Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Afriadi Sakit


__ADS_3

Latika sudah mengubungi dokter yang biasanya di panggil ke Rumah, namun para dokter tersebut lagi di luar kota, sehingga satu pun tidak ada yang datang.


Latika putus asa, mau menghubungi siapa lagi. Ia tidak ada kenal Dokter. Mau menghubungi Hadi tidak mungkin pula.


Ia panik. Akhirnya ia pergi ke dapur mengambil air di berinya sesuatu. Lalu pergi ke Ruang Santai, Afriadi ada di sana bersama Satpam baru itu.


"Ini minum dulu." Latika meminumkan air tersebut kepada Afriadi.


Tiba-tiba.


"Prrf... Uhuk..." Afriadi memuntahkan air itu, raut wajahnya berubah, "Feeehh... Uhuk... Uhuk..."


"Air apa itu?" Samsul Satpam baru itu bertanya, ia menjaga jarak dari Afriadi.


"Air garam." Latika menjawab polos.


"Apa?" Samsul tak habis pikir kenapa Latika bisa kepikiran itu.


Afriadi terbaring lemas di sofa panjang, mendesah.


Saaap...


Ia menarik tangan Latika.


Cup...


Latika dapat Kiss dari Afriadi di mulutnya.


Samsul yang melihat itu cepat memisahkan mereka.


Latika hampir kehabisan nafas.


"Tolong janga jarank dengan dia. Dia lagi tidak sadarkan diri. Bisa berbuat apa saja, Non pahamlah," kata Samsul.


Kesannya seperti melarang mereka berduaan ehem. Mereka berdua itu sah lo, boleh dong. Tapi Samsul ada alasan yang membuat ia bersikap begitu.


Beberapa hari yang lalu Samsul melontarkan pertanyaan aneh pada Afriadi, "... Kenapa Tuan belum punya anak? Kan Istri ada."


Kesel Afriadi dengar pertanyaan itu, Afriadi menjawab, "Latika masih sekolah dan umurnya masih muda untuk mengandung. Aku tak ingin membuat masa depannya suram mengurus anak, dia punya cita-cita yang belum ke capai..."


Itulah alasan mengapa dia menghalangi mereka untuk masa depan Latika dan meingat Latika masih sekolah, apa kata temannya nanti lihat perut berisi.


"Dia kenapa? Kenapa bisa seperti itu? Tadi dia baik-baik saja," kata Latika panik.


"Hum... Setahu saya dia mengkomsumsi obat perangsang atau sejenis Rus-" Samsul tak menyambung kalimatnya, anak Sekolah tak boleh tahu.


"Apa itu?"


"Eee... Itu, sejenis obat... Obat... Obat..." Samsul ragu ingin menjawab, bisa panjang penjelasannya.


"Obat apa?"


"Saya tak mau beritahu, susah mau jelaskan macam mana. Sepertinya ada yang sengaja memberi obat itu."


"Siapa?" Latika sudah terbayang satu sosok nenek lampir eh maksudnya Kina.


"Entahlah." Samsul meamgkat bahu, "Tadi dia baik-baik saja kan? Sehabis pulang dari Rumah tetangga dia seperti ini. Jangan-jangan..." Samsul menebah tebakan mereka sama si nenek lampir eh maksudnya Kina.


"Egh..." Afriadi melenguh, mengeliat di atas sofa.


"Sekarang harus apa?," tanya Latika khawatir.


"Em... Tunggu sampai dia sadar. Yang penting sekarang jangan dekat-dekat dengan dia. Jaga jarang sejauh mungkin."


Samsul membawa Latika menjauh dari Afriadi. Mereka duduk di anak tangga depan pintu Ruangan itu.


Jarak mereka 5 Meter.


"Dari mana kau tahu semuanya?," tanya Latika pada Samsul yang duduk sebelahnya sedikit berjarak.


"Em, pengalaman saja." Samsul menjawab.


Latika menaruh curiga pada Samsul, "Kau pernah-"


"Tidak, saya tidak memakai saya hanya bekerja sebagai keamanan di Bar dulu, hal seperti ini sering saya jumpai. Sekarang saya tidak mau lagi kerja di sana, makanya saya pindah ke sini. Biasanya kalau kejadian begini, pasti ada suatu hal. Apa kau mempunyai musuh?"


"Entahlah." Latika tak bisa memberitahu.


