Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Jangan pergi


__ADS_3

Jam 07:00 Pagi.


Di depan Rumah Latika sudah menangis tidak ingin melelas kepergian Bik Ipah.


"Hiks... Jangan pergi Bik. Jangan tinggalkan Latika sendiri. Latika takut." Latika memeluk erat Bik Ipah tak mau melepaskannya. Selama ini Bik Ipah lah yang paling dekat dan sering mengajaknya bicara becanda beda dengan si angin muson itu.


Bik Ipah mengusap-usap punggung Latika menenagkannya, "Non, Bibik harus pulang. Suami Bibik sakit di kampung. Di sini Non dijaga dengan suami Non. Non tenang saja Tuan akan menjaga Non. Non jangan takut."


"Tapi, dia-" Latika takut-takut melirik Afriadi, yang di lirik membuang muka menyembunyikan wajah merahnya menginggat kejadian tadi.


"Tidak apa-apa Non. Non percaya sama Bibik." Bik Ipah menatap Afriadi penuh arti.


"Em... Bibik jangan lama, ya? Cepat kembali." Latika melepas pelukannya menyeka air mata.


"InsaAllah, Non." Bik Ipah merapikan Jilbab Latika.


Tet...


Klakson motor Mas Ojol berbunyi mendakan dia sudah sampai.


"Itu tukang ojeknya sudah sampai. Non berangkat lagi, nanti terlambat," Kata Bik Ipah.


"Em..." Latika meangguk melangkaj pergi meninggalkan Rumah berangkat ke Sekolah.


Tak lama Latika pergi Afriadi memberi uang gajihan pada mereka berdua.


"Bik ini gajih Bibik bulan ini."


"Eh... Tapi, Tuan ini bukan akhir bulan saya belum gajihan." Bik Ipah mau meberikan kembali amplop warna coklat susu itu.


"Tidak apa Bik." Afriadi menolak menerimanya memberikan amplop warna coklat susu itu pad Bik Ipah.


"Mang ini juga punya Mamang" Afriadi memberikan satu lagi amplop warna coklat susu kepada Mang Juneb.


"Terimakasih Tuan." Mang Juneb tidak menolak menerimanya karena dia butuh untuk biaya obat ibunya di Kampung.


"Iya." Afriadi meangguk.


Bik Ipah dan Mang Juneb membuka amplop coklat susu itu. Mereka berdua laget dengan jumlah uang di dalam amplop.


"Emmm...Tuan ini-" Bik Ipah menatap Afriadi kebingungan


"Terima saja, saya membantu selama ini Bibik dan Mang Juneb sudah membantu saya, Bibik dan Mamang juga yang ada di samping saya susah dan senang, memberi nasehat jika salah. Jadi apa salahnya saya melebihkan sedikit."


"Ini bukan sedikit Tuan tapi lebih, 3 lipat dari gajih kami," kata Mang Juneb melipat dahinya.


"Benar Tuan." Bik Ipah membenarkan perkataan Mang Juneb.

__ADS_1


"Terima saja, saya ikhlas. Semoga bermanfaat."


"Terimakasih Tuan."


"Iya." Afriadi meangguk mengeluarkan ponselnya mencari peganti mereka berdua.


"Ngomong-ngomong kalau Bibik Ipah pulang, rumah siapa yang mengurus?" Tiba-tiba Mang Juneb bertanya, baru saja Afriadi mencari pegantinya.


"Em... Saya akan panggil pembantu yang biasa kerja paruh waktu." Afriadi menjawab pandangannya tak lari dari ponsel.


Bik Ipah memasukan uang ke dalam tasnya.


"Tapi, Tuan saya usulkan kalau tidak usah memanggil pembantu yang biasanya itu," kata Mang Juneb mengundang rasa penasaran Afriadi.


"Kenapa?"


"Setahu saya dia itu tidak bekerja dengan baik. Waktu itu Bibik Ipah pulang kampung, saya minta bikinkan kopi tapi dia tidak mau, dia bukan bekerja juga duduk santai nonton tv. Dengar-dengar kabar kalau dia itu pemarah. Takutnya Non nanti jadi kenapa-kenapa."


Mendengar kata 'Non nanti jadi kenapa-kenapa' Afriadi berpikir dua kali bingung mau apa rasa khawatir menghampiri dirinya jika benar yang di katakan Mang Juneb. Rasa tidak percayanya timbul dengan pembantu paruh waktu takut Latika diapa-apain sama itu pembantu, "Jadi."


