Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Foto


__ADS_3

Hoooom.... Afriadi menguap tangannya menutup mulutnya terbuka lebar, keluar dari kamarnya berjalan menuju dapur.


Dia mengambil air minum, duduk sebentar di kursi lalu minum, sesuai dengan sunah Rasulullah makan dan minum duduk, jangan berdiri.


Berapa menit kemudian, ia melangkah kembali ke kamarnya, ketika ingin menaiki tangga, pandangannya teralihkan pada sosok bergerak terbaring di sofa di selimuti kegelapan.


Afriadi menelan ludahnya, wajahnya agak kaget, dalam pikirannya sudah ada satu sosok yang seperti itu, apalagi kalau bukan hantu, tangannya mencari kontak lampu, menghidupkannya. Ia yang penasaran dengan sosok itu, mencoba mendekatinya, selangkah demi selangkah Afriadi mendekati sosok itu.


Ketika ia sampai di depan sosok itu.


Betapa terkejutnya lagi saat dia melihat sosok itu.


"Adek..." Afriadi menatap Latika yang sedang tertidur dengan memeluk foto, dan air mata yang menetes keluar.


Ia duduk di lantai menghadap Latika, tangannya mengambil foto yang Latika peluk, betapa terkejut lagi saat ia melihat foto siapa yang Latika peluk, siapa lagi kalau bukan foto dia bersama orang tuannya dan foto orang tua Latika.


Afriadi terdiam melihat foto orang tuanya, senyum manis terukir indah di bibirnya.


Melihat foto itu ia teringat lagi akan kebersamaan bersama orang tuannya, dan pesan dari mereka.


Matanya melirik ke arah Latika yang tertidur lalap. Tampa ragu-ragu ia mengarahkan tangannya mengusap-usap kepala Latika, mataya terus memandang ke arah Latika.


Sekejap ia terpana akan diri Latika, "Kulit yang mulus...


Bibir yang indah... Egh..."


PLAK... Tangannya menepak jidatnya agar tidak berpikir yang bukan-bukan, "Astafufirullah... Apa yang aku pikirkan, Af."


"Adek... Dek... Bangun dek." Afriadi membangunkan Latika, suaranya terdengar samar-samar terdengar di telinga Latika.


Em... Dengan malas Latika membuka matanya, pandangannya yang masih kabur-kabur melihat Afriadi, kembali tidur lagi.


"Dek... Bangun dek, tidur di kamar," Afriadi kembali membangunkan Latika.


Suara Afriadi masih terdengar samar-samar di telinga Latika.


Em... Latika bangun dari tidurnya dengan mata yang masih menutup, duduk sebentar lalu tumabang lagi, tidur lagi.


"Dek... Adek... Adek..." Afriadi menepak pelan pipinya agar ia bangun, tangannya merasakan empuknya pipi Latika.


Tapi tetap saja Latika tidak bangun.


Ia terlalu mengantuk.


Hah... Afriadi menghela nafas pendek, "Terpaksa dah."


1... 2... 3... hup....


Afriadi megendong Latika, membawanya ke kamar. Ketika sampai ia segera membaringkannya, dan menyelimuti, "Selamat malam, Dek."


Afriadi segera keluar dari kamar Latika.


Jam demi jam berlalu, tidak terasa hari sudah subuh, azan berkumandan dengan merdunya di masjid - masjid, dan surau, menyeru umat islam untuk melaksanakan sholat.


Ketika Latika membuka mata ia terkejut kalau ia sudah ada di kamar, hatinya bertanya-tanya, "Perasaanku malam tadi aku keluar, kenapa aku bisa ada di sini? Malam tadi aku keluar atau di dalam kamar ya?.


Latika mengaruk - garuk kepalanya padahal tidak gatal, ia kebingungan malam tadi ia di luar atau di dalam kamar.


"Ah... Lupakan saja, sholat dulu," hati Latika berkata.


Latika segera mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudia setelah selesai sholat.


Ia mengingat sesuatu...


"Ah... Iya aku malam tadi keluar kamar, dan... Hah..." Latika menyadari sesuatu, "Astagufirullah... Foto... Fotonya mana?." ia baru sadar kalau foto orang tuanya tidak ada bersama dengannya.


Bergegas Latika berlari keluar kamar menuju sofa.


Celengak-celengok ia melihat di sofa dan meja, tidak ada fotonya. Sekali lagi ia mencari di sekeliling sofa dan meja, bawah sofa, bawa meja. Tapi tetap tidak ada, yang ada hanya foto orang tua Afriadi yang tertata rapi.


Latika terduduk di sofa lagi - lagi air matanya tertetes lagi, Latika menghilangkan benda yang paling beharga baginya, satu-satunya lagi kenangan bersama dengan mereka.


Bik Ipah yang melintas melihat Latika menangis, datang menghampiri dirinya, "Non ada apa menangis?."


"I-itu bik." Latika menatap Bik Ipah, menghapus air matanya, "Apa Bibik melihat foto orang tuaku?."


Hah... Bik Ipah sedikit terkejut, ia tak pernah melihat foto orang tua Latika sebelumnya. Ia menggeleng, "Tidak Non."


"Huuu... Di mana fotonya?." Latika kembali mencari-cari, tangannya mengacak-acak bantal sofa.


Sekali lagi ia mencari foto itu, dan dibatu dengan Bik Ipah.


Beberapa menit kemudian.


"Tidak ada Bik," keluh Latika, air matanya menetes.


