Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Viral 2


__ADS_3

Hari ini benar-benar dibikin gempar media sosial, video yang berdurasi 2 menit itu dalam hitungan jam saja menjadi viral. Banyak para netizen yang menghina, kata-kata yang mereka keluarkan juga mereka keluarkan juga kasar, tak pantas untuk diucapkan binatang pun tidak mau juga dibilang dengan kalimat itu.


Angin sejuk melewati sebuah rumah yang besar, tingkat 2 halamanya juga luas, pohon-pohon rindang di taman rumah bergoyang diserbu angin, sehelai daun jatuh dari pohon terbawa angin melewati 3 anak manusia yang duduk di depan kolam renang mengelilingi meja bundar kecil.


"Eh eh eh lihat, ini video zina yang viral itu." gadis yang duduk di kursi memeluk setoples keripik pisang, mengunyah, menunjukan ponselnya kepada dua sahabat di dekatnya, cewek yang imut-imut memakai kaca mata gaya berbentuk bundar, tak salah lagi dia adalah teman Latika namanya Salasiah.


"Ha, kau baru tahu. Kami sudah lama tahu," sahut cewek di samping kiri Salasiah, orangnya kurus-kurus tinggi, merampas toples yang dipeluk Salasiah, "Ketinggalan info."


"Eleeh, aku sudah lama juga tahunya." Salasiah tidak mau kalah ia mengaku kalau dia yang pertama tahu dari pada teman-temannya.


"Kapan?." Nana menuntut menyela lantang.


"Pagi tadi," jawab Salasiah mantap, "Kau, lah?"


"Aku subuh tadi lagi," jawab Nana tak mau kalah, mantap.


Salasiah dan Nana malam beradu mulut saling mengaku kalau dialah yang pertaman kali melihat video itu.


"Aku dari semalam lagi." Salasiah tak mau kalah.


Tambah lagi Nana tak mau kalah juga, "Aku tahu sejak zaman Nenek Nenek Nenek Nenek Nenek Nenek Nenek Manusia purba lagi, ha," geram Nana membuat Salasiah terdiam sebentar, bukan karena kalah, namun kalimat Nana membuat Salasiah tertawa terbahak-bahak. Cewek yang memakai kacamata bulat minus, duduk di samping Nana dan Salasiah, ikut tertawa juga melihat mereka berdebat dan perkataan Nana yang mengguncang perut.


Salasiah terlalu juga tertawa berlebihan suaranya yang paling kuat, sampai perutnya sakit, "Bwahahahahaha... Umay, tuhaknya ikam [Tuanya kau]."


Hana tertawa melepas ponselnya, menaruhnya di atas meja, "Hahahaha... Mengalahi tuhan lagi tahunya."


"Hahaha..." Salasiah masih tertawa tak berhenti juga membuat Nana jengkel, urat kesal Nana kelihatan, "Tawa tawa tawa puas puas."


"Hihihi... Berapa umur kau Na?," tanya Hana menyeringai, lesung pipinya terlihat.


"Terliunan abad, dah," jawab Salasiah menyeringai lebar melirik Nana.


Hana mengambil ponselnya, "Tapi, aneh video dan foto yang viral ini, sayangnya wajahnya tak kelihatan. Bisa sih lihat sedikit tapi, blur. Siapa yang kenal coba." Hana menunjukan video dan fotonya.


"Hem, kameranya tidak bagus itu, jadinya blur." Nana mendekatkan wajahnya ke hadapan ponsel Hana, mengamati sok serius.


"Kemungkinan seperti itu, kamera ponselnya yang jelek, jadi hasilnya blur dan tidak jelas begini, lagian itu wajah mereka kotor, tambah tak jelas lagi sudah." Salasiah juga mendekat meneliti video, dan video yang di lihatkan Hana, "Mudahan saja mereka dapat azab dari Allah."

__ADS_1


Mendengar perkataan Salasiah, Hana cepat komen, menasehati, "Hiiisss... Tidak boleh macam itu, kita sesama muslim saudara jadi janganlah do'akan yang buruk-buruk macam itu, do'akan mereka semoga dapat rahmat, hidayah dari Allah dan diampuni dosa mereka."


Salasiah memainkan ponselnya mengacuhkan nasehat Hana.


Nana geram, langsung merampas ponsel Salasiah, "Itu, dengar Salasiah."


Salasiah mencoba mengambil kembali ponselnya dari tangan Nana, namun Nana tak membiarkan begitu saja.


"Dengar tidak!" Nana berseru, sambil menahan Salasiah dengan tangan kanan menempel di wajah Salasiah dan tangan kirinya menjauhakan ponsel dari tuannya.


"Ya ya ya ya... Aku dengar sekarang kembalikan ponsel aku," Kesal Salasiah, memohon untuk di kembalikan ponselnya.


