Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Latika Menghilang


__ADS_3

"Hah..." Mata Afriadi langsung melek, perasaannya tidak enak, pikirannya kepikiran Latika terus, "Adek."


Afriadi bergegas turun dari tempat tidurnya menyambar kunci mobil yang ia lempar di meja.


Kakinya lincah menuruni anak tangga.


Di depan pagar sudah ada Bik Ipah yang ingin menutup pagar. Tadi Mang Juneb pergi mencari Latika dengan Motor. Ia terkejut melihat Afriadi keluar bersama Mobil melewatinya.


"Tuan," panggil Bik Ipah, "Tuan ingin ke mana?"


Tidak ada jawaban untuk Bik Ipah, Afriadi keburu melesat cepat dengan Mobilnya.


Bik Ipah melihat dari kejauhan Mobil Afriadi sudah menjauh, mengecil dan menghilang dari pandangannya. Bik Ipah masuk menutup kembali pagar, masuk ke dalam Rumah.


"Adek," batin Afriadi memanggil Latika, bertanya-tanya pada dirinya sendiri,


"Kenapa perasaanku tidak enak?


Kenapa pikiranku terus kepikiran Adek?


Adek kau ada di mana?"


"Ini salahmu Afriadi, kenapa kau memarahinya berlebihan, Adek kabur jadinya.


Kenapa tidak aku kejar Adek tadi?" Afriadi bedebat dengan batinya,


Sekarang cari Adek ke mana dahulu?"


"Ah... Ke Sekolah saja, mungkin Adek kembali ke Sekolah."


Selama perjalanan mata Afriadi melihat-lihat kes isi jalan, mana tahu ia melihat Latika di sana.


Percuma Latika tidak kelihatan juga.


Sesampainya di Sekolahan.


Bel pulang sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu sebelum Afriadi sampai ke Sekolah.


Semua Siswa Siswi pulang. Afriadi berdiri di gerbang sebelah Kodir, memeperhatikan wajah masing-masih Siswi yang lewat yang di pandang salah paham kiranya Afriadi suka dengan dia. Siswa malah meanggap Afriadi genit.


Sekian banyak Siswi yang lewat di hadapannya.


Tetap batang hidung Latika tidak kelihatan juga.


Hati Afriadi bertanya-tanya keberadaan Latika.


Hana lewat menegur Afriadi, mengeluarkan senyuman terbaik, "Pak..."


Afriadi meangguk,


Hana melanjutkan langkahnya, tidak jauh Hana berjalan Afriadi memanggilnya, "Hana."


Hana membalik badan, "Ya Pak. Ada apa Pak?" Dia mendekat.


"Ada lihat Latika?"


"Latika." Hana meangkat bahu, menjawab apa adanya, "Saya tidak melihatnya, sejak Drama selesai. Tadi dia tidak masuk jam pelajaran ke 3 dan ke 4. Para guru mencarinya, di Absen dia bolos."


Batin Afriadi tambah panik.


"Hana tahu Latika ada di mana?," tanya Afriadi.


"Kenapa cari Latika, Pak?" Hana malah balik bertanya.


"Tidak ada apa-apa, hanya ada perlu. Tahu Latika ada di mana?" Afriadi mengulangi pertanyaannya.


Hana meangkat bahu, menggeleng, "Tidak Pak."


"Kenapa tidak? Bukanya teman dekat Latika."


"Sudah jarang berteman dengan Latika." Hana menjawab jujur.


Afriadi menyeringit, bertanya, "Kenapa?"


Hati Hana mendorongnya untuk mengadu kalau Kina memaksanya menjauh dari Latika, tidak usah berteman dengan dia.


"Hana dipak-"


"BAPAK!" Kina memanggil Afriadi, memotong kalimat Hana, mendekati mereka.


Matanya melotot melihat Hana, Hana hanya terteguh gemetar.


"Bapak nunggu kina, ya?"


"Cih... Kegatalan," batin Hana mengejek Kina. Ia mengeleng kepala, pergi meninggalkan Kina.


"Tidak."


Afriadi menjawab malas.


"Oh." Kina menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan Kiri Kanan seriring dengan tas di belakangnya, "Jadi Bapak lagi menunggu siapa? Kalau begitu antarkan Kina pulang, ya Pak."


"Tidak bisa Kina. Saya sibuk. Saya lagi menunggu seseorang. Ada urusan dengan dia."


"Siapa?,"


Hati Afriadi berkata, "Banyak tanya."


