
Waktu berlalu begitu saja.
Hari ini Latika pulang naik gojek, tapi ia jalan kaki karena ban motor ojolnya bocor.
Tapi tidak apa-apa, jarak rumah sudah dekat. Berapa Rumah lah yang ia lewati.
"Dek, barangnya terjatuh." Pria itu memanggil Latika. Tapi,
Latika tidak mendengar terus berjalan.
Pria itu mengejar Latika, "Dek...
Uhuk... Uhuk..." Langkahnya terhenti dadanya terasa sesak.
***
Sesampainya Latika di rumah.
Setelah ganti baju Latika turun ke Dapur. Rencananya ia mau masak untuk makan siang.
Latika melewati meja makan matanya teralihkan sama dia yang lagi duduk manis membelakangi Latika menyantap makanan.
Bingung Latika dia masak sendiri atau sudah pembantu sudah ada.
Pandangan Latika tak lari darinya.
"Duduk makan Non."
"Allahuakbar." Latika terperanjat kaget melihat pembantu baru itu di hadapannya menarik kursi mempersilhkan Latika duduk.
Latika tambah kaget lagi melihat siapa pembantu baru itu,"Bu Kost."
Yang di sebut tersnyum menyiapkan makanan. Latika duduk,
"Bagaimana bisa Bu Kost ada di sini?"
"Sudah lama tidak berjumpa, Latika. Wah, semakin berisi badanmu. Semakin cantik saja," kata Bu Kost memuji.
"Tunggu Bu Kost kenapa bisa ada di sini?"
"Saya kerja. Sebagai asisten rumah tangga paruh waktu. Mau makan?," kata Bu Kost serentak dengan tangannya bekerja.
"Ya Allah Bu."
Bu Kost menyorong piring berisi nasi beserta lauk pauknya. Afriadi menyantap makanannya dengan tenang tanpa ikut campur urusan dua orang itu.
"Apa ini pembantu penganti Bik Ipah.
Ya Allah ini Bu Kost yang sudah aku anggap sebagai Bibiku sekarang menjadi pembantu di rumah ini, durhaka sekali aku ini membiarkan Bu Kost kerja sebagai pembantu di rumah ini," guma Latika kesal mengembungkan pipinya.
Afriadi meliriknya, dia juga pertama kali terkejut melihat Bu Kost calon pembantu rekomendasi Bik Ipah.
Sekarang wanita paruh baya yang berpenampilan seperti cewek korea bekerja di Rumah itu. Afriadi percaya padanya, Latika juga sudah akrab dengannya.
"Apa yang ditunggu makan lagi," kata Bu Kost menuangkan air minum.
"Bu ikut makan juga yuk," ajak Latika.
"Eh... Tidak saya nanti saja." Bu Kost menolak malu lah makan bersama mereka apa lagi sama Afriadi. Sadar woi dia kan selalu galak sama Afriadi.
Latika memaksa, "Sekarang saja, makan bersama Latika. Kayal dulu."
"Tapi-"
"Duduk saja Bik, ikut makan bersama kami jangan sungkan. Bibik sudah seperti keluarga," kata Afriadi.
"Em... Ikut saja." Latika beridri meambilkan piring mengisi nasi beserta lauknya memberikannya pada Bu Kost.
Dengan malu Bu Kost duduk ikut makan bersama.
Sehabis makan Latika membantu Bu Kost membersihkan sisa makan, mencuci piring, membersihkan dapur.
Bu Kost seperti biasa jika bicara selalu membahas soal Korea, mulutnya tidak berhenti bicara membahas filem Korea.
Latika seperti bisa juga mendengarkan dan ikut bercerita juga.
Tampa sadar waktu Bu Kost kerja sudah lewat, saatnya ia kembali ke rumahnya. Sekitar jam 07:30 pagi Bu Kost datang bekerja pulang ke rumah jam 07:30 malam.