Hana hanya menonton tertawa melihat tingkah temannya itu, terbayang dalam pikirannya keadaan Latika, 'Latika apa kabar ya?'


 


***


 


Sedangkan di rumah Kamarudin, guru di SMA Ayubiyyah. Malam ini Kamarudin kedatangan tamu muridnya Sahril dan teman mengajarnya Sarifudin yang kerap di sapa Sarif, ia termasuk juga dari salah satu guru yang masih singel. Kulitnya sawo matang ia juga kerap disapa Ustadz karena mengajar mengaji anak-anak dan menjadi imam di masjid dekat rumahnya. Siswi mana yang tidak kenal dengan Sarif, guru yang memiliki suara merdu, saat ia melantunkan ayat suci Al-Qur'an bagaikan suara imam besar di makkah sana.


"Pak, Bapak sudah dengar berita yang baru-baru viral ini?," tanya Sahril menatap Kamarudin, memasukkan cemilan kedalam mulutnya.


"Sudah," jawab Kamarudin singkat, meraih gelas kopi luwaknya.


Sarifudin meletakkan kembali gelas kopinya setelah ia minum, bertanya, "Berita apa?"


"Hem, Ustadz tak tahu." Sahril kaget tidak sangka kalau orang di sampingnya tidak tahu, menatap wajah yang benar tidak apa-apa, yang di tatap menjawab dengan menggelang benaran tidak tahu.


Kamarudin tertawa kecil, " Hey! Sahril, jangan kau tanya Ustadz soal tahu tidak tahunya ia pasal berita itu, kan Ustadz setiap hari mengajar mengaji, mengajar inilah itulah, mana mau dia menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak berpaedah." Kamarudin melirik Sarif, tertawa kecil, "Kau tanya ponselnya, betul tidak 2 hari baru di kasih makan."


"Hem, yelah aku ini apalah ya kan, bukan macam orang-orang tahu informasi seperti itu," jawab Sarif menatap Kamarudin dengan senyum tipis.


"Oh..." Sahril mengotak atik ponselnya, mencari video viral itu, "Ini Ustadz, video saat penzina itu di kerumuni warga." Sahril melihatkan video itu, memberikan ponselnya pada Sarif di sebelahnya.


Volume suara sudah di kecilkan di suruh Kamarudin karena keponakannya tidur.

__ADS_1


Alih-alih video viral itu yang di tunjukkan malah video lain.


* Video yang ditunjukkan Sahril.*


Tet... Teret... Tererererett...


Black ping...


Tet... Teret... Tererererett...


Anye... Anye...


"Astaghfirullah halazim." Sontak Sari menutup matanya.


"Kenapa pula kau beucap bukanya juga para." Kamarudin kaget melihat temannya seperti melihat video yang buat mata sakit, setahunya video itu tidak separah itu, penasaran ia mengambil ponsel Sahril.


Sang pemilik tidak tahu apa-apa ia asik memasukkan cemilan ke dalam mulutnya 'Musik siapa itu? Enak juga' pikir Sahril.


Ketika Kamarudin melihat video itu, "Astaghfirullah, Sahril."


Hampir saja Sahril tersedak, cepat menatap Kamarudin, memasang wajah tak berdosanya, "Kenapa Pak, parah bertulkah videonya?"


Kamarudin memberikan ponselnya menyuruh ia melihat sendiri, Sahril mengambil ponselnya, melihat.


"Anak zaman sekarang videonya tak berpaedah, masa iya video anye anye diputar," omel Kamarudin.


"Maaf Pak salah putar." Sahril tertawa getir, "Ini yang aslinya, Pak." Sahril menunjukkan video viral itu, menunjukkan pada Sarif.


Durasi video yang pendek.


"Em, ini yang viral itu, singkat sekali," ucap Sarif, menyerahkan ponsel Sahril.


"Emang sebentar, cuman Ustadz disini di lihatkan waktu dia di kerumuni warga dan waktu mereka dinikahkan." Sahril mengambil kembali ponselnya.


"Itulah, akibat pergaulan bebas, sekarang imi semakin meluasan pergaulan bebas, tampa tahu lagi akibatnya." Sarif mengambil gelas luwaknya.


"Itulah larangan agama dan orang tua tak di dengarkan mereka lagi, macam mereka abaikan larangan itu. Nah, ini contohnya sudah Allah lihatkan kepada kita," ucap Kamarudin, ada benarnya juga Sarif mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Sahril melihat ponselnya, seperti menunggu seseorang chat dia, "Tumben Latika tidak ada chat, biasanya dia chat aku. Apa terjadi sesuatu dengan dia?," seru Sahril dalam hati.


__ADS_2