Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Latihan


__ADS_3

Taman sekolah.


Di bawah pohon rindang.


Mereka bertiga duduk di sana, di kusi bawah pohon.


Angin sepoi-sepoi lewat membelai pipi mereka.


Wajah mereka tidak asing lagi, siapa lagi kalau bukan 3 sahabat karib Latika.


"Kenapa kita duduk di sini?," tanya Salasiah, dagunya menyentuh lutut.


"Em..." Nana mengangkat bahu, lemah.


"Aku mau main sama Latika," kata Salasiah, bosan.


"Aku juga," sahut Nana lemah


"Hah... Lagi Kina tidak ada.


Yuk, kita pergi," usul Salasiah.


"Kalau kita pergi, bahaya.


Kina mengetahui rahasia kita, jika orang tua kita tahu, atau dia sebarkan di media sosial bagaimana? Pengemar kita tahu. Gawat," kata Hana lengkap dengan gerak tubuhnya.


"Hah... Lagian dari mana dia tahu?," gerutu Nana.


"Entahlah." Hana meangkat bahu, "Dulu aku satu sekolah dengan dia... Hem, tapi aku tak tahu dia dapat info tuh dari mana. Kalian ingatkan kejadian itu masa kita SMP sampai sekarang orang tua kita tidak tahu. Ini masalahnya dimana dia tahu."


"Kina stakler, ya." Salasiah mendengus.


"Piskoprat, kot." Nana menyambung.


"Jadi bagaimana ini?" Hana minta pendapat pada mereka.


"Hah..." Hana mengeluh,


"Apalah yang bisa kita buat."


"Kita serang saja dia, keroyok saja," usul Nana yang duduk di sebelah Salasiah.


"Eh... Kau tidak tahu, Nana.


Kina itu sabuk hitam dalam beladiri karate. Dengar-dengar sih," kata Salasiah ragu.


Sambung Nana, "Aku juga sabuk hitam dalam karate."


"Aku tak mau mukaku hancur, tulang patah, remuk. Nanti kalau kau yang melawan ketahuan Kepsek kena sekor nanti.


Apalah daya aku ini, kalau melawan sekali dibanting, kao. Terus itu rahasia kebongkar, terus orang tua kita tahu, fens kita tahu. Buktinya terlalu kuat, ada foto lagi." Salasiah menunduk mau menangis, "Aku menyesal melakukan itu lagi."


"Em... Jadi bagaimana?" Nana ikut lemah.


"Em... Sabar saja, atau kita rebut ponselnya lalu hapus bukti itu. Kita susun rencana, cari kesempatan jika ponselnya lengah tidak terkunci kan ponselnya pakai sidik jari, akan sulit bagi kita jadinya cari kesempatan saat dia lengah waktu dia main ponselnya," usul Hana.


Dapat ajuan jempol dari temannya.


"Hah... Nanti aku minta ajarkan sama Abang aku, cara ambil sidik jadi orang. Good gak?," kata Nana penuh percaya diri, mendapat ajuan jempol dari temannya.


"Orangnya datang."


Hana melihat Kina dari ke jauhan.


Cepat mereka berubah sikap diam dan sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Hy! Semua.


Nih, aku belikan air." Kina menyapa, memberikan air botol yang ia beli pada mereka.


Nana melihat Kina sinis, hatinya berseru, "Air cuman."


Batin Salasiah berseru sebal, "Air saja, makanannya tidak ada.


Memang ini perut cuman perlu air saja, perut ini juga ingin makan, bukan kamu saja yang makan."


Begitu juga Hana, menatap Kina kesal, batinya berseru kesal, "Dari tadi tunggu dia di sini, hanya dikasih air saja.


Dia enak sudah makan."


"Kenapa di lihat saja, ambil," paksa Kina.


Hana mengambil air tersebut, di susul Nana dan Salasiah, cemberut mengambil air.


"Gitu dong."


Kina duduk di tengah mereka, mengeser paksa Salasiah dan Nana, yang di geser memasang wajah masam. Kina memainkan ponselnya.


Kepala mereka bertiga sudah panjang saling lirik satu sama lain, siap beraksi tapi tak punya nyali saling tunjuk menunjuk.


"Eh... Lihat." Kina menunjukkan foto pada mereka bertiga, "Tampan, ya?"


"Mulai sudah," batin mereka bertiga berseru, "Cepatlah hari ini berlalu."


Salasiah, Nana, dan Hana saling menatap sudah hapal kerja mereka dengan Kina hanya melihat foto laki-laki tampan, dan paling sering mengosip.


