
Waktu berlalu.
Afriadi akhir akhir ini sibuk mengurus anak didik yang ujian nasional, bukan anak didik di sekolahnya saja melainkan dari sekolah luar yang numpang ujian.
Kadang Afriadi bisa pulang sampai sore, karena banyaknya anak didik yang ujian jadinya dibagi Persip.
Untunglah hanya berapa hari saja, habis itu Afriadi bisa pulang seperti biasa.
Habis tu acara perpisahan setelah 2 Minggu habis ujian nasional.
Latika hadir dalam acara perpisahan.
Pakaiannya serasi dengan Afriadi. Baju gamis berwarna moka dihiasi sulaman yang cantik cocok dengan jas Afriadi berwarna moka degan sais hitam, celana hitam dan sepatu tentunya warna hitam juga.
Mulut para siswa baru ternganga lebar ketika lihat Afriadi menggandeng Latika. Murid kelas 10 hampir tidak tahu kalau Afriadi sudah menikah.
Terbesit rasa iri di hati siswi.
Lepas hari perpisahan.
Berapa Minggu kemudian kelas 10 dan 11 melaksanakan ujian akhir semester.
Afriadi sedikit lelah ia harus mengoreksi jawaban siswa, untungnya Latika bantu koreksi di rumah Afriadi sedikit terbantu.
Lepas ujian tibalah masanya libur.
__ADS_1
Liburan ini Afriadi tak jauh jauh bawa Latika jalan. Ia bawa Latika ke kampung halaman Bik Ipah dan Mang Juneb.
Bik Ipah, Sari, dan Mang Juneb juga ikut liburan bersama. Rumah Samsul yang jaga.
***
"Ha, Non perkebunan sawit ni semuanya milik suami non," tunjuk Bik Ipah keluar jendela mobil.
Latika melek melihat kebun sawit yang dirujuk Bik Ipah, bagaimana tak terkejut di tepi jalan ni sepanjang jalan ni punya milik Afriadi.
Tak sampai disitu saja.
Latika tambah tercengang lagi saat lihat sawah yang luas dengan para petani sekali sebagai pekerja.
Latika melirik Afriadi.
'SULTAN' kata itu yang terbayang dalam pikirannya.
AAA!!!
Batinnya seakan menjerit baru sadar kalau dirinya menikah dengan sultan. Selama ini Latika kira ia hanya menikah dengan orang kaya seperti biasanya, namun nyatanya ia menikah dengan sultan.
Lanjut perjalanan menuju rumah pribadi dekat dengan rumah penduduk lainnya. Setiap mobil Afriadi melewati warga desa mereka selalu memberi salam senyum lebar menyapa Afriadi, yang disapa membalas senyuman. Mereka kaget Afriadi tersenyum padanya, biasanya tidak sepeti ini.
Sesampainya di rumah, Latika lagi-lagi dibuat tercengang dengan rumah ini. Bagaimana tidak terkejut, rumah ini rumah panggung yang pakai tongkat tinggi macam rumah adat Riau.
__ADS_1
Latika terkagum-kagum mengucap, mendongak ke atas melihat atap rumah yang tinggi.
"Masuk yuk Dek," ajak Afriadi menarik tangan Latika.
"Ini rumah papa dan mama masa tinggal di kampung dulu, kalau sudah libur sekolah Abang sering diajak kesini... Rumah ni emang didesain kek rumah adat, sebab orang tua suka duduk di rumah adat. Kalau duduk di rumah kayak gini serasa seperti zaman dulu lagi..." Afriadi jelaskan panjang lebar sambil menunjukkan ruangan dan kamar.
"Terawat," gumam Latika, mencolek dinding dan tak ada debu di sana.
"Mestilah, rumah ni selalu dibersihkan. Rumah ni harus dirawat, banyak kenangan Abang dengan orang tua disini." Langkah Afriadi terhenti di sebuah Poto yang besar, melihatkan foto keluarga Afriadi.
Latika berdiri di samping Afriadi melihat foto keluarganya.
"Abang orang Melayu?"
Afriadi tersenyum, "Habis tu apa? Tak mungkin Banjar kan?" Ia mencolek hidung Latika.
Latika menggembungkan pipinya. Afriadi semakin menjadi mencubit pipi Latika, gemes.
"Bang rumah Bik Ipah mana?" tanya Latika lagi.
"Rumah Bik Ipah tak jauh dari sini." Afriadi melangkah membuka jendela, "Tu, nampak kan atap rumah Bik Ipah." Afriadi menunjuk rumah Bik Ipah.
"Adek tak penat? Istirahat lah dulu, nanti sore saja ke rumah Bik Ipah," kata Afriadi.
__ADS_1
Latika mangut-mangut. Bukannya ke kamar Latika malah turun ke dapur, mau masak rek siapa sangka ia bertemu dengan seorang pembantu yang tengah motong-Moutong sayuran.
Latika turut membantu sambil berkenalan dengan dia.