
Malam hari sekitar jam 20:30
Latika lagi duduk-duduk di ruang santai, menikmati cemilan sambil nonton Drakor di temani Sari. Bik Ipah gak mau ikut, ia mau nonton sinetron Indonesia saja. Yah yang berbau Indonesia, Made in Indonesia.
Selang-selang cerita.
Tring...
Pesan masuk di ponsel Latika.
Latika hanya melirik ponselnya di atas meja lalu kembali fokus sama Drakor.
Tring...
Tring...
Tring...
Tring...
Tring...
Tring...
Ponsel Latika berdering terus.
Suaranya mengganggu konsentrasi nonton Drakor, dengan berat hati Latika mengambil ponselnya.
Matanya membulat melihat pesan grup yang asing di matanya. Yap, dia di culik sama alien eh maksudnya di culik sama ibu-ibu arisan masuk ke grup arisan.
Aduh, para Jeng Jeng pada curhat.
Latika gak ikut-ikutan, dia senyap kan saja biar gak berisik.
Dan lanjut nonton Drakor.
Wajah Latika langsung cemberut, ia ketinggalan adegan romantisnya keburu iklan saat ia kembali fokus.
Masalahnya Latika tak suka jika ketinggalan, apa lagi Sari mulutnya pada ember bilang bagus sampai ceritain adegannya, aduh Latika tambah cemberut.
Satu dua iklan terlewati, hati Latika sudah membara muak lihat iklan ingin rasanya ia guncang tv itu biar semua iklan keluar, kalau bisa ─.─
Ketika iklan habis, Drakor main lagi.
Tring...
Tring...
Tring...
Tring...
Tring...
Ponsel Latika berdering lagi.
Latika jadi kesel kalau tidak menunggu kabar Afriadi, mungkin itu wa sudah off. Sayangnya Latika menunggu Afriadi chat dia, soalnya dia lagi keluar dan tak tahu akan pulang jam berapa katanya sekitar jam 9 malam.
Dan semua grup sudah ia senyap kan lalu kenapa masih ada pesan.
Latika lihat ada 2 pesan satu lagi dari Afriadi dan satu lagi dari grup calon mahasiswa kedokteran.
Ia lihat pesan dari Afriadi dan itu isinya cuma mengingkatkan Latika untuk belajar dari link yang ia kirimkan untuk tes nanti.
__ADS_1
Lalu ia baca pesan dari grup jadwal untuk tes kapan, dan di grup itu ramai dengan celotehan calon mahasiswa kedokteran yang saling berkenalan dan ada saja yang megombal dosennya.
Adeh, Latika langsung cemberut di suruh belajar. Dan naasnya lagi saat ia kembali fokus sama Drakor.
Treng teng teng...
Filem Drakor sudah bersambung.
Rasanya kesel yang mendalam.
Mungkin itu tv atau saluran tv nya belum pernah kena bacok.
Yah, mau bagaimana lagi mau tak mau Latika milih untuk belajar saja, tak nafsu lagi mau nonton.
Ia meranjak dari sana meninggalkan Sari, menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Menghempas dirinya di tempat tidur, mulai membuka link yang Afriadi berikan padanya.
Ia mulai membaca isi linknya.
Satu dua tiga empat lima menit terlewati sampai menit ke sepuluh Latika sudah sudah hanyut terbawa arus mimpi, ia tertidur dengan posisi telungkup.
Gak jadi belajar berarti Latika.
Langar dua puluh menit Latika tak merubah posisinya juga. Sampai ada tangan yang membalik tubuh Latika membetulkan posisi tidurnya, menyelimutinya menjauhkan ponsel Latika.
Itu Afriadi dia sudah pulang dari urusannya, ia pergi masuk ke kamar mandi mencuci kaki dan tangan tak lupa sikat gigi sebelum tidur, lalu mematikan lampu kamar menghidupkan lampu tidur di sebelah ranjang, naik ke tempat tidur menarik selimut memeluk Istrinya mengusap kepala sang istri membacakan doa mana tahu dia belum baca doa sebelum tidur, lembut ia mengecup kening Latika.
Langar menit Afriadi sudah tidur.
***
Subuh.
Afriadi bertanya, "Malam tadi Adek sudah ada belajar untuk tes nanti?"
Latika yang masih menggunakan mukenah menyengir menggaruk pipi, "Ada s-sedikit."
"Heeem..." Afriadi menghisap kepala Latika, "Nanti belajar ya."
Latika hanya tersenyum malau, meangguk.