"Apa ada orang yang tidak suka dengan kau? Jika ada mungkin saja ia melukan ini."


"Kina. Apa ini ulahnya. Apa karena ia menyadari beberpa hari ini kami dekat. Oh... Latika apa yang harus kau lakukan? Masalah ini semakin rumit. Ya Allah berikanlah kemudahan kepada hamba untuk menyelesaikan masalah ini," guma batin Latika.


Di sana Afriadi melepas baju kepanasan.


Tiba-tiba ia terjatuh dari Sofa.


Bruuukkk...


Mereka berdua terkejut, bergegas mendekat Latika yang lupa dengan perktaan Samsul tadi, malah mendekat.


Latika membantu Samsul. Meangkat Afriadi ke sofa.


"Agh sudah kubilang jangan mendekat," kata Samsul menyadarkan Latika.


Afriadi mencuil tangan Latika.


Menyuruh ia pergi.


"Uhuk... Pergi Latika...," kata Afriadi lemah, menahan.


Keadaannya buruk. Peluh membasahi tubunya, ia seakan berusaha melawan.


"Tidak." Latika tak tega meninggalkannya, malah mendekat duduk di atas kepala Afriadi.


Kesadaran Afriadi yang tidak stabil mudah baginya melakukan hal yang tidak-tidak.


Tanganya jahil meraba tubuh Latika lagi.


"Egh..." Latika menahan tangan Afriadi, "Mas Sam tolong lepaskan tali pinganghnya."

__ADS_1


Samsul bengong, batinya riuh, "Apa? Dia mau melayani di sini."


"Cepat Mas." Latika mendesak Samsul tak tahan lagi menahan tangan Afriadi.


"Ah.. Iya... Iya..."


Samsul tidak habis pikir. Melaksanakan printah, hati-hati ia melepas tali pinggang Afriadi.


Setelah di lepas, Latika menangkap kedua tangan Afriadi.


"Mas tolong ikat tangannya."


"Ooh... Ternyata ini. Negatif kau Sul," guma Samsul menggeleng, menyatukan tangan Afriadi dengan tubuhnya membelit dengan tali pinggang.


Dengan begitu Afriadi tidak bisa meraba-raba lagi. Ia persis bantal guling saja.


Afriadi melenguh, gelisah mengeliat tak nyaman, perlahan Latika menaikan kepala Afriadi ke pahanya sebagai bantal.


"Mas boleh minta tolong ambilkan haduk kecil tadi," pinta Latika lihat peluh sekujur tubuh Afriadi.


"Oke." Samsul pergi mengambilkan handuk tadi di Ruang Tamu.


Tidak lama ia kembali membawa handuk itu. Samsul memberi handuk itu pada Latika.


"Terimakasih." Latika meambil handuk itu. Samsul tersenyum berdiri di samping Latika berjaga-jaga.


Latika mengelap peluh di wajah Afriadi, dan tubunya perlahan-lahan.


Entah kenapa pandangan Samsul seperti melihat seseorang di luar jendela.


"Em... Saya tinggal sebentar tidak apa-apakan? Ada yang aneh di luar sana," bisik Samsul pada Latika.


Latika mengangguk,


Samsul pergi meninggalkan Latika dengan Afriadi, ia memerikasa siapa yang ada di luar sana.


Samsul pergi memerikasa, ketika ia membuka pintu samping benaran ada orang yang sudah lari menjauh. Samsul sempat mengejar orang itu, karena langkah kaki orang itu pendek sehingga Samsul dapat mengejarnya sedikit lagi ia bisa menangkap orang itu, mata Samsul malah di serang serbuk untung Samsul cepat menutup matanya mencegah serbuk itu masuk ke matanya.


Ketika ia membuka mata orang itu sudah hilang, ingin mengejar lagi tapi ia khawatir keadaan orang di dalam Rumah.


Ia memutuskan kembali masuk ke Rumah.


Saat ia kembali.


"Astaghfirullah." Samsul terkejut melihat Afriadi terbedong seperti baby yang baru lahir. Pipinya merah seperti bekas kena tamparan. Ia mendekati Latika.


Ia mendapati Latika yang masih menemani Afriadi, tangannya tidak berhenti mengelus rambut Afriadi yang terbaring di pahanya.


"Apa yang baru saja terjadi?," tanya Samsul.


Latika tidak menjawab pipinya memerah, mengingat kembali kejadian tadi.


