
Langit sudah gelap.
Latika dan Afriadi berkunjung ke rumah Bik Ipah yang tak jauh dari rumahnya. Di sana mereka berdua disambut meriah, bahkan tetangga sebelah pada pergi ke rumah Bik Ipah untuk melihat Latika dan Afriadi.
"Beningnya awak ni," puji salah seorang tetangga Bik Ipah.
"Iyalah, untung nya Afriadi dapat istri kayak awak ni," sambung yang lainnya.
"Lawa pulak tu," sambung yang lainnya dengan bahasa Melayu.
Latika hanya tersenyum membalas pujian mereka.
Lama sangat mereka berkisah soal orang dulu yang nikah muda sampai terbawa masalah gaib. Apa hubungannya coba? Dari soal pernikahan larinya sampai ke gaib. Emang ya kalau sudah bercerita suka melayang kemana-mana.
Bulu kuduk Latika berdiri saat dengar kisah horor dari tetangga. Rasa takutnya itu sampai terbawa ke rumah, saat pulang saja ia memeluk lengan Afriadi erat sangking takutnya.
Lepas sholat isya' mereka nonton TV bersama, di rumah hanya mereka berdua para pengurus rumah sudah pada pulang. Latika masih nempel sama Afriadi, yang ditempeli makin suka.
Saat lagi asyik-asyiknya nonton Tv.
Dup...
Tiba-tiba mati lampunya.
"KYAAAA!" Latika menjerit ketakutan, semakin erat memeluk lengan Afriadi, yang dipeluk terkekeh-kekeh mengambil hp menyalakan senter.
"Yuk, cari lilin." Afriadi berdiri mengajak istrinya yang penakut ini. Latika mengguntili Afriadi.
Setelah mengeledah semua lemari dan laci yang ada di rumah, mereka menemukan lilin yang sudah bertempat. Mereka membawa beberapa lilin dan korek api ke kamar.
Latika duduk di ranjang melihat suaminya menyalakan lilin meletakkannya pada tempat yang tepat. Sekejap Latika terpesona dengan wajah Afriadi yang terpapar cahaya lilin.
Dikamar berdua dengan cahaya gemerlap lilin. Sungguh suasana yang romantis.
Jantung Latika berdebar kencang saat Afriadi menaiki ranjang.
"Lah, apa yang kita tunggu lagi?" tanya Afriadi membuat Latika salah tingkah, dia kira Afriadi minta jatah.
"A-apa?" tanya Latika gagap.
Alis Afriadi terangkat, senyumnya miring, "Tunggu apa lagi. Adek jaga lilin, kita ngepet." Afriadi meledek.
"Issss.. Apalah Abang ni." Latika mencubit lengan Afriadi.
"Hihihi... Dah lah, tidur lagi. Besok banyak aktivitas." Afriadi merebahkan dirinya, Latika menarik selimut ikut merebahkan diri di samping Afriadi.
"Kenapa Dek dari tadi nempel terus? Takut ya?" Tak sempat Latika menjawab Afriadi memeluknya, "Tak perlu takut Abang ada di sini."
"Tidurlah, jangan lupa baca do'a."
Perlahan Afriadi mengusap kepala Latika yang tak terbungkus jilbab.
__ADS_1
Merasa nyaman dengan belaian Afriadi, perlahan Latika berlabuh ke negri mimpi.
***
Besoknya Latika dan Afriadi pergi ke pesta pengantinan. Mereka berdua jelas diundang, toh tuan tanah merupakan pekerja Afriadi.
Beruntung sekali Latika dapat undangan, ia bisa melihat aktraksi silat dari perwakilan kedua mempelai. Yang penting best lagi dapat makanan gratis banyak lagi tu macam-macam masakan yang dihidangkan.
Tak ketinggalan Afriadi dan Latika menyumbangkan lagu untuk pengantin, gara-gara permintaan dari pemilik tanah.
