Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Mall 2


__ADS_3

Mereka bertiga terkejut melihat Afriadi.


"A-apa aku ketahuan? Bagaimana mungkin mereka mengenaliku? Aku sudah berpakaian sedemikian rupa, mana mungkin mereka mengenaliku," guma Afriadi dalam hati.


Afriadi yang syok tidak bisa berkata - kata lagi, dia mengira semuanya akan berjalan dengan lancar tampa ada hambatan, ternyata tidak sesuai yang diharapkan.


Apa lagi dengan Latika yang benar-benar syok melihat temannya, "Bagaimana mungkin mereka mengenali abang? Bukanya Abang sedah menutupi wajahnya."


Sangking syoknya Latika tidak menyadari lagi kalau tangannya masih berpegangan. Menambah kecurigaan temannya.


"Latika... Kau..." Hana menujuk Latika, jari telunjuknya gemetar menujuk Latika, matanya melihat tangan Latika di gandeng Abang, berkata dalam hati, "Tanganya."


Begitu juga dengan Nana, terkejut melihat tangan mereka tergandeng, soraknya dalam hati, "Latika... tangan mereka saling berpegangan."


Hati Salasiah bersorak heboh, "Tangan mereka saling berpegangan."


Mata mereka bertiga tertuju pada tangan Latika dan Afriadi yang berpegangan, fokus pada titik itu.


"Tamat sudah," batin Latika pasrah, apapun yanh terjadi setelah ini ia pasrah.


Mata mereka bertiga saling pandang satu sama lain, seakan menyadari sesuatu.


Lewat tatapan mereka saling bertanya.


"Pacarnya?," tanya Salasiah pada ke dua temannya, lewat tatapan mata.


"Jangan - jangan Pacarnya yang belikan Latika ponsel baru." Nana membalas lewat tatapan mata juga.


Mata Salasiah dan Nana menatap Hana yang di tengah mereka, berharap Hana tahu.


"Mungkin." Hana membalas lewat gerakan tangannya mengusap dagu yang tak berjengot.


"Apakah ini akhirnya?


Apakah status kami akan kebongkar hari ini?," jiwa Latika bertanya-tanya.


"Apa yang harus aku lakukan?." Afruadi bertanya pada dirinya sendiri.


"Latika... Dia..." Salasiah menujuk Afriadi, mulutnya bergerak lambat, tangannya bergerak lambat, suaranya juga ikut melambat, seakan-akan terjadi gerakan selomeson.


Jantung Latika sudah berdengup kencang, rasa sesak di dada dapat ia rasakan.


"Habislah sudah. Tamat kau Latika. Tamat.. Tamat.. Tamat.." Hati Latika menyumpahi dirinya sendiri


"PA-CAR-MU...?." Salasiah mengeja kalimatnya, dan sedikit di tekankan di setiap huruf vokal.


Afriadi dan Latika hanya melongo, mendengar pertanyaan Salasiah yang tidak mereka duga.


"Benar apa kata Hasan, jika pun mereka bertemu teman Latika atau anak murid lainnya pasti akan di kira aku pacarnya." Hati Afriadi berbisik.


"Alhamdulillah mereka tidak tahu." Latika bersyukur dalam hati.

__ADS_1


"Latika apa benar dia pacarmu?," tanya Salasiah sekali lagi.


"Eeemm... Ya." Latika salah tingkah, ragu-ragu menjawab, menyengir.


"IIIHHH... WAW... Kau sudah punya pacar." Nana bertepuk tangan, kagum, hatinya berseru heboh, "Benarkan pacarnya."


"Cie... Cie..." Salasiah dan Nana menggoda Latika.


Latika... Latika... Sini dulu?." Hana menarik tangan Latika, membawanya menjauh dari Afriadi, "Siapa dia?."


"Em... Pacarku."