Tadiiiii....


Ketika Samsul pergi Afriadi bertingkah lagi, Afriadi terlalu membuat Latika kesal dan jengkel, karena Afriadi masih bisa bergerak hanya tangan saja tidak bisa digerkan bukan berarti Afriadi tidak bisa bergerak toh kakinya tak di ikat. Afriadi bangun mentap sayu Latika, yang di tatap melotot gelisah merasa tak nyaman dengan tatapan itu.


Wa, dia bangun dan menyerang Latika. Lagi-lagi ia bertingkah tapi ini beda lagi kali ini benaran memengang pusaka itu bukan yang atas tapi yang bawah.


Sontak Latika menampar Afriadi.


Cepat pergi mengambil selimut di kamarnya.


Tak lama ia kembali, ia menggeser meja membentang selimut di bawah sofa, memberanikan diri mendekati Afriadi.


A, Afriadi mau menyerang Latika.


"Kyaaa..."


PLAK...


Kena tamparan lagi.


Cepat ia membedong Afriadi.


Begitulah Afriadi jadinya.


"Aaa... Cerdas."


Samsul mengajukan jempol pada Latika mendukung perbuatan Latika.


Dengan begini Afriadi tidak bergerak lagi.


Samalaman Latika dan Samsul berjaga.


Takut Afriadi jahil lagi.


Subuh menjelang.


Latika pergi sholat melihat Afriadi tidur dengan nyenyak, bergantian dengan Samsul.


Jam 07:00 pagi.


Bu Kost datang.


Ia terkejut melihat mereka, Samsul tertidur dan Afriadi berbedong, rasa-rasanya Bu Kost ingin tertawa melihat Afriadi berbedong.


Sedangkan Latika membersihkan tempat itu yang sempat berantakan gara-gara malam tadi.


"Apa yang terjadi? Dan kenapa itu?," tanya Bu Kost yang keras membangunkan Samsul. Bu Kost mendekati Latika, "Latika apa yang terjadi dengan kau? Kenapa masih di sini? Kenapa tidak pergi ke Sekolah?"


"Hari ini Latika tidak pergi ke Sekolah."


"Kenapa? Cepat pergi nanti Abangmu marah..." Bu Kost yang tak tahu apa-apa, malah mengomeli Latika.


"Tapi, dia-"


"Itu kenapa Abang mu begitu?" Bu Kos mau membangunkan Afriadi. Itu kaki sudah siap menendang Afriadi, gak sopan ya sama majikan. Untung Latika mencegahnya.


"JANGAN."

__ADS_1


"Em..." Bu Kost menatap bingung Latika.


"Jangan di bangunkan biarkan saja dia sangat lelah."


"Tapi, kenapa begini?" Bu Kost menggaruk kepalanya.


"Model baru, Bik." Samsul menyahut, menguap lebar duduk di sofa.


"Oh... Apa yang kau tunggu lagi, cepat bersiap-siap pergi ke Sekolah," printah Bu Kost.


"Hari ini Latika mau libur saja."


"APA MAU LIBUR. BERANI LIBUR. HAH... Abang kau susah payah cari uang, kau mau libur," omel Bu Kost


"Egh, tapi dia sakit jadi hari ini Latika mau temani A-"


"Sakit. Sudah Abang kau biar saya yang urus, kau pergi saja Sekolah saja. Tuntut ilmu."


"Em..." Latika cemberut tak banyak protes lagi, menurut saja, ia pergi bersiap-siap.


Hari ini perasaan Latika berat untuk meninggalkan Afriadi, tak ada niat untuk sekolah, ia diatar Samsul ke sekolah.


Sekitar jam 10 Afriadi terbangun.


"Egh..." Afriadi bangun pandangannya rabun, berputar-putar, kapalanya pusing dan susah bergerak.


Afriadi terkejut melihat ia terbungkus.


"Egh... Kenapa aku begini? Ah... Apa yang terjadi dengan ku?," guma Afriadi gerak-gerak berusaha keluar.


"Egh... Tadi malam, Latika." Ia ingat sesuatu belahan kejadian malam tadi, "Astahgfirullah, Latika. Apa yang aku lakukan padanya?" Afriadi meingat ingat lagi kejadian malam tadi, tak semua terekam ia tak sadar diri.


"Benih. Oh... No... Apa benar? Malam tadi," gumanya panik.