"Ah... Begini saja tuan." Bik Ipah mengeluarkan ponselnya, mengotak atik ponselnya, "Saya punya teman dia mungkin bisa membantu. Dia juga dulu bekerja sebagai asisten rumah tangga. Mungkin kalau kerja paruh waktu dia mau. Ini nomornya."


Bik Ipah memberikan nomor teman perempuannya tersebut dan Afriadi menyalinnya.


"Terimakasih Bik."


Tet...


Mobil yang sengaja di sewa Afriadi untuk anatar jemput Mang Juneb dan Bik Ipah.


Kebetulan Mang Juneb dan Bik Ipah satu kampung jadi Afriadi menyewa satu mobil saja.


"Tuan tolong jaga Non, ya? Tolong jangan biarkan Non sedih terus," pesan Bik Ipah.


Afriadi meangguk.


Mang Juneb mengangkat barang bawaan Bik Ipah ke dalam mobil.


Afriadi mengantar Bik Ipah dan Mang Juneb sampai kedepan pagar.


Selama berjalan Bik Ipah banyak berpesan.


Mang Juneb dan Bik Ipah masuk kedalam mobil, melambaikan tangan di jendela mengucapkan selamat tinggal pada Afriadi, Afriadi membalas lambaian itu.


Mobil berangkat ke tempat tujuan.


Tidak lama Bik Ipah dan Mang Juneb pergi, Afriadi menelpon pembantu usulan Bik Ipah tersebut.

__ADS_1


Tuuuuttttt...


Tuuuuttttt...


Tuuuuttttt...


Tlek...


Panggilan Afriadi akhirnya di angkatnya.


"Hallo." Afriadi membuka menyapa orang dalam ponsel.


"Halo siapa ini ? kenapa telpon saya?!"


Suara orang dalam ponsel itu terdengar galak. Afriadi agak kaget menjauhkan ponsel dari telinganya, tak salah kah Bik Ipah merekomendasikan pembantu seperti ini bari di telpon sudah galak apa lagi nanti kalau dia sudah kerja apa jadinya itu Rumah dan Latika bisa-bisa dia yang jadi bos lalu Latika yang bekerja.


Afriadi niat mau matikan itu ponsel.


Terlintas dalam pikirannya tak mungkin Bik Ipah merekomdasikan pembantu yang abal-abalan, mungkin dia hanya keras saat menerima telpon. Akhirnya Afriadi bicara baik-baik dengan calon pembantu itu.


Selang beberapa menit saja telepon berakhir dengan hasil calon pembantu baru itu setuju.


Lalu Afriadi memanggil satu orang lagi peganti Mang Juneb atas usulan Mang Juneb juga.


Panggilan berakhir Afriadi belum dapat persetujuan dari dia.


Tidak lama Afriadi menunggu sekitar 20 menit, mondar mandir gak jelas di depan pagar Rumah.


Tiba-tiba sebuah motor mendekatinya berhenti di depan Afriadi, Afriadi mendelik melihat siapa yang turun dari motor ojek itu.


Dia membuka helemnya.


Wuus... Angin meniup lembut rambut sampai berkibar, mata Afriadi tak berkedip melihat itu sungguh pesona kecantikan yang tak ternilai.


Tangannya menusap rambut yang berantakan waktu seakan terhenti sebentar. Dia memberikan helem kepada Mas ojol.


Calon pembantu itu sudah datang, dan sekarang berdiri di hadapan Afriadi.


Afriadi kaget setengah mati melihat calon pembantu barunya, itu mata hampir keluar dari tempatnya melotot.


Mulutnya setengah terbuka, seorang wanita paruh baya rambut terurai pakaian aduhai celana membelit ketat itu paha, waktu turun dari ojek boleh lah dikira gadis eh ternyata paruh baya.


Itu Afriadi masih syok melihat calon pembantu itu, tak lama datang lagi ojek menurunkan seorang penumpang alih-alih turun dengan sempurna malah terjatuh.


Pria itu menepuk-nepuk pakaiannya, menampakkan senyuman yang lebar pada Afriadi. Kali ini Pira peganti Mang Juneb, dia muda dan lumayan tampan. Afriadi khawatir kalau Pria itu akan merebut hati Latika darinya.


Afriadi menggeleng, cepat menyerahkan pekerjaan rumah kepadanya. Setelah itu berangkat ke sekolah ia sudah terlambat.

__ADS_1


__ADS_2