"Apa dia pereman yang kemarin menembakmu?," tanya Hana. Ia meingat beberapa Minggu yang lalu, sebelum Latika mengalami kejadian itu, kejadian yang mempersatukannya dengan Afriadi. Hari itu pulang sekolah, Hana dan Latika pulang berjalan kaki bersama, mereka berencana singgah di toko buku, sesampainya di toko buku Latika tak sengaja menabrak pria yang sedang mencari buku, pria yang berpenampilan seperti pereman baju gambar tengkorak, celana di lutut koyak, rupa tampan tapi dingin.


Latika cepat minta maaf, Hana menarik Latika menjauh darinya, dia menghentikan langkah mereka dengan kalimat 'Tidak apa'. Latika berbalik tersenyum, Hana yang panik cepat menarik Latika. Mulai hari itu, Latika sering bertemu dengan dia, entah dari mana dia tahu kalau Latika sekolah di SMA Ayyubiyah, setiap pulang sekolah Latika di hadang dia, yang parahnya lagi dia menembak Latika di depan semua murid, teman engak apa lagi kenal tiba-tiba datang menembak Latika.


Latika risih juga, di dekati orang itu walau tampangnya lumayan tampan.


Hadi yang tahu kalau Latika sering di hadang sama pereman itu, mengambil tindakan, menghadapi orang itu, dia tak ada lagi muncul di depan Latika. Entah apa yang Hadi lakukan, yang jelas itu pereman tak kelihatan lagi.


"Aku dengar apa yang kalian bicarakan, sembarangan bilang aku pereman." hati Afriadi mengomel tak terima di sebut pereman.


"Eh... Bukan, dia bukan pereman." Latika memjawab pertanyaan Hana tadi.


"Latika aku tanya sekali lagi, dia seriusan dia pacarmu? Sejak kapan kau pacaran dengan dia? Di mana kau bertemu dengan dia? Kenapa kau bisa jadi pacar dia? Dia tidak memaksamu, kan? Kau tidak memanfaatkan dia, kan?. Dia bukan pereman, kan?." terlalu banyak pertanyaan Hana seperti ibu-ibu yang khwatir sama anaknya yang salah pilih pacar.


Latika ragu mau menjawab. Itu pertanyaan beranak pinak jika Latika jawab bisa-bisa terbongkar rahasia mereka.


Sedangkan Salasiah dan Nana masih di dekat Afriadi mengintrogasinya.


"Dia kelihatan menakutkan. Seperti pereman," seru Salasiah dalam hati.


"Apa kau pereman?." Nana bertanya, mengkacak pingang.


"HAH... Pereman." Afriadi mendelik dalam hati, "Anak - anak ini menilai seseorang dari penampilan luarnya, apa aku kelihatan seperti pereman?."


"Bukan." Afriadi menjawab ketus.


"Siapa nama kau?," Nana bertanya lagi.


"Afri-" belum sempat Afriadi menyelesaikan kata-katanya keburu di potong Nana, berbisik pada Salasiah, "Kok... Seperti nama kepala sekolah kita ya? Jangan - jangan..."


"Iya, jangan - jangan..." Salasiah menaruh curiga pada Afriadi, serentak mereka melirik Afriadi.


Merasa kalau mereka curiga padanya, Afriadi cepat cari sambungan namanya, di lihatnya papan iklan zalada, timbul di pikirannya satu nama sambung yang kelihatan cocok, "Afri yolanda."


"Eh... Kelihatanya bukan." mereka berkata lewat tatapan.


"Aku kira tadinya kau kepala sekolah kami soalnya namamu mirip sekali." Salasiah menyengir.


Afriadi tidak merespon.

__ADS_1


"Dia tidak menjawab!." hati Nana bersorak.


"Sombong sekali dia, dingin lagi, tidak salah latika memilihnya atau Latika terpaksa pacaran dengan dia!." hati Salasiah bersorak heboh, "Lagian tidak mungkin juga Latika berpacaran dengan Kepala Sekolah kami yang keren itu, mustahil Latika jadian dengan orang yang digin dan sejutek dia."


