Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Mall 3


__ADS_3

Karena takutnya jadi pertengkaran dan malu juga di lihat banyak orang, jadi Latika putuskan untuk membawa mereka bersamanya. Walau hati Latika berat untuk membawa mereka.


Sepanjang jalan Latika digandeng mereka, di sebelah kanan Latika digandeng Afriadi, disebelah kiri Latika digendeng sama mereka bertiga.


Latika seperti Ibu-Ibu yang membawa anak kecil yang lagi bertangkar.


Em... Salasiah melihat toko kosmetik.


"Eh... Eh... Ke sini yuk." Salasiah menujuk toko itu, menarik tangan teman-temannya ke sana.


Ketika Latika masuk ke dalam toko.


Waw... Kata yang keluar dari mulut Latika, tercengang seakan tidak percaya melihat isi toko. Begitu banyak produknya, semua tersusun rapi, sampai lipstick dengan sejuta warna yang berbeda - beda, berbaris rapi menunggu pelangan mencoba dan membeli mereka, dan produk lainnya yang berbaris rapi menunggu pembeli.


Kelihatanya bukan Latika saja yang terkejut melihat produk kecantikan di toko itu. Afriadi juga kelihatan kaget, bukan lihat produk kecantikan tapi karena itu, tatapan mata penghuni toko tertuju pada mereka. Mereka menarik perhatian.


"Ini yang disukai wanita.


Agh... Kenapa aku ada di sini?," guma Afriadi, ikut tertarik juga masuk ke dalam toko kosmetik bersama 4 orang wanita.


"Itu cowok mata keranjang ya."


"Banyak ceweknya."


"Gila, itu orang banyak amat ceweknya."


"Sekali 4 ceweknya."


"Sultan mah bebas."


"Ceweknya cantik-cantik ya."


Bisik-bisik pengunjung toko.


Afriadi dengar apa yang mereka bicarakan, ia hanya bisa berjalan santai tidak menghiraukan perkataan mereka.


Salasiah, Nana, dan Hana sibuk memilih produk.


"Haa... Aku tak punya alat make up, mereka beli, sedangkan aku tidak. Bagaimana aku ingin belajar make up? Aku tidak ada bawa uang, hemmm..." Latika merengek dalam hati ingin membeli juga.


"Latika sini mendekat." Salasiah menerik tangan Latika, mendekat, "Aku jumpa lipstick yang bagus kelihatanya cocok untukmu. Coba pakai." Salasiah memakaikan benda itu ke bibir Latika.


Tada....


"Pas kelihatanya ini. Ginikan latika bibirmu biar merata," Salasiah mencontohkan memgesek kedua bibirnya. Latika mengikuti apa yang salasiah katakan, mengesek kedua bibirnya seperti yang Salasiah lakukan, "Ha... Cocok juga."


"Iya... Cocok, pas sekali." Hana bertepuk tangan, melihat bibir Latika, bagitu juga Nana ikut memuji melihat warna lipstick yang cocok dengan Latika.


Afriadi yang berada di samping Latika terdiam melihat bibirnya Latika, hatinya terpana, "Bibirnya. Sxsi." hasratnya bergejolak, ingin menyentuh bibir Latika, "Agh... Afriadi apa yang kau pikirkan, jangan pikirkan yang macam - macam." Afriadi menggelengkan kepalanya, menghapus pikiran yang sudah melayang.


"Ah... Ini... Ini juga... Ini kelihatan cocok juga." Salasiah yang sibuk sendiri dengan semua produk kecantikan, cepat ia bergerak ke sana ke sini mengambil bermacam-macam produk.


Hana dan Nana mengikuti Salasiah, minta dicarikan juga.

__ADS_1


Afriadi menyentuh TINT, membolak balik benda tersebut, Afriadi melirik pengunjung di sebelahnya yang menyengir melihatnya dari tadi, dalam pikiran mereka Afriadi memilihkan TINT untuk pacarnya Latika. Latika yang tak tahu apa-apa juga ikut menyentuh.


