Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Usai sudah


__ADS_3

Matahari tenggelam di barat, langit sebahagian berubah warna menjadi gelap menyusul menyerang matahari. Begitu juga kejahatan bisikan iblis kuat saat itu, sampai penghianatan dan balas dendam atas hati yang tersakiti.


Detik itu fitnah menyebar melalui media sosial.


***


Rumah Laila.


Sekitar 20:55 malam. Lepas sudah dari Maghrib.


"Apa!!! Apa-apaan ini? Gak gak gak... Ini gak benar. Tidak mungkin.


Ini tidak mungkin. Siapa sih yang menyebarkan berita bohong ini."


Laila marah membaca berita di grup guru SMA Ayyubiyah.


"Ada apa sih Nak, dari tadi Papa lihat kamu marah-marah." Raya menghampiri Laila membawa Cakir kopi.


"Ini loh Pa." Laila menunjuk berita hot pada papanya.


"Apa!!!" Raya saja sampai terkejut baca berita itu, sampai tak berkedip ia melihat cewek seksi itu.


Plak...


Laila menepuk kuat punggung papanya.


"Apa-apaan ini? Siapa yang menyebarkan berita ini?"


"Gak tahu Pa. Ditanya pada Kamarudin gak tahu, katanya dia jumpa itu di FB lalu di kirimkan ke grup,"


"Papa mau ke Rumah Afriadi mau tanyakan yang sebenarnya." Raya meletakkan gelas kopinya di atas meja tamu. Meranjak meambil kunci mobil, pergi keluar Rumah.


"Pa, Laila ikut."


"Ayo cepat."


"Ini tak bisa dibiarkan." Raya membuka kasar pintu mobil.


Mereka berangkat pergi ke Rumah Afriadi.


***


Sedangkan di Rumah Salasiah.


Salasiah lagi memainkan leptopnya, membalas chat teman sekolahnya di sekolah tahu-tahunya ada yang memberi kabar mengenai Latika dan Afriadi.


Penasaran, Salasiah melihat berita itu.


"Hoooh..." Mata Salasiah membesar mendekatkan matanya yang bermata empat itu ke Leptop.


"Apa ini benar? Oh.. Ini tidak mungkin. Latika kau." Salasiah menunjuk gambar di Leptopnya, "Astaghfirullah jangan lihat lama-lama." Salasiah menutup matanya ingat dengan dosa, tapi ia masih tak percaya mengintip.


"Gak gak gak gak gak gak gak gak gak... Ini gak mungkin Latika. Ya Allah, seksi sekali." Salasiah heboh sendiri membaca berita di internet.


Dreeeett..


Ponsel Salasiah berbunyi.


Ada panggilan masuk.


Salasiah melihat siapa yang memanggilnya, sambil menggerutu Salasiah meangkat panggilan itu. Panggilan dari seorang siswi.


Adik kelas yang dekat dengan Salasiah.


"Halo." Salasiah membuka kalimatnya.


"Halo kak Salasiah." Terdengar suara cewek dari dalam ponsel.


"Ada apa Dinda?" tanya Salasiah dengan Dinda, Nana cewek di dalam ponsel.


"Kak, kakak sudah baca berita hari ini?"


"Sudah." Salasiah berseru malas.


"Itu bukannya teman kakak, ya?" Dinda tanya melulu ini.


"Iya, dia temanku." Salasiah menjawab lemah.


"Apa benar kak Latika itu kekasih gelap Pak Afriadi?"


"Haduh, Latika tidak akan melakukan itu. Ia sudah punya pacar.


Gak mungkin pacaran dengan Pak Afriadi. Lagian ini pasti ada orang yang tak senang dengan Latika, makanya ia membuat berita seperti ini," omel Salasiah langsung terdiam Dinda.


"Aduh, sayangnya besok kami tak sekolah. Kalau sekolah pasti seru ini."


Panas telinga Salasiah dengar kalimat Dinda,


"Huuuuss.. Jangan gitu, nanti aku sumpal mulutmu itu pakai cabe."


"Ampun kak. Siapa nama pacar Kak Latika?"