Afriadi sembarangan menarik tangan seseorang tanpa di lihat lagi, memberikan bukti kepada Kina kalau dia benar lagi mencari seseorang, "Aku ada perlu dengan dia."


"Ha..." Kina terkejut melihat orang yang Afriadi tarik tangannya.


Kodir dari tadi diam saja, hatinya berkata, "Hoho... Saingan ini."


Semua anak murid yang melintas melirik, saling berbisik-bisik melihat siapa yang ditarik Afriadi.


"Ehemm... Pak..." Siswi itu berdehem dengan wajah yang sedikit merah.


Afriadi menoleh melihat siapa yang ditaringknya.


"What???" Hatinya menjerit melihat siapa yang ia tarik.


"Bapak ada perlu apa dengan saya?," tanya Siswi itu, menatap Afriadi kebingungan. Dia Dinda Siswi Kelas 11 IPA A, satu Kelas dengan Latika. Di Kelas dia cukup dibialang pintar, saingan Latika juga.


Kina melototi Dinda, batinya menandai Dinda, "Jadi ini orangnya." Kina akan ingat siapa saja yang dekat dengan Afriadi, jadi target selanjutnya untuk di singkirkan.


Dreettt...


Ponsel Kina berbunyi.


Kina melihat siapa yang menelponnya.


"Kenapa sekarang nelponnya?," gerutunya pelan, pergi menjauh, meangkat telpon.


"Huh..." Afriadi menghela nafas lega.


"Pak..." Dinda memanggil, mengulangi pertangaannya, "Bapak ada perlu apa dengan saya?"


Afriadi menoleh melihat Dinda di sampingnya, batinya berseru, "Ah... Aku lupa kalau ada satu lagi masalah yang aku buat. Kalau tidak salah dia yang pagi tadi membuang sampah sembarangan."


Afriadi meingat pagi, ia barjalan menuju Kantornya, pagi-pagi sudah melihat pemandangan tidak menyenangkan, apa lagi kalai bukan lihat salah satu anak didiknya membuang sampah sembarangan, padahal itu tong sampah di sebelahnya tidak mau masukkan. Mau di tegur orangnya sudah lari.


Afriadi melepas genggamannya, "Pagi tadi itu kamu kan yang buang sampah sembarangan, lain kali jangan buang sampah sembarangan, tempat sampahkan sudah disediakan."


Muka Dinda langsung pucat, sadar kalau itu dia.


Kodir tertawa tertahanelihat wajah Dinda, Afriadi pergi sebelum Kina kembali.


Afriadi melihat Kiri Kanan man tahu ada Latika, "Tidak ada di sekolah.


Habis itu ke mana?"


Muncul satu tempat di mana kemungkinan ada Latika, "Kost.


"Mana tahu ia kembali ke kosannya."


Afriadi segera melajukan Mobilnya menuju Kost lama Latika.


Sesampainya di sana, Afriadi menyelonong saja masuk tanpa baca tulisan peringatan di depan pintu gerbang Kost 'LAKI-LAKI DI LARANG MASUK' ia lupa dengan tulisan itu.


Tanpa sadar kehadirannya di ketahui Bu Kost.


Hari ini Kost tidak sepi, ketika Afriadi masuk semua mata penghuni Kost melihatnya yang lagi menjemur pakaian, sapu-sapu teras, habis mandi menjerit kaget lihat Afriadi masuk lagi ke dalam Kamar mandi, yang lagi di kamar keluar melihat Afriadi berlari menuju Kamar Latika dulu. Semua siap-siap ambil senjata.


Sesampainya dia di depan Kamar Latika dulu, pintunya tertutup ketika ingin di buka ada yang buka lebih dulu.


"Haaa..." Mereka berdua kaget, Afriadi kaget orang di dalam kamar Latika juga keget. Bagaimana Afriadi tidak kaget itu orang rambutnya kayak mie rebus berkulit sao matang pakai masker lumpur lagi. Apa tak kaget Afriadi.


Afriadi melangkah mundur, pinggangnya seperti menabrak sesuatu, ia membalikkan badanya.


Sroot... Ujung tongkat sapu sudah berada di depannya. Salah satu penghuni Kost mearahkan ujung tongkat sapu ke muka Afriadi.


"Kau..." Baru Afriadi menujuk orang itu, ingin memarahinya.


SROOOT...


