Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Viana


__ADS_3

Jam 11:45 siang.


Jam istirahat ke dua.


Siswa siswi sibuk menghabiskan waktu istirahat tersebut dengan bermacam kegiatan mereka ada yang main basket, main bola sepak, main kasti, main catur, ada yang makan di kantin, gosip di mana-mana tempat, ada yang main ponsel, dan ada juga yang duduk di perpustakaan menulis buku harian di pojok sekali. Siapa lagi kalau bukan Latika, waktu istirahat memang dihabiskannya untuk itu.


Latika yang asik menulis tiba-tiba teralihkan perhatiannya kepada siswa siswi yang sibuk keluar dari perpustakaan, dan di luar sana sibuk sekali membicarakan sesuatu.


Latika ikut penasarah melihat ada apa.


Apakah ada orang yang di kejar anjing lagi seperti waktu dahulu, atau ada monyet yang tersesat seperti waktu dahulu atau lagi ada siswa yang kesurupan.


Latika cepat menutup bukunya, dan membawanya keluar melihat ada apa di luar sana.


Kepalanya memanjang di jendela melihat seseorang lewat di halaman sekolah. Cewek cantik berbody aduhai seksi lagi, di sampingnya ada Kodir yang menemaninya sekaligus mengantatkannya ke tempat tujuan, ke mana lagi kalau bukan ke Kantor Afriadi.


Oh... Tidaaaakkk...


Ada saingan lagi untuk para cewek, saingan untuk mendapatkan hati Afriadi.


Mata Siswa Siswi tak luput dari itu, terus memandanginya sampai ia menghilang dari pandangan mereka.


"Cih... Siapa lagi sih itu?"


"Apa dia pacarnya Bapak Afriadi."


"Oh... Tidaaakk..."


"Terlalu banyak saingan."


"Dia cantik."


"Cocok sih dengan Bapak Afriadi."


"His..."


"Itu para cowok kenapa lagi melihat dia seperti itu."


Ucap para Siswi sepanjang jalan yang Latika lewati.


"Waw..."


"Cantik..."


"Is is is is... Enak ya jadi Bapak Afriadi, dihimpit banyak cewek..."


"Coba aku seperti Bapak."


"Waw..."


"Tidak membayangkan aku..."


Ucap para siswa disepanjang jalan yang Latika lewati.


Latika pergi ke kantor kepala sekolah, penasaran ingin lihat dengan jelas Wanita itu tadi dia tidak sempat melihat wanita itu keburu menjauh.


Sebenarnya Latika bukan penasaran tapi, khawatir kalau suaminya selingkuh atau di ambil Wanita itu.


Batin Latika meronta-ronta ingin tahu, "Apa benar dia cantik."


Cewek cantik itu melewati kantor guru, semua guru laki-laki mengankat kepala mereka melihat cewek itu dari jendela guru perempuan lainnya hanya melihat biasa saja, sinis kalah saing.


Wanita itu melewati Laila yang lagi bicara dengan Papanya di lorong kantor, Wanita itu tersenyum manis pada Laila dan Laila membalas senyuman itu. Batin Laila memuji itu Cewek cantik senyumnya manis lagi.


Ia tersadar melihat wanita itu menuju Kantor Afriadi.


"Siapa dia? Apa pacarnya Pak Afriadi?," guma Laila memperhatikan wanita itu.


Lalu perhatiannya teralihkan pada Papanya di sebelahnya terpesona dengan itu wanita.


"Papaaaa ..." Laila menaikan suaranya memutuskan lamunan Papanya.


"Eh... Astagufirullah... Papa khilaf."


Itu liur sudah hampir netes dari mulut.


"Hemmm... Siapa itu Pa?," tanya Laila.


Raya seakan berpikir keras, namun jawabannya, "Em... Entah."


Bu Laila pergi mengikuti diam-diam Wanita tersebut, biasa Kepo.


"Astagufirullah... Ada pula yang gentayangan siang bolong begini di sekolah." Kamarudin beucap melihat wanita itu muncul di depannya ketika ia mau keluar.


Pas sekali Sarif menyusul Kamarudin keluar dari kantor.


Batapa terkejutnya Ustadz Sarif melihat wanita tersebut.


"Astagufirullah..." Sarif menutup matanya dengan tangannya melewati wanita itu tanpa membalik badannya, sampai tersandung


Wanita itu hanya bingung saja melihat Sarif begitu ketakutan lihat dia. Ia melihat pakaiannya menurutnya sopan, pakaiannya BUPATI (buka paha tinggi-tinggi).


