
Latika kecewa, ia berharap betul Afriadi memberikan izin namun nyatanya tidak.
Langkah kakinya kuat menghentak menaiki anak tangga, isakan tangisan disertai dengan air mata mengalir membasahi pipinya.
BRAKKK...
Latika membanting pintu kamar.
Menghempaskan dirinya ke tempat tidur memeluk bantal guling,
air matanya keluar membasahi bantal.
"Huuuuu... Hiks... Kenapa?
Hiks... "
"Kyaaaa..." Latika memukul-mukul bantal guling, meanggap kalau itu Afriadi.
Ia tak tahu sebenarnya menangis karena apa? Cemburu melihat Afriadi dengan Kina atau karena tidak di beri izin.
Rasa sakit dan sesak Latika rasakan di dada.
Dari magrib sampai isya' Latika tidak keluar kamar.
Bik Ipah berkali-kali mengetuk pintu kamar, menyuruh Latika untuk keluar tapi, Latika tidak menghiraukan panggilan tersebut.
Afriadi yang sudah berada di meja makan, menatap makan yang sudah disiapkan Bik Ipah, sekejap ia terbayang dengan diri Latika melayaninya.
Hah... Afriadi menghela nafas, sekejap nafsu makanya hilang, ia terus saja kepirkiran dengan Latika dan kata-katanya tadi.
Drakkk...
Afriadi beranjak dari meja makan, menaiki tangga menuju kamar Latika.
Ketika sampai di depan kamar.
"Tuan Non tidak mau membuka pintu kamarnya, sudah dari tadi di ketuk, Bibik jadi khawatir." Wajah khawatir Bik Ipah terlihat jelas.
"Sini Bik, biar saya saja.
Bibik boleh istirahat." Afriadi meminta napan yang Bik Ipah bawa.
"Baik Tuan." Bik Ipah memberiakan napan berisikan makanan dan segelas air kepada Afriadi, lalu pergi.
Tok... Tok... Tok...
Afriadi mengetuk pintu kamar.
"Dek, abang boleh masuk?"
"Tidak ada jawaban," gumanya.
"Abang masuk dek ya?"
Afriadi membuka pintu kamar, sedikit kaget ketika tahu pintu kamar Latika tidak berkunci, ia masuk lalu menutup kembali pintu kamar.
Di lihatnya Latika terduduk di ranjang, menangis memeluk bantal menutupi muka.
Afriadi meletak makananya di meja sebelah tempat tidur duduk didekatnya.
"Dek, jangan nangis lagi. Hah,
Abang minta maaf ya melukai perasaan Adek, Abang tidak bermaksud begitu."
"Adek janganlah begitu terus, lepaslah bantal itu, nanti susah bernafasnya." Afriadi membujuk Latika, memegang bantalnya Latika bergeser menjauh tetap dengan posisi tadi.
"Adek..."
Afriadi menarik bantal yang Latika peluk.
Batin Afriadi berbisik, "Em... Basah, berarti sudah lama adek menangis."
Tangannya merasakan bantal yang terlalu basah.
Ia melirik ke arah Latika melihatnya yang tertunduk menutupi muka dengan lutut dan tangannya.
__ADS_1
Ia menyingkirkan bantal itu.
Tangannya mengangkat muka Latika.
Hiks... Hiks... Isak Latika, melihatkan wajah jeleknya pada Afriadi.
Tangannya berada di pipi Latika, lamat-lamat ia memperhatikan wajah Latika, lembut jempolnya menyeka air mata Latika.
Tangannya mengambil tisu membersihkan hingus di hidung Latika.
Afriadi berkata lembut, "Jangan menangis lagi. Abang minta maaf, telah menyakiti hati Adek, Abang tak bermaksud begitu.
Em... Soal hari ini Abang mengantar dia pulang itu, sebab papanya tidak bisa jemput dia percaya sama Abang jadi minta Abang untuk anatar anaknya, lagian dia juga tetanga baru kita, dan yang tadi itu dia bimbel."
Hiks... Hiks...
"Sudahlah jangan nangis lagi.
Abang minta maaf.
Em, Soal Kegiatan adek setelah lepas sekolah itu, abang beri izin tapi untuk yang kegiatan di sekolah saja, kalau untuk kegitan belajar di rumah temanmu.
Hah, Abang tidak beri izin."
"Abang bukan melarang Adek untuk bergaul, Adek bisa belajar dengan Abang, Abang bisa ajari Adek. Tapi, kalau mau juga belajar sama teman sesekali tidak apa."
"Adek tahu kenapa Abang tidak izinkan Adek melakukan semua itu dalam 1 minggu, setiap hari seperti itu, tidak ada istirahatnya, ujung-ujungnya Adek kecapean tak ada waktu untuk kerjakan PR akhirnya tak dikerjakan. Makanya Abang tak izinkan.
Adek bisa mengertikan."
Em... Latika meangguk, kata-kata Afriadi ada benarnya juga.
"Adek belajar sama Abang saja, sekalian Abang ajari Kina bersama adek."
