Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Murid Baru


__ADS_3

"Mereka pulangnya lama ya, Bik?."


Mang juneb yang duduk di kursi luar rumah, ditemani Bik Ipah yang duduk di sampingnya menunggu Tuanya datang.


"Iya juga ya.


Hari semakin sore, sebentar lagi azan magrib," sahut Bik Ipah.


"Apa telpon saja ya, Bik?." Mang Juneb mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


"Jangan, nanti menganggu lagi," cegah Bik Ipah.


"Bik, hari ini aku ditanya lagi dengan para tetangga, tentang Non."


"Kau jawab apa?."


"Sama seperti yang disuruh."


"Bagus."


"Tapi Bik, soal menganggap Non sebagai keponakan saya itu, tidak mencurigakan Bik, jauh sekali rupanya, Non cantik sedangkan saya pas - pasan lagian, kadang - kadang mereka mencibir saya."


"Sabar ya, Neb."


"Iya Bik, tapi untung juga."


"Untung apa?."


"Hehe.... Itu Bik, untung Non menjadi keponakan sementara, mana tahu nanti cantiknya Non ketularan pada keponakan saya di kampung."


"Amin."


"Lagian tumben - tumbenan tetangga sini pada kepo.


Biasanya mereka sibuk dengan urusan mereka, tidak menganggap penting urusan orang. Apa mungkin karena Tuan yang tiba-tiba bawa cewek ke rumah, jadinya para tetangga pada penasaran tanya-tanya melulu."


"Ya iyalah Neb. Namanya juga manusia Neb kadang kepo dengan urusan orang, lagian para tetangga kan jarang lihat Tuan pulang bawa cewek, jadinya para tetangga pada kepo."


"Oh iya Bik. Bagaimana dengan kadaan Mas Ardi?," tanya Mang Juneb yang ingat dengan Mas Ardi, suaminya Bik Ipah yang tinggal di kampung mengurus persawahan dan perkebunan Afriadi.


"Allhamdulillah, baik."


Tetttt...


klakson mobil berbunyi.


"Wah kelihatan itu tuan, Bik." Mang Juneb bangkit dari kursinya, cepat berlari, melewati halaman Rumah yang lumayan luas.


"Cepat buka pagarnya" Bik Ipah meneriaki Mang Juneb.


Mang membuka pagar rumah, setelah di buka pagarnya lebar-lebar, mobil masuk, Mang Juneb kembali menutup pagarnya.


Bik Ipah yang duduk, berdiri menghampiri mereka.


Latika dan Afriadi ke luar dari mobil, betapa terkejutnya mereka berdua melihat Afriadi yang berantakan.


"Em... Tuan..." Bik Ipah mencoba untuk bicara.


"Jangan tanya Bik, simpan saja pertanyaanya dulu." Afriadi menyela, mecegah Bik Ipah untuk bertanya. Ia masuk ke rumah menuju kamarnya, dia kelihatan kelelahan.


"Non ada apa dengan Tuan?" Bik Ipah mendekati Latika, bertanya padanya, penasaran apa yang terjadi?.


"Hemm... Nanti saja Bik saya ceritakan." Latika tersenyum, menunda jawaban, kakinya melangkah masuk ke rumah.


"Jangan buat penasaran Non," teriak Mang Juneb, mendekati Bik Ipah, ikut penasaran.

__ADS_1


Latika menoleh tersenyum pada mereka berdua serempak dengan kakinya berjalan memasuki rumah.


Pas sekali mereka sampai di rumah, azan maghrib berkumandan.


"Ya udah simpan saja pertanyaannya, nanti kita tanya lain waktu. Mungkin mereka lelah," kata Mang Juneb, berbalik badan, mengambung-ambungkan kunci mobil yang di berikan Afriadi untuk di parkirian.


Em... Bik Ipah meangguk, menyimpan banyak pertanyaan pada mereka.


Setelah sampai di Kamar. Latika langsung mandi membersihkan badan, dan bersiap - siap untuk melalsanakan sholat maghrib.


Berapa jam kemudian, setelah makan malam, membantu Bik Ipah di dapur sambil menjawab pertanyaan Bik Ipah sore tadi serta menceritakan sedikit kejadian di Mall, dan setelah sholat isya' Latika rencananya ingin minta izin dengan Afriadi untuk kegiatan setelah pulang sekolah.


*jadwal kegiatan yang ia buat*


Senin.


Belajar make up dengan Salasiah.


Selasa.


Main di rumah Nana.


Rabu


Aku latihan silat untuk pertama kalinya.


Kamis.


Pramuka.


Jum'at.


Pengajian.


Dance.


Minggu.


Belajar masak dengan Hana.


Ini semua jadwal yang sudah Latika susun, kalau di lihat - lihat padat juga, habis pulang sekolah langsung melakukan kegiatan. Masih banyak kegiatan di sekolahnya, tapi Latika memilih yang ia sanggupi saja.


Rencananya Latika mau memberitahu Afriadi tentang ini sekalian meminta izin darinya.