"Nah, Pak Afriadi ada di dalam. Silahkan masuk. Saya pergi dahulu." Kodir pergi setelah ia mengantar Wanita itu ke Kantor Afriadi.


"Terimakasih ya," kata wanita itu sebelum Kodir pergi.


Kodir tersenyum melanjutkan langkahnya, batinya berkata, "Eleh eleh... Meleleh hati ini dengar suaranya."


Latika sudah sampai di sana tapi, ia mengurungkan niatnya karena di sana sudah ada Kina, ia tidak mau berurusan dengan Kina, makanya ia memutuskan untuk pergi saja. Bu Laila dan siswi lainnya yang ikut-ikutan mengintai dari jauh.


Tanpa menunggu lama lagi Wanita itu melangkhah memasuki ruangan


Klotak... Klotak... Klotak...


Suara langkah kaki menggema di Ruangan.


Afriadi mendongak melihat seorang wanita berdiri di seberangnya.


"Hello Afriadi. Lama tidak berjumpa."


Wanita itu melipat tangannya di dada, menatap Afriadi angkuh.


"Maaf siapa ya?"


Luntur gaya wanita itu mendengar kalimat Afriadi barusan.

__ADS_1


Urat kesal terlihat di wajah canitknya,


"Tidak kenal lagi. Yang dulu. Yang paling dekat dengan kamu dahulu." Ia mbantu Afriadi meingat dirinya.


"Em..." Afriadi berusaha meingat. Wajah itu emang tak asing di mata Afriadi.


"Jangan pura-pura tidak kenal," ketus wanita itu.


"Viana." Afriadi menjawab ragu.


Wanita itu tersenyum berbalik badan melempar tasnya di sofa tamu duduk di sana.


"Ada apa Vi kau ke sini?"


Afriadi mendekati Viana nama wanita itu duduk di seberangnya, "Bukanya kau lagi di Korea."


"Aku ada urusan penting makanya aku pulang ke Indonesia. Em... Aku juga ingin bertemu kamu, kangen kalian."


Afriadi meangguk menuangkan minuman untuk Viana.


"Qilan ada beritahu kamu soal kedatangan aku?"


"Em..." Afriadi ingat malam tadi Qilan memberitahukannya, "Iya ada."


Afriadi melihat baju Viana kepalanya menggelang, "Astagufirullah... Vi kalau kau kesini tolong jangan pakai pakaian yang seperti ini, pakailah yang lebih sopan sedikit"


"Oke. Tadi aku terdesak tidak sempat lagi untuk menganti soalnya banyak yang harus diurus."


"Em..." Afriadi memberikan ia air minum.


Viana meambil minuman yang sudah di sediakan, meminunnya. Ia menatap Afriadi, tangannya memegang cangkir.


"Em... Bagaimana kabar dia?," tanya Viana mendekatkan wajahnya, matanya berkedip-kedip.


"Dia baik-baik saja." Afriadi menjawab dengan nada datar. Afriadi tahu maksud dia itu siapa.


"Bagaimana dia-"


Wajah Afriadi berubah seketika menjadi masam, Viana yang memahami hal tersebut tidak mau melanjutkan membahas tentang dia.


Viana meletakkan cangkir ke meja,


"Aku turut sedih dengan itu Af. Aku-"


"Langsung saja masuk inti. Ada apa kau mencariku?"


Viana tersentak kaget, Afriadi memang tak berubah sama seperti dulu dingin,


"Kau masih tidak berubah juga rupanya. Tidak bisa di bawa basa basi. Sikapmu itu yang membuat aku selama ini, tertarik dengan kamu dan suka dengan kamu. Aku suka kamu Af."


Afriadi kaget menatap viana tidak mengerti, yang di tatap menyengir lebar mengedipkan matanya.


Para penguping di depan juga terperanjat kaget dengar pernyataan Viana, pembicaraan mereka kurang jelas terdengar jadi hanya terdengar sedikit saja.


Viana memang menyimpan perasaan pada Afriadi selama ini. Tapi, ia tak berani meungkapkan perasaannya.


"Hah..." Afriadi menggeleng, "Maaf Viana aku sudah menyukai seseorang."


Viana menatap malas Afriadi. Memainkan kedua tangannya, bibirnya pun sudah gatal mau...


"Bwhahaha... Ahahaha... Cie... Cie... Sudah mantap ini, isi hatimu menetap dengan dia." Viana tertawa terbahak-bahak tak tahan lagi menahan tawa melihat ekspresi terkejut Afriadi.