"Latika itu punya pacar Afriiiiii..." Salasiah sadar akan sesuatu, nama Afri itu mirip dengan nama Kepseknya tinggal tambah Adi saja lagi. Ia mengingat saat pertama kali bertemu dengan Afri,u


"Ah, Dinda lain kali saja kita bicara."


"Kak-"


Tuuuttt.. Tuuuttt..


Panggilan berakhir.


Salasiah meacak-acak kepalanya, teriak persisi orang gila,


"Ooooooo.. Aku gak konsen baca buku, harus cari siapa yang menyebarkan berita ini. Tapi, Afriadi apa benar pacar gelap Latika. AAAAAAAAAAAAAA... STRES AKU. KALAU BENAR." Salasiah menggigit kuku, "BISA JADI AKU GAK LULUS TAHU INI, SOALNYA AKU GANGGU DIA TERUS. AAAAA..."

__ADS_1


Salasiah menyadari kesalahannya saat ia menganggu Latika dan Afriadi di Mall lalu menyebuti Afriadi di depannya. Sampai bilang mau dibacok segala lagi.


Salasiah menghantukkan kepalanya di meja, berkaki-kali.


***


Sedangkan di Rumah Afriadi


Latika jatuh demam terbaring lemah di tempat tidur.


"Kak aku mau lihat Abang," pinta Latika dengan mata sayu menatap Viana di sampingnya.


"Iya. Nanti ya. Kamu kan lagi sakit, sekarang kamu istirahat saja dulu," pujuk Viana, mengantikan kompres Latika.


"Gak mau, aku mau lihat Abang." Latika menggeleng.


"Tolong Latika jangan memaksakan dirimu, istirah saja dulu. Besok ya kita lihat Abang. Mana tahu Abang pulang malam ini. Istirahat dulu ya. Latika banyak-banyak saja berdo'a ikut membantu Abang dengan do'a Latika," pujuk Viana, menepuk pelan bahu Latika menidurkannya.


Latika mengikuti irama tepukan Viana menutup matanya, mulai tidur.


Tak lama terdengar suara bel Rumah.


Teng... Nong...


Mulut Viana penyot menyumpah siapa yang datang di waktu yang gak telan begini,


"Siapa malam-malam begini datang?"


Mata Latika terbuka, ia terbangun dari tidurnya yang pendek. Cepat Viana menepuk-nepuk pelan bahu Latika menidurkannya lagi.


Viana meranjak dari tempat tidur setelah memastikan yang kedua kalinya Latika sudah tidur.


Viana meninggalkan Latika, turun menemui tamu itu.


Ketika sampai di ujung tangga Viana bertemu Bik Ipah yang mau memberitahu kalau ada tamu, Viana meangguk meminta Bik Ipah membuatkan air minum untuk merek. Lekas Viana menemui para tamu.


Viana sampai di Ruang Tamu, Laila menatap tajam Viana begitu juga sebaliknya Viana menatapnya tajam juga


Batin Laila berkata sinis, "Wanita ini. Apa dia istrinya Mas Afriadi? Apa dia tahu kalau Mas Afriadi selingkuh."


"Ah, Afriadi ada?" tanya Raya ketika Viana duduk di sofa seberang mereka.


"Afriadi tidak ada." Viana menggeleng, "Ada apa? Bicarakan saja dengan saya."


"Anda Istrinya Afriadi, kan?" tanya Laila penasaran.


"Ha..." Viana kaget dirinya disangka istrinya Afriadi, "Tidak."


"Apa?" batin Laila terkejut, selama ini ia sangka kalau Viana istrinya Afriadi. Timbul pertanyaan di benaknya, siapa Istri Afriadi? Apa Afriadi sudah menikah? Atau belum?


"Anda bukan Istrinya Afriadi?" Laila memastikan sekali lagi.


"Bukan, saya temannya." Sekali lagi Viana menjawab.


"Afriadi lagi ada urusan. Bicarakan saja dengan saya. Nanti saya sampaikan."


"Ah, nanti saja kita bicarakan dengan Afriadi-nya langsung." Raya kurang percaya dengan Viana, "Ka-"


"Tunggu dulu." Laila memotong kalimat ayahnya, "Anda kenal Afriadi?"


"Ya, saya kenal Afriadi dan tahu banyak tentang dia."


