Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Awal kejadian itu


__ADS_3

Malam yang sepi awan hitam berkumpul menutupi bintang-bintang di langit, terdengar gunturan disertai kilat.


Gerimis turun perasaan gelisah Latika belum juga hilang.


Ditambah lagi dengan perasaan gugup yang melanda dirinya.


Latika menghela nafas menatap air hujan yang berjatuhan.


Afriadi melirik, "Rumahmu dimana?"


"Jalan xxx." jawab Latika tampa mengalihkan pandangannya dari ratusan, ribuan, jutaan air hujan yang jatuh menyerang bumi.


Afriadi tidak menanggapi betul sikap Latika, berseru dalam hati, "kenapa dia kelihatan sedih?."


Latika memainkan ponselnya mengketik-ketik keyboard, mengkirim pesan kepada Nana.


Latika masih mengeluh dalam hati, mengingat hal yang ia alamai hari ini, "Haah... Aku sudah dipecat sekarang aku harus mencari kerja dimana? Aku makan apa nanti. Ya Allah cobaan apa ini?."


Sedangkan Nana sampai di tempat Latika tadi. Nana celengak-celengok mencari Latika, ia mangambil ponselnya dari dalam saku celananya, di lihatnya pesan masuk dari Latika, ia membacanya.


Isi pesan \= Na, aku sudah di jemput seseorang maaf malam ini aku bisa kerumah Hana, sekali lagi maaf ya.


Nana mengerutkan dahinya membaca pesan Latika, "SESEORANG? Siapa?" Nana berpikir keras soal seseorang yang menjemput Latika.


"Oh... Pacarnya," duga Nana.


Nana memutar balik motornya, dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


*Rumah Haha*


Hana mondar-mandir di depan rumahnya, menggigit ujung jarinya, cemas, "Hah... Lamanya orang bedua itu sampai."

__ADS_1


Saladiah duduk di kursi depan rumah, melihat Hana mondar-mandir, "Lagi di jalan, kot."


Tidak lama kemudian.


Titiiit... Klakson motor Nana berbunyi. Nana sampai di rumah Hana.


"Ha... Itu dia, sudah sampai." Hana langsung menghampiri Nana.


Salasiah yang duduk di kursi berseru, "Tapi, mana Latika."


"Eh... Haa'aalah... Mana Latika?" Hana baru menyadari, "Nana mana Latika?," tanya Hana kepada Nana.


"Dia tak jadi kesini, dia di jemput pacarnya," jawab Nana.


Salasiah yang mendengar kabar Latika tak jadi datang langsung berdiri dari kursi, "Haaa..."


Hana juga terkejut dengar kabar itu, kecewa.


***


Batin Afriadi berseru kebingungan, "Jauh juga rumahnya, sampai pelosok-plosok gini, gelap lagi, sunyi sekali, setiap malam ia pulang melewati tempat ini."


"Kenapa jalannya tidak rata ya, gelap sekali. Ah, ini di mana?." Latika sadar dari lamunannya, "Ini bukan jalan kerumahku."


"Pak... Pak... Pak..." Latika menepuk pelan bahu Afriadi, panik, "Bapak mau bawa saya kemana?"


"Ke rumahmu, ka mana lagi." jawab Afriadi singkat terus menyetir.


"Rumah saya bukan di sini, Pak," jelas Latika.


Ciiiitt... Afriadi terkejut cepat menginjak rem dengan cepat, untung dahi tidak kejedor.

__ADS_1


"Apa? Bukannya kau bilang jalan yyy," ucap Afriadi.


"Bukan Pak, tapi jalan xxx." Latika menggelengkan kepalanya, berarti Afriadi salah dengar tadi, mungkin karena terlalu fokus menyetir.


"Astaghfirullah. Hiiis..." Afriadi mengusap rambutnya, menarik nafas panjang, mukanya merah, Latika sampai kaget dibuatnya.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Latika.


Afriadi menggelang tidak menjawab, ia kembali menyetir mobilnya, mencari tempat yang lapang untuk memutar balik mobilnya.


Batin Latika berseru, "Aduh... Gelap."


Tiba-tiba Latika melihat ada orang yang tergeletak di jalan depan sana.


"Pak... Pak... Pak... Berhenti ada orang di depan sana pak!." Latika menepuk pelan bahu Afriadi, memberitahukannya.


"Astaghfirullah." sontak Afriadi menginjak rem dengan cepat.


Mobil mendadak berhenti, jarak ujung mulut mobil dengan orang itu sekitar 30 cm.


"Hiiiss..." lagi-lagi Afriadi mendesis.


Cahaya lampu mobil menyiram orang yang tergeletak di tengah jalan itu.


'Di tengah malam yang gelap gulita dan sunyi seperti ini, ada orang yang tergeletak di tengah jalan, mengcurigakan sekali' pikir mereka.


"Bagaimana ini, Pak?." Latika menciut, suaranya mengecil.


"Tenanglah jangan takut." Afriadi melepas sabuk pengamannya, sepertinya ia ingin keluar meriksa, tapi Latika sempat menahannya.


"Bapak mau kemana? Jangan keluar Pak, biasanya orang kalau tergeletak ditengah jalan tidak lain adalah begal Pak," ucap Latika pikirannya teringat dengan filem-filem yang ia tonton.

__ADS_1


Tiba-tiba saja sekelompok begal memgepung mereka.


Perasaan Latika sudah tidak enak, wajahnya pias ketakutan, para begal itu membawa senjata tajam, pistol dan muka mereka pakai ditutup segala.


__ADS_2