Afriadi meangkat alisnya sebelah tak mengerti maksud Viana apa? Apa yang ia tertawakan?


"Aduh sakit perut aku." Viana memegang perutnya berhenti tertawa, ia mulai serius, "Aku memang menyukaimu Af, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah punya pedamping hidupku."


Afriadi mentap malas Viana, ternyata dia dikerjain sama itu Cewek. Tapi, dia agak terkejut dengar kalimat terakhir pedamping hidup. Berarti Viana sudah bertemu jodohnya dan akan menikah.


"... Sebentar lagi mau ujian semester ganjil bukan? Berarti liburan sudah semakin dekat."


Viana mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini undangan pernikahanku." Viana memberikan Kartu undangan pernikahannya, kartu berbentuk persegi panjang dengan disain khusus dan mewah berwarna keemas emasan.


"Datang ya. Ini khusus lo aku yang antarkan. Oh... Ya ajak dia sekalian. Awas kau jika tidak bawa dia, aku lumet-lumetkan kau," sambung Viana lengkap dengan gaya tangannya mengulek sambal.


Afriadi mencoba untuk tersenyum, membalas menggoda Viana, "Sudah mau nikah saja ini. Datang-datang langsung bawa kabar gembira."


"Iyalah. Emangnya seperti kamu Nikah diam-diam tidak beritahu ataupun undang lagi." Viana menimpali.


Afriadi tak berkutip teringat kejadian itu, kajadian yang mempersatukan mereka dan hubungan mereka sekarang tidak baik.


Tapi tapi tapi tapi dari mana Viana tahu kalau Afriadi sudah menikah? Afriadi menduga kalau dua sohibnya terlibat dalam hal ini. Dua sohibnya yang memberitahu status mereka pada teman-temannya, itu mulut dua sohib Afriadi belum pernah kena sumbat dengan cabai level setan mungkin atau harus di jahit itu mulut agar tak membongkar status orang.


"Untungnya aku tahu dari Qilan jika tidak sampai sekarang aku tidak akan tahu kalau kau sudah nikah."


Tuh kan benar dua sohibnya terlibat dalam hal ini.


"Maaflah. Bukanya tidak mau mengundang tapi-"


"Sudahlah.


Untungnya aku mau mengundang kamu, padahal rencananya aku tidak mau mengundang kamu," canda Viana.


"Maaf." Afriadi salah tingkah mau menjelaskan yang sebenarnya kahawatir akan menyebar, maklumlah mulut mereka sulit di jaga, "Qilan memberitahu apa saja tentang pernikahanku."


"Em... Tidak banyak juga sih. Yah, dia hanya bilang kamu ketemu jodoh di jalan terus nikah.


Katanya kamu tidak tahan lagi, jadi nikah tampa persiapan lagi, undang teman saja tidak." Viana menahan tawa.


"Tidak tahan lagi.


Siapa yang Qilan maksud tidak lagi?"


Aura kesal keluar dari tubuh Afriadi.


"Gila. Haha...," gelegar Viana.


"Aduh... Sudah terlambat, Af." Viana menyambar tasnya bangkit dari tempat duduknya.


"Aku pergi dulu. Datang ya. By." Viana melambaikan tangan menuju pintu keluar.


Komat kamit para penguping di luar bubar menjauh secepat mungkin, sudah dapat informasi mereka kabur.


Viana membalikkan badan, ia ingat sesuatu, "Oh... Ya, malam ini aku ke rumahmu. Aku ingin melihat dia. Bolehkan?"

__ADS_1


Afriadi meangguk, Viana tersenyum


pergi meninggalkan Sekolah.


***


Latika di Kelas masih terpikirkan soal wanita itu dan menghayal kalau Afriadi ada hubungan dengan wanita itu.


Rasa curiga Latika semakin kuat setelah Salasiah membawa kabar yang bukan-bukan.


Salasiah datang membawa kabar yang ia dengar tadi padahal dia tidak berapa jelas betul mendengar pembicaraan mereka.


"Hoy semua! Ada kabar buruk," kata Salasiah.


"Ha... Kabar buruk."


Semua siswi 12 IPA A mendekati Salasiah, Latika hanya duduk di tempatnya ikut mendengarkan.


"Kabar buruk apa?"


"Soal wanita tadi?"


Kebanyakan Siswi bertanya 12 IPA A.


"Iya. Rupa-rupanya Bapak Afriadi sudah tunangan dan akan menikah setelah ujian semester ganjil ini, liburan nanti." Salasiah berkata heboh.


"Apa?" Mereka semua terkejut termasuk Larika di belakang.