Sekarang Bu Kost sudah pulang rumah terasa sepi.
Latika masuk ke kamarnya melaksanakan Sholat Isya.
Begitu juga Afriadi.
Setelah sholat Isya' Afriadi pergi ke rumah Kina seperti biasa kali ini Kina tidak datang ke Rumah tapi Afriadi yang datang ke Rumahnya. Kerena pemintaan Papa Kina yang tiba-tiba meminta itu pada Afriadi. Mau tidak mau Afriadi menerimanya, sulit baginya menolak permintaan orang tua lagian cuma mengajar saja.
Sekitar jam 08:45 malam.
Latika sendirian di Rumah. Em gak sendiri juga sih di depan sudah ada orang baru, penganti sementara Mang Juneb. Afriadi kurang menyukai orang itu kulitnya hitam manis, senyumnya manis, tampangnya lumayan dan atletis. Ia takut Latika akan suka dengan dia dan meninggalkan si tua bangka ini.
Tiba-tiba...
Ting... Nung...
Bel Rumah berbunyi memecah keheningan Rumah. Mendengar bel Rumah berbunyi Latika cepat keluar dari kamarnya membuka pintu Rumah.
Latika agak kaget dengan kehadiran seorang wanita cantik di hadapannya.
Ia berdiri di balik pintu memunculkan sebahagian tubuhnya, melihat dari atas sampai bawah. Wanita cantik memakai gaun bewarna merah batu bata, tersenyum melihat Latika.
"Hallo." Wanita itu menyapa Latika, ia mendekati Latika tangannya sudah geram ingin mencubit pipi Latika,
"Wah... Inikah istrinya Afriadi."
__ADS_1
Latika kaget, dari mana ia tahu kalau dia Istri Afriadi.
Latika mempersilahkan Viana masuk, ia disuruhnya duduk di sofa ruang tamu.
Latika benar-benar tak kenal dengan Viana. Tadi di Sekolah Latika tak melihat wajah Viana.
"Dimana suamimu?," tanya Viana melihat sekeliling ruangan, tidak ada yang berubah di ruangan itu semua tersusun rapi seperti dulu.
"Dia pergi, ada urusan." Latika duduk tak jauh dari Viana, jaga jarang dengan orang yang tak di kenal.
"Oh..." Viana meangguk, "Sudah lama?"
"Lumayan."
Latika canggung melayani Viana bicara, "Ah... Tunggu di sini dulu ya.
Saya buatkan air dulu."
"Iya." Viana mengeluarkan ponselnya dari tas, memainkan ponselnya.
Latika pergi ke dapur membuatkan Viana air dan mengambilkan cemilan.
Sedangkan di rumah Kina.
Afriadi duduk di sofa, sebelahnya Kina.
Afriadi merasa tak nyaman dekat dengan Kina setiap kali ia jelaskan tangan Kina bermain di pahanya dan beberapa kali Afriadi menepuk tangan Kina menepisnya dan berpindah tempat tapi tetap dia bergeser mendekat. Afriadi menegaskan pada Kina jangan melakukan itu jika masih mau belajar atau dia pergi, Kina meangguk tersenyum dan bilang itu hanya bercanda. Sekarang mereka berjarak.
"Pak. Ini bagaimana caranya?" Kina mendekat menunjuk bagian yang tidak ia pahami.
"Ini begini caranya." Afriadi menjelaskan Kina memperhatikan meangguk ber-oh pelan.
Triiiiingg...
Pasan masuk ke ponsel Afriadi.
Afriadi meambil ponselnya di meja melihat siapa yang mengirim pesan.
Pesan dari Viana masuk, cepat ia baca pesan itu.
Isi pesan.
——————————————————————
Viana
Oi Af.
kau di mana? Aku sudah di Rumahmu. Teman datang tidak di sambut. Pulang sekarang.
21:00
——————————————————————
"Hah..." Afriadi menghela nafas membaca pesan Viana, kalau gak dituruti nanti kena omel kayak emak marah anaknya.
