
Jam sekolah berlalu begitu cepat.
Sudah tiba waktu yang ditunggu-tunggu semua anak murid, waktu pulang.
Hari ini Latika tidak pulang kerumah dulu, Latika menetap di sekolah, tanggung untuk pulang.
Hari ini hari pertama kali Latika latihan silat.
Untung ada orang yang Latika kenal di antara semua orang yang ada di sini, siapa lagi kalau bukan Hadi, dan Sahril.
Oh... Ya, satu lagi orang yang Latika kenal beberapa waktu lalu, malas mau menyebutnya, siapa lagi kalau bukan Kina.
Banyak cowok-cowok mengoda Kina, di ujung sana.
Ya... Hari ini ia juga belajar silat sama seperti Latika.
Karena Latika baru masuk ia tidak tahu dasar-dasarnya, jadi yang baru masuk dipisahkan dengan murid lama, mereka diajari khusus, biasanya dibagi menjadi beberapa tim, tapi karena yang masuknya sedikit cuman, makanya dibuat jadi satu tim saja, maknanya Latika satu tim dengan dia.
Hadeh... Perasaan Latika tidak enak satu tim dengan dia.
Untungnya mereka diajar sama sunior-sunior di sana.
Untungnya lagi yang mengajari mereka adalah Hadi, dan Sahril
Heran lah, selama latihan Hadi sering mendekati Latika, dan yang lainnya, setiap kali Latika salah, kuda-kudanya kah lemah atau salah, Hadi terus membetulkannya, kalau Sahril membenarkan yang lainnya. Tapi dia tak mendekati Kina, berkali-kali Kina menyalahkan gerakanya, pura-pura salah.
Anehnya Hadi bahkan tak memperhatikanya, Hadi tetap cuek, dia hanya cuek, membuat Kina kesal.
yang aneh lagi Sahril juga ikut-ikutan menjauhi Kina, mungkin Sahril mengikuti Hadi.
Em... Tak heran lagi mereka kan satu geng
Oh... Mata Kina melotot ke arah Latika.
Ihhh... Seram, sebenarnya apa sih salah Latika kepadanya?.
Jam berlalu begitu cepat.
Tidak terasa hari sudah sore.
Latihan dihentikan, semua pulang kerumah.
Latika menunggu di gerbang.
Kali ini seperti biasa Hadi ingin mengantarnya pulang.
"Latika, aku antar pulang mau?," tawar Hadi tiba-tiba muncul dengan motornya.
"Ehh... Gak usah Hadi, merepotkan saja." Latika menolak.
"Apa pula merepotkan.
Yuk, naik biar aku anatar." Hadi memaksa.
"Harus cari alasan." Hati Latika berseru panik.
Latika mengunakan alasan biasa, "Ah... Aku sudah pesan ojek."
"Em..." Wajah Hadi berubah cemberut, menunggu.
Latika panik, takut Mang Juneb tidak datang dan Hadi mengantarnya pulang, jika Latika diantar Hadi maka ia pulang ke kost bukan ke rumah Afriadi itu saja caranya, jika ke rumah nanti Hadi tahu. Jarak Kost ke rumah Afriadi jauh berkilo meter, jika sempat Latika diantar berarti Latika tambah jauh lagi pulangnya. Bisa manghrib baru sampai ke rumah.
Mang Juneb datang, datang dari arah belakang Hadi, dengan motor metic berwarna putih ditemani warna ungu.
Hadi menatap Mang Juneb, tak asing.
Latika segera naik motor Mang Juneb.
"Maaf ya Hadi lain kali saja," kata Latika.
"Em...," guma Hadi.
"Aku dulu ya hadi." Latika melambaikan tangan pada Hadi.
"Em..." Hadi tersenyum, meangguk.
Motor Mang Juneb sudah mulai melaju, menjauh,
Hadi menatapi punggung Latika yang menjauh dari matanya.
Tidak lama Sahril datang menaiki motor Hadi, sambil memeluknya, "Yom... Anatar aku pulang."
"Enak saja, pulang sana sendiri," ketus Hadi, mencoba melepas tangan Sahril yang melingkar di pinggangnya, "Lepaskan."
"Gak mau, anatar aku pulang." Sahril mempererat pelukannya.
"Jangan buat kesal, Sar. Pulang saja sendiri kau ada motor, pulang pakai motormu."
"Heh... Kau tidak tahu, hari ini aku di antar sama kakakku."
"Terus minta dengan dia jemput kamu."
"Sudah..."
Sahril melapas pelukanya, "Dia bilang, dia tidak bisa jemput aku. Anatar aku, ya?"
__ADS_1
"Hem..." Hadi berpikir 2 kali.
"Kasihanilah aku." Sahril sedikit memelas.