"Latika... Bagaimana dengan ini semua?" Salasiah meletakan barang yang ambil di atas meja kasir.


HAH... Latika tercengang melihat produk yang dipilihkan Salasiah. Begitu juga Afriadi kaget melihat barang yang Salasiah bawa.


"Apa perlu sebanyak itu?," guma Afriadi, matanya meloto melihat produk yang Salasiah bawa.


"EE... Salasiah apa tidak berlebihan? Apa perlu sebanyak itu untuk Latika?." Hana bertanya.


"Em... Tergantung Latika saja mau apa tidak. Ini cocok untuk dia," kata Salasiah.


"Sebanyak ini, selama ini aku hanya pakai bedak my baby, terus malamnya pakai bedak dingin." Latika mengambil salah satu produk.


"Produk ini semua apa aman untuk Adek." Afriadi mengeser semua produk yang dipilih Salasiah.


"Ah... Mbak pilihkan yang cocok dengan dia, produknya yang berbahan ringan saja, yang cocok untuk anak remaja. Bla... Bla... Bla..." Afriadi cerewet sekali membuat staf toko sedikit kewalahan mencari produk yang cocok dan menjawab pertanyaannya.


"Kasar amat pacarmu Latika, tidak punya perasaan, aku sudah susah payah memilihkan itu. Di sini yang pandai make up siapa sih, dia atau aku. Kau betah aja dengan dia. Di mana sih ketemunya?," omel Salasiah melipat tangannya di depan dada.


Latika hanya bisa tertawa getir.


"Latika kau tidak salah pilih. Untung hanya pacaran jika dia jadi suamimu bagaimana? Pasti diatur-aturnya terus," kata Nana.


"Suami... Dia... Dia... Dia memang suamiku," guma Latika dalam hati.


Entah kenapa Latika merasa sedih lagi mengingat kejadian itu.


Afriadi yang lagi bicara sama stafnya mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Ah... Gak apa - apa kok, mataku pedih kemasukan debu." Latika beralasan mengucak-kucak matanya.


Hana ber-oh pelan.


Afriadi melirik Latika, ia mengira kalau Latika memikirkan kejadian itu lagi, kejadian yang membuatnya terikat dengan Afriadi.


"Hana, Nana mana barang yang kalian pilih, sini beri padaku," pinta Salasiah, Nana memberikan barang yang mau ia beli pada Salasiah, Nana paham maksud.


Namun sebaliknya Hana tidak mau memberikan barangnya, "Untuk apa, aku mau beli yang ini."


"Iya berikan kepadaku," paksa Salasiah, akhirnya Hana pun memberikan barang yang ingin ia beli pada Salasiah.


Brak... Salasiah menghentakan barang yang akan mereka beli di meja kasir, staf penjanga kasir dan Afriadi yang di sampingnya kaget.


"Kakak... Kami beli semua yang ini.


DIA YANG BAYARKAN." Jempol Salasiah menujuk Afriadi yang berada di sampingnnya.


"Gawat." Hati Hana dan Latika serempak teriak panik.


"Good job Salasiah." Hati Nana mengajukan jempol pada Salasiah.


"Dasar anak ini,

__ADS_1


dia mencoba bermain - main denganku," gerutu Afriadi pelan, urat kesalnya sudah kelihatan.


"Abang tidak apa - apa?," tanya Latika khawatir Afriadi marah dengan sikp temannya, rakutnya nanti dia jadi sasaran kemarahan Afriadi, "Jangan marah ya. Mohon dimaklumi, mereka memang begitu."


Afriadi tidak menjawab, ia masih kesal.


Tukang staf yang tidak tahu apa - apa hanya membungkuskan, dan tahunya Afriadi yang membayar semuanya.


"Dompetku terkuras oleh mereka, padahal hanya untuk adek, tapi ya sudahlah." gerutu Afriadi, kesal, mengeluarkan card debitnya, di berikan pada staf untuk membayar, "Oh... Ya, 2 minyak zaitun," pinta Afriadi.


