Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kejadian itu


__ADS_3

Tidak lama kemudian sekumpulan warga desa dan Pak Hansip datang, mencari-cari asal suara yang sudah hilang beberapa menit yang lalu.


"Woy!!!" salah seorang dari mereka, memanggil yang lainnya untuk menghampiri dirinya.


Tampa diseru dua kali mereka menghampiri warga tersebut.


Betapa terkejutnya mereka membuka semak-semak dan mengsenteri di semak-semak itu. Apa yang mereka lihat sampai sekaget itu? Mereka menemukan Latika dan Afriadi di sana, mereka keget karena melihat posisi Afriadi yang menindih Latika, di tambah jilbab Latika yang hampiri terbuka, dan bajunya sedikit terbuka.


"Astaghfirullah...," ucap mereka.


Cahaya senter membuat Latika sadar, ketika Latika sadar dari pingsannya, ia kaget dengan kehadiran warga desa dan Pak Hansip, cahaya silau itu tidak sanggup untuk ia lihat, Latika merasa kesulitan untuk bergerak, betapa terkejutnyan lagi ia melihat kepala Afriadi yang terbering di dadanya dan menindihnya, di tambah lagi dengan keadaan jilbab Latika yang terbuka dan bajunya yang hampir terbuka semua sampai kelihatan baju dalamnya.


"Astaghfirullah..." dengan cepat Latika mendorong tubuh Afriadi, menjauhkan dia darinya.


Afriadi mulai sadar dari pingsannya, cahaya senter membuatnya sadar, betapa terkejut Afriadi melihat mereka.


"Ya Allah," ucap salah seorang warga.


Afriadi melirik Latika memperbaiki pakaiannya.


"Lagi apa kalian disini?," tanya Pak Hansip dengan suara yang lantang.


"Ah... Itu-" perkataan Afriadi terpotong.


"Untuk apa kau tanya lagi Hansip," potong salah seorang warga, "Jelas-jelas mereka berdua-duaan di tempat seperti ini dan lihat mereka berantakan sekali, ya pastinya mereka habis melakukan zina."


"Wah... Tidak bisa di biarkan ini, ayo semua kita bawa mereka menghadap Pak Kades." ucap Pak Hansip menggeleng kepalanya.


"Tunggu dulu-" perkataan Afriadi terpotong lagi.


Latika memotong, "tunggu dulu Pak kami bisa jelaskan."


"Jelaskan apa lagi?" bentak seorang warga.


"Ayo seret mereka." sorak salah seorang warga, diikuti warga yang lainnya bersorak-sorak, "Ayo... Ayo... Ayo..."


Mereka pikir Latika dan Afriadi berzina, dengan sigap mereka menangkap Latika dan Afriadi, mereka langsung membawa Latika dan Afriadi diarak-arak, selama perjalanan menuju balai desa para warga yang bersorak terlalu kuat itu membangunkan warga yang lainnya.


Para warga yang terbangun dari tidur, bertanya pada diri mereka sendiri, 'Apa yang terjadi diluar sana?'

__ADS_1


Mereka yang penasaran pergu keluar rumah bertanya kepada salah seorang warga yang termasuk dalam rombongan, "Ada apa ini?"


"Itu, kami mengpergoki pasangan zina!" jawab warga itu.


"Ha..." semua terkejut dengan jawaban itu.


Para warga yang keluar rumah, ikut mengseret Latika dan Afriadi kebalai desa.


Salah seorang pemuda tanggung dari mereka lari pergi melapor pada Pak Kades, memberitahukan masalah ini, takutnya para warga akan main hakim sendiri, maklum jika sedang emosi mereka tidak bisa pikir dengan sehat. Ia tidak memanggil polisi sebab kantor polisi tidak ada didesa itu, desa yang kecil begini mana ada kantor Polisi, ya palingan dikabupaten yang jaraknya sekali.


Pemuda itu sudah mendatangi rumah Pak Kades, tapi ia mendapat jawaban dari istri Pak Kades, kalau Pak Kadesnya tidak ada dirumah ia pergi kewarung Bu Sari, warung kopi yang ada didesa itu. Ia langsung pergi


ketika istrinya Pak Kades ingin bertanya pemuda itu tahu main pergi saja.


Pemuda itu berlari lagi menuju warung Bu Sari yang tidak jauh dari rumah Pak Kades sekitar 1 kilo adalah.


Ketika ia sampai disana dilihatnya Pak Kades dan Pak RW dan orang-orang yang berpengaruh didesanya berkumpul disana, melihat pertandingan sepak bola di TV kecil yang berada diatas pojok kiri warung, sambil menikmati kopi.


Warga itu berlari, teriak-teriak mendekati mereka, "Pak... Pak... Pak..."


