
Warna jinga di langit-langit sudah menghilang. Suara azan berkomandan dengan merdu di masjid dan surau. Mendengar seruan azan Latika segera melepas kesenangannya, ia bersiap untuk melaksanakan sholat.
Sedangkan di bawah, Afriadi masih duduk di sana bicara dengan mereka, pembicaraan sangat serius Pak RW saja sampai ikut serius juga. Mereka bertiga berusaha keras membujuk Afriadi agar ia mau mencabut tuntutan atas warga desa mereka.
Qilan membantah, ia semangat sekali beradu mulut dengan mereka, ia seperti beradu mulut di persidangan saja. Tak mungkin mereka bertiga bisa menang beradu mulut dengan Qilan. Sekarang saja wajah-wajah yang tadi serius menjadi pucat Qilan merasa puas melihat wajah mereka pucat. Afriadi hanya diam saja mendengar mereka beradu mulut, bukan berarti dia diam dia senang melihat mereka ribut, tapi ia diam memikirkan sesuatu.
Waktu terus berjalan.
Setelah sholat Latika kembali memainkan ponselnya di tempat tidur. Maklum ponselnya baru, dielus-elus terus tak bisa lepas dari genggaman.
5 menit kemudian.
"Oppaaa.. Hihihi.. Huuumm.. Soswiiiiit..,"
jerit Latika melihat filem dari ponselnya sambil duduk di atas tempat tidur memeluk bantal.
Itulah kegiatan Latika saat waktu luang, apalagi kalau bukan nonton filem korea. Filem favoritnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar yang Latika tempati di ketuk.
"Masuklah, pintunya tidak dikunci," sahut Latika suara seraknya kedengaran jelas dari luar, matanya masih fokus pada ponselnya.
Bik Ipah masuk mendekati Latika, duduk di bibir tempat tidur.
"Non, makan yuk." ajak Bik Ipah, matanya melihat apa yang di lihat Latika.
"Sudah kenyang, Bik," sahut Latika, matanya tetap fokus pada ponselnya.
"Sudah kenyang dari mana? Non, harus banyak makan biar cepat sehat," pujuk Bik Ipah, tangannya menyentuh kening Latika.
"Masih panas," guma Bik Ipah dalam hati.
Latika masih fokus pada ponselnya.
***
Sedangkan di bawah mereka masih berbincang. Wajah Qilan cerah sekali, ia menang dalam beradu mulut dengan mereka. Afriadi mengambil keputusan, kalau dia akan mencabut tuntutan atas mereka semua dengan syarat tertentu yang harus mereka setujui. Awalnya mereka keberatan minta keringanan lagi.
Qilan lekas membantah mereka, "Enak saja, sudah memberi kesaksian palsu, mencemarkan nama baik orang. Minta keringanan lagi itu sudah yang ringan." Qilan melirik Afriadi, ia tak setuju dengan persyaratan itu, "Seharusnya kau Af, jangan memberikan mereka persyaratan yang kecil seperti itu, itu tak akan memberi efek jera pada mereka, kau rugi."
Mereka bertiga menelan ludah, tertunduk.
"Aku tak ingin menindas orang lemah berlebihan, aku melakukan ini hanya ingin menegakkan keadilan atas diriku dan dia," jelas Afriadi kepada Qilan, "Aku hanya ingin itu, tak lebih tak kurang."
Wajah mereka terangkat melihat Afriadi, mereka kagum. Mereka saling memandang satu sama lain, mengangguk sanggup. Qilan mengalihkan pandangannya, ia tak bisa ikut campur juga itu merupakan keputusan Afriadi sendiri.
Pak Kades angkat bicara, "Jika itu mau anda, akan kami usahakan. Tapi anda benar akan-"
Afriadi memotong perkataan Pak Kades, "Tentu, aku akan cabut tuntutannya."
Setelah sekian lama berbincang-bincang, mereka pun pamit undur diri. Sebelum mereka pulang Afriadi menawarkan untuk makan malam dulu, "Bagaimana kalau kalian makan dulu, habis itu baru pulang."
"Benarkah?," Batin mereka bertanya, ingin menerima tawaran Afriadi, tapi mata mereka teralihkan pada Qilan yang sudah berdiri dari tempat duduknya membelakangi Afriadi menatap tajam mereka bertiga, bicara lewat mata, ‘Kalau mau tinggal untuk makan, kalian pulang sendiri.’
Mereka hanya bisa membalas dengan tersenyum getir.
__ADS_1
"Maaf Tuan, hari sudah malam, rumah kami jauh dari sini, anak dan istri kami pasti mencari kami, jadi kami mau pulang saja, terimakasih atas tawarannya," kata Pak Kades.
Afriadi paham, ia mengangguk batinya berseru, "Qilan, kau mengancam mereka."
