
"Hah, sejauh manapun aku pergi tetap saja perasaan ini tak berubah padanya," gumam Hadi meangkat kepala membiarkan angin pantai menerpa wajahnya serta membuka lebar tangannya membiarkan angin menerpa tubuhnya.
Kalau angin betina mungkin rela menabrak tubuh Hadi berkali-kali ˇ∀ˇ
"Apa kabar kalian?" gumam batin Hadi teringat teman-temannya terutama Latika.
Semenjak menjauh ni Hadi selalu terpikir teman dan orang terdekatnya apalagi Sahril the best friends.
PLAK...
Ada yang menepuk punggung Hadi dengan kuat, memutuskan lamunan Hadi.
"Aduh." Hadi merintih kesakitan, melihat siapa yang menepuk punggungnya.
"Hadi, are you oke?" tanya seorang pria berambut pirang mendekati berdiri dibelakang Hadi.
"I'm oke." Hadi meangguk pada teman barunya ini namanya Brian, pria berambut pirang dengan kulit putih seputih cat tembok, tubuhnya tinggi persis tiang listrik. Kalau ukur tinggi Hadi dengannya, ya paling tinggi Hadi sampai telinganya saja.
Brian tertarik berteman dengan Hadi karena Hadi berasal dari Indonesia, apalagi saat Hadi bicara bahasa daerah saat kesal Brian makin suka lihat dia bicara bahasa daerah sampai minta diajarkan, karena cita-cita kecil Brian ingin menikahi gadis asli Indonesia.
Oh, ya dia satu kampus, satu jurusan, dan satu kelas.
Ayah dan ibu Brian seorang pengusaha sukses di bidang kuliner dan entertainment, jadi wajar kalau Brian sering terakhir Hadi, lumayan lah untuk Hadi nabung uang.
Ngomong-ngomong Brian bukan muslim dia beragama Kristen Katolik. Brian tahu Hadi Muslim dan itu juga yang membuat ia tertarik untuk berteman dengan Hadi. Brian tahu Hadi Muslim saat ia mengajak Hadi pergi ke bar dan Hadi menolak saat ditanya dia terkejut setelah tahu Hadi muslim, tentunya juga Brian langsung minta maaf telah mengajaknya untuk pergi ke sana, Hadi tak menganggap betul. Mulai hari itu Brian jarang ke bar sampai orang tuanya sampai bingung dengan anaknya biasanya salah makan obat apa kemaren.
"Hey! Daydreaming again (Hey! Melamun lagi)" Brian menepuk sekali lagi punggung Afriadi, menyadarkannya dari lamunan,
"Do you like the view, you seem to enjoy (Apa kamu suka dengan pemandangannya, kamu terlihat menikmati)"
__ADS_1
Hadi tersenyum, meangguk sekali,
"Yes I like the view (Ya aku suka pemandangannya)"
Brian menjauhkan tangannya dari punggung Hadi, memasukkan ke dalam kantong celana, "let's get something to eat, I'm already hungry (Yuk kita cari makan, aku sudah lapar)"
"Of course (Tentu)" Hadi menoleh pada Brin berkata demikian
Sorry bahasa Inggrisnya kurang bagus, soalnya pakai kamus berjalan..
Dua cogan pergi meninggalkan pantai xxx mencari makan untuk beri makan anggota keluarga perut.
Wuuss...
Angin melintas membawa beberapa butir pasir ke udara lalu menjatuhkan nya kemabili ke tempat berbeda, begitu juga dengan harapan Hadi beharap esok lusa nama Latika dari hatinya bisa terlepas dan meletakkan nama itu pada tempatnya dan menempatkan nama wanita lain di hatinya.
***
Tup...
Afriadi menutup mulut Latika dengan telapak tangannya, meskipun ia perhatiannya masih fokus pada buku di tangannya tahu aja kalau istrinya menguap tak tutup mulut.
"Dibiasakan tutup mulut saat menguap?" Afriadi mengguncang mulut Latika dengan tangannya.
Latika hanya tersenyum di balik telapak tangan Afriadi, Latika sengaja menjulurkan lidahnya menyentuh sedikit telapak tangan Afriadi.
"Eg." Afriadi terperanjat kaget, perhatiannya langsung teralihkan pada Latika.
Latika menurunkan tangan Afriadi menjulurkan lidahnya mengejek Afriadi.
__ADS_1
Cepat Afriadi mendekatkan wajahnya mau menerkam bibir Latika. Cepat Latika menghindar menarik kembali lidahnya.
"Mulai nakal ya," kata Afriadi megang dagu Latika meangkat ya sedikit sejajarkan dengan wajahnya. Ia tersenyum penuh arti.
Latika merasa tak enak dengan senyuman itu, ada firasat lain. Dengan mata terpejam Afriadi mendekatkan wajahnya.
Latika menebak apa yang akan Afriadi lakukan padanya, ia turut memejamkan matanya mengikuti alur.
Saat terasa hembusan nafas Afriadi menghantam wajahnya, Latika merasa dia sudah dekat.
Deg Deg Deg jantung di buatnya.
Namun realita tak seindah ekspansi.
Dikira dapat kiss malah dapat himpitan tangan Afriadi di kedua belah pipinya menonjolkan mulut Latika.
Sontak Latika kaget melihat ekspresi gemes Afriadi padanya.
"Heemm, berpikir apa Adek." Afriadi gemes sama Latika menggelengkan kepala Latika.
Tangannya berhenti menggelengkan kepala Latika, menghantukkan kepalanya dengan kepala Latika menggesekkan hidung mereka.
Bibir Afriadi mencium pipi Latika ketika ia sadar istrinya itu sudah menguap lagi tak lupa tutup mulut sendiri, sudah ngantuk dia.
Pipi empuk lembut dirasa bibir Afriadi. Pipi Latika memerah, akhirnya dapat jatah. Tak percuma dia jahil pada Afriadi ◕ヮ◕
Perlahan kepala Latika jatuh ke bantal, perlahan juga Afriadi memeluk Latika biar tidur di dekatnya, tangannya mengusap kepala Latika.
Selang beberapa detik merasa sunyi dan merasa Latika belum hanyut terbawa arus mimpi sampai ke Korea sana Afriadi bertanya pada Latika, "Macam mana tadi Dek?"
__ADS_1
Ternyata Latika hanya gumam saja, merasa aneh dengan jawaban Afriadi melihat Latika. Cahaya lampu tidur menampakkan mata Latika yang sudah terpejam dan dia sudah berangkat mengikuti arus mimpi.
Afriadi tersenyum mencium kepala Latika.