"Agh... Latika."


"Latika!!!"


"Latika!!!"


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Sampai terbatuk-batuk Afriadi memanggil Latika. Percuma juga Latika tidak ada di Rumah ia.di Sekolah.


Afriadi bergerak mencoba lepas dari bungkusan, namun naas Afriadi kepalanya malah terbentur sofa.


"Astaghfirullah." Bu Kost datang gara-gara dengar teriakan Afriadi, ia agak kaget dan ingin ketawa juga melihat Afriadi persis macam Adek Bayi baru bangun tidur menangis cari mama minta susu.


Bu Kos mendekat ingin membantu Afriadi setelah puas mentertawakannya,


Afriadi menolak ia minta di panggilkan Samsul saja, ia menyadari sesuatu kalau dia... Ketika Samsul datang dan membantu membukakkan selimut yang membelit dirinya, Afriadi cepat menutupi kembali dirinya, ia terkejut melihat kalau ia tidak pakai baju dan celana, hanya tinggal pengaman segitiga, wajahnya pias memerah.


Samsul yang ada di sana menyadari sesuatu.


"Suai saja Non membungkus Tuan ternyata, begitu. Bahaya sekali untung Non cerdas," guma Samsul dalam hati geli menahan tawa.


Afriadi melirik Samsul, yang di lirik membuang muka seakan tidak melihat.


Untung Bu Kost tidak ada di sana. Bisa-bisa di ledek habis-habisan lalu di introgasi.


Susah payah Afriadi bangkit pergi ke Kamarnya, tidak jauh perjalanan pandanganya berputar lagi.


Ia sempat berpangku ke meja.


"Allahu Akbar. Uhuk..." Batuk Afriadi menjadi.


"Tuan tidak apa-apa?" Samsul menghampiri dirinya.


Afriadi mengeleng, pelan-pelan berjalan menuju kamarnya. Samsul yang tak tega memapah Afriadi.


Sesampainya di Kamar


Samsul ingin memanggil Dokter tapi Afriadi melarangnya ia bilang dia hanya demam biasa saja istirahat sebentar, sembuh. Samsul tak banyak komen mengikuti kehendak Afriadi.


Selama sehari Latika terus kepikiran Afriadi. Hari ini Afriadi tidak kelihatan satu Sekolah mencarinya tak ada kabar sama sekali, guru-guru sibuk memanggilnya semua panggilan tak ada yang diangkat.


Kina saja sampai pucat duduk melamun di Kelasnya mengetahui malam tadi obat yang ia berikan beraksi.


Yup, malam tadi Kina sampai nekat Keluar dari Rumahnya lewat jalan yang biasa ia lewati, ia mengintai Afriadi di jendela Rumahnya. Naasnya Kina katahuan Samsul, untung ia bisa lari dari Samsul walau hampir tertangkap sih.


***


Ketika Latika pulang, ia langsung mencari Afriadi.


Saat Latika melihat Afriadi dari depan pintu kamar yang kebetulan terbuka, ia melihat Afriadi tertidur pulas.


"Em... Lagi istirahat. Jangan diganggu, biarkan saja dia istirahat," kata Latika masuk ke Kamarnya


***


Malam hari selepas sholat isya' Latika kembali memeriksa Afriadi.


Afriadi sudah lama tidak keluar kamar, waktu makan siang ia tidak keluar juga dan makan malam.


Bu Kost bilang Afriadi kelelahan. Jadi Latika pergi melihat.


Ketika Latika masuk ke Kemar itu lagi. Kamar yang sudah lama tidak ia pijak. Kapan terakhir kali Latika menijak kamar itu? Ya, waktu pertengkaran itu sampai waktu ini ia tak memijak Kamar itu lagi, namun sekarang ia memijak kembali Kamar itu.


Ia melihat Afriadi tertidur pulas.


Latika memberanikan diri menghampiri Afriadi. Tangannya menyentuh dahi Afriadi, betapa terkejutnya ia saat merasakan suhu badan Afriadi.


"Ya Allah, panasnya."


Latika cepat mengambil air dan haduk kecil. Mengompersnya.


"Kenapa bisa sampai macam, nih?"


Karena merasakan dingin matanya terbuka pandangannya rabun melihat Latika yang duduk di sebelahnya.


Ia seakan tidak bisa bicara, tidak kuat mengatakan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2