Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Tamu


__ADS_3

Hari yang indah berlalu dengan cepat, warna jinga menghiasi langit senja di iringi seruan azan berkumamdan di mesjid-mesjid dengan merdunya.


Muslim bersiap melaksanakan sholat maghrib.


20 menit berlalu.


Ting.. Nong..


Bel rumah berbunyi, Bik Ipah yang lagi bekerja di dapur, segera meninggalkan pekerjaanya, berlari-lari kecil menuju pintu depan, membuka pintu tersebut.


Didapatkannya Qilan dan 3 orang yang tak ia kenali berdiri di hadapannya.


"Permisi Bik. Apa Afriadi ada?." Qilan bertanya dengan sopan disertai senyuman yang ramah. Sikap Qilan di depan Bik Ipah sangat berbeda dengan sikapnya dengan orang yang ia bawa.


"Ya, Tuan ada. Silahkan masuk, Den. Saya panggilkan dulu." Bik Ipah segera masuk ke dalam memanggil Afriadi.


Qilan dan 3 orang yang ia bawa masuk ke dalam rumah.


"Waduh, besar sekali rumahnya." mata Pak RW tak berkedip melihat rumah yang ia masuki, "Wah, lantainya kinclong." cepat kakinya melepaskan senadal yang ia pakai, "Eeeh, lepas lepas sendal kalian, nanti lantainya kotor." Pak RW menarik tangan kedua temannya.


Terpaksa mereka berhenti melangkah. Ketinggalan jauh dari Qilan.


"Ada apa tarik-tarik?," tanya Pak Kades.


"Itu, lepas sendal kalian," perintah Pak RW, menunjuk sendal yang di pakai temamnya.


"Untuk apa lepas sendal?." Pak Kades bertanya lagi, tak paham.


"Beliau saja tidak melepas sendalnya." jempol Pak Imam menunjuk kebelakang, Qilan yang berjalan berjarak 6 meter dari mereka bertiga, merasa ada yang aneh, langkah kaki dan bisikan mereka tak kedengaran lagi. Merasa aneh, Qilan membalikkan badannya. Ha..


"Haduh, kalian ini bagaimana sih, nanti lantainya kotor. Sendal kita ini jelek habis itu kotor lagi. Tuan disana biarkan saja sepatu yang ia pakai sepatu bermerek. Lah, kita capal bro," jelas Pak RW membungkuk mengambil sendalanya.


Pak Kades dan Pak Imam mengikuti kata temanya melepas sendal mereka, ketika sendal terlepas mata mereka membulat melihat Qilan berdiri di belakang temanya dengan aura tak bersahabat.


"Kenapa sendalnya dilepas?" pertanyaan Qilan membuat terkejut Pak RW yang sedang membungkuk, bokongnya menghadap Qilan, urat kesal Qilan kelihatan, 'Mau pamer bokong' pikir Qilan "Dosa tidak ya tendang bokong orang ini." kesal Batin Qilan, kakinya sudah gatal mau beraksi.

__ADS_1


"Wah, sopan sekali," sindir Qilan tepat sasaran, cepat Pak RW bangkit memegang sendalnya.


"Sendal kami kotor. Nanti pemilik rumah marah," jawab Pak RW, tersenyum dengan tampang tak berdosa.


"Pakai saja, tidak usah di lepas sendalnya, pemilik rumah tidak marah," kata Qilan berusaha ramah dengan mereka, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, melihat kondisi mengenaskan sendal mereka bertiga, buruk rupa dan kusam.


Pak Kades dan Pak Imam tampa disuruh dua kali sudah mengenakan kembali sendalnya.


Tinggal si bandel saja lagi yang belum memasang sendalnya, "Seriusan? Sendal kami ini sendal capal. Sendal murahan, nanti lantai rumah ini tercemar terinveksi virus dari sendal kami."


Pak Kades dan Pak Imam hanya diam saja tak mau ikut bicara, mereka tahu dari tatapan mata Qilan yang tidak suka melihat mereka.


"Tidak apa-apa pakai saja, lantai rumah ini sudah kebal dengan itu," geram Qilan.


"Seriusan?," pertanyaan Pak RW membuat Qilan hampir kehilangan kesabarannya.


"Yaaaaa..," jawab Qilan giginya menutup rapat, geram.


Cepat ia berbalik badan melanjutkan langkahnya, menarik nafas berusaha sabar, "Dasar kampungan. Sabar Qilan, sabar," batin Qilan, mengusap dada tak menghiraukan mereka lagi.


Pak Kades dan Pak Imam mengikuti Qilan dari belakang meninggalkan Pak RW yang memasang sendalnya.