"Baguslah, anda bisa dipercaya." Raya mencuil lengan Laila memintanya untuk tak menanyakan dengan dia, mengajaknya segera pergi, namun Laila tak memperdulikan, melanjutkan kalimatnya, "Kami ke sini mendengar kabar kalau Afriadi dan muridnya melakukan hubungan gelap-"


Tak sempat Laila menyelesaikan kalimatnya Viana sudah memotong, telinganya panas mendengar kata Laila, "Apa maksud kau? Jangan tuduh yang bukan-bukan."


"Saya tak menuduh, namun ini."


Laila melihatkan berita yang ia dapat, ia berikan ponselnya pada Viana.


Viana melihat berita itu, mulai membaca dalam hati dari judul saja sudah menarik emosi Viana.


Judul berita di tulis KEPALA SEKOLAH SMA AYYUBIYAH MENCABULI MURIDNYA SENDIRI.


Sungguh berita yang memelukan. Sampai Viana tak sanggup membacanya lagi, pahit rasanya lidahnya.


"APAAN INI? SIAPA YANG BUAT BERITA SEPERTI INI."


Tuh kan, Viana emosi.


"Di sana dijelaskan kalau Latika muridnya merupakan kekasih gelapnya," kata Laila menegaskan, dia sudah disuruh diam sama ayahnya. Bagus sekarang Laila dapat tatapan maut dari Viana.


BRAAAAKKK..


Viana menbentak meja membuat 2 orang itu terkajut, terdiam.


"LATIKA ISTRINYA." Mata Viana membulat sempurna hampir lepas melihat mereka, hidungnya seperti keluar asap. Ia memasang wajah galak siap menerkam mereka.


Mereka berdua terkejut, Latika benaran Istri Afriadi.


Terpaksa Viana menceritakan semua pada mereka berdua, dari pada dia menyembunyikan kebenarannya lebih baik ungkap saja, sekalian memberikan penjelasan seditiel mungkin. Percaya atau tidaknya mereka dengan penjelasan Viana yang penting Viana sudah menjelaskan.


***


Ke esokan harinya.


Hari di mana Latika dan teman-temannya akan bertempur.


Sebelum ke Sekolah Latika meminta Viana mengantarkannya ke kantor polisi. Ia ingin bertemu Afriadi, ridu ingin bertemu. Tadi waktu bangun tidur Latika mencari Afriadi, air matanya kembali menetes ketika tak jumpa dengan Afriadi ia baru sadar kalau Afriadi ditahan.


Pagi itu terasa berbeda sekali dari pagi-pagi biasanya. Biasanya Afriadi selalu menyapanya dikala ia bangun, tapi tadi tidak ada, hanya terasa bayang-bayang samar saja.


*Kantor Polisi"


Latika bicara berhadapan dengan Afriadi terhalang dinding kaca di hadapan mereka.

__ADS_1


Latika tak bicara apa-apa hanya menatap wajah suaminya penuh air mata.


"Adek, Adek jangan nagis ya. Abang baik-baik saja kok di sini." Afriadi bilang jangan menangis pada Latika tak sadar itu air matamu terjatuh.


Ingin rasanya Afriadi menghapus air mata Latika. Ia menyeka air matanya sendiri, menyemangati Latika, "Adek hari ini ujian bukan. Semangat ya Dek, Abang hanya bisa bantu do'a dari sini."


L. Abang.


L. Maafkan.


"Sudahlah dek jangan menangis."


Afriadi menempelkan tangannya di kaca, Latika yang lihat ikut menempelkan tangannya mengikuti tangan Afriadi.


"Abang... Hiks.."


Viana yang tak tahan melihat mereka memeluk suaminya, ikut menangis dalam pelukan Suaminya.


"Abang pesan dengan Adek... Abang tak bisa mengingatkan Adek terus. Rekam Dek ya."


Gemetar Latika mengeluarkan ponselnya merekan kata-kata Afriadi.


Kata-kata yang sederhana namun sering dilupakan pasangan Suami Istri lainnya.