Pak RW yang kebetulan ada disana duduk sebelahan Pak Kades, meminum teh. Warga yang berlari dengan cepat itu sampai-sampai lupa rem sehingga menabrak meja mereka, Pak RW yang minum teh terkejut sehingga air teh yang ada didalam mulutnya tersembur keluar membasahi wajah pemuda tanggung itu, banjir sungguh terjadi banjir.


Paaak... Pak imam yang kebetulan ada disitu juga, memukul pelan bahu pemuda itu.


"Coba datang itu jangan kejutkan orang." ucap Pak Imam menasehati, yang kebetulan duduk disamping Pak Kades.


"Iya, habis jadinya tehku kebuang, mumbazir jadinya." sahut Pak RW menyalahkan pemuda tanggung itu, tampa merasa bersalah sama sekali dengan kejadian tadi yang membuat malu pemuda itu.


"Ada apa datang teriak-teriak?" tanya Pak Kades.


"Itu Pak... Itu Pak... Itu Pak..." pemuda itu menujuk kesana, kearah balai desa yang ada disana, nafasnya tersengkal lupa ingin menyampaikan apa?.


"Coba tenang dulu, bicara pelan-pelan" ucap Pak Imam, "Nah, kopi minum dulu." Pak imam memberikan kopinya yang baru saja ia pesan.


Tampa disuruh dua kali warga itu langsung meminum kopi tersebut, Tidak tahu panas lagi, minum saja.


Cluk... Cluk... Cluk... Ahhh...


Haus betul kelihatanya, membuat Pak Kades, Pak RW, dan Pak Imam tercengang melihat warga itu minum.

__ADS_1


Pak RW hanya bisa menelan ludah, menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Haah..." pemuda itu menghela nafas lega.


"Nah, sekarang sudah tenanh bukan, sekarang bicara pelan-pelan. Apa yang mau kau sampaikan tadi?" suara Pak imam terdengar lemah lembut, enak dan adem ketika didengar.


Pak RW yang melihat pemuda tadi minum membuatnya menjadi haus, tangannya mengambil gelas tehnya, meminumnya dengan tenang.


"Itu Pak... Itu Pak... Agh, kami memergoki pasangan yang berbuat zina." suara pemuda itu lantang dan cepat.


Semua warga yang berada diwarung tiba-tiba terdiam semua, mendengar perkataan pemuda itu sampai-sampai Pak RW terkejut sehingga menyemburkan air teh yang hampir tertelan membuat pemuda itu bagaikan tempat pembuangan air comberan, sekali lagi warga yang ada disana tertawa terbahak-bahak, "Bwahahaha..."


"Apa? Kuping aku tidak salah dengar." Pak RW mengkorek kupingnya memastikan ia tidak salah dengar.


"Kau iya betul, jangan main-main." nada suara Pak Kades menaik, tidak sepenuhnya percaya kepada pemuda itu.


Warga yang ada disana terdiam mendengar suara Pak Kades, sekarang suasana hening hanya terdengar suara pemuda itu yang terdengar jelas, "Tidak Pak, saya tidak main-main."


Bu Sari selaku pemilik warung, datang menghampiri pemuda itu, "Kau iya betul, toh." Bu Sari yang kenal dengan pemuda itu yang merupakan tetanggannya.


"Iya Bu, percaya dengan utuh." ucap pemuda itu yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Utuh, "Utuh tidak bohong Bu, Pak. Pak Hansip dan warga lainnya membawa mereka kebalai desa."


"Ya Allah, toh. Jangan mengada-ada tidak baik mengfitnah orang." Bu Sari menarik kursi duduk didekat Utuh.


"Tidak Bu, ini benar. Pasangan itu dibawa kebalai desa." nada suara Utuh manaik mencoba mengyakinkan, "Cepat Pak pergi kesana, sebelum mereka menghakimi-" Utuh berhenti bicara, ia melihat beberapa orang penduduk yang melintas, kelihatanya menuju kebalai desa.


"Wah... Wah... Tidak bisa dibiarin itu."


"Iya, itu memang tidak bisa dibiarin."


"Dia yang berbuat kita yang kena nantinya."


"Hoy! Kalian mau kemana?" tanya salah seorang warga yang ada diwarung tersebut.


Salah seorang dari mereka menjawab, "Kami mau pergi kebalai desa. Katanya ada pasangan diluar nikah yang berbuat zina, Pak Hansip dan warga lainnya yang tangkap mereka, jadi kami mau pergi kesana ingin memastikan benar atau tidak."


Mendengar itu Pak Kades langsung pergu dari warung tampa bicara lagi, pergi dengan motornya.


Melihat Pak Kades pergi Pak RW, Pak imam, dan yang lainnya ikut pergi mengnggalkan warung.

__ADS_1


Bu Sari yang penasaran cepat-cepat mengkemas warungnya.


__ADS_2