
Jam 07:35 pagi.
Setelah 5 menit bel berbunyi.
Semua murid sudah duduk di Kelas mendengarkan nama di absen Guru.
Brumm... Brumm...
Suara motor Ninja memasuki halaman sekolah.
Sempat ada keributan di luar kelas.
"Kyaaa..."
Siswa yang duduk di parkiran melirik seorang pria yang membawa motor ninja itu.
Pria yang kelihatan gagah sekali.
Dalam benak mereka bertanya-tanya siapa pria itu.
Motor itu berhenti di tempat parkiran guru, murid-murid yang di luar kelas penasaran melihat siapa pria itu.
Pria itu melepas helem.
Betepa terkejutnya para murid yang ada di sana melihat siapa pria itu.
Mereka tidak bisa berkata-kata, para siswa hanya tercengang melihat pria itu, sedangkan siswi juga sama saja teriak dalam hati "Oppa..."
Waw...
Pria itu merapikan rambutnya sebelum melangkah menuju kelasnya Kelas 12 D, setiap kelas yang ia lewati semua tercengang melihat pria itu.
Sampai Kelas di seberang berteriak melihat Afriadi melintas di seberang sana.
"Kyaaa..."
"Oppa..."
Teriak siswi-siswi di luar, membuat heboh kelas lain untuk keluar melihat apa yang terjadi.
Kelas 12 A tidak ikut-ikutan melihat, ingin sih mereka melihat tapi, yang mengajar adalah Bu Safiah guru yang kiler mengajar Sejarah, jadi mereka tidak berani untuk ikut-ikutan melihat kejadian apa di luar sana.
Latika yang menjelaskan presentase di depan teralihkan dengan keributan di luar, begitu juga teman sekelasnya perhatian mereka teralihkan.
"Ada yang kesurupan lagi?," batin Latika bertanya.
Bu Safiah menegur Latika.
Sehingga Latika langsung fokus pada persentasenya.
Selang beberapa menit pria itu lewat di depan Kelasnya.
Sontak satu kelas berdiri melihat pria itu, sampai Bu Safiah juga ikut berdiri.
Mulut mereka ternganga lebar.
Pria yang gagah bagaikan pangaran dari mana gitu.
Tidak lain adalah Afriadi yang bergaya bagaikan K-pop.
Dengan setelan kemeja biru di ujung kerah ada sulaman benang emas di lengkapi dengan jas berwarna putih bersais biru dikerahnya, berdasi biru, celana dan sepatu berwarna putih, di tambah lagi dengan gaya rambut yang di tata rapi.
Lengkap sudah.
Afriadi menempelkan kedua jarinya di bibir memberikan kiss kepada Latika.
Bayangan love keluar menebrak wajah Latika seketika wajah Latika memerah.
__ADS_1
"Kyaaaa...."
Para Siswi menjerit kira kiss itu untuk mereka.
Senyum bahagia terukir indah di wajah Latika, tak sangka kalau dia memakai baju yang sudah dipilih. Karena terlalu bahagia sampai tidak fokus lagi.
"... Karena tanah kita ini kaya, ibarat kata lempar sebatang kayu pun akan hidup.
Jadi jika di tanam KELEDAI sudah pasti akan hidup..."
"Haaaa...." Satu kelas tercengang sampai Bu Safiah juga ikut-ikutan tercengang mendengar perkataan Latika.
Latika menutup mulutnya sadar dengan apa yang barusan ia ucapkan.
"Keledai di tanam bisa hidup."
"Bagaimana bisa?"
"Bagaimana caranya keledai di tanam?"
"Apa kepalanya di masukan ketanah terus ekornya tumbuh tanaman, nanti berbuah anak keledai, gitu."
"Ahahaha..."
"Atau keledainya dikubur sampai kepala terus kasih air lalu dikepalanya akan tumbuh tanaman, gitu."
"Bwahahaha...."
"Keledai di tanam..."
Kelas di penuhi tawa dari teman-teman Latika dan Bu Safiah juga ikut tertawa, Latika hanya tertundauk malu.
Masaa iya keledai di tanam.
Selama jam pelajaran berlangsung Latika menanggung malu sedikit-sedikit temannya melirik kearahnya tertawa meingat itu, sampai istirahat.
Saat ingin melangkah masuk ia mendengar Ustadz Sarif membaca Al-Qur'an surah Ar Rahman.
Afriadi berdiri di depan pintu menyimak Ustadz Sarif membaca Al-Qur'an.
Tidak lama ia mendengar Ustadz Sarif membaca Al-Qur'an, ia teringat akan mahar yang ia berikan kepada Latika, saat kejadian itu.
Afriadi melamun mengingat saat-saat ia membacakan surah Ar Rahman di saat itu.
