Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Afriadi Sakit 3


__ADS_3

Malam hari.


Afriadi makan sedikit di suapi Latika, haru rasanya ia mendapat perhatian lebih seperti ini. Setelah makan ia minum obat, bersandar di sandaran temoat tidur.


"Uhuk..." Afriadi terbatuk-batuk Latika memgusap dadanya memberikan air minum.


"Kepala sakit?," tanya Latika dengan suara lembut.


Afriadi mengangguk.


Pelan-pelan Latika memijat kepala Afriadi. Uuus, rileks Afriadi. Pijatan Latika sungguh nikmat.


"Em... Dek." Suara serak itu terdengar lagi.


Kalian sadar gak Afriadi mengganti panggilan pada latika dari yang dulu kamu, kau, dia, dan sampai nama sekarang memamangil pakai panggilan sayang, Adek.


"Ya."


"Abang mau buang air kecil." Wajah Afriadi bersemu. Dia memanggil dirinya Abang.


"Eh." Latika tambah lagi wajahnya merah, ia teringat subuh tadi. Seharian ini selama dekat dengan Afriadi ia teringat kejadian subuh tadi, malu rasanya ia mendekat.


Latika menggambil wadah yang sudah ia sediakan untuk itu, dan tisu basah, Latika berbalik arah tidak mengintip.


"Sudah."


"Em..." Itu wajah Afriadi tambah merah memberikan wadah pada Latika.


Cepat Latika membawa wadah itu ke Kamar mandi langsung di bersihkan.


Ketika ia kembali meletakkan wadah itu mata bertemu dan tak teralihkan.


Bluuus...


Wajah mereka memerah, Latika salah tingkah keluar dari sana.


Mereka menengkan jantung dulu yang sendari tadi berdebar kencang, hampir melompat lagi.


Waktu Afriadi sakit ini Latika benar-benar spesial, Latika menyurahkan kasih sayangnya kepada Afriadi. Sampai Afriadi dapat merasakannya.


Setiap hari Afriadi di masakan bubur sperial, baju digantikan setiap hari, malamnya di jaga walau tampa sepengetahuan Afriadi kalau Latika setiap malam menjaganya saat ia tidur


Karena Latika tidak masuk beberapa hari ke sekolah teman-temanya mencarinya, Pak Kodir juga mencarinya, bahkan Kina pun mencarinya.


Sedangkan di Rumah.


Latika menempelkan tangannya ke kening Afriafdi memastikan sekali lagi suhu tubuh Afriadi setelah tadi di ukur dengan termometer. Mata Afriadi manatap Latika.


Suhu badan Afriadi mulai menurun.


Batuk dan flunya juga mulai membaik.


"Abang mau mandi."


"Tidak boleh." Latika tegas, wajah Afriadi langsung cemberut.


Latika mengambil baju ganti.


"Abang jelek tak mandi," guma Afriadi, " Bau."


Latika menghela nafas, sikap Afriadi manja.


"Lepas bajunya," kata Latika meletak baju ganti Afriadi.


Lambat Afriadi membuka bajunya, Latika meambil tindakan naik ke atas ranjang membantu Afriadi membuka baju Afriadi.


Wajah Latika merah bersemu lihat kotak-kotak di tubuh Afriadi ketika sudah terbuka semua kancing baju Afriadi. Latika menundukkan kepalanya melepas baju Afriadi.


"Kenapa menundukkan kepala? Malu, ya? Lihat saja kan halal."


Afriadi tersenyum lihat Latika malu-malu, Latika menggeleng mengelap tubuh itu dengan handuk basah.


Afriadi diam, setelah selesai Latika memasangkan baju kalau bagian bawah itu bagian Afriadi yang bekerja jantung Latika tak kuat sampai sana.


Setelah itu Afriadi bersandar di pesandaran tempat tidur, memumbuk pelan bahunya pegal tertalu banyak baring.

__ADS_1


Latika yang paham memijat bahu Afriadi.


Tidak sengaja Afriadi bersendawa.


Aaa, tak salah lagi, Latika menduga ia pasti masuk angin.