Mereka pamit undur diri. Ruang tamu menjadi sepi kembali, Afriadi masih duduk di sana menarik nafas, tangan kanannya mengusap rambut, pikirannya masih di penuhi dengan beban.
Sekejap ia berpikir dengan kehadiran Latika dalam hidupnya sekarang ini dengan status sebagai istri.
***
"Non, yuk makan," pujuk Bik Ipah, memaksa.
Karena kesihan melihat Bik Ipah dari memaksa Latika turun ke bawah untuk makan, Latika akhirnya mau mengikuti Bik Ipah turun ke bawah.
Saat keluar kamar, kepala Latika celengak-celengok melihat sekitarnya.
Bik Ipah heran melihat Latika, ia bertanya, "Kenapa, Non?"
"Bik apa dia ada? Apa dia ada di sana juga?" Latika tanya balik, sambil menuruni anak tangga.
Bik Ipah tersenyum menjawab, "Tuan ada, Non. Lagi ada tamu, Non mulai rindu ya?," goda Bik Ipah, berhasil membuat wajah Latika merah bersemu. Bik Ipah tertawa kecil, ia ingin mengoda Latika lagi, tapi ia urungkan niatnya mengingat keadaan Latika sekarang ini.
Panjang umur baru saja di sebut orangnya sedah ada di hadapan mereka menaiki nanak tangga dengan tampang dingin. Tak sangka kalau Latika bertemu dengan dia secepat itu. Baru saja keluar kamar sudah bertatapan langsung dengan dia, mata Afriadi terus menatap Latika sambil melangkah menaiki anak tangga. Merasa tak enak dengan tatapannya, Latika mengalihkan pandangannya ke Bik Ipah ketika melewatinya.
Mereka berua saling berbincang, sampai Afriadi menghentikan langlahnya menoleh ke belakang melihat Latika, ia tersenyum tipis. Merasa kalai Afriadi memperhatikannya, sesekali Latika menoleh ke belakang, ketika menoleh ia terkejut mata mereka bertemu, ternyata dugaannya benar Afriadi memperhatikannya.
Latika merasa ada yang aneh dengan perasaannya, sepanjang langkahnya menuruni anak tangga ia teringat akan tatapan mata Afriadi.
***
Di perjalanan pulang.
Urat kesal Qilan kelihatan, ingin rasa-rasanya ia menurunkan mereka di tengah jalan. "Tidak bisa kau diam, duduk manis," kata Qilan nada suaranya sedikit naik, giginya menutup rapat, geram.
"Anu, itu. Dompet saya ketinggalan,"
ucap Pak Imam, memasang wajah belas kasih meminta Qilan untuk kembali ke sana, "Kita kembali ke sana, ya. Dompet saya ketinggal disana. Saya mohon."
Wajah Qilan seketika tambah kusut mendengar permintaan kembali ke sana, "Haduh, seberapa berharga dompet itu. Dari tadi buat aku kesal saja. Di belakang tidur. Sabar Qi.. Sabar..," seru Qilan dalam hati. Terpaksa Qilan memutar balik mobilnya, kembali ke rumah itu lagi.
***
"Non, makan yang banyak. Biar cepat sembuh." Bik Ipah mengambilkan makanan untuk Latika.
Latika mengangguk, duduk rapi menunggu.
Ting... Nong...
Bel rumah berbunyi.
"Siapa lagi yang datang?." Bik Ipah menoleh melihat ke arah pintu, kepalanya bergerak-gerak serentak dengan tangannya yang bekerja mengambil makanan ke dalam piring.
"Biar saya yang buka, Bik." Latika bangkit dari duduknya.
"Tapi, Non. Non kan-" tangan Bik Ipah ikut berhenti berhenti bergerak mengambil lauk pauk diatas meja.
Latika memotong perkataan Bik Ipah, "Tidak apa bik, cuma buka pintu saja."
__ADS_1
Bik Ipah mengangguk membolehkan, cepat Latika berjalan menuju pintu depan, ketika ia melewati ruang tamu ia melihat ada benda tergeletak di lantai. Karena penasaran dengan benada itu, akhirnya Latika memgambil benda itu yang tak lain adalah dompet Pak Imam yang ketinggalan.
"Dompet siapa ini?," tanya Latika dalam hati, membawa dompet itu.
Saat ia membuka pintu depan.
Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya Latika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Tamu itu juga ikut terkejut, tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Latika.
"Anda.." jari telunjuk Latika bergetar menunjuk tamu itu, siapa lagi kalau bukan Pak Imam, mata Latika sudah mulai berkaca-kaca, kepalanya tertunduk menyembunyikan rupa sedihnya, "Kenapa anda ada di sini?." nada suara Latika ikut bergetar.