Karena saat itu ia tidak memiliki uang sepeser pun, barang pun tidak ada maka maharnya saat itu hapalan Surah Ar Rahman, Al Muluk, Al Waqiah, dan Al Kahfi.
Ia ingat saat pertama kali ia membawa Latika pulang ke Rumah dengan keadaan pingsan, rasa berat hatinya saat itu untuk mengakui Latika sebagai Istrinya, ia kira kalau ia tidak akan jatuh cinta padanya tapi sekarang ia malah jatuh cinta pada Latika.
Apa lagi setelah semua momen yang tidak pernah ia temui dan rasakan sebelumnya, dari jantung berdebar terus, tersipu malu, sampai senyum sendiri karena kejadian-kejadian sepele.
"Pak..."
Ustadz Sarif menepuk pelan bahu Afriadi, memutuskan lamunannya.
"Em..." Afriadi menatap Sarif.
"Bapak kenapa di sini?"
"Ah... Hanya lewat saja tadi, tidak sengaja mendengar kamu membaca Al-Qur'an. Suaramu bagus."
"Allhamdulillah, segala puji bagi Allah. Tapi, Bapak hari ini ada yang berbeda." Sarif melihat teliti Afriadi dari atas sampai bawah, menggeleng kepalanya.
"Hem... Benarkah." Afriadi melihat dirinya.
"Iya, Bapak lebih keren seperti Ceo di filem-filem gitu," Sambung Kamarudin tiba-tiba muncul, bersandar di pintu Suarau.
"Em... Apa benar? Perasaan biasa saja." Afriadi kelihatan akrab dengan mereka berdua, ia sudah terbiasa dengan guru-guru di Sekolah.
__ADS_1
"Tidak Pak, Bapak ya seperti artis Korea gitu yang berperan sebagai Ceo galak. Keren." Kamarudin mengeleng kepalanya.
"Baru tahu kalau kau juga suka filem yang seperti itu," sahut Sarif.
"Eh... Terpaksa ikut nonton, soalnya TV di rumah di kuasai oleh ratu-ratu yang di putar filem begituan, mau di alih keluar jurus cakaran kucing mereka. Ya... Pasrahlah."
Sarif tertawa tertahan.
"Oh... Iya Pak.
Em... Maaf Pak ya cuman ingin tahu saja.
Bagaimana sekarang keadaan Bapak dengan dia?"
"Seperti itulah." Afriadi menjawab lemah.
"Keadaan apa?," tanya Sarif.
"Huusss... Tidak boleh tahu. Ngomong-ngomong sudah dengar kabar tidak?"
"Kabar apa?"
"Itu kabar hari ini di berita tentang seorang wanita di bunuh karena...."
"Astaghfirullah..."
"Terus."
Afriadi hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mereka.
"Setahu saya wanita itu bisa menyembunyikan sesuatu tampan di ketahui seseorang, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun ia menyembunyikan hal tersebut, jika ia yang ia sembunyikan hal yang baik itu tidak masalah, namun jika ia sembunyikan hal yang tidak baik seperti masalah maka sama saja ia menyiksa dirinya sendiri."
"Menyembunyikan sesuatu selama itu,"
guma Afriadi.
Entah kenapa perkataan Ustadz Sarif itu mengetuk otak Afriadi, seakan memberikan jawaban atas berubahnya sikap Latika selama ini.
Cepat Afriadi pergi dari sana berlari ke satu tempat di Sekolah, ia tahu harus apa. Sarif dan Kamarudin kaget dengan aksi Afriadi, mereka bingung ada apa dengan Afriadi?.
Jam berganti jam.
Sekarang jam istirahat ke dua.
Latika berjalan di lorong, ia melihat Sahril di ujug lorong berjalan sambil memanikan ponselnya.
Latika bersembunyi di balik dinding niatnya ingin mengejutkan Sahril karena di perpustakaan tadi Sahril mengejutkan Latika.
Langkah kaki terdengar mendekat, tinggal hitungan mundur saja lagi Latika bersiap untuk mengejutkan Sahril.
"3... 2... 1..." Latika menghitung di ikuti jari tangannya menghitung.
Merasa waktunya sudah tepat Latika melancarkan aksinya.
"BAAAAAA..."
Latika meloncat kaget, ia salah mengsa. Niat mau kageti Sahril malah malah yang lebih kaget lagi melihat Afriadi di depannya.
Latika menciut, Afriadi mengusap dadanya menenangkan jantungnya, itu jantung hampir lompat dari sarangnya, ia melirik Latika dengan.
"Ha ha ha..." Latika tertawa getir.
"Aduh... Masalah," gumanya.
"Emmmm..." Afriadi melototi Latika.
"Ahahahaha..."
__ADS_1
Sahril tertawa melihat Latika menciut salah mangsa.