
Matahari kembali keperinduannya, langit - langit senja yang indah di iringi dengan suara azan yang merdu berkumandan di masjid-masjid, umat islam bersiap-siap untuk melaksanakan sholat magrib.
Latika bersiap - siap untuk sholat.
Beberapa menit kemudian...
Setelah selesai sholat Latika membantu Bik Ipah menyiapkan makanan.
Di rumah ini Latika paling sering berkomunikasi dengan Bik Ipah.
Sambil menyiapkan makanan, Bik Ipah banyak memberitahu Latika tentang dia, dia suka apa? Dia tidak suaka apa?
Apa kebiasannya?
Dan ini yang paling Bik Ipah banyak ajarkan kepada Latika, tetang menjadi istri yang baik, dan melayani suami.
Latika seperti kursus saja.
Kursus jadi istri.
Tidak lama makaman sudah siap, Afriadi sudah pulang.
"Assalamu'alaikum..." Afriadi masuk berjalan menuju kemarnya, meganti pakaiannya dengan pakaian santai.
"Wa'alaikumssalam..." Latika dan Bik Ipah menjawab dari ruang makan.
"Kelihatanya itu tuan, Non."
Ketika Bik Ipah menyubut 'Tuan' seketika saja jantung Latika berdegub kencang, dan ia malah gugup.
"Non, oke... Non."
"Em... Ya... Ya... Oke... Oke..." Latika meangguk-angguk.
"Siap Non?."
"Siap Bik." Latika menjawab dengan gugup.
"Lakukan seperti yang Bibik ajarkan, ya... Non."
"Sip, Bik." Latika mengajukan jepol👍.
"Siap-siap Non ya... Bibik panggilkan tuan dulu." Bik Ipah pergi memanggil Afriadi.
Latika menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Ia seperti mau menghadapi sidang saja sebagai tersangka.
"Haaaa... fuuuuhhh... Tenang Latika...
AAAAA... Ini tidak ada mempannya, aku masih saja gugup..." Latika menjerit dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan Bik Ipah sudah bicara dengan dia.
Dari jauh kelihatan jelas
Afriadi dan Bik Ipah berjalan menuju meja makan.
"Mereka menuju kesini, dan aku----aku---aku---aku, aku masih gugup. Lambatlah sampai.... Lambatlah sampai.... Lambatlah sampai....Lambatlah sampai.... Lambatlah sampai...."
Hati Latika berjampi-jampi agar dia lambat sampainya ke sana, sampai gugupnya ini hilang.
Percuma saja Latika berjampi-jampi, kalau dia sudah sampai dan duduk. Bik Ipah lewat dekat Latika, dan menepuk-nepuk bahunya.
"Semangat Non...," bisik Bik Ipah.
"Semangat latika...
Pasti bisa...
Lakukan seperti yang Bik Ipah sudah ajarkan...
Sekarang peraktekan. Tinggal ikuti apa yang bik ipah ajarkan.
Ah... Lakukan seperti biasa aku lakukan dulu waktu makan bersama orang tua," guma Latika dalam hati.
Dalam pikiran Latika.
- Sendokan nasi.
- Berikan pada orangnya,
jangan lupa pakai senyuman.
- Terus tuangkan air minumnya.
Itu caranya...
Bik Ipah yang berada di dapur, memberi kode menyuruh Latika untuk melayani Afriadi, seperti yang ia ajarkan.
Latika masih ragu-ragu untuk melakukannya ia terlalu gugup, ditambah lagi, Afriadi menatap Latika. Merajarela sudah gugupnya.
Sebentar saja Latika lupa apa yang harus ia lakukan.
"Aaahh... Piring atau gelas...
Nasi dulu atau air, ya?," batin Latika bingung, pikirannya sudah kacau lupa semua, padahal itu sudah dilakukan setiap hari.
Tangannya mulai bergerak mengambil ...
"Ini..."
__ADS_1
Tampa sadar tangan Latika memberika sendok nasi pada Afriadi.
Haduhhh... Efek gugup.
Afriadi menatap kosong sendok nasi, pikirannya penuh tanda tanya, kembali menatap Latika, "Apa masih dendam dengan kelakuanku tadi. Aku harus meambil sendiri." batin Afriadi berkata, tak paham dengan situasi Latika sekarang bagaimana.
"Oh.... Ya..." Afriadi mengambil sendok nasinya dan menyendok nasi sendiri, mengambil lauk sendiri.
"Hiii... Apa yang barusan aku lakukan, Bik Ipah, tolong..." Latika sadar berseru dalam hati, tersenyum lebar melihat Bik Ipah.
"Maaf Bik," kata Latika lewat tatapannya.
Bik Ipah membalasnya dengan senyuman, dan tetap menyuruh Latika untuk melakukan langkah selanjutnya.
"Non... Gak apa-apa. Non masih belajar"
Beberapa menit kemudian, setelah selesai makan, Latika membantu Bik Ipah mencuci piring.
"Bik... Aku gagal... Perakteknya gagal...," ujar Latika serentak dengan tangannya bekerja membilas piring.
"Tidak apa-apa Non,
Non lagi belajar, kalau orang belajar memang gitu...," ujar Bik Ipah serentak dengan tangannya yang bekerja memcuci piring.
"Tadi aku gugup Bik." mata Latika memerah mau menangis.
"Tidak, apa-apa Non itu biasa. Jangan sedih lagi ya, Non."
Entah kenapa Latika sedih sekali saat gagal melakukan itu.
Sekarang Latika mau mengisi PR saja masih kepikiran soal itu.
"Aaahh... Kenapa sih," geram Latika. Menghentakan kakiku berkali-kali di kasur, "Ah... Iya, kenapa aku tidak kepikir dari tadi... Aku cari tutorial di youtube saja..."
Tangan Latika mulai mengetik-getik keyboard ponselnya mencari di google.
CARA MENJADI ISTRI YANG BAIK.
Bukan di google saja ia mencarinya, ia mencari juga di youtube.
Baru saja ia membaca sebentar sudah bosan.
Lalu ia pindah ke youtube,
baru saja di buka youtube, ada saja penghalangnya, tadinya mau lihat tutorial, malah terpalingkan dengan filem oppa.
"Ha... Oppa..."
Akhirnya niat tidak dilaksanakan, dan PR pun tak dikerjakan, gara-gara nonton oppa kelamaan.
__ADS_1
Akhirnya bukan Latika yang nonton, tapi oppanya yang menonton Latika yang tidur.