Wajah-wajah terpaksa terpampang jelas diwajah Hana, Nana, Salasiah. Walau mereka suka lihat cowok tampan, tapi tidak berlebihan juga.


Asik-asik lihat ini, lihat itu.


Afriadi lewat di depan mereka.


Batin Afriadi berkata, "... Lagi-lagi kau salah bertindak Afriadi. Ini bukan di rumah tapi, di sekolah."


"Bapak TAMPAN lewat," seru Salasiah matanya tak lari dari Afriadi.

__ADS_1


"Wah... Bapak," kata Kina matanya tidak lari dari Afriadi. Ia lengah, ponselnya di letak di bangku sebelah Hana dalam keadaan menyala. Mata Salasiah dan Nana sibuk menyuruh Hana meambil ponsel itu, yang di suruh takut-takut.


Baru saja tangan Hana mau menyentuh tubuh ponsel Kina, ditariknya kembali melihat Kina menoleh menatapnya.


Seketika wajah mereka pias. Nana menepui jidatnya, Salasiah menggigit bibirnya, Hana menunduk. Duga mereka ketahuan, namun nyatannya...


"Eh... Bagaimana menurut kalian Bapak Afriadi itu, apa cocok dengan aku?," tanya Kina minta pendapat.


Mata mereka bertiga membulat sempurna. Kira ketahuan, mengelus dada lega.


"Cocok..." Hana menjawab. Batinya menolak, "Tidak lalu."


"I-iya...," kata Salasiah. Berbanding terbalik dengan batinnya, "Masih cocok Latika dari pada kau."


Nana malah meangguk dapat ide cemerlang.


"Kina, bagaimana kalau kau dekati Bapak Afriadi? Kelihatannya Bapak Afriadi lagi sedih, mana tahu butuh hiburan, jadi..." Nana merasuki Kina, "Kau pahamlah. Ini kesempatan."


"Aaaa... Aku mengerti." Kina menunjuk Nana, jari telunjungnya di main-mainkan.


Tidak perlu disuruh 2 kali, Kina sudah pergi menghampiri Afriadi yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Yuk, pergi," ajak Nana di ikuti temannya.


Kina pergi, mereka bertiga juga pergi lagi ada kesempatan.


"Bapaaaakkk...," kejut Kina, duduk di sebalah Afriadi.


Beucap batin Afriadi, "Astaufirullah."


Cemberut langsung wajahnya.


"Hah..."


Afriadi mengeluh Kina ada di sampingnya.


"Bapak ada masalah?," tanya Kina dengan suara lembut.


"Em," guma Afriadi.


Hatinya meminta, cepat-cepat masukan biar jauh dari Kina.


Ting... Tong...


Batin Afriadi bersyukur, "Alhamdulillah.


Panjang umur."


Baru saja Afriadi meminta, bel sudah berbunyi.


"Sudah ya, Kina. Bel masuk sudah berbunyi. Kina masuk ke kelas lagi."


Afriadi bangkit dari duduknya.


Kina mencengah Afriadi,


"Saya pergi dulu."


Afriadi melangkah cepat meninggalkan Kina.


"His... Baru di dekati sudah pergi," kata Kina mengacak pinggang, melihat ke belakang teman curiannya sudah hilang. Kina menghentak kaki ke tanah kesal.


Lonceng masuk berbunyi, guru-guru masuk ke kelas masing-masing, megajar.


Waktu tidak terasa berjalan terus. Sampai tak terasa sudah jam pulang.


***


Suasana hening di meja makan.


Tak... Tak... Tak...


Hanya suara sendok yang sibuk, bergema di langit-langit Rumah.


Mereka sibuk dengan makanan yang disantap, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.


Bik Ipah mencoba memahami situasi, menjauh meninggalkan mereka berdua. Dia tahu ada masalah di antara mereka.


Latika mencoba membuka kata-kata, tangannya berhenti menyuap, bicara padanya, "Abang, mulai besok Adek pulang lambat sedikit, soalnya harus latihan drama sama teman."


Latika melirik Afriadi, minta jawaban, "Boleh?"


"Em, bolehlah." Afriadi meangguk.


Suasana menjadi hening lagi, baru saja cair.


Afriadi melirik Latika, hatinya menyeru,


"Sepertinya Adek sudah lupa.


Baguslah."


***


Malam harinya.


Afriadi menonton televisi di Ruang Kekuarga tidak jauh dari dapur.


Latika habis membereskan sisa makan, ikut melihat sebentar dari jarak jauh.


Pas sekali Afriadi terputar filem drama korea kesukaan Latika.


Segar Latika melihat filem drama korea diputar, seketika Latika mendekat duduk di sofa sebelah Afriadi, tersenyum melihat drama tersebut.


