
"AAAAA...."
Hati Latika teriak sekencang-kencangnya, berlari meninggalkan Afriadi. Masuk ke kamar.
BLUUUS...
Muka Afriadi memerah.
Afriadi memegang bibirnya, seakan tak percaya akan apa yang barusan terjadi, pikirannya entah ke mana-mana melayang.
Kaki Afriadi terpatah-patah melangkah pelan menaiki anak tangga, tablet di tangannya hampir terlepas.
"AAAAAA...."
Latika menghempaskan dirinya
ke tempat tidur.
Menarik bantal guling, memeluknya erat-erat, menutupi wajahnya yang merah.
Wajahnya masih merah merona.
"KYAAA...
A-abang...
A-abang tadi,
a-abang barusan tadi, ba-baru saja..." Latika menjerit menjauhkan bantal guling, tergagap-gagap ia mengucapkan kata,
"Me-mencium... Me-mencium bi-bibirku."
BLUUUS...
Wajahnya tambah merah.
"Bibirnya lembut." Latika menyentuh bibirnya pikirannya melayang-layang entah ke mana.
"Aaaa... Sadar Latika."
Kainya menghentak ranjang.
Plak... Plak... Plak...
Latika menampar-nampar pipinya, mencoba menghilangkan pikiran yang negatif, yang menghingap di otaknya.
"Aaaa... Latika sadar....
Ah... Bawa Sholat aja."
Dari pada pikiran ini melayang terus, Latika segera mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat isya'.
Berapa menit berlalu.
Setelah sholat isya' Latika memutuskan untuk belajar.
"Aaagh... Gak fokus."
Dia harap dengan belajar bisa membuatnya lupa dengan kejadian tadi.
Eh, baru juga buka buku,
sudah kebayang muka dia tersenyum genit lagi.
Baaak... Kuat Latika menutup buku menghilangkan wajahnya dari pandangannya.
Sekakejap Latika teringat akan perkataan Mang Juneb tadi sore,
"Laki-laki itu punya nafsu Non, coba Non ingat-ingat selama ini Tuan menahan nafsunya itu. Tuan bersikap biasa-biasa saja. Tapi, Non di dalam hati Tuan yang paling dalam, Tuan ingin SEPERTI YANG LAINNYA."
"SEPERTI YANG LAINYA..." Pikiran Latika melayang sudah.
'Suami + Istri \= ...' Pikirnya negatip.
"Aaaa..." Latika menjerit.
Plak... Plak... Plak... Ia menampar pipinya, meranjak dari meja belajar naik ke ranjang.
Ia tak bisa berkata-kata lagi menginggat perkataan Mang Juneb.
Tangannya menarik selimut, bersiap-siap untuk tidur.
'Nafsu laki-laki itu setelah menikah akan bertambah'
Kalimat itu terbayang bayang dalam pikirannya.
Dalam hitungan menit Latika sudah tertidur, dipaksakan.
Sedangkan di bawah, di ruang tamu.
Afriadi bersama dengan Kina.
Separti biasa Kina selalu datang untuk bimbel, alasanya.
Afriadi mengajari Kina.
Selama Afriadi mengajar Kina.
Dia kelihatan gelisah.
Dia melihat jam di ponselnya.
Jam 21:37 malam.
"Kina Sudah jam 9 malam. Pelajaran dihentikan sampai di sini dulu."
__ADS_1
"Kenapa pak? Kina masih mau belajar."
Keluar tuh gaya sok nya, "Bapak sakit ya?"
Tangannta bergerak ingin menyentuh kening Afriadi.
BAAAAST...
Afriadi ingin menepisnya. Tapi, kedeluan Bik Ipah yang menepis tangan Kina.
"Tuan baik-baik saja.
Ia tidak sakit. Kau tahu sekarang jam berapa, sekarang sudah jam 9 malam.
Tuan ingin istirahat.
Sebaiknya Non Kina pulang sekarang, istirahat esok kan mau sekolah. Lagian kasihan Papa Non menunggu di Rumah," kata Bik Ipah mengusirnya dengan nada yang halus.
Kina menatap sinis Bik Ipah, hatinya berkata, "Apa-apaan sih nih orang, hih..."
Gara-gara perkataan Bik Ipah, Kina segera pulang walau terpaksa.