Sekarang Latika berdiri di depan kamarnya.


Tok... Tok...


Tangan Latika mengetuk pintu kamarnya.


Berkali kali Latika mengetuk pintu kamarnya tapi, tidak ada jawaban juga.


"Kenapa tidak ada jawaban, ya?


Em... Mungkin Abang lelah," guma Latika berhenti mengetuk pintu kamarnya,


"Ya udah, nanti saja beritahunya."


Latika mengurunkan niatnya untuk minta izin, berbalik badan ingin kembali ke kamarnya yang tidak jauh dari kamar Afriadi, hanya berjarak beberapa meter saja dari sebelah pintu kamar Afriadi menuju pintu kamar Latika.


Ketika Latika ingin masuk kamar, telintas dalam pikirannya, dan benaknya, "kalau Abang pingsan atau apalah gitu yang terjadi. Dari tadi dia tidak ke luar kamar, suaranya juga tidak kedengaran.


Ah, jangan - jangan dia tergelincir di kamar mandi mungkin karena kelelahan jadi tak bisa jaga keseimbangan, terus jatuh. Hoooh... Tidak."


Perasan Latika berubah jadi panik, tampa pikir panjang lagi ia masuk ke kamar Afriadi.

__ADS_1


"Gelap." Latika masuk ke kamarnya, kamar Afriadi sungguh gelap, tak ada cahaya, sedikitpun. Cahaya lampu dari depan yang menerobos masuk ke dalam memberi cahaya pada Latika.


Latika kira apa yang di dalam pikirannya dialami oleh Afriadi.


Ternyata yang ia jumpai.


Afriadi terbaring rapi di atas tempat tidur dengan tangan Yang terlipat di atas perut, mata yang terpejam.


"Tidur. Aku kira dia pingsan," guma Latika pelan memperhatikan Afriadi, "Abang pasti lelah menjalani hari ini, kalau di ingat Abang hari ini apas betul. Pergi sajalah, orangnya tidur nanti menganggu pula."


Niatnya mau pergi, tapi malah tidak jadi.


Latika melihat ia tidur tidak pakai selimut, tidak terasa tangan Latika mengambil selimut di ujung kakinya, dan menyelimutinya, tidak cukup sampai di situ, Latika mengelus kepalanya ia ingin tahu rasa mengelus kepala laki-laki, ragu-ragu ia mengelus kepala Afriadi pelan-pelan takutnya dia bangun, "Selamat tidur say-


Eh... Abang semoga mimpi indah," kata Latika pelan seiring dengan tangannya yang ikut mengelus. Afriadi tersenyum dalam gelap menyadari kehadiran Latika, ternyata dia belum tidur hanya memejamkan mata. Baru tiga elusan Latika langsung pergi.


Ke esokan harinya.


Di sekolah.


Di lorong kelas Siswa berkumpul ramai-ramai sampai di jendela juga penuh dengan kenampakan kepala siswa, seperti menunggu seseuatu lewat.


"Oi... Sudah lihat tidak murid barunya."


"Iya, sudah cantik, bohay lagi."


"Wah... Cantik."


"Iya, luluh hati ini melihatnya."


"Jadi bunga sekolah kelihatannya itu."


"Cantik bodynya cihuy.."


"Kayak bidadari baru turun dari kayangan."


"..."


"..."


Kata-kata Siswa yang didengar Siswi sepanjang pagi ini. Tak bosan-bosannya mereka membicarakan murid pindahan yang baru masuk hari ini.


"Tuh... Tuh... Lihat orangnya lewat," salah seorang yang berkumpul si sana menunjuk anak pindahan yang berjalan di ujung lorong sekolah. Rambut pirang berkobar di tiup angin, kulit putih glowing, bibir sxsi, seragam putih abu-abu yang ketat dan rok yang pendek, melihatkan body angka 8 depan waw belakang waw.


Si murid pindah itu melewati Siswa.


Pagi-pagi sudah cuci mata.


"Hy! Cewek."


"Fiuuuiiit... Manis."


Godaan, gombalan yang di dapat anak pindahan itu ketika melewati siswa-siswa


Cibiran, dan kebencian yang didapat anak pindahan itu ketika siswi satu sekolah mengetahui murid baru lebih cantik.


Yah, yang mencibir itu hanya iri saja dengan si anak baru, kalah cantik.


Selama sepagian ini semua sibuk membicarakan siswi baru itu.


Yah, termasuk teman Latika.


Latika penasaran dengan murid baru itu, ingin melihat seperti apa rupanya, dengar kabar Siswi masuk di kelas 11 B IPA. Satu kelas dengan Sahril, cocok juga tuh kelas dengan anak baru itu. Kelas 11 B IPA, banyak di kenal dengan siswa dan siswinya yang bebas.


"Rasa - rasanya ingin melihat dia, seperti apa ya, apa benar seperti yang dibicarakan?," guma Latika melihat di luar jendela kelas, melihat langit yang cerah.

__ADS_1


__ADS_2