Tapi keburu Afriadi tutup, melirik Kina. Cepat Kina kembali ke posisi sebelumnya pura-pura tidak tahu.
"Kina, sampai di sini dulu belajarnya saya ada perlu," Afriadi bersiap untuk pulang, sudah berdiri dari sofa melangkah meninggalkan Kina, "Saya pulang dulu."
Hati Kina mengerutu, "Pasti dia lagi, benar-benar tidak takutnya di beri ancaman.
Dia kira ancamanku hanya main-main saja."
"Bapak ada perlu apa?," tanya Kina menghentikan langkah Afriadi.
Afriadi membalik badannya, "Ada tamu di rumah cari saya." Lalu ia kembali melangkah meninggal Kina.
"Oh..." Kina tak berkomentar lagi. Tanpa tunggu lama lagi Afriadi pergi sebelum Viana mengamuk di Rumah bisa-bisa itu Rumah jadi kapal pecah.
"Alasan... Ini tidak lain lagi pasti dia.
Awas saja kau Latika akan aku buat Bapak jadi miliku, bukan milikmu," guma Kina menumpuk bubu pelajarannya denga kasar.
***
Latika di dapur membuat minuman sambil melamun memikirkan wanita itu. Itu pikiran sudah melayang ke mana-mana. Hatinya bertanya-tanya tentang kehadiran wanita itu.
Latika menggeleng kepalanya menyadarkan dirinya bahwa ia sudah cukup lama di dapur.
Cepat ia menyiapkan sajian meletak semua di atas napan, membawa air minum dan beberapa cemilan keluar.
"Ha..." Latika terkejut melihat Viana dan Afriadi dekat.
Latika yang berdiri di belakang Viana melihat mereka berdua seperti berciuman dalam pandangan Latika Viana mencium Afriadi.
Padahal mereka hanya berbisik saja.
Tangan Latika gemetar, napan yang ia pegeng hampir saja terlepas, perlahan-lahan Latika menghampiri mereka.
Ketika Latika sampai mereka berdua menjauh.
Latika menyangka kalau Viana adalah wanita yang siang tadi datang ke sekolahan, yang sibuk di bahas seswi, yang menyebarkan berita kalau mereka berdua akan menikah.
"Apa gosip yang beredar itu benar? Apa aku akan di madu?" Selama Latika menyajikan minuman dan cemilan, selama itu juga batinya bertanya.
Setelah selesai Latika ingin pergi meninggalkan ruang tamu.
Belum sempat Latika melangkah Viana sudah berdiri mencubit pipi Latika, yang di cubit kaget dengan reaksi Viana.
"Wah... Imutnya. Gemes. Hummm... Empuk sekali pipinya, mulus lagi. Haduh..."
"Ehem..." Afriadi memberi peringatan kepada Viana.
__ADS_1
"Huh... Ganggu saja," Viana mengembungkan pipinya melepas cubitannya. Latika mengusap pipinya sakit.
"Sini Latika duduk di sampingku." Viana menarik tangan Latika memaksanya duduk di sebelahnya berarti sebelah Afriadi juga.
Eh... Tidak lama Latika duduk Viana berpindah posisi menjauh dari mereka.
Jadinya mereka duduk berdua.
"Huh... Af kau beruntung ya. Mempunyai istri seperti dia. Selain baik, ramah. Haduh... Pipinya empuk."
Viana mencubit pipi Latika lagi, Latika syok dengan sikap Viana yang di luar dugaannya dan ia tak bisa menghindar membiarkan tangan yang lembut dan halus itu mecubit pipinya.
"Aduh..." Latika merintih pelan.
Tap...
Cepat tangan Afriadi menyambar tangan Viana memintanya untuk berhenti mencubit pipi Latika.
Sengatan listrik kasat mata keluar dari mata mereka, beradu.
