
Warna jinga di langit sudah menghilang anak-anak keluar dari masjid setelah selesai mengaji, bergurau di jalan konflek perumahan ada yang mengulang-ulang pengajian, ada yang sholawat, ada yang main lempar songkok, sampai ada juga main tarik menarik sarung teman sampai melorot tawa lepas anak-anak mengetahui kalau dia tak pakai celana hanya mengenakan pakaian dalam saja, yang di tertawai wajahnya memerah, malu menarik kembali.
Hari ini, catat. Hari di mana kejadian semalam menimpa Latika dan Afriadi.
Beritanya sudah tersebar luas, video dan foto yang sempat di ambil warga saat itu, di sebar luaskan dengan kata-kata yang terlalu menghina 2 orang ini, video itu menjadi viral banyak saluran berita yang meliput video itu.
Sampai menjadi topik terhangat untuk dibicarakan. Cibiran-cibiran netizen sangat pedas dan keterlaluan tak banyak yang mendo'akan kebaikan untuk 2 insan tersebut, malah mendo'akan yang buruk.
Nama SMA Ayubiyyah sampai terseret ikut dalam masalah, usut punya usut warga desa yang menyebarkan video itu dari akun Fb, Twiter, Ig atas nama Haspu, dia menjelaskan wanita yang di dalam video itu merupakan Siswi dari SMA Ayubiyyah, bagaimana ia bisa tahu? Karena pin sekolah yang Latika kenakan di jilbabnya.
Para guru dan murid SMA Ayubiyyah sampai terkejut saling bertanya satu sama lain di media sosial.
Afriadi dan Latika tidak mengetahui sama sekali.
Maka dari itu Raya arlangga selaku wakil kepala sekolah menghubungi Afriadi.
"... Pak, apa anda terlibat dalam video yang sempat viral hari ini?," suara Raya terdengar serius sekali.
Perkataan Raya membuat Afriadi terdiam sebentar, tangannya megepal erat menggeretakkan giginya, "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Ahahaha...," gelak tawa raya, "Maaf Pak saya pikir itu Bapak, soalnya jas yang di kenakan pria dalam video itu terlihat seperti jas anda."
"Jas." Afriadi tersengkal menahan emosi, berusaha tenang, "Semua orang bisa mempunyai jas yang sama seperti itu."
__ADS_1
"Hahaha. Benar juga ya, maaf ya Pak saya hanya bercanda saja," tawa getir Raya merasa bersalah, "Jangan di masuk dalam hati ya Pak. Dengar dari isu-isu pelaku zina itu salah satu murid sekolah kita... Ini bisa menjautuhkan nama baik sekolah kita."
Afriadi tetep diam saja tidak merespon.
"Pak... Pak...," panggil Raya, "Apa Bapak masih disana? Pak... Pak... apa anda mendengarkan saya."
"Aku mendengarkanmu." Afriadi menghela nafas, "Kita bicarakan besok lagi di sekolah." Afriadi menutup telpon tampa mendengarkan lagi perkataan Pak Raya, Afriadi masih berdiri di sana, ia mengira kalau berita itu tidak akan diketahui banyak orang namun kenyataannya berbanding terbalik berita itu tersebar luas bahkan sampai menyeret nama sekolah, beban pikiran Afriadi bertambah lagi.
Bik Ipah datang menghampiri Afriadi, "Tuan, Non tak mau turun."
Afriadi mengusap wajah kusutnya, "Kalau begitu antarkan saja makanan untuknya."
Bik Ipah segera melakukan printah Afriadi, pergi.
Afriadi bergegas menyalakan tv-nya yang ukuran 51 inc di sana. Mengotak-atik remot mencari berita yang meliput berita mereka.
"... Maraknya pergaulan bebas saat ini, meseret sepasang kekasih yang sudah kita saksikan tadi, beberapa narasumber mengatakan kalau video itu Hoxs. Apakah benar berita itu Hoxs atau tidak sudah ada rekan Alex di desa kecaba."
Afriadi merubah saluran berita berpindah lagi, ia berhenti di saluran Xtv, pupil matanya mengecil melihat orang yang ada di dalam tv menjadi narasumber dalam berita.
"Orang itu," geretak Afriadi, megenggam remot erat-erat, emosinya meluap telinganya panas mendengar kalimat per kalimat yang keluar dari mulut orang itu, siapa lagi kalau bukan Hansip yang si mulut pedas itu yang menantang Afriadi.
Bik Ipah yang ingin mengantarkan makanan Latika, menaruh kembali makanan di atas meja makan, mendekat dengan rasa takut. Ia berdiri di belakang Afriadi, bertanya, "Tuan apa mereka membicarakan anda?"
__ADS_1
Afriadi menghela nafas menenangkan dirinya ia tidak mau melampiaskan emosinya kepada orang yang salah, "Iya, Bik," jawab Afriadi, "Nanti Bik, jika ada orang bertanya soal dia, Bibik tahu harus menjawab apa, kan? Jangan sampai orang tahu tentang kami sebelum waktunya, rahasiakan ini, Bik."
"Baik, Tuan." Bik Ipah nurut saja, mengangguk di belakang, "Tuan, apa Tuan mau makan?"
"Tidak, seleraku hilang." Afriadi mematikan tv-nya bergegas pergi keluar rumah, di ikuti Bik Ipah dari belakang.
"Tuan anda mau kemana?," tanya Bik Ipah berdiri di depan pintu.
Afriadi memutar balik motornya, memakai helem, "Aku ingin pergi menemui seseorang." Afriadi memacu motornya, pergi begitu saja, melewati jalan yang panjang di tepinya pohon-pohon yang rindang, lampu taman bercahaya lembut, Bik Ipah menatap Afriadi yang kian menjauh, ia menutup pintu.
***
Tok... Tok... Tok... Pintu kamar di ketuk.
Kreeet... Terbuka perlahan, Bik Ipah masuk mendekati Latika, menaruh makanan di atas meja kecil samping tempat tidur duduk membelai kepala Latika, remaja yang terbaring di sampingnya itu terus saja menangis, hatinya terlalu sedih, air matanya mengalir membasahi bantal, remaja yang setres belum bisa menerima kenyataan.
"Non, makan Non," pujuk Bik Ipah masih membelai Latika, suaranya hangat penuh rasa simpati.
Latika hanya menggelang.
"Makan ya, Non." Bik Ipah sedikit memaksa, "Makan ya, Non. Nanti Non sakit." wajah Bik Ipah kelihatan cemas ia seakan merasakan apa yang dirasakan Latika, tak terasa air mata Bik Ipah menetes membasahi pipinya, tanganya menyeka air matanya.
"Engak Bik, aku gak mau." Latika tambah menangis pikirannya masih terbayang-bayang kejadian itu, "Hiks... T-tinggalkan a-aku Bik, hiks hiks hiks hiks."
__ADS_1
"Dimakan ya Non. Non jangan bersedih lagi." wanita paruh baya itu pergi meninggalkan kamar, menutup pintu.
Latika terisak menangis sudah seharian ini ia terus saja menangis.