"Hah... Ya, udah."
Akhirnya Hadi mengantar Sahril pulang, niatnya ingin mengantar Latika, tapi yang dia antar malah Sahril.
Sesampainya Latika di rumah.
Latika pergi ke dapur untuk minum.
Air yang ia bawa tadi sudah habis, malah tidak cukup, untung Hadi tadi memberikan air minumnya.
Latika duduk menikmati setiap tegukan air yang ia minum.
"Huh... Lega."
"Sudah pulang dek?"
Latika terkejut mendengar suara Afriadi.
Air minum yang mau ia teguk, hampir membuat ia tersedak.
Latika menoleh melihat Afriadi di belakangnya, "Eh... Ya."
Afriadi duduk di sebelah Latika, "Bagaimana dek latihan silatnya, lancar?"
Jantung Latika bukan main lagi kencang berdebar, seperti tersengat listrik 100 watt, "Alhamdulillah lancar."
"Lelah dek?," tanyanya lagi.
"Em..." Latika meangguk mengiyakan, menundukan kepalanya.
"Em..." Afriadi meangguk pahan, "Sini," printah Afriadi dengan nada lembut.
"Hah..." Latika kaget, meangkat kepalanya, melihat Afriadi yang memasang wajah polos, kepalanya penuh dengan tada tanya, 'Apa maksudnya?'
"Hadap sana," perintah Afriadi serentak dengan tangannya menyingkap lengan bajunya.
"Eh..." Mata Latika membulat sempurna, jantungnya bukan main tambah dak dik duk ser...
"Hadap sana dek." Afriadi memutar paksa badan Latika.
"Abang mau apa? Apa yang ingin ia lakukan?," batin Latika heboh bertanya-tanya.
Afriadi mendekatkan kursinya ke kursi Latika, menarik nafas.
Tanganya bergerak memegang pundak Latika, mulai sudah jantung Latika berdetak kencang bukan main kayak berdisko ajeb ajeb ajeb. Perlahan Afriadi menekan.
"AAAGGHHHH...," jerit Latika.
"Eh... Keras betul." Afriadi menghentikan pijatanya, "Sakit ya?"
Latika mengangguk-angguk.
Afriadi tersenyum melanjutkan memijat pundak Latika, pelan-pelan.
Blusss...
Wajah Latika memerah, jantungnya berdisko, sekujur tubuh menjadi lemas, rilek, merasakan pijatan Afriadi.
"Aaah... Sudah cukup, sudah tak sakit lagi." Tangan Latika memegang tangan Afriadi, memintanya untuk berhenti memijat.
Blusss...
Seketika wajah ini tambah memerah gara-gara menyentuh tangan Afriadi.
Latika menunduk malu menyembunyikan wajah yang memerah itu.
Perlahan-lahan Latika mengaser tangan Afriadi, lepas satu di sebelah kiri, tangan Latika berpindah lagi mengeser yang satu lagi di sebelah kanan,
sebelah kanan berhasil dilepas.
Eh...
Tap... Afriadi menaruh tanganya lagi ke bahu Latika di sebelah kiri.
"Ha.." Latika kaget.
Perlahan-lahan lagi Latika mengeser tangan Afriadi dari bahunya.
Eh... Alih-alih lepas di sebelah kiri, Afriadi menaruh lagi tangannya di bahu Latika sebelah kanan.
Begitulah, lepas di sebelah kanan, nempel lagi sebelah kiri.
"Haaa..." Latika mengeluh kesal.
"Hihihi..." Afriadi malah tertawa pelan, senang menjahili Latika.
"Heem..." Latika mengerutu kesal.
Kejahilan itu hanya bertahan beberapa menit saja. Di akhir kejahilan Afriadi, dia hampir saja memeluk Latika.
Afriadi berhenti meletakan tangannya di bahu Latika.
__ADS_1
Menyadari itu Latika cepat-cepat mau berdiri menjauh darinya. Alhasil...
Saap...
Tanganya bergerak cepat, melengkung, mengurung Latika.
Seketika Latika terduduk kembali.
Tanganya memaju memaksa Latika untuk mundur, Latika mundur sampai ia tersandar di dada Afriadi, tangan Afriadi berhenti bergerak mengunci Latika, yang ditahan panik. Bukan main jantung Latika berdetak kencang.
Latika dapat merasakan wajah Afriadi mendekat, ia berbisik di telinga Latika, "Em... Gak jadi, Adek belum mandi."
Afriadi menjauhkan tangannya. Latika mendongak melihatnya tertawa pelan.
Latika mencoba bangun, tapi tidak bisa, ia bagikan kura kura yang terbalik.
Afriadi masih saja tertawa pelan, melihatkan gigi putih teraususun rapi.