"Sudah di beritahukan kapan tesnya?" tanya Afriadi yang duduk di hadapan Latika.
"Sudah, tesnya tanggal 20 bulan ini."
"Berarti beberapa hari lagi, sekarang Adek belajar aja dulu."
"Apanya yang di pelajari Bang?"
"Kan malam tadi Abang sudah kirimkan link, pelajari saja ya mudahan saja materi yang di pelajari keluar."
"Abang dari mana dapatkan link itu?" Latika menatap curiga Afriadi, "Ini seperti bocoran soal."
Afriadi salah tingkah, menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Abang kan punya teman di sana? Dan beberapa alumni SMA Ayubiyyah juga ada di sana jadi... Ya, mereka menceritakan gitu tesnya seperti apa. Dan link itu Abang dapat dari mereka."
Mulut Latika membetuk huruf O
Yah, sekarang tinggal Latika saja lagi yang berjuang untuk masuk ke universitas kedokteran. Cita-citanya akan tercapai namun tak semudah itu, masih ada halangan dan rintangan bisa saja ia gagal meraih cita-citanya.
Hari demi hari terlewati.
Sampai tiba waktunya Latika ikut tes untuk masuk ke universitas kedokteran.
__ADS_1
Seperti biasa Latika di antar sama Afriadi sampai di gerbang, setelah itu Latika di serahkan sama temannya wanitanya untuk minta di jagakan. Maklum Afriadi takut Istrinya di goda sama pria lain saja.
Afriadi pergi menuju tempat ia mengajar SMA Ayubiyyah.
Jam berlalu.
Latika gugup ketika ia berhadapan dengan keras tes. Sebelum memulai menjawab pertanyaan Latika baca do'a dulu minta di berikan kemudahan.
Afriadi yang berada jauh dari Latika juga membantunya dengan do'a minta dilancarkan dan diberikan kemudahan pada Latika.
Latika membuka kertas tesnya, kaget ia lihat soalnya. Dalam batinnya sudah tertawa senang Hohoho...
Ia mulai mengisi, senyum bahagia Latika bisa isi tesnya.
Hampir semua soalnya sama dengan materi yang di berikan Afriadi. Hampir ya ada juga beberapa soal yang beda dan itu...
Bisa di jawab
Wahahahaha...
Aduh, batin Latika menahan tertawa. Ia mencoba untuk tetap fokus, biar lancar dan gak hilang apa yang di pelajarinya.
Waktu terus berlalu.
Sampai waktunya habis Latika juga siap dengan soal-soal tesnya.
Rasanya lega setelah tes, ia hanya tinggal tunggu beberapa hari untuk hasil tesnya keluar.
Dan sekarang Latika mau jalan-jalan keliling kampus di temani sama temannya Afriadi tadi, namanya Herli dia itu imut sedikit pendek dari Latika rambutnya terurai.
Herli memperkenalkan Latika dengan teman-temannya yang kebetulan ada di sana.
Habis keliling dan nongkrong di cafe ngobrol bersama dengan Herli dan 2 sohibnya, ia pulang ke Rumah.
***
Waktu berlalu.
Afriadi pulang dari sekolah.
Sampai di depan pintu rumah ia sudah di sambut Latika dengan wajah ceria.
Latika melepas jas dan meambil tas Afriadi.
"Ada apa nih cengar-cengir?" tanya Afriadi membuka kancing lengan bajunya, melihat beberapa bahagian.
"Em..." Latika menggoyang-goyangkan pinggulnya, meminta Afriadi menebak.
Afriadi meangkat kedua alisnya, "Beritahu saja Dek, jangan main tebak-tebakan Abang lelah. Beritahu sajalah."
Latika menggedipkan matanya, "Alhamdulillah, Adek lancar menjawab soal."
Mulut Afriadi berbentuk O, manggut-manggut.
Gak sia-sia kerja timnya, good job tim.
"Tadi Adek juga di ajak keliling kampus, dan kampusnya luas banget. Adek juga di kenalkan sama teman-teman Herlin." Latika sambil berjalan menceritakan tadi di kampus.
Afriadi mendengarkan cerita Istrinya, padahal ia sudah lelah tapi masih sempat saja mendengarkan cerita Istrinya.
"Abang makan dulu sana, Adek antar kan ini dulu," kata Latika menujuk jas dan tas Afriadi di tangannya.
Afriadi meangguk menuju ruang makan dan Latika menaiki anak tangga meletakkan jas dan tas Afriadi di kamar lalu turun menemani Afriadi makan.
__ADS_1
Ia tidak makan, karena sudah kenyang.