"Bismillah." Afriadi menarik nafas mengembuskan dengan pelan, mulai bicara, "Adek jangan lupa sholat. Bagaimanapun lelahnya Adek, sholat jangan tinggal. Kalau bisa sholah kerjakan di awal waktu, do'a kan Abang biar cepat keluar Kumbul bareng Adek lagi, dan maaf Abang tak memperlakukan Adek sebagaimana mestinya. Setiap hari Abang selalu sibuk dengan urusan Abang, kadang Adek tak Abang hiraukan... Abang selalu membuat Adek marah dengan sikap Abang yang egois. Jaga kesehatan ya dek."


"Abang.."


"Sudahlah jangan nangis terus. Adek fokus ujian saja, jangan pikirkan Abang yang akan merusak kosentrasi Adek ini. Anggap saja ini ujian bagi kita, agar kita bisa lebih baik kedepannya." Afriadi mencoba untuk tersenyum pada Latika.


"Abang..."


"Ya."


"Abang jangan lama-lama di sini. Adek-"


"InsaAllah, Abang keluar secepatnya kita akan berkumpul lagi."


"Hiks..." Latika menghapus air matanya pandanganya menunduk terus, tak kuat jika ia melihat Afriadi di sana.


Sayangnya waktu bertemu mereka sudah habis.


Viana terpaksa membawa Latika pergi.


"Mas tetap di sini?" tanya Viana pada suaminya yang berada di luar mobil.


"Tidak." Nandi menggeleng, "Aku dan Qilan akan memanggil saksi atas pernikahan mereka, sebagai bukti."


"Oh, yang cepat ya Mas." Viana meangguk. Menutup kaca mobilnya, tancap gas melaju pergi meantar Latika ke sekolah.


Nandi hanya bengong, berharap dapat kiss dari istrinya. Sudah sehari ia jauh dari istrinya.


Tet...


Klakson mobil mekagetkan Nandi, sebuah mobil muncul di sebelahnya. Kaca mobil itu perlahan turun melihatkan wajah tampan berkaca mata hitam, siapa lagi kalau bukan Qilan.


BUUUUK...


"Hey!" Qilan meneriaki Nandi yang menendang ban mobil bepannya, "Jangan galak men."


"Buat kaget saja," geram Nandi, mungkin ini efek gak dapat ayang dari istri.


"Sudah jangan banyak cakap, cepat masuk kita kejar waktu ini," perintah Qilan.


Nandi membuka pintu mobil, masuk duduk di sebelah Qilan.


Setelah Nandi memasang sabuk pengaman Qilan melaju mobilnya, menuju tempat yang tak mau ia pijak setelah dulu melihat temannya di hakimi secara masa.


***


*Sekolah*


Hari ini kelas 12 ujian UNBK.


Latika yang baru datang dapat tatapan jijik dari siswi kelas lain, tak terasa terdengar gunjingan mereka mengenai dirinya mendapatkan Afriadi dengan guna-guna pelet semacamnya.


Latika ingat pesan Afriadi, ia terus berjalan menuju kelas untuk baca buku ketemu dengan teman-temannya.


Namun sesampainya di kelas.


Di papan tulis tertulis tulisan yang besar.


'LATIKA KEKASIH GELAP PAK AFRIADI'


Ya, itu tulisan cowok kelas Latika.


Penghuni kelas yang masih sedikit tertawa.


Lihat Latika datang tawa mereka pudar, bisa-bisa nanti nilai mereka dikasih rata-rata sama Afriadi.


Hana, Nana, dan Salasiah hanya bisa diam mereka menujukkan tampang kecewa.


Hadi yang baru datang membaca tulisan itu, langsung meniju papan tulis sampai bolong.


Sontak yang lainnya menelan ludah, menciut takut. Si tukang buat ulah, menelan ludah meletakkan kembali spidol ke meja guru, berlari menjauh dari Hadi.


Hadi melirik Latika, yang di lirik keluar.


Hari ini padahal libur sekolah bagi kelas 10 dan 11 tapi, mereka malah datang.


Mereka bertemu dengan Latika mencoba mengeroyok Latika, untung Bu Laila dan guru kiler lainnya melindungi Latika.


Entah kenapa mereka nekat datang ke sekolah hanya untuk mengeroyok Latika yang di fitnah kekasih gelap Afriadi.


Kerusuhan terjadi semua Siswi yang yang ikut tercampur urusan dengan itu, langsung diskor dan minta dipanggil orang tua mereka membuat surat pernyataan.

__ADS_1


__ADS_2