Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Tak masuk sekolah


__ADS_3

Jam 07:30 pagi.


Biasanya bel sekolah sudah berbunyi jam segini.


Teng... Nong...


Panjang umur bel sekolah, baru di bilang sudah berbunyi.


Kodir satpam sekolah, mondar-mandir di depan gerbang, celengak-celengok melihat kanan kiri, ia ragu-ragu ingin menutup gerbang.


"Dimana anak itu? Apa dia terlambat lagi?." kodir menghela nafas memegang pagar, ragu-ragu lagi ingin menutup, melihat sekali lagi di jalan, mana tahu ia ada, "Hah, apa dia tak bosan berlambat terus? Bingung juga aku dengan jalan pikir anak ini." kodir masuk duduk di kursi depan pos, "Hem.. Tunggu sebentar lagi mana tahu dia datang."


15 menit kemudian.


Setelah sekian lama menunggu.


"Dasar anak ini benar-benar tidak datang." kodir berdiri dari duduknya, ia tak mau menunggu lama lagi, menutup gerbang sekolah.


Hah. Percuma saja kodir menunggu Latika, mau berapa lama pun sampai pulang sekolah pun Latika tetep saja dia tidak akan datang ke sekolah.


Latika terbaring lemah di tempat tidur, keadaanya memburuk, jangankan mau bicara menolak makan saja sudah susah, kepalanya terasa berat. Badanya panas berkeringat mulai mengiggil. Melihat keadaan Latika yang memburuk Bik Ipah memanggil Dokter ke rumah.


Selang 30 menit Latika di periksa Dokter, setelah di periksa Dokter memberikan resep obat kepada Bik Ipah.


Latika tak mendengarkan betul pembicaraan mereka, pikirannya masih menginggat kejadian kemarin yang tak kunjung hilang, terus menerus menghantui pikirannya, sulit baginya untuk mengiklaskan semua yang terjadi, di tambah lagi dengan kejadian subuh tadi, menambah beban pikirannya. Gara-gara kepikiran terus ia sampai terjatuh sakit.


Sedangkan di sekolah, teman dekat Latika mencari-carinya, di kelas 11 A.


Hadi memghampiri Salasiah di mejanya, "Hoy! Kau lihat Latika?"


"Cieee.. Cieee.. Tumben cari Latika." Salasiah menggoda Hadi.


Ya, jarang-jarang juga Hadi mencari orang biasanya dia paling malas mencari atau menanyakan kabar seseorang, jadinya Salasiah menggodanya.

__ADS_1


"Cieee.. Cieee.. Ada apa ini cari-cari Latika?," sahut Nana yang duduk di belakang Salasiah, ikut menggoda Hadi.


"Aku serius ini jangan main-main." wajah Hadi serius, ia lagi tak mau bercanda.


Nana menggelang, "Tak tahu, dari semalm kami tak dapat kabar dari dia."


"Iya juga, kah." Hadi tak percaya, memasang wajah judesnya.


Hana yang duduk di sebelah Nana membetulkan perkataan Nana, menyakinkan Hadi, "Betullah itu, dari semalam kami tak jumpa dengan dia, fb-nya tak aktif, nomornya saja tak bisa di hubungi, jadi kami tak tahu kabar dia."


Hadi sedikit mengkhawatirkan Latika, mengketuk-ketuk menja Salasiah, "Kemana, ya dia?"


"Ciee.. Khawatir, ada apa ini?." Salasiah curiga.


Salah seorang siswa lewat, menepuk bahu Hadi, memberitahunya, "Hadi Ibu Laila datang."


Hadi melirik siswa itu yang berlari duduk di tempat duduknya, menjawab pertanyaan Salasiah, "Kepo!" cepat ia pergi meninggalkan meja Salasiah kembali ke tempat duduknya.


"Sakit, kot," jawab Nana dengan suara yang kecil sambil menbuka tas di atas mejanya mengambil buku pelajaran, melirik Ibu Laila yang berjalan masuk dengan tampang galaknya menatap tajam menyapu seluruh wajah penghuni kelas.


"Alah.. Paling dia terlambat lagi," sahut Salasiah pelan di depan.


Hana dan Nana mengangguk mengiayakan, 'Iya tak iya juga, Latika sering terlambat' pikir mereka.


Bu Laila sudah berdiri di depan, Hadi berdiri dari tempat duduknya, menyiapkan.


***


Sedangkan di ruangan kepala sekolah. Afriadi berdiri didepan jendela, melihat pemandangan sekolah dari sana, ia menerima panggilan, "... Aku serahkan semua kepadamu ..."


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kantornya di ketuk.

__ADS_1


"... Kalau ada apa-apa lagi hubungi aku balik." Afriadi mengakhiri panggilan.


"Siapa?," tanya Afriadi.


"Kamarudin, Pak," Sahut Kamarudin.


"Masuklah." Afriadi mempersilahkan Kamarudin masuk, ia kembali duduk di kursinya.


Kamarudin masuk mendekati Afriadi, "Maaf Pak menganggu."


"Tidak apa." Afriadi menatap Kamarudin, "Ada urusan apa kau kemari?," tanya Afriadi dengan wajah serius.


"Anu, P-pak." Kamarudin gugup, "Apa Bapak sudah dengar kabar viral i-"


Afriadi memotong, "Aku sudah dengar."


"Oh, jadi bagaimana, Pak?," tanya Kamarudin membuat Afriadi tak paham, "Bagaimana apanya?." Afriadi bertanya balik, mengerutkan dahinya.


"Ya, i-itu." Kamarudin menelan ludah terlalu gugup, "Rapat."


Afriadi terus menatapnya serius.


Batin Kamarudin tak kuat dengan tatapan Afriadi, "Jangan tatap aku seperti itu, Pak. Aduh, jantungku tak kuat."


Kamarudin tersenyum getir, menundukkan kepalanya, "Kita perlu bicarakan ini, soalnya para guru yang tak masuk mengajar berkumpul di ruang rapat untuk membahas soal itu, jadi saya ke sini untuk memanggil Bapak, kami tak enak untuk rapat tampa Bapak. Soalnya-"


Belum lagi Kamarudin selesai dengan kata-katanya, Afriadi sudah meranjak berdiri dari tempat duduknya, merapikan sedikit jasnya.


"Eh?" Kamarudin terperanjat, mengangkat kepalanya melihat Afriadi yang sudah berdiri merapikan jas.


"Sudah selesai bicaranya?" tanya Afriadi selesai dengan jasnya, memasang wajah dinginnya itu, Kamarudin mengangguk.


Afriadi melangkah pergi meninggalkan kantornya, di ikuti Kamarudin dari belakang. Kamarudin merasa tak sanggup untuk berada di samping Afriadi.

__ADS_1


__ADS_2