Wah.. Mulut mereka terbuka lebar melihat ruang tamu yang belum pernah mereka lihat. Ruangan yang di tata rapi dengan gaya simpel berkesan moderen.


Qilan sudah duduk di sofa. Melihat Qilan duduk mereka juga cepat duduk di sofa merasakan empuknya sofa, mengelus-elus sofa teraebut.


Saling berbisik dan memuji sofa yang mereka duduki, "Bagus ya."


Qilan melihat mereka sensitif, mengalihkan pandangannya, batinya mengeluh, "Aduh, kampungan sekali jadi orang itu. Tak salah kah para warga memilih mereka."


Tak lama kebosanan Qilan terputuskan dengan langkah kaki menuruni anak tangga, suaranya yang menggema di langit-langit rumah.


Wajah Qilan sedikit cerah setelah melihat Afriadi datang.


"Maaf menunggu lama." Afriadi duduk di sofa, melirik temannya itu yang sedikit kelihatan kusut. Afriadi bertanya dengan mengangkat alisnya ‘Ada apa denganmu?’

__ADS_1


Qilan menjawab dengan kode melirik mereka. Afriadi mengangguk paham, ia tahu kalau temannya itu masih kesal dengan warga desa itu termasuk mereka juga. sebenarnya Qilan tidak suka melihat mereka bukan karena mereka kampungan, tapi karena sikap mereka memperlakukan Afriadi saat kejadian itu, sampai menyebabkan temanya itu menikahi remaja yang berstatus pelajar SMA yang tak ia kenali, dan tak jelas asal usulnya.


Tak lama Afriadi duduk Bik Ipah datang membawa cemilan dan minuman. Mata Pak RW membulat melihat napan yang di bawa Bik Ipah.


"Wus, cemilan. Enak ini." sorak hati Pak RW, liurnya sudah hampir keluar.


"Bahagia sekali melihat cemilan. Idiiih, matanya. Kelihatan sekali tak sabaran," batin Qilan, jijik melihat Pak RW.


Bik Ipah menyajikan cemilan dan minuman di atas meja. Pak RW seperti tidak sabaran mau mencicipi cemilan itu, tangannya sudah kegatalan ingin mengambil, kelihatan lapar sekali. Temannya santai saja, mata mereka juga melihat cemilan itu.


"Silahkan cicipi." Afriadi mempersilahkan mereka untuk mencicipi.


"Dengan senang hati." bahagia sekali hati Pak RW. Cepat tangan Pak RW menyambar cemilan itu, memasukkan ke dalam mulutnya, sekali 2 tangannya berkerja, kepalanya mengangguk-angguk nikmat. Pak Kades dan Pak Imam ikut mengambil cemilan itu.


Afriadi mengetik keyboard ponselnya mengirim pesan ke Qilan.


Tring.. Pesan masuk ke ponsel Qilan.


Qilan melihat pesan dari Afriadi.


°Qi, mereka berangkat kesini jam berapa? Apa mereka sudah makan tadi.°


Qilan membalas pesan Afriadi, °Em, sekitar tengah hari. Aku tak tahu mereka sudah makan atau belum, kalau belum, baguslah. Lagian aku diet jadi tak makan siang tadi, biarlah meraka ikut diet juga, lagian kandungan si tua itu harus di gugurkan, sudah terlalu besar. Tak enak dilihatnya. 😒 °


Afriadi membaca pesan Qilan, ia melirik Qilan bertanya lewat tatapanya ‘Siapa yang kau maksud si tua?’


Qilan menjawab dengan melirik malas Pak RW. Ya, siapa lagi di antara mera yang mempunyai perut buncit selain Pak RW.


Pak Kades melirik Qilan, tangannya berhenti meraih cemilan, begitu juga Pak Imam tangannya berhenti mengambil cemilan, ia mengurunkan niatnya ketika melihat tatapan mata Qilan yang tidak senang. Pak RW tak tahu tatapan mata Qilan, ia tidak peduli lanjut memasukkan makan ke dalam mulutnya.


Afriadi membuka pembicaraan dengan menanayakan maksud kedatangan mereka, "Ada apa kalaian ingin bertemu saya?"


Pak Kades menjawab.


Terjadi perbincangan yang cukup panjang.

__ADS_1


Sedangkan Latika yang berada di kamar tidak tahu sama sekali dengan kehadiran mereka. Ia sibuk mengotak atik ponselnya.


Hah, sekali dapat ponsel demam Latika lamgsung turun. Sekarang ia baik-baik saja, hanya tinggal ikhlas dengan apa yang terjadi dan menerima kenyataan dengan lapang dada.


__ADS_2