"Tunggu sebentar." Latika pergi mengambil sesuatu. Tidak lama ia kembali, membawa uang 1000 sen.


"Untuk apa?," tanya Afriadi dengan suara seraknya.


"Buka baju," printah Latika naik ke tempat tidur.


Afriadi bingung Latika mau apa.


"Buka saja," printah Latika sedikit memaksa.


"Bukannya tadi sudah lihat. Apa mau lihat lagi? Jangan sekarang ya Dek Abang lagi sakit nanti saja mintanya," kata Afriadi lengkap serentak dengan tangannya bekerja membuka baju. Latika meangkat alisnya mendengarkan perkataan Afriadi


"Baring tengkurap," printah Latika.


Afriadi nurut bering tengkurap, tanda tanya memenuhi kepala Afriadi dia bingung Latika mau apa.


Latika memabil balsem mengoles di punggung Afriadi mulai mengerok Afriadi.


Afriadi mulai bersendawa, merasa nyaman menikmatinya, tampa sadar ia tertidur.


***


Jam 20:30 malam.


Teman-teman Afriadi datang menjenguk.


Sekitar 6 orang di antara mereka ada 2 si tukang buat ulah, siapa lagi kalau bukan Qilan dan Hasan.


Latika menjamu mereka dengan kue kering dan air.


"Silahkan," kata Latika menyajikan sajian di meja.


"Ehem... Ada yang dapat perhatian lebih ini," goda Qilan yang duduk di sofa bersama 4 temannya.


Hasan yang duduk di sebelah Afriadi melirik Afriadi juga ikut menggodanya, ,


Kalimat akhir Hasan bisa di tebak Afriadi akhirnya pasti tak bagus, cepat Afriadi meambil tindakkan memotong kalimat Hasan,"Kalau iri bilang saja."


Semua terdiam dengar kata Afriadi, 4 temannya silih berganti melirik Hasan dan Qilan toh mereka berdua saja lagi yang jomblo.


Latika menahan tawa lihat wajah dua sohib Afriadi wajah mereka sulit di tebak.


"Ya, kami belum ketemu jodoh saja nanti juga ketemu." Qilan menyahut santai.


"Oh ya Latika kenalkan ini..." Qilan memperkenalkan satu persatu teman Afriadi dam profesinya.


Setelah kenalam Latika pergi meninggalkan mereka.


Cukup lama juga mereka bicara, bergurau mengolok-olok Hasan dan Qilan. Maklum para jomblo kalau kumpul bareng teman pasti jadi bahan pembicaraan topik utama.


Latika dari tadi mondar-mandir di Rumah Keluarga mondar-mandir melihat jam sudah menunjuk angka 10:30. Latika menaiki anak tangga menemui mereka di Kamar Afriadi.


"Maaf semua, hari sudah malam. Abang mau istirahat," kata Latika.


"Oke. Paham kok," kata Pria di sebelah Qilan berpakaian kemeja kotak-kotak, namannya gilang profesi produser filem...


"Istirahat yang banyak ya Af. Kami pulang." Itu Pria berjemeja putih namanya Cacan, Dokter.


Afriadi meangguk, membalas tos dari 2 temsnnya yang lain.


"Kalian duluan saja aku mau bicara sebentar pada Afriadi," kata Hasan tidak ikut keluar, ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


Latika mengantarkan mereka semua keluar, sepanjang langkah temannya Afriadi mengajak Latika ngobrol basa-basilah sebelum sampai ke Mobil.


Tak lama Hasan keluar dilihatnya Latika dan Qilan saja lagi semua 4 sohibnya sudah pulang hanya tinggal Qilan sohib setia menunggu sebab tak ada kendaraan mau pulang, toh dia ke sini ikut Hasan mobilnya di bawa sama Adiknya.


Mereka bicara sebentar dengan Latika.


"Latika jaga Afriadi ya," kata Hasan.

__ADS_1


"Jangan bingung dengan sikapnya yang sedikit bawel saat sakit ini. Sikapnya memang seperti itu," sambung Qilan.


"Nanti kalau ada apa-apa hubungi kami.


Jangan segan," sambung Hasan.


Latika meangguk.