Salah seorang staf lainnya langsung mengambilkan minyak zaitun, dan langsung digabungkan dengan barang Latika.


"Untuk apa minyak zaitun?," tanya Latika dalam batinya.


Salasiah mengambil barang belanjaan mereka dan Afriadi memberikan barang itu pada Latika.


"Terimakasih." Latika berkata pelan, mengambil barangnya dari tangan Afriadi.


Mereka keluar dari sana.


Yang benar saja. Baru saja mereka keluar dari sana, sudah diseret lagi dengan Hana masuk ke toko baju.


"Haaa... Lihat bagus gak?." Hana bergaya di depan cermin besar, mencocokan dengan baju yang ia ambil.


"Bagus." Temannya menjawab santai.


"Adek mau. Pilihlah," tawar Afriadi, memilih baju wanita, matanya melirik 2 orang pengunjung wanita yang ada di seberangnya yang saling berbisik, mata mereka tak lari dari Afriadi dan Latika.


"Itu cowok baik amat ya, milihkan baju untuk ceweknya. Patuh dengan itu cewek."


"Idaman banget. Itu cewek cantik-cantik imut ya, tapi itu cowok tampan atau abstrak ya. Mungkin karena tajir itu cewek nempel, kalau tidak ditinggal tuh."


Bisik-bisik mereka.


"Em... Gak. Baju adek sudah banyak dibelikan kemarin, lagian masih bagus juga." Latika menjawab tersipu malu, "Lagian sudah cukup abang belikan ini."


Afriadi melepas gengamannya, menghampiri staf yang ada di sana, dia bicara dengan staf di sana. Ada kesempatan untuk teman Latika membawa Latika menjauh darinya.


"Ah... Akhirnya terlepas juga, lagian dari tadi gengamannya tidak dilepaskan," guma Latika melihat telapak tangannya.


"Latika..." Nana menarik tangan Latika, yang ditarik menahan tidak mau ikut, "Eh... Ada apa ini?," tanya Latika.


"Ikut kami Latika," paksa Nana mendesak Latika. Dua temannya ikut menarik Latika memaksanya ikut bersama mereka, Latika mau memanggil Afriadi, tapi keburu di sumpal mulutnya sama Nana, mau tak mau Latika ikut mereka.


"Yang mana wanitanya?," tanya staf toko melihat ke belakang Afriadi.


"Itu, wanita yang imut-imut. Carikan model baju yang cocok dan gaul untuk dia, tapi yang tutup aurat." jempol Afriadi menunjuk ke belakang, tampa melihat lagi ke belakang.


Mata staf toko meloto melihat cewek yang di tunjuk Afriadi, nenek-nenek yang lagi milih baju, staf toko menyeringai mengira itu adalah pacarnya Afriadi, "Selera anda bagus juga Tuan. Semakin tua semakin panas." Staf toko membuka kerah baju sedikit, menggoda Afriadi, "Tapi, Tuan model untuk pacarmu itu tidak cocok untuk di umurnya, takutnya nanti-" Afriadi memotong perkataan staf toko, "Apa maksudmu tidak cocok, dia masih gadis."


Staf toko menyeringai lebar, tertawa geli, "Iya masih muda."


Afriadi mendelik, meangkat kedua alisnya, bingung apanya yang lucu, membalikan badan melihat ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat nenek-nenek, ia tahu kenapa staf toko nenyeringai, ekspresi wajah paniknya tergambar di balik masker, ia menyadari kalau Latika tidak ada ke sana, celengak-celengok ia melihat sekeliling toko. Matanya melotot melihat staf toko, yang di lihat meneguk ludah mengalihkan pandangannya dari mata Afriadi tak berani menatap balik Afriadi, "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau mereka keluar?."

__ADS_1


"Mana saya tahu kalau mereka kekasihmu, kau tidak beritahu saya," guma staf toko dalam hati.


Afriadi pergi keluar dari toko, mencari Latika dan temannya, "Hah... Ke mana mereka semua perginya?."


__ADS_2