Setelah Kina pulang, rumah menjadi hening.
Bik Ipah membersihkan meja, melirik Afriadi yang duduk bersandar seperti banyak pikiran, "Tuan jika cewek itu gitu lagi Tuan jangan diam saja, tegur dengan keras agar tidak gitu lagi, untung Non tidak ada jika ada bisa salah paham. Lagian itu cewek kegatalan sekali dari rupa sudah tahu..."
Afriadi tidak mendengarkan betul perkataan Bik Ipah.
Afriadi bangkit dari tempat duduknya, melangkah meninggalkan ruang tamu, baru saja beberapa langkah, langkahnya terhenti mendengar kata Bik Ipah.
"Tuan, tindakan tadi good."
Bik Ipah mengajukan jempol, tersenyum melihatkan giginya.
Afriadi berhenti melangkah, membalikan badanya melihat Bik Ipah tersenyum melihatkan giginya mengajukan jempol, "Apa Bibik melihatnya?"
Bik Ipah mengangguk-angguk.
Muka Afriadi merah bersemu.
"... Mantap Tuan seperti dalam drama romantis... Aaa... Tuan mulai berani..."
Bik Ipah mengoda Afriadi tertawa.
Afriadi bergegas menjauh meninggalkan Bik Ipah di ruang tamu menyembunyikan wajahnya yang merah bersemu.
Bik Ipah keluar dari ruang tamu membawa napan berisi gelas kotor, membawanya ke dapur. Dia tak henti tertawa baginya itu pengalaman yang menarik melihat Tuan dan Istrinya ehem.
Bik Ipah emang melihat kejadian tadi.
Tak sengaja ia melintas setelah mengantar minuman dan ia melihat.
Afriadi berhenti melangkah di depan kamar Latika.
"Tadi adek tidak ikut belajar. Apa adek masih memikirkan kejadian tadi? Apa dia sudah tidur?," guma Afriadi berdiri di depan pintu kamar Latika. Tanganya sudah memegang gagang pintu ingin membuka. Tapi, terhenti, ia masih ingat tentang kejadian tadi, ia memilih berbalik masuk ke kamarnya saja.
***
Jam di dinding berdetak, jarum-jarumnya saling bekejaran satu sama lain, dan selalu jarum Jam yang ketinggalan.
"Em..."
"Hem..."
Afriadi kelihatan gelisah, matanya tertutup terbaring di tempat tidur, membolak balikkan badanya.
Sebantar-sebantar hadap Kanan, sebantar-sebantar hadap Kiri.
Kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri.
"Hah..." Matanya melek, mengcak-acak rambut, "Kanapa aku tidak tidur juga?"
Pikiranya teringat lagi dengan kejadian tadi.
"Gila kau Afriadi." Afriadi di serang dengan batinya,
"Adek pasti kaget sekali tadi.
Gila kau... Gila... Gila... Gila...Gila.... Kenapa pula aku main tablet di saat naik tangga? Lagian kenapa sempat kau tetabrak dia?"
"Tapi..."
Afriadi memegang bibirnya.
"Alhamdulillah.
Rezeki..."
Plak... Plak... Plak...
Afriadi menampar pipinya dengan kuat.
"Ah... Mikir apa kau Afriadi. Jangan memikirkan yang macam -macam.
Ah... Cepat tidur Afriadi sudah larut malam ini."
Ia memperbaiki posisi bantal, serta menepuk-nepuknya, menarik selimut, dan mulai menutup matanya.
Tak... Tak... Tak...
Jam di dinding terus berdetak.
Afriadi tak kunjung tidur juga, matanya memang tertutup tapi ia belum tidur, pikiranya masih melayang-layang.
Tak lama.
__ADS_1
JREEENGG...
Matanya melek, melihat langit-langit kamarnya, matanya tertuju pada jam beker di meja kecil sebelahnya menunjukan pukul 11:50 malam.
"Hah..." Afriadi menghela nafas berat,
Ia mengusap rambutnya, "Susahnya mau tidur."
Kedua tangannya mengosok muka.
"Hm... Bawa Olahraga saja, mana tahu lelah terus tidur."
Dia meranjak turun dari tempat tidur. Membuka bajunya. Mulai melakukan peregangan, pemanasan dan mulai Olahraga dari pus up, sit up, lari di tempat, dan lain-lainya.