Afriadi salah tanggap ia kira belajar materi sekolah, ia tidak tahu kalau Latika belajar urusan wanita mengenai masak dan make up demi dirinya demi menjadi wanita yang berguna, lebih tepatnya Istri yang berguna.
Hiks... Isakan Latika masih terdengar.
"Sudahlah jangan nangis lagi."
Egh ... Latika terteguh, "Cem~buru...
A~dek tak cem~buru tuh."
Latika tergagap-gagap, menyembunyikan.
"Masa', Adek tidak takut kalau Abang nanti diambil cewek lain?" Afriadi mulai menggoda.
"E~ngak tuh," ucap Latika ragu-ragu.
"Yakin?" Afriadi menggodanya.
"Ya~kin."
"Seriusan?" Afriadi memasang wajah curiga, menggoda Latika.
Latika kehabisan kata-kata, menimpali Afriadi, dengan nada suara sedikit naik, "Jadi Abang mau nikah lagi? Ups.." Ia menutup mulutnya, menepuk pelan mulutnya yang bicara asal. Pipi Latika memerah.
Afriadi menahan tawa, "Katanya tidak cemburu."
"Sudahlah." Afriadi mengambil makanan di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.
"Nah, sekarang makan. Buka mulut AA..."
Dia mau menyuapi Latika, sendok sudah berada di depan mulut Latika.
Latika menjauhkan mukanya dari sendok, "Adek bisa sendiri."
Afriadi menarik kembali sendoknya.
"Em... Untuk kali ini Abang yang suapkan, sebagai tanda minta maaf Abang. Buka mulutnya.
Aaaaa...," pinta Afriadi, menyodorkan kembali sendok bertumpangkan nasi dan lauk ke depan mulut Latika.
Latika tidak bisa menolaknya, dan ia pun menerima niatnya itu. Matanya melihat mata Afriadi tulus.
__ADS_1
Jantung Latika berdegub kencang lagi, seperti ada getaran apa gitu. Wajahnya memerah panas.
Dari suapan pertama sampai akhir, dia yang menyuapkan.
Tidak lama setelah makan.
Afriadi meambil tisu, Latika ingin meambil untuk mengelap mulutnya bekas makan, tapi keburu Afriadi membersihkan mulut Latika dengan tisu di tangannya, pelan ia mengusap bibir Latika bibirnya terlalu menggoda, wajahnya mendekat.
Huuu.. Wajah Latika tambah memerah.
Merasa tidak nyaman dengan wajah Afriadi yang terlalu dekat, Latika menggerakan sedikit kepalanya membuat Afriadi sadar dan menjauhkan tangannya, Afriadi mengusap wajahnya terdengar dia beucap pelan.
Suasana berubah canggung.
Latika membuka mulutnya, bertanya, "Abang sudah makan?"
Em... Ia melihat Latika, "Belum."
"Kenapa tidak makan lagi," tanya Latika lagi, wajahnya masih merah.
Afriadi mengusap belakang lehernya, "Nantilah."
"Kenapa nanti-nanti? Sekarang," titah Latika, menutup rapat mulutnya berantinya dia memerintah Afriadi.
Afriadi tersenyum, "Hem... Setelah inilah Abang makan."
"Adek jangan marah lagi ya, dan..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, sengaja buat Latika penasaran dengan kalimat selanjutnya.
"Dan apa?," tanya Latika.
"Jangan cemburuuu." Tangannya mencuil hidung Latika.
Wajah Latika memerah lagi, salah tingkah dia, "Eh... Engak tuh."
"Masa, yang tadi itu apa?" Afriadi meungkit kembali kejadian sore tadi.
"Em... Yang mana?" Latika pura-pura lupa.
"Waktu marahan tadi, sampai Adek bilang lihat Abang, dan kina dalam mobil." Terlihat senyum kecil terhias di wajahnya.
"Agh. Itu..." Latika tak dapat beralasan lagi, mengalihkan permbicaraan demgan mengusirnya, "Ah... Cepat Abang pergi makan sana."
Afriadi tahu Latika mengalihakan permbicaraan, "Baiklah Abang pergi makan dulu."
"Selamat malam."
Afriadi mengusap kepala Latika, mukanya sudah dekat dengan Latika.
"Agh, jangan lagi. Apa dia akan menciuku?
Dia akan menciumku..
Dia akan menciumku..
Dia akan menciumku..
Dia akan menciumku.."
Mata Latika menutup, dan hatinya berkata-kata demikian.
Afriadi segera terhenti, ia tak melakukannya malah meambil gelas minum, dan langsung pergi begitu saja.
Pintu kamar tertutup kembali, kamar kembali sepi.
"Ah... Abang pergi.
Apa tidak ada kecupan?," guma Latika kecewa.
"Agh... Apa sih yang aku pikirkan.
Iiihhh... Apa sih yang aku harapkan?
Aaah... Cepat tidur." Latika memukul pelan kepalanya.
Akhirnya Latika malu-malu sendiri, menarik selimut menutupi wajahnya, memilih untuk tidur.
__ADS_1