"Ah... Kalau tidak ada juga, bagaimana Non tanya dengan tuan, mana tahu tuan ada-" Belum selesai Bik Ipah bicara Latika sudah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Hati Latika menduga Afriadi yang menyimpan foto orang tuanya, "Malam tadi aku melihat wajahnya yang samar-samar di dalam mimpi. Siapa lagi yang membawaku ke kamar kecuali dia, tidak mungkin Bik Ipah. Bik Ipah tidak akan sanggup meangkatku kalau Mang Juneb tidak mungkin."


Sedangkan di Kamar Afriadi.


Orangnya duduk di bibir tempat tidur, "Hah... Ngantuk, tidur sebentar." Afriadi merebahkan dirinya, matanya mulai terpejam.


Ketika Latika masuk. Matanya langsung tertuju pada satu tujuan yaitu fotonya, dia melihat fotonya ada di sana tepat di saku baju Afriadi.


Dengan berani Latika mendekatinya.


"Ah... Dia lagi tidur, bagus ini kesempatan bagus." hati Latika berseru riang, melihat Afriadi tidur.


Perlahan tangannya mulai bergerak mengambil foto itu, sudah terpengang fotonya.


Tiba - tiba...


TAP...


Afriadi menangkap tangan Latika, sontak tangannya terdorong sampai terpegang dada Afriadi.


Hoh... Mata Latika melotot melihat tangannya yang menempel di dada Afriadi, ini pengalaman pertamanya.


Mata Afriadi perlahan terbuka melihat Latika, dia tersenyum, Latika ikut tersenyum paksa.


"Habislah aku..." hatinya menyumpah.


"Adek... Kalau masuk kamar orang, permisi dulu, atau ketuk pintunya.


Tidak baik..." kata Afriadi bukan di dengar Latika, ia hanya diam saja, masih syok dengan tangannya yang menempel di dada Afriadi.


"Dek...," panggil Afriadi.


"Tangan lepaskan?." nada datar Latika keluar.

__ADS_1


"Ah... Maaf..." Afriadi melepaskan tangannya dan Latika pun segera menarik tangannya, "Adek kenapa Adek masuk kamar abang?." Afriadi bangun lalu duduk di atas ranjang, mengusap rambutnya.


"Tampan..." hati Latika bersorak.


Sebentar ia terpana olehnya.


"Dek..." Afriadi melambaikan tangannya di hadapan Latika.


"Eh... Itu... Foto." Latika menunjuk foto orang tuanya yang berada di saku baju tidur Afriadi.


Oh... Afriadi mengambil foto yang ada di sakunya, dan memberikan kepada Latika.


Ketika Latika ingin mengambilnya, ia menjauhkan foto itu, seperti mempermainkannya,"Et... Duduk dulu."


Tangannya menepak - nepak kasur di sebelahnya, memberi kode.


Latika yang tahu maksudnya malah duduk menjauh darinya.


"Adek tadi dengar tidak yang abang bilang,"


"Em... Bilang apa?." Latika benar-benar tidak mendengarkan.


"Tuh... kan." Afriadi menatap lain Latika.


"Ah... Iya... Iya... Itu." Latika merasa lain dengan pandangan Afriadi mengangguk memgiyakan saja sok dengar perkataan Afriadi tadi, berharap kalau Afriadi tidak akan bertanya.


Namun nyatanya Afriadi bertanya, "Apanya yang iya iya?."


"Ahaha... Adek tidak dengarkan." Latika tertawa getir, menggaruk kepalanya, polos, "Bisa ulangi?."


Afriadi tersenyum kecil melihat tingkah Latika, "Adek...


Adek Kalau masuk kamar orang, permisi dulu atau ketuk pintunya.


Tidak baik asal masuk saja... Kalau ada orang yang masuk kamar adek tampa permisi adek pasti marahkan, atau kesalkan? Nah Adek paham apa yang Abang maksud."


"Paham bang.


Adek minta maaf tadi masuk tidak permisi lagi," Latika menunduk mendengar katanya yang terdengar jelas di telinga Latika.


"Aku tahu kalau aku salah, tadi itu aku..." Hati Latika bersorak bandel masih saja menghindar tidak mau mengaku salah walau memang salah.


"Heem... Nih fotonya, jaga baik - baik, jangan sampai hilang." Afriadi mengembalika foto orang tua Latika yang tak sengaja ia ambil malam tadi.


Latika mengambil foto itu dari tangannya, mengusap foto itu, "Em... aku tak akan menghilangkannya juga."


"Foto siapa itu?." Afriadi bertanya, padahal jelas-jelas ia tahu kalau itu foto orang tua Latika, ia mau terbiasa bicara dengan Latika biar lebih akrab.


"Foto orang tuaku." Latika menjawab ringan.


"Em... Di mana mereka sekarang?," pertanyaan Afriadi membuat Latika terdiam sebentar, air matanya tertetes lagi.


Afriadi yang melihatnya menangis, bergeser mendekat, "Ah, Adek tidak apa - apa? Orang tua adek ada?"


"Hiks... O-orang tua adek s-sudah tiada, m-mereka sudah me-meninggalkan adek duluan, hiks..." Perkataan Latika terputus - putus.


"Oh... Maaf ya, abang tidak tahu." Afriadi sedikit merasa sedih juga mengingat orang tuanya yang sudah tiada juga.


Tampa ragu Afriadi segera memelu Latika yang berada di dekatnya,


pelukan yang hangat dapat Latika rasakan, entah kenapa Latika merasa baikan saat Afriadi memelunya, ia merasan kalau masih ada orang yang menyayanginya lagi.

__ADS_1


"Adek jangan merasa kalau tidak ada orang tua lagi maka tidak orang yang akan menyayangi Adek, sebab Abang ada untuk Adek, Abang akan selalu ada untuk Adek, Abang akan berusaha menyayangi Adek sebisa Abang, Abang sayang Adek," batin Afriadi berkata.


__ADS_2