Setelah malakukan banyak gerakan Olahraga, ia merasa lelah dan...
BRUUUK...
Tumbang di tempat tidur, dengan posisi tengkurap, dalam sekejap saja ia sudah tidur.
Jarum Jam, jarum Menit, jarum Detik, saling bekejaran. Selalu jarum Detik yang dulu dan selalu jarum Jam tertinggal.
Suasana sepi, dan sejuknya angin malam. lorong-lorong, gang-gang terlihat sepi, lampu-lampu rumah warga sudah separuh mati.
Warga-warga terlelap dalam mimpi.
Latika tertidur pulas di kamar.
Memeluk bantal guling.
Waktu subuh menjelang.
*****... *****...*****...
Jam beker berbunyi.
"Em..." Afriadi terganggu dengan suara tersebut, dengan mata yang masih tertutup, tanganya bergerak meraba-raba mencari suber suara tersebut.
Tanganya terus meraba-raba.
Sumber suara terasa dekat.
Tanganya terhenti meraih, tidak bisa menjangkau, terpaksa Afriadi mergerak sedikit agar bisa meraih jam beker tersebut.
Tampa sadar ia sudah berada di pingiran tempat tidur, sekali bergerak sedikit saja maka dia akan...
BRAAAK...
Terjatuh.
Ia terjatuh dari tempat tidurnya, tercium lantai. Matanya langsung melek.
"Ya Adek, Abang sudah bangun."
Afriadi kaget asal bunyi, mengankat tanganya.
"Hah... Tidak ada adek." Ia sadar kalau tidak ada siapa-siap di kamarnya.
Afriadi habis mimpi apa, ya?.
Nafasnya tersengkal, meraih sisi tempat tidur.
"Hah... Astaufirullah."
Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih jam beker di meja kecil sebelahnya. Mematikan alaramnya.
"Hah..."
Afriadi mengusap rambutnya, menguap.
Selang beberapa menit, azan subuh berkumandan.
Mendengar suara azan subuh, Afriadi meranjak dari tempat tidur, mengusap lehernya memutar sedikit kepalanya, kiri Kanan.
Berjalan masuk kamar mandi.
Membersihkan badanya, bersiap-siap untuk melaksanakan sholat
Setelah selesai azan subuh, umat muslim melaksanakan kewajiban mereka, sholat.
Tidak lama kemudian setelah sholat subuh, Afriadi baring-baring di tempat tidurnya, awalnya hanya memejamkan mata. Tapi, tidak lama ia sudah kembali tidur lagi.
Sedangkan Latika turun membantu Bik Ipah di dapur. Masak untuk Afriadi gara-gara dapat pujian darinya Latika tambah semangat masak untuknya.
Waktu terus berjalan.
Jam 07:00 pagi.
Latika sudah berangkat ke sekolah diantar dengan Mang Juneb.
'Pagi ini Abang tidak kelihatan batang hidungnya kata Bik Ipah Afriadi lagi Olahraga, tapi anehlah, lama betul Afriadi Olahraga-nya.' Pikir Latika.
Latika sedikit kecewa pada Afriadi, ia berharap dapat pujian lagi dari Afriadi karena sudah masak makanan untuk dia.
Sesampainya di sekolah.
Tak lama lonceng berbunyi, masuk jam pelajaran pertama.
Selama pelajaran kelas sebelah ribut sekali.
EmangTergagap-gagap Latika mengucapkan kata pelajaran pertama kelas sebelah Bahasa Inggris Afriadi yang mengajar. Tapi, ribut sekali seperti tidak ada guru, sebahagian siswanya keluar dari kelas. Kelas kami hanya memanjangkan kepala, melihat mereka keluar dari kelas, bebas.
Keinginan kelas ini juga ingin seperti itu tidak belajar, tapi apalah daya guru sudah ada, berdiri di depan menjelaskan tentang Gelombang Bunyi, pelajaran Fisika
"Ngomong-ngomong lama juga Abang Olahraga. Olahraga atau apa, lama betul, dari pagi tadi sampai sekarang. Banyak sekali sudah lemaknya, ya," kata batin Latika.
__ADS_1
Oi, Afriadi bukan Olahraga, dia ketiduran.