Ketika Afriadi mau mengalih, tangan Latika langsung meghentikan,

__ADS_1


"Jangan diputar ke lain, yang ini saja."


"Hah... Suka sekali dengan filem kayak begini." Afriadi mengalah ikut nonton.


"Hihihi..."


Latika tidak mendengarkan asik menikmati filemnya.


Wajah Afriadi berubah cemberut, masam. Rasa ingin memutar filem


Ketika sampai di adegan romantisnya, sang pemeran utama pria mengoda sang pemeran wanita di sofa.


Pemeran wanita terbaring kaku di sofa, tepat sang pria di hadapnya memegang dagu sang wanita, wajah sang pria kian mendekat... Mendekat... Mendekat...


"Hihhi..."


Latika cengar-cengir sendiri, Afriadi yang sejak tadi mengalihkan pandangannya tertarik untuk melihat.


"Hihihi..."


Afriadi merasa heran melihat sang istri yang dari tadi cengar-cengir sendiri.


"Adek suka ya seperti itu?," tanya Afriadi.


Latika tidak mendengarkan betul ucapan Afriadi, asal jawab saja, "Iya."


"Em.." Afriadi mengangguk.


Tidak lama filemnya bersambung, Latika mau pergi.


Tapi, sayang keburu dicegah Afriadi.


"Aaaa..." Latika terperanjat.


Tangannya keburu ditarik sampai terduduk di pangkuannya, tangannya bertenger nyaman di pinggang Latika.


"Eh... Abang mau apa?" Latika mendorong Afriadi, mencoba melepaskan diri darinya. Jantungnya terserang, berdetak kencang.


Afriadi menatapnya serius, memegang dagu Latika mengangkatnya sedikit sehingga sejajar dengan wajahnya.


"Abang mau apa?," tanya Latika, wajahnya memerah.


"Katanya kamu suka," kata Afriadi dengan nada datar.


"Hah... Suka apa?" Latika mengerutkan dahinya, pikirannya sudah sampai situ.


"Yang tadi." Afriadi tak berkedip, menarik Latika mendekat padanya.


"Aku hanya suka dramanya saja bukan anunya." Latika mendorong keras Afriadi.


"Benarkah?" Afriadi menaruh curiga. Setahunya yang disuka orang dalam drakor pertama rupa aktor dan artis, kedua ehem ehem, ketiga baru cerita dan latar tempatnya.


"Iya." Latika mecoba melepaskan dirinya, semakin wajahnya mendekat Latika menjauhkan wajahnya namun wajahnya makin dekat makin dekat makin dekat. Sampai tubuh Latika melentik ke belakang.


Booom... Booom... Boom...


Jantung Latika berdisko.


Tup... Tangan Latika menepel pada bibir Afriadi yang mulai monyong.


"Lepaskan Bang, Adek masih sekolah," katanya dengan nada suara bergetar.


Afriadi tersenyum lebar di balik tangan Latika, ia menahan tawa.


Melepaskan pegangannya setelah membantu Latika tegap duduk di pangkuannya.


Wajah Latika tambah memerah.


Tangannya belum terlepas dari bibir Afriadi.


Afriadi tertawa, terpatah-patah Latika melepas menjauhkan tangannya dari bibir Afriadi.


"Adek masih Sekolah, tapi pikiran sudah sampai sana. Nonton drama romence melulu," ejek Afriadi.


"A-abang t-tadi di sekolah b-begitu," guma Latika pelan.


Afriadi mendengar gumaan Latika, membalasnya, "Hah... Salah siapa mengejutkan."


Latika menyengir tahu itu salahnya.


"Lagian Abang mana bisa tahan..."


Batin Latika berbisik, "Mana bisa tahan katanya."


Wajah Latika semakin meremah.


"Abang hanya bercan-" Kalimat Afriadi terpotong melihat


Latika sudah berlari meninggalkannya sendiri di sana, menuju kamarnya.


Afriadi tertawa melihat tingkah Istrinya, terasa puas sekali mengoda Istrinya.


***


Ke esokan harinya.


Latihan drama sudah dimulai, waktu tampil di hitung tinggal 2 minggu lagi. Siswa Siswi menyiapkan diri.


Rencananya selepas pulang sekolah, 1 kelas latihan drama secara


bersama-sama.


Semua berjalan lancar.


Setiap kali pulang sekolah kelas 11 IPA A selalu latihan drama bersama-sama. Bawa bekal dan makan bersama di aula sekolah.

__ADS_1


Mengejutkan sekali, semua pemain drama bisa melakukan acting yang baik, memghayati peran mereka masing-masing.


__ADS_2