Batin Latika berkata, menahan air mata, "Astagufirullah... Tidak kusangka dia tega berbuat begitu."


"Dan lagi mereka sudah membuat undangan pernikahan mereka," sambung Salasiah.


"APA!!!"


"Haaaa... Bapak jahat."


Mereka semua heboh.


Air mata Latika menetes, Latika menyeka air mata itu.


"Dia menduakan aku. Jadi selama ini... Selama ini dia tidak menyukaiku...


Dia menyukai seseorang... Dan aki hanya pelarian saja.


Ugh... Kenapa sakit sekali.


Tidak apa Latika ini resiko.


Selama ini kau menjauh darinya sekarang inilah balasannya. Dia memilih wanita itu, mungkin dia bosan dengan sikapku. Tapi, aku melakukan ini semua demi dia, demi kebaikan kami. Em... Mungkin ini sudah takdirku untuk dipoligami, tapi aku tidak mau dipoligami. Hiks... Jahat. Ya Allah kuatkan hamba atas semua cobaan ini."


Hati Latika sakit sekali mendemgar kabar dari Salasiah.


Walau kabar tersebut tidaklah benar.


Tidak lama bel masuk berbunyi.


Pas jam terakhir ini Afriadi masuk ke Kelas Latika.


Ketika Afriadi masuk, suasana kelas yang menyeramkan, dan dingin. Mata-mata para Siswi menatap tajam Afriadi dengan wajah yang hancur berkeping-keping. Siswanya paham tak mau berkutip bisa-bisa mereka terkena masalah.


Afriadi hanya menganggap itu biasa saja mungkin efek tengah hari perut lapar dan sudah lelah.


Ketika Afriadi memulai pelajaran.


BRAAAKKK...


Salah seorang siswi membentak meja dengan wajah yang galak.


"PAK!!!"


"Eh..." Latika terkejut begitu juga Siswa.


"Bapak jahat," ucap siswi itu.


Kepala Afriadi di penuhi tanda tanya, mencoba untuk tenang menanghadapi Siswi itu.


"Iya Bapak jahat," sahut Siswi di sebelahnya.


"Iya Bapak jahat tega," sahut Siswi lainnya mengulangi kalimat yang sama.


Afriadi masih berpikir apa yang membuat para Siswi itu marah padanya. Dengan kepala dingin Afriadi menghadapi ini semua. Padahal itu kepala sudah mumet gara-gara tadi di serang berbagai pertanyaan dari para guru mengenai hubungan dia dan Viana.


"PAK!!!


BAPAK TI-"


Salah seorang Siswi membentak dengan kuat.


"HOY! DENGAN GURU ITU COBA BICARA BAIK-BAIK JANGAN PAKAI BENTAK-BENTAK. TIDAK ADA ADAB LALU. GURU ITU BUKAN MURID YANG KALIAN BENTAK. MAIN BENTAK-BENTAK SAJA. TAK PANTAS TAHU TIDAK KALIAN SEPERTI ITU PADA GURU KALIAN..."


Hadi emosi melihat kelakuan Siswi yang membentak Afriadi. Mamang sikap membentak itu kurang pantas dan tercela apa lagi membentak seorang Guru karomah dunia dan akhirat. Tidak akan beberkat ilmu yang ia ajarkan.


"BETUL ITU."


"HOOOOO..."


Ejek siswa kepada siswi.


Merasa tidak terima dengan sorakan siswa, siswi ikut membalas sorakan.


Al, hasil kelas bagaikan hutan saja, banyak TARZAN di kelas itu.


Kelas sebelah yang terganggu ikut-ikutan juga menyoraki kelas 12 A.


Afriadi sudah mencoba menenangkan dengan memukul meja berkali-kali, papan tulis tapi, tetap juga tidak tenang, bahkan malah terjadi perang mulut yang meluas sampai masalah pacar, aib mantan pun sampai ikut-ikutan kebongkar.


Latika di belakang hanya diam saja melihat perang mulut terhebat.


Karena Afriadi sudah geram, akhirnya satu kelas dihukum Afriadi, kecuali Latika.


Mereka dihukum hormat bendera di tengah terik matahari yang menyengat selama 15 menit jika masih ribut lagi di tambah lagi menjadi 20 menit, mereka benar-benar di jemur Afriadi.


Mereka yang panas-panas Latika yang enak duduk manis di kelas.


Afriadi hanya mengajar Latika saja lagi di kelas, matanya sesekali mencuri pandangan Latika, ketika Latika memandangnya ia pura-pura melihat anak murid yang ia jemur di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2