaget dengar tawaran Afriadi, tak sempat ia menjawab Afriadi sudah mengambil mangkok bakso punya Latika, dan memberikan mangkok bakso punya dia kepada Latika.
Pertanyaan timbul dalam benak Latika, "Apa Abang sanggup makan pedas?" Latika kurang tahu Afriadi sanggup tidak makan pedas. Ya, Afriadi sanggup saja makan pedas, tapi tak terlalu juga.
"Banyak juga saosnya, tahan gak ya?Tahankan saja demi adek," guma Afriadi dalam hati.
Mereka menyantap bakso yang sudah dipesan, baru beberapa sendok Afriadi makan peluh sudah keluar.
Dengan susah payah Afriadi menghabiskan baksonya, mukanya kelihatan memerah, dan peluh membasahi mukanya.
Selama makan Latika melihat Afriadi, ada rasa tidak enak yang Latika rasakan, dan ada rasa kagum juga pada Afriadi.
Latika sudah selesai makan tapi, dia belum juga selesai.
Tangan Afriadi membuka kancing bajunya, topi dilepas kelihatan kepanasan, Latika membantu mengipasinya dengan kipas yang yang ia pinjam dari pemilik warung.
Tidak lama kemudian Afriadi berhasil menghabiskan baksonya, bibirnya yang memerah, Afriadi memesan teh es, dia bilang buatkan yang manis - manis, dan si penjual membuatkan sesuai yang ia pesan, minum teh es yang manis, seperti teh yang Latika bikin hari ini cukup manjur untuk menghilangkan rasa pedas.
Afriadi mengibas-kibaskan bajunya, ia mengelap peluh di sekitar wajahnya.
"Pedas?," tanya Latika sambil mengipasiknya.
Afriadi tersenyum lebar, meangguk, menatap Latika.
Latika menyengir, tahu itu salahnya.
Setelah rasa pedas hilang mereka baru pulang ke rumah, selama di mobil Latika terus meliriknya, dengan gayanya yang cool abis.
"Kalau dilihat - lihat Abang keren, ganteng. Iiii... Kayak oppa." Hati Latika menjerit, memuji Afriadi.
Afriadi tersenyum ia yang menyadari kalau Latika memperhatikanya dari tadi.
__ADS_1
Kalau dipikir - pikir hari ini Afriadi sudah makan masakan Latika yang asin, terus berlari sana sini mencari Latika, dan sekarang dia makan bakso yang pedas, komplit sudah.