Semua senjata penghuni Kost mearah padanya. Ada mearahkan sapu, catokan, wajan masak, sendok masak, sepatu berhak tinggi, sendal, dan ada juga setangkai bunga liar semua mata melihat orang yang mearahkan itu, menatap sinis yang di tatap tersenyum. Semua kembali fokus pada Afriadi. Afriadi pias meneguk ludah, bisa babak belur dia di hajar penghuni Kost.


"Minggir... Minggir..." Ada yang menerobos pertahanan penghuni Kost, suaranya lantang memecah keributan. Suara itu tak asing di telinga Afriadi. Petaka, Ibu-Ibu memakai daster berdiri di hadapan Afriadi.

__ADS_1


Afriadi tersenyum getir melihat wanita itu, siapa lagi kalau bukan Bu Kost pemimpin di sana.


"Saya bisa jelaskan," kata Afriadi.


"Kamu lagi, tidak baca apa di depan sana. LAKI-LAKI DI LARANG MASUK. Tidak paham basa apa?," omel Bu Kost.


Yang lainnya meangguk membenarkan.


"Tadi Bu, dia mau masuk ke Kamarku."


"Mau memaki saya."


Anak-anaknya mengadu.


Afriadi mendapat pelototan mata dari Bu Kost.


"Tenang Bu, itu tak seperti yang di pikirkan," kata Afriadi menahan amarah Bu Kost, "Saya ke sini mencari mencari Latika."


"Haaa... Latika." Semua terkejut mendengar nama Latika di sebut, saling pandang satu sama lain.


Mereka menurunkan senjata mereka.


"Oooh... Kamu Abanhnya Latika." Bu Kost menunjuk Afriadi.


"Ooooo..." yang lain ikut ber-o panjang, meangguk padahal tak pernah tahu.


"Eett... Tunggu-tunggu kenapa cari Latika di sini?" Salah seorang penghuni Kost bertanya, semua terdiam memanatap Afriadi sinis.


"Kenapa dengan Latika?," tanya Bu Kost mulai mengegas.


"Ya, kenapa dengan Latika?" Yang lain ikut bertanya.


"Egh... Dia belum pulang." Afriadi menjawab.


"APA! DIA BELUM PULANG. SEJAK KAPAN? APA KALIAN BERTENGKAR?"


Bu Kos naik pitam.


Afriadi mau menjawab, di potong dengan pertanyaan penghuni Kost.


"KENAPA KALIAN BISA BERTENGKAR?"


"MASALAH APA YANG MEMBUAT KALIAN BERTENGKAR?"


"KENAPA BISA?"


"BAGAIMANA BISA?"


"APA KAU MEMUKULNYA?," pertanyaan ini membuat semua mata meloto ke arah yang bertanya berpindah alih ke Afriadi. Banyak pertanyaan yang timbul gara-gara itu.


Afriadi meingat semuanya kembali, ia menguncang tubuh Latika, membentak, dia seperti monster. Pertanyaan mereka semua tidak kedengaran oleh Afriadi. Dia baru sadar dirinya monster saat itu, dia sadar selepas ini Latika akan takut padanya.


Lamunan Afriadi terputus dengan suara lantang Bu Kost.


"BUKANYA AKU SUDAH BILANG UNTUK MENJAGA DIA.


KAU INI ABANGNYA ATAU BUKAN. KAU CARI DIA SAMPAI KETEMU, SANA CARI. KALAU KAU DI SINI TERUS DIA TIDAK AKAN ADA. SANA KAU CARI SAMPAI KETEMU, MINTA MAAF."


Buk Kos yang tidak tahu asal muasal ceritanya hanya memarahi Afriadi, karena ia tidak menjaga Latika, Buk Kos kesal mukanya memerah padam.


Kalau dilihat agak menyaramkan.


Afriadi di dorong paksa keluar dari Kostan.


"CARI LATIKA SAMPAI KETEMU. KALAU TERJADI APA-APA SAMA DIA, AWAS KAU."


Jangan main-main dengan Bu Kost, Latika itu idola di Kostan.


Siapa yang tak kenal dengan dia gadis berparas cantik, baik, dan suka menolong.


Afriadi pergi meningalkan Kost.


"Di mana lagi aku harus mencari adek?"


Mendadak berhenti, membanting stir.


Berkali-kali ia membenturkan kepalanya ke stir mobil.