Afriadi melirik Salasiah tajam, melangkah meninggalkan mereka, datang mendekati Latika.


Di ikuti di belakangnya dengan Salasiah, dan Nana.


"Adek," panggil Afriadi menepuk bahu Latika.


"HAH... Adek." Salasiah dan Nana yang ada di belakangnya terkejut mendengar Afriadi memanggil Latika Adek.


"Apa Adek? Dia memanggil Latika adek." hati Hana bersorak menggila.


"Apa itu panggilan mereka?," batin Salasiah dan Nana kompak bertanya. Mendkati Hana.


Mata Latika melotot, tak menyangka kalau Afriadi akan memanggilnya dengan panggilan itu di depan teman-temannya.


"Apa sudah selesai? Ayo pergi," ajak Afriadi, menetap Latika.


Latika menatap balik, meangguk, "Hmm... Semua aku pergi dulu ya?." Latika melambaikan tangan pada temannya.


"Dia sangat menyeramkan, apa Latika akan baik - baik saja dengan dia?." Salasiah merangku ke dua temannya, berunding, mengeluarkan suara kecil, "Dia seperti pereman."


"Ah... Kita harus mendampingi Latika, menyadarkan kalau dia salah dalam memilih pacar. Soalnya itu cowok seperti gak cocok dengan Latika galak, Latika juga kelihatannya takut dengan itu orang." Nana berbisik, mengeluarkan dugaan-dugaan yang membuat temannya percaya dengan apa yang ia katakan.


"Jangan - jangan dia mau berbuat macam - macam pada Latika. Beli ini beli itu menyogok Latika, nanti dia minta imbalan yang macam-macam, sempat dia minta yang HAAA, bahaya." Salasiah parah lagi semapat saja ia terbayang sampai ke sana.


"Tidak bisa dibiarkan." Nana menggeleng-geleng kepalanya, "Latika baru pertama kalinya pacaran jangan sampai ia tertipu dengan si buaya darat itu. Kita buka topeng buaya darat itu."


"Em... Libatkan aku." Hana membuka mulut, ikut bergabung dengan mereka, biasanya dia paling tidak suka ikut campur urusan asmara orang lain, karena menyangkut soal temannya jadinya dia ikut campur.


Mereka bertiga saling berbisik merencanakan sesuatu.


"Apa yang mereka rencanakan," guma Afriadi, ia merasakan ada firasat buruk, "Ayo dek kita pergi." Afriadi menggandeng tangan Latika, "Sebelum terjadi apa - apa."


Latika melihat tangannya yang di gandeng lagi, "Semua aku pergi dulu ya."


Tiba - tiba...


"Latika tunggu..." Salasiah menarik tangan kiri Latika, menghentikan langkahnya, "Kita pergi bersama - sama saja, bolehkah?."


"Ya... Kau jarang belanja bersama kami." Hana ikut menarik tangan Latika.


"Tapi, aku ke sini bukan untuk belanja, aku hanya-" perkataan Latika di potong Nana, yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, "Ah... Kami paham. Ayo kita pergi bersama - sama."


Nana berusaha meleraikan tangan mereka berdua dengan tangannya. Tapi, tidak bisa Afriadi malah semakin erat mengengam tangan Latika, menatap tajam Nana yang akhirnya Nana menyerah.


"Haha... Kuat betul," guma Nana tertawa getir.


"Pemandangan apa ini?." Hati Latika terus bertanya-tanya melihat pemandangan yang tak biasa, Latika seperti direbut - rebutkan mereka. Mata mereka yang bertatapan dengan tajam. Salasiah dan Hana yang memegang tangan kiri Latika, Afriadi yang memegang tangan kanan Latika, Nana yang berusaha meleraikan kami, "Situasi apakah ini?."

__ADS_1


__ADS_2