Latika menatapnya kesal.
Tampa putus asa Latika mencoba bangkit dengan bertumpu pada paha Afriadi, tanganya menyentuh pahan Afriadi berbalut celana polo. Dapat di lihat ekspresi Afriadi berubah, tadinya ia tertawa sekarang pias, Afriadi merasa geli dan tak nyaman jika pahanya dipegang. Ia membantu Latika bangun dengan mendorong bahu Latika.
Hati Latika berseru lega, "Hampir saja aku dipeluknya."
"Mandi lagi Dek." Afriadi berusaha tenang. Ia mendapat tatapan malas dari Latika.
"Mau apa Dek?.
Cepat mandi. Nanti saja mintanya, Adek belum mandi, Abang tidak mau, sebab Abang sudah mandi.
Jadi nanti saja setelah Adek mandi."
Afriadi mengoda Latika, tidak habis dari menjahili Latika sekarang malah mengodanya.
Hati Latika mendelik, "Tidak mau, tapi jehili orang. Lagian apa juga maksudnya?"
Segera Latika meninggalkannya, sebelum pikiran Latika melayang ke mana-mana gara-gara perkataanya tadi.
Bebrapa jam kemudian.
Setelah sholat Isya'
Latika sibuk dengan tugas sekolahnya.
Setelah makan malam Latika tidak sempat lagi membantu Bik Ipah membersihkan sisa makan, Latika langsung pergi ke kamarnya mengerjakan tugas.
"Hadeh... Mumet ini kepala." Latika mengerutu pelan, tangannya memijat keningnya yang terasa sakit.
Sakit mikirkan dia, bukan kosentrasi penuh kerjakan tugas, malah kosentrasi Latika malah hilang asik kepikiran dia terus, apa lagi kejahilanya sore tadi.
Ting... Nung...
Bel Rumah berbunyi.
Bik Ipah yang berada di dapur bergegas lari meninggalkan dapur berlari -lari kecil menuju pintu depan dan memukanya.
Ia mempersilahkan tamu itu masuk.
"Ah... Susah sekali." Latika meacak rambut yang tertutup jilbab, "Em... Tanya sama Abang saja lah, biar cepat siapnya."
Latika keluar dari kamar membawa buku pelajarannya, mencari Afriadi.
Latika melamgkahkan kakinya menuju kamar Afriadi, di ketuknya pintu kamar Afriadi tak ada respon, lalu ia mencari ke ruangan lain ruang kerja, ruang baca, ruang santai. Tapi, Latika tidak jumpa juga.
Untung Bik Ipah beritahu Latika kalau Afriadi ada diruang tamu, bersama dengan dia.
Sampainya di sana, dilihatnya meja persegi panjang berkaki pendek dan 2 orang yang duduk bersebelahan.
Latika kaget setelah tahu kalau si dia yang dimaksud Bik Ipah itu Kina, langkahnya terhenti, mengerutu pelan, "Kenapa dia ke sini?"
Kina melihat Latika dari kejauhan, "Cih anak pembantu itu, ngapain dia lihat-lihat," katanya dalam hati.
Hati Latika sibuk berseru melihat Afriadi dekat dengan Kina, "Oi oi oi... Apa-apaan itu duduk dekat - dekat."
"Em..." Afriadi melihat Kina menatap tajam sesuatu di belakangnya, Afriadi mengikuti arah tatapan Kina, menoleh melihat ke belakang, di lihatnya Latika berdiri di sebelah pintu berkaca membawa buku pelajaran. Afriadi tersenyum melihat Latika, melambaikan tangan padanya, "Latika mau belajar, sini gabung dengan kina."
Latika melangkah mendekat.
"Sini duduk di sebelah Kina."
Afriadi berdiri menjauh dari kina. Kina sempat menarik lengan baju Afriadi, menyuruhnya jangan pindah duduk.
Afriadi tersenyum malas, melepas tangan Kina, dan menarik Latika untuk duduk di dekat Kina. Dan Afriadi duduk di lantai di hadapan mereka berdua.
Kina menjauh sedikit dari Latika, kadang-kadang ia mengusap-usap lenganya, seperti baru bersentukan dengan hal yang jorok.
"Pak, lampu taman bapak mati ya?," tanya Kina.
"Iya..."
Afriadi menjawab malas.
"Gara-gara lampu tamanya mati, Kina jadi takut melewatinya, halaman rumah bapak lu-" Kalimat terakhir Kina di potong Afriadi, "Aaa... Sudah-sudah Kina, nanti saja sambung ceritanya, sekarang Kita belajar dulu."
Kina cemberut karena perkataanya dipotong.
__ADS_1
Mereka mulai belajarnya.