Ia merasa bersalah membentak Latika,


Afriadi berusaha memikirkan tempat di mana Latika sering kunjungi, tapi selama ini ia tidak tahu banyak mengenai Latika. Ia tidak tahu hoby Latika apa, tempat yang sering Latika kunjungi, semua mengenai Latika dia tidak tahu betul. Bagaimab tidak tahu? Afriadi jarang berkomunikasi dengan dia, jika bicara hanya seperlunya saja. Sisanya hanya diam. Tak ada tuh saling perkenalan gitu.


"Ah... Iya, makam orang tua adek." Sekejap saja Afriadi kepikiran ke sana.


Pikirnya setiap anak kalau ada masalah pasti pergi menemui orang tua mereka.


Afriadi pergi melaju Mobilnya menuju makam orang tuan Latika.


Katanya hari ini tidak ada anak gadis yang pergi ke sini.


Afriadi pergi lagi menuju tempat lainnya yang mungkin Latika ada di sana.


Setelah bolak-balik mencari ke sana ke sini, Latika tidak ditemukan juga.


"Adek, kau ada di mana?" Afriadi kesal, berkali-kali membanting stir mobilnya.


Afriadi menelpon seseorang, meminta bantuan padanya.


Drrreeett...


Ponsel Hasan berbunyi di dalam saku celananya, mengetar pahanya.


Ia mengambil ponselnya, melihat siapa yang menelpon.


Hasan melihat nana si pemanggil, mulutnya berhenti mengunyah makanan, "Afriadi. Ada apa dia nelpon?"


Tampa banyak basa basi Hasan meangkat telponnya.


"Hallo Af. Ada apa Af?"


"Hasan, kau sibuk?"


"Tidak lagi nganggur, makan siang." Hasan menyuap makanan ke dalam mulutnya, "Ada apa? Minta solusi, ya? Apa ada masalah?"Hasan terus bicara,


"Apa kau tidak tahu cara merayu, makanya kau menelpon, bukanya aku sudah ajarkan cara merayu, harus berapa kali lagi aku menjelas-"


Afriadi memotong perkataan Hasan, "San, bukan itu San." Nada suaranya sedikit kesal.


"Apa? Apa kalian bertengkar? Bukanya sudah kubilang Afriadi, jangan terlalu keras, penyakit lamamu belum hilang juga-"


Afriadi memotong lebih tegas, intonasi suaranya menaik, "Latika hilang, San."


"APA?!" Hasan membentak meja warung tempat ia makan, semua mata pelangan tertuju padanya.


Merasa di perhatikan, Hasan menyengir membalas tatapan mereka semua tanda minta maaf.


"Apa Kau yakin dia hilang?"


Hasan mengecilkan suaranya, menyuap nasi ke mulutnya, "Apa kau sudah mencari dia?"


"Sudah. Aku sudah mencari dia. Di tempat kemungkinan dia ada. Tapi, tetap dia tidak ada."


"Kenapa dia bisa menghilang? Ini semua tidak akan terjadi jika tidak ada pertengkaran. Apa kau bertengkar dengannya?"


"Iya. Aku bertengkar dengannya."


"Hu huh... Pantas saja, sudah kau hubungi dia?"


"Belum."


Astaufirullah, Afri. Seharusnya kau hubungi dia dahulu."


"Aku terlalu panik."


"Ya, udah telpon dia, sambung tiga saja, mana tahu aku bisa membantu."


"Em..."


Afriadi menghubungi Latika.


Tut... Tut...


Drreettt...


Ponsel Latika berbunyi, mengetar di saku roknya.


"Eh... Piki ponselmu berbunyi," ujar seseorang bertubuh pendek duduk di kursi kayu, berbaju merah dengan stelan celana lepis robek-robek, bertanya pada teman di sebelahnya. Wajahnya seram banyak bopeng sehingga kelihatan tua.


"Tidak, ponselku tidak berbunyi." Teman di sebelahnya menjawab yang ia panggil Piki. Piki memiliki wajah yang lumayan dan muda lagi, "Ponsel kau mungkin, Damir."


Damir nama Pira di sampingnya itu,


"Bukan. Di sini kan cumam kita berdua."


"Kalau begitu ponsel itu cewek." Piki melirik Latika di seberangnya.


"Hihi... Apa aku yang ambil?" Damir tersenyum penuh arti.


"Dasar mesum," guma Piki melihat Damir merajak dari tempatnya mendekati Latika, tangan Damir mengambil ponsel Latika di saku roknya.

__ADS_1


"Hey! Haney. Cowoknya telpon." Damir melihatkan wajah ponsel pada Pikir.