"Saya kesini hanya ingin mengambil dompet saya. yang ketinggalan," jawab Pak Imam, melihat dompetnya di tangan kiri Latika, "Itu dompet saya." Pak Imam meminta dompetnya.
Latika mengembalikan dompetnya, bertanya, "Kenapa hiks.. Dompet anda
bisa ada di sini? Hiks.."
"Itu ..." Pak Imam menceritakan maksud kedatangannya kesini.
Setelah mendengar penhelasan Pak Imam, air mata Latika tak sanggup ia tahan lagi, air matanya menetes jatuh ke lantai.
Pak Imam merasa bersalah, "Kami tahu, kami salah. Maafkan kami."
"Hiks.. K-kenapa kau menikahkan aku dengan dia? Hiks.. Hiks.." tanya Latika, "Kenapa? ... "
Pak Imam hanya diam, "Ini semua salah kami. Kami terlalu gegabah mengambil keputusan. Tampa sadar keputusan yang kami ambil mengubah hidup seseorang. Ya Allah ampuni kami ..." batin Pak Imam.
"Apa pernikahan ini bisa dibatalkan?" pertanyaan Latika membuat Pak Imam beucap dalam hati, "Astahgfirullah. Seumur hidupku baru kali ini aku mendengar pernikahan bisa dibatalkan." Pak Imam tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Latika, ia menjawab sebisanya, "Pernikahan yang sudah ijab kabul, tak bisa lagi ditolak. Apalagi anda, dia, para saksi, dan Imamnya memenuhi syarat, syarat-syarat pernikahan juga terpenuhi, pernikahan kalian ini sah, bukan pernikahan main-main."
Hiks.. "Kalau begitu aku cerai saja." tak sangka kalau Latika berpikir sampai kesana.
Pak Imam memberi Latika nasehat, "Jangan Nak, Jangan. Sesungguhnya perbuatan yang paling Allah benci ialah perceraian. Jangan engkau memutuskan keputusan seperti itu,Jangan engkau bercerai dengan dia, apa kau siap memikul gelar yang akan kau terima setelah cerai diusiamu yang seperti ini apa kau mau disebut janda? Jangan Nak, lebih baik jangan, berpikirlah dengan jernih, ikhlaskan semua yang terjadi. Sabar Nak, jalani hidup barumu ini ... Sekarang kau adalah Istrinya, kau adalah tanggung jawab dia, jadilah istri yang berbakti kepada suami, terima dia dalam hidupmu ... kalau masalah cinta kebahagiaan di rumah tangga serahkan semuanya kepada Allah, kembalikan semuanya kepadanya, biar Allah yang mengatur. Kami memang bersalah, maafkan kami ... "
Tampa disadari Latika Afriadi mendengar pembicaraan mereka, sangat jelas terdengar di telinganya, ia duduk di sofa tamu yang tak jauh dari pintu depan.
***
"Haduh, lama sekali. Itu orang ambil dompet atau buat dompet. Hah.." Qilan melihat ke belakang rencananya ia ingin memnyuruh mereka memanggil temannya namun mereka bedua tidur. Qilan sudah berusaha membangunkan mereka dengan cara menguncang tubuh mereka, mencubit, mengelitiki mereka. Malah Qilan yang di serang Pak RW, leher Qilan di peluk Pak RW.
"Ma, jangan marah." igau Pak RW, mulut Pak RW monyong ingin mencium.
Seperti ada asap hitam dan petir mengelilingi tubuh Qilan, wajahnya berubah menjadi lain.
Dalam hitungan 3 detik.
TPAAAAKK... Qilan menampar keras pipi Pak RW.
Dikira akan bangun namun nyatanya tidak, mereka seperti tidur mati.
Emosi betul Qilan.
Tak lama kemudian Pak Imam datang, masuk ke dalam mobil tersenyum menyapa Qilan, yang di sapa memasang ekspresi seperti mau menghisap darah orang menyengir licik, Imam tersenyum getir,
"Terimakasih sudah menunggu. Dompet ini beharga sekali bagi saya ..." Pak Imam membuka dompetnya. Qilan tambah emosi melihat isi dompetnya kosong tidak ada apa-apa.
"... Ini pemberian istri saya. Eh.." Pak Imam melirik Qilan, ia merasa ada yang aneh dengan Qilan.
Kesabaran Qilan benar-benar diuji hari ini, ia tak bisa sabar lagi, cepat ia menekan klakson mobil membuat Pak RW dan Pak Kades terkejut terbabgun dari tidur mereka.
__ADS_1
Tampa pikir 2 kali lagi ia menancap gas, membawa mobil melesat dengan cepat. Qilan seperti membawa mobil balap. Entah apa jadinya nasip orang bertiga itu.
"Astahgfirullah. Pelan-pelan, Den !!!" teriak Pak RW, mulai mabuk.