"Sudah jangan cubit lagi," kata Afriadi.
Viana memonyongkan bibirnya melepas cubitanya. Saat itu juga Afriadi berpindah posisi duduk dekat dengan Viana, melindungi Latika agar tidak dicubit Viana lagi.
"Huh... Iya... Iya aku paham. Bilang saja kalau cuman kau saja yang boleh mencubit pipinya. Bukanya setiap malam kau melakukannya.
Mencubit pipi, mengelus rambutnya..."
Viana asal bunyi.
Afriadi yang tadinya ingin minum teh buatan Latika, sampai tidak jadi minum mendengar perkataan Viana.
Latika dan Afriadi menatap tajam Viana.
"Egh... Kenapa ada yang salahkah? Kenapa? Biasa sajalah pandang itu." Viana melambaikan tangannya, setelah itu ia mencicipi teh buatan Latika.
"Bukan begitu juga," kata Afriadi memijat keningnya, melirik Latika. Yang di lirik menatap Viana menunggu komentarnya soal teh buatannya.
"Wah... Pas sekali rasanya.
Tidak terlalu manis.
Aku suka." Viana meangguk memuji.
Mata Latika sudah bertanya 'Benarkah?'
"Ternyata kau pintar juga buat yang seperti ini. Sungguh beruntung sekali kau, Af."
"Oh... Iya.
Kalian sudah lama menikah. Apa tidak ada rencana untuk punya anak."
Timbul sudah pertanyaan mematikan setiap pasangan, pertanyaan yang menyangkut keturunan, beby.
"Hay! Kenapa terkejut," kata Viana ikut kaget dengan ekspresi kaget mereka berdua.
"Hey! Biasa saja. Kalian pernah melakukannya bukan?" Sekarang Viana mengunah gaya bicaranya kayak Sahrini, manja.
Afriadi mengambil cemilan yang disediakan, bersiap-siap.
"Tunggu-tunggu. Kalian belum pernah melakukannya."
"Apa?" Latika kebingungan kurang masuk pembahasannya.
"Vi-" Afriadi memperingatkan.
"Apa kau belum pernah main?" Viana tak peduli dengan peringatan Afriadi.
"Main?" Latika berpikir keras main apa sama Afriadi selama ini hanya diam diam bae.
"Iya. Itu-"
Suuuuppp...
Mulut Viana di sumbat Afriadi pakai cemilan, menghentikan kalimatnya. Latika syok dengan reaksi Afriadi.
"Uhuk..."
Terbatuk-batuk Viana, mengunyah paksa cemilan itu.
"Sudah Vi jangan dibahas depan dia.
Tidak pantas belum dia mengetahuinya."
Tanda tanya memenuhi kepala mereka berdua. Viana bingung maksud Afriadi apa? Kenapa Latika tidak pantas mengetahuinya?
Begitu juga Latika kebingungan apa yang tak pantas ia ketahui?
"Apa maksudmu dia..." Viana menunjuk Latika ia sadar maksud Afriadi apa. Biasanya kalau belum pantas mengetahui soal itu anak di bawah umur atau masih pelajar.
Afriadi mengangguk.
"Oh... Pantas saja aku merasa kalau dia seperti anak SMA. Kesihan, aku turut sedih Af."
"Dia emamg masih SMA," sahut Afriadi santai, melirik Latika.
"What? Bagimana bisa? Ah... Jangan-jangan benar kau tidak tahan lagi, terus memaksa dia untuk nikah dengan kau..."
Viana terus bicara, mengoceh tak karuan.
"Tidak tahan.
Siapa yang kau maksud tidak tahan?," guma Afriadi kesal dengan kalimat satu itu.
__ADS_1
"Sadis kau, Af." Viana menatap sinis Afriadi, yang di tatap membalas tatapan Viana.
Latika dari tadi hanya diam saja, bukanya ia tak mengerti tapi ia sengaja tidak tahu.