Lagi yang mereka bawakan berjudul
'Gurauan Berkasih'
Ehem... Ehem... Mereka menuai banyak pujian dan tepuk tangan dari para tamu undangan.
***
Ckrek... Ckrek...
Latika mengambil gambar dengan kamera, mengambil gambar persawahan.
Iseng ia mengambil suaminya yang tengah bicara dengan suami Bik Ipah.
Selesai ambil gambar, Sari menuntun Latika mengenal padi, ia diajak keliling sawah melihat para petani bekerja. Sambil berjalan Sari menjelaskan.
Dreeet... Dreeet...
Cepat Sari mengeluarkan ponselnya, lihat siapa yang nelpon.
Sari membatu lihat nama kontak yang masuk.
Latika melihatnya heran, penasaran panggilan tak diterima sari, akhirnya dia bertindak menerima panggilan.
Sari menatap Latika kaget.
"Ada telpon dari Samsul kenapa tak diangkat? Mana tahu itu penting," kata Latika berlalu pergi tanpa ada rasa bersalah dalam dirinya.
"Assalamu'alaikum." Sari membuka pembicaraan.
"Wa-wa'alaikumssalam." Terdengar suara gagap Samsul.
"Ada apa mas?"
"A-anu, g-gula letak dimana?" Samsul balik tanya.
"Gula?" Sari bingung bukanya gula ditaruh tempat biasa, "Adalah tak, ditempat biasa."
"Hehehe... Iya, sudah nampak."
Sebenarnya gula sudah ada di samping Samsul dari tadi, dia hanya beralasan saja agar dapat dengar suara Sari. Dari semalam ia mau nelpon Sari, cuman dia malu nak nelpon.
__ADS_1
"Dah, gitu aja."
Samsul mau menutup telepon tiba-tiba Sari menghentikannya, "Tunggu mas Samsul. A.. Jaga diri baik-baik di sana, kalau merasa kesepian atau ada masalah jangan segan untuk telepon."
Tak ada jawaban dari Samsul.
Bagaimana Samsul mau jawab, mulutnya bungkam dengan wajah yang memerah sempurna.
"Mas Samsul?"
"Assalamualaikum."
Tut...
Samsul memutus panggilan.
"Wa'alaikumssalam," jawab Sari tak bersemangat. Ia bingung kenapa Samsul cepat kali mengakhiri panggilan.
Samsul terduduk dilantai, mengatur nafas sekalian menenangkan jantungnya, batinnya bergumam, "Gusti, jantung ini selalu berdetak kencang setiap dengar suaranya, kalau begini terus aku bisa mati. Namun, hati ini menginginkannya."
Hari ini Afriadi sibuk melihat perkembangan perkebunannya. Latika ditemani Sari melihat budaya dikampung ini, ia sempat ikut menari sama anak-anak yang lagi menari.
Besoknya.
"Kita nak kemana bang?" tanya Latika, mengikuti langkah Afriadi dari belakang.
"Adalah, ikut aje." Afriadi menarik tangan Latika menggandengnya, "Hati-hati melangkah, licin."
Latika mengikuti kata Afriadi, ia melangkah dengan hati-hati melewati jalan setapak di hutan.
Tak lama perjalanan.
Mereka sampai ditempat tujuan.
"Waw, subhanallah." Mulut Latika ternganga lebar, memuji Tuhan atas ciptaannya, "Air terjun."
Afriadi menjatuhkan tas, membuka bajunya dan...
Byur...
Terjun kedalam air.
Afriadi asik bermain di air, sedangkan Latika duduk di batu sambil kakinya memainkan air.
Afriadi jahil menciptakan air ke Latika.
Tak mau kalah Latika menciptakan air padanya. Aksi simbur menyimbur tak terelakan lagi.
Basah juga akhirnya Latika, tadi mengelak tak mau basah.
Setelah puas bermain di sekitar air terjun mereka makan siang. Makan di alam terbuka sungguh nikmat.
__ADS_1
Lepas tengah hari mereka kembali ke desa.