"Benarkah, matikan." Piki memerintah Damir.


"Kita ancam saja bagaimana? Lumayan dapat tambahan," usul Damir, menaik turunkan alisnya.


"Jangan jika bos tahu kita bisa kena masalah. Matikan saja," perintah Pikir.


"Oke."


Entah kenapa Damir malah mengeser simbol hijau, ia mau meancam Afriadi minta imbalan seperti di film-film.


"Ah... Terhubung." Afriadi memberhentikan mobilnya mendadak, melihat ponselnya seakan tak percaya.


"Kenapa kau angkat?" Piki geram giginya merapat.


"Aku salah geser," kata Damir.


"Aduh, gawat dia pasti terdengar suara kita." Piki menutup mulutnya, suaranya terdengar kecil.


"Bagaimana Ini?" Damir menyeringai sengaja tidak ia tutup panggilannya.


"Siapa di sana? Kenapa ada suara laki-laki, yang bertengkar." Afriadi terkejut mendengar pertengkaran dalam ponselnya.


Begitu juga dengan Hasan, mendengar suara keributan, ia menjauhkan ponsel dari telinganya kiranya ia salah dengar kembali mendekatkan ponsel ke telinganya mendengarkan seksama, "Kenapa ribut sekali?"


"Apa jangan-jangan..." Mereka berdua serempak menduga, Latika.


"Adek... Adek... Adek diculik." Afriadi menduga.


"Istri Afriadi di maling." Hasan berteriak.


BAAAK... Lagi-lagi Hasan membentak meja, mengejutkan seisi warung sampai Damir dan Piki juga terkejut. Hasilnya dia mendapat pelototan dari pemgunjung dan pemilik warung. Hasan tersenyum lebar minta maaf.


Komat kamit Damir dan Piki. Damir mau mengancam, keburu di serang Afriadi.


"Siapa di sana? Hy! SIAPA KALIAN?"


"Gawat. Matikan, cepat matikan." Piki merampas Ponsel Latika dari tangan Damir, cepat mematikan.


Tut...


Panggilan berakhir.


"HALLO HALLO HALLO!!!" Afriadi memanggil kasar Hasan yang dengar menjauhkan Ponsel dari telinganya. Berdengung telinga Hasan.


"HAAA..." Afriadi membanting stir, Hasan kaget tersenyum melihat pemandang yang tak menyenangkan dari para pengunjunh wartek.


"Af, tenang Af. Istrimu pasti baik-baik saja." Hasan mengecilkan suaranya.


"Bagaimana aku bisa tenang San. Dia di culik!" Nada suara Afriadi menai, "Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?"


"Masalah serius ini," kata Hasan bengkit dari tempat duduknya, tersenyum melihat tatapan pengunjung padanya gara-gara ribut sendiri pakai bentak meja segala,"Aku bantu kau cari dia. Aku baru saja menikmati makan siangku yang damai. Tapi, masalah hilangnya Istrimu lebih penting ditangani. Af, kau di mana sekarang?"


"Aku ada di jalan xxx."


"Oh... Ya, bukaya kau memasang GPS di ponsel Latika?," tanya Hasan.


Afriadi baru sadar soal itu. Dia terlalu panik semua jadi lupa.


"Kirim Lokasinya, aku akan datang secepat mungkin menyusul kau. Ah ya jangan bertindak gegabah. Kita tidak tahu apa yang mereka inginkan.


"Em... Aku paham. Aku sudah temukan lokasinya, aku kirimkan lokasinya segera."


Panggilan berakhir.


"Adek tunggu Abang."


Afriadi segera menuju lokasi ponsel Latika.


"Adek manis, ini uangnya sisanya ambil saja untuk beli bedak sama pewarna bibir," Hasan membayar makanan yang ia makan, keluar dari wartek.


Memasang Earphone di telinganya bergegas bergerak memanggil temanya.


Hasan menaiki motornya, memakai helem.


"Hallo."


"Kalian sibuk?"


"Bisa ikut aku sebentar?"


"Kita tangkap tikus kering."


Dia tersenyum tipis menutup penutup kaca pada helemnya.


Berangkat menuju TKP.


***


"Apa dia menyadari kalau pacarnya diculik?," tanya Piki kahawatir.


"Entahlah."


"Ini semua salahmu, coba kau tolak panggilannya tadi. Bisa gawat jika Bos tahu. Kita bisa kena masalah."