"Ya, itu saja. Kami pamit pulang." Hasan berjalan memasuki mobilnya di susul Qilan.


Setelah Hasan dan Qilan pergi Latika masuk membereskan gelas bekas tamu tadi.


Di lihatnya Afriadi terbaring menutup mata, tangannya bergerak memainkan ibu jarinya.


Latika melanjutkan membereskan, gelas yang kotor di bawa ke dapur untuk di bersihkan


Meja di ruangan Afriadi penuh dengan buah-buahan dan oleh-oleh yang kebetulan ada temannya yang baru pulang dari luar negeri.


Ketika Latika kembali Afriadi sudah tertidur. Latika memeriksa lagi suhu badan Afriadi.


"Hem... Kok masih panas."


Ia sigap mengkompres Afriadi.


Karena lelah seharian Latika bekerja, dan mengurus Afriadi, ia terduduk di lantai yang dingin samping Afriadi, kepalanya tumbang tempat di tempat tidur, tertidur.


Malam hari Afriadi terbangun tangannya tidak sengaja tersentuh kepala Latika.


"Eh..."


"Em..." Pandangannya kabur, melihat siapa yang tidur di bawah, melihat dengan teliti, "Adek."


"Kenapa di sini? Tunggu, jadi setiap malam ia di sini temaniku."


Ia meingat kembali sosok yang kemarin merawatnya malam-malam, tak lain lagi ialah Latika.


Malam yang sepi dan dingin.


Afriadi mengamati Latika. Cahaya lampu tidur lembut membelainya.


Selintas ia teringat dengan pesan Viana kemarin.


"Wanita itu jika sudah menyukai atau mencintai 1 ya 1 itu yang ia sayangi, tidak ada yang lain lagi, mau setampan apapun pria yang menembak dia pasti yang sudah halal lebih tampan lagi."


Sekarang Afriadi baru sadar selama ini Latika menjauh tapi tetap mencintai dirinya.


Sekarang baru ia tahu kalau Latika tetap memperhataikannya, buktinya saja saat ia sakit Latika selalu ada di sampingnya merawatnya.


"Bodohnya aku, kenapa aku baru sadar sekarang?" Afriadi memukuli kepalanya beberapa kali sampai sakit itu kepala, kesal dengan dirinya sendiri.


Lelah ia memukuli dirinya, melihat Latika matanya sudah berkaca-kaca, gemetar tangannya membelai kepala Latika, hatinya berkata, "Adek pasti lelah. Abang merepotkanmu, dek. Selama beberapa hari ini Adek di sisi Abang. Adek masih sayang dengan Abang. Maaf dek, Abang salah paham dengan Adek."


Rasa-rasanya Afriadi ingin menagis tapi ia tahan air mata itu, ia hanya bisa menangis di hati.


Karena suhu di ruangan yang dingin di tambah lagi udara malam yang dingin membuat Latika kedinginan


"Em..." Tangan Afriadi berpingah menyentuh pipi Latika, "Dingin."


"Dek... Dek...," panggil Afriadi pelan serentak dengan tangannya menepuk pelan pipi Latika membangunkannya.


"Emmm.. A~da a~pa B~ang." Latika terbangun kepalanya terangkat, mengucak mata nyawa masih belum terkumpul kesadaran pun masih belum kembali total.


"Sini naik. Dingin di bawah."


Afriadi bergeser menepuk-nepuk tempat tidur.


Latika yang belum sadar total nurut saja. Ia naik, mendekat baring di dekat Afriadi bukanya menjauh dari Afriadi malah mendekatinya mencari sunber panas, Afriadi menatap wajah Latika yang kembali tertidur.


Afriadi melepas kompersnya.


Menarik selimut menyelimuti Latika, tapi Latika masih kedinginan.


Afriadi memeluknya suhu tubuhnya membantu menghangatkan, tangannya mengusap-usap kepala Latika membuatnya nyaman, dan...


Cup...

__ADS_1


Kecupan manis di kening Latika. Tampa ragu-ragu Afriadi melakukannya.


Senyum kecil tergambar di bibir Latika, sepertinya ia mimpi indah.


__ADS_2