
Kukuruyuuuukkk...
Kukuruyuuuukkk...
Ayam saling berkokok mengadu suara.
Matahari sudah berjalan naik cahayanya mulai terasa panas.
"Em..." kelopak mata Latika terbuka, ia sadar dari pingsannya.
"Di mana ini? Aku ada di mana?." batinya bertanya-tanya, matanya melihat sekeliling ruangan yang di tata rapi, sebuah televisi besar terpampang di depan sana, tempat tidur yang ia baringi terasa empuk, selimutnya berbau parfum laki-laki, tangannya menyentuh kepalanya yang terasa agak pusing, ia seakan mengingat kejadian semalam dalam pikirannya.
Ia bangun perlahan-lahan duduk bersandar. Ia berkata dalam hati, "Hah, ternyata hanya mimpi, tapi kenapa serperti nyata sekali, ya."
"Kau sudah sadar," ucap seorang pria di sana, berdiri di depan jendela besar di seberangnnya, melirik Latika.
"Ha... Ba-bapak..." Latika tergagap-gagap tangannya gemetar menunjuk Afriadi di sana, "Ke-kenapa ba-bapak ada di sini? Jangan-jangan..." tubuhnya gemetar hebat, membuat ia memeluk dirinya sendiri, matanya ikut bergetar tidak percaya, "Apa apa apa apa kejadian semalam itu nyata?"
Afriadi berjalan mendekati Latika, "Latika, egh.. Kejadian itu nyata bukan rekayasa dan itu benar terjadi, sekarang kau-"
"Tidak tidak tidak tidak tidak." Latika memotong perkataan Afriadi, "Itu tidak mungkin b-bapak bercanda, kan?"
__ADS_1
"Latika-" Afriadi ingin menyentuhnya, tapi tidak jadi, ia mengurungkan niatnya.
"Jangan katakan..." tangan Latika berpindah menutupi kedua telinganya, ia tidak mau mendengarkan, kepalanya menggeleng tidak percaya.
Afriadi mencengkram bahu Latika mengguncang pelan tubuh Latika, "Latika Latika tenang Latika memang berat untuk mengakuinya, memang berat untuk meneriman kenyataannya, tapi apalah daya kejadian itu menyatukan kita dan sekarang kau. Kau adalah Istriku."
"Tidak tidak tidak tidak itu hanya mimpi dan ini juga hanya mimpi, bangun Latika bangun Latika." Latika menampar pipinya berkali-kali sampai memerah.
Tap... Afriadi menahan tangan Latika, "Latika, tenang Latika."
"Lepaaas!!! Hiks... Hiks... Hiks... Lepas..." lagi-lagi air mata Latika tumpah lagi.
Afriadi tak kuasa melihat wanita muda di hadapannya itu menangis melepaskan genggamannya.
"Latika mau bagaimanapun kau bilang itu mimpi kau ingin bangun dari mimpi itu, tetap saja kau tetap akan terbangun di saat seperti ini, tidak bisa kau hindari lagi." Afriadi tersengkal menahan emosi, terduduk di tepi ranjang.
"Tidaaaaakka...," teriak Latika mendorong Afriadi sampai terjatuh dari tempat ranjang.
Bruuuk...
"Ah." Latika terperanjat tidak sadar dengan apa yang barusan ia lakukan.
__ADS_1
"Egh." Afriadi bangkit, "Aku akan pergi, kau tenangkan dirimu dulu." Ia berjalan meninggalkan Latika, menutup pintu kamar.
"Hiks... Hiks... Hiks... Sekarang aku Istrinya Bapak. heek huuuuu..." Isakan tangis Latika harus terhenti ia menyadari sesuatu, "Hamil." Latika menyentuh perutnya. "Aku mengandung anak Bapak. Tidak tidak tidak tidak aku tidak hamil." tangisan Latika tambah menjadi, "Ayah Ibu maafkan Latika, Latika tidak menjaga diri dengan baik, maafkan Latika Yah maafkan Latika Bu."
Latika murung di kamar, seharian ini ia hanya berada di kamar menenangkan dirinya, mencoba menerima kenyataan.
Terlalu berat untuk Latika menerima kenyataan, ini terlalu berat apa lagi melepas statusnya sebagai gadis dan menyerahkan keperawananya kepada pria yang tidak terlalu ia kenal itu, apa lagi ia menyangka kalau ia hamil.
******************************************
Hallo semua.
Apa kabar?
Sehat kan.
Yang sakit semoga cepat sembuh.
Di sini saya hanya tahu saja, para pembaca dari mana saja.
Kalau ada yang di desa atau kampung sebutkan kampungnya dan di provinsi mana, ya.
__ADS_1
Komen di komentar, ya.