"Oke oke aku salah. Kita tutup mulut saja, toh Bos tidak tahu juga."


Piki menatap Dika malas.


Tap...


Seorang Wanita muncul di belakang Piki. Berkaos Hitam di bungkus jeket hitam terkancing separuh perut menampakkan dada serasi dengan celana lepis hitam ketat semua serba hitam, rambut pirang di kucir. Damir tersenyum manis bercampur rasa cemas melihat Wanita itu.


Piki mengibaskan tangannya ke wajah Damir, "Hoy! Apa yang kau-"


"Apa yang kalian bicarakan?" Wanita itu memotor kalimat Piki.


Seketika Piki pucat, menoleh melihat bosnya, menyengir getir.


"Bukan apa-apa Bos." Damir melambai-lambaikan tangannya di ikuti dengan gelengan kepala Piki.


"Egh..."


Latika sudah siuman. Matanya terbuka perlahan, pandangannya yang masih rabun menyapu seluruh sisi-sisi tempat itu. Tempat yang asing, pandangnya tertuju pada 3 orang di seberangnya.


"Siapa kalian?" Latika bertahya lemah, padangannya masih rabun tidak terlalu jelas melihat mereka. Menggerakkan Kaki dan tangannya berusaha dangun, ikatan di tangan dan kakinya membelit kuat, Latika mendesis kesakitan.


"Bos dia sudah siuman," kata Piki melirik Wanita di belakangnya.


Begitu juga dengan Damir, "Sudah sadar bos."


"Siapa kalian? Kenapa aku ada di sini?" Latika bertanya dengan suara gemetar.


"Wah... Latika kau sudah sadar?" Wanita itu mendekati Latika duduk jongkok di depannya, memegang dagu Latika menggelengkan Kiri Kanan.


"K-kau..." Latika terkejut melihat siapa di hadapanya, suaranya sangat lemah, "K-kina..."


"Uhuy, suara yang lemah, aku suka suara wanita yang seperti ini.


Jika.... Hihihi... Asik ini," guma Damir tersenyum lebar pikiranya sudah negatif. Piki hanya menggelengkan kepalanya mendengar gumaan Damir


Kina tersenyum licik, mendekatkan wajahnya, "Ya. Ini aku. Kenapa kau terkejut? Biasa saja jangan terkejut, aku tidak suka dengan tampang kau yang polos itu."


"K-kenapa kau menculiku?"


"Haha... Kau bertanya kenapa aku menculikmu?" Kina menjauhkan tangannya dari dagu Latika, menundukkan kepalanya, "Itu karena aku tidak suka melihatmu." Kina menaikan suaranya.


Plak...


Tangannya melayang menampar


Pipi Latika.


"Ah... Apa salah ku dengan kau Kina? Sampai kau membenciku."


"Baguslah kau bertanya? Itu karena kau mendekati AFRIADIIIII..."


Plak...


Tangan Kina melayang menempar Latika sampai terjatuh.


"Kau pikir aku tidak tahu. Kau serumah dengan Afriadi. Kalian saling menggoda, bukan tapi kau yang menggoda dia. AKU TIDAK SUKA MELIHAT KAU DEKAT DENGAN DIA! AKU INGIN KAU MENJAUHI AFRIADI!"


Latika mencoba bangun dengan tubuh yang gemetar sampai suaranya ikut gemetar, "Kenapa kau tak suka melihat aku dekat dengan dia? Kenapa kau menyuruhku menjauhi dia? Apakah tidak ada lagi Pria di luar sa-"


Plak...


Belum sempat Latika menyelesaikan kalimatnya Kina sudah menampar Latika lagi.


Latika lemah mulutnya tidak sanggup untuk bicara


"KARENA AKU SUKA DENGAN DIA, AKU TAK MAU ADA PENGANGGU. AKU INGIN KAU MENJUHI AFRIADI!."


Tangan Kina menjambak kuat jilbab Latika, sampai ke Rambut Latika ikut tertarik juga.


"JANGAN DEKATI DIA! JAUHI DIA! JIKA KAU TIDAK MAU DIRIMU KENAPA-KENAPA, JIKA KAU TIDAK INGIN MENDERITA."


"AAA..." Latika menjerit kesakitan.

__ADS_1


Kina mendekatkan bibirnya pada telinga Latika, membisikkan, "Dan kau tahu. Aku tahu rahasiamu, dan Afriadi."


Mata Latika terbuka lebar.


__ADS_2