
Afriadi terbangun dari tidur melihat Latika ada di sampingnya, matanya terlalu berat untuk dibuka, napasnya panas membuatnya tidak sanggup untuk melihat lagi, ia menutup kembali matanya merasakan dingin di keningnya dan rasa perhatian.
Malam itu Latika menemani Afriadi, ia menjaga Afriadi, menganti kompres Afriadi.
Malam hari Afriadi terbangun, pandangannya kabur melihat Latika terjaga, Afriadi tidak kuat mengakat matanya terlalu berat akhrinya menutup kembali.
Subuh...
Ketika azan subuh berkumandan di Masjid Latika sudah terbangun, ia mengoyang tubuh Afriadi membangunkannya untuk sholat subuh.
Afriadi terbangun, sayu-sayu matanya menatap Latika perlahan ia bangun ketika bangun pandangannya berputar, hampir saja ia terjatuh untung Latika menangkpanya.
Dug...
Berdebar jantung Afriadi, apa jadinya dirinya jika tak ada Latika.
Latika membantu Afriadi memapahnya ke kamar mandi
Ketika sampai di kamar mandi Afriadi terdiam menatap Latika yang masih di sana, dari pandangannya meminta Latika untuk pergi.
"Ada apa?" Latika membalas menatapnya.
"Apa kau akan tetap di sini?"
Suara serak itu terdengar datar. Afriadi mau membuka bajunya
"Egh." Wajah Latika bersemu merah, bergegas keluar, menutup pintu.
Wajahnya masih merah bersandar di pintu.
"Jika ada apa-apa panggil saja," kata Latika suaranya terdengar di balik pintu, Afriadi tersenyum menggeleng.
5 menit Latika menunggu.
7 menit Latika menunggu.
"Lamanya." Latika mondar-mandir tak jelas.
"Egh, jangan-jangan terjadi apa-apa di dalam."
Latika mulai membayangkan bukan-bukan mengenai Afriadi dari dia terpeleset, terbentur, sampai pingsan.
Cepat ia membuka pintu, karena khawatir tadi.
"Apa kau tidak apa-aaaaa..."
Panjang A Latika melihat Afriadi di depannya. Afriadi kaget, matanya membulat sempurna melihat Latika.
Tuk... Sabun terjatuh.
Hening sesaat.
Blluuss...
Seketika wajah Latika memerah melihat Afriadi mandi. Begitu juga Afriadi cepat menutup dirinya dengan handuk.
"Kyaaaa..." Hati Latika menjerit, berbalik menutup matanya
Baakk...
Cepat Latika menutup kembali pintu, ia lari dari sana.
Teriak dalam hati sekeras-kerasnya menyesal membuka pintu.
__ADS_1
***
Selepas sholat subuh, Afriadi merasakan ada yang aneh dengan dirinya.
Kepalanya tambah pusing, badannya terasa panas.
"Egh. Allahu Akbar." Afriadi kembali baring.
Matanya tertutup. Ia dapat merasakan nafasnya panas dan suhu badannya menaik.
Tidak lama Latika datang membawa bubur yang ia masak.
Sebenarnya ia masih malu untuk menampakkan dirinya, di depan Afriadi gara-gara tadi.
"Abang. Bangun, makan dulu," kata Latika meletakkan bubur di atas meja duduk di tepi tempat tidur,
Kalian sadar gak? Latika meubah panggilannya dari memanggil Afriadi kau, kamu, dia dan nama sekarang dirubah lagi dengan panggilan sayang mereka, Abang.
Afriadi langsung melek mendengar Latika memanggilnya Abang, sudah berapa bulan ia tidak memanggilnya dengan panggilan sayang itu dan sudah berpa bulan juga Afriadi tidak memanggilnya Adek.
"Tidak..." Afriadi menggeleng pandangannya tak lari dari Latika.
"Hasuuuh... Uhuk..." Afriadi mencoba bangun dibantu Latika.
"Makanlah, satu suap saja." Latika meambil bubur tersebut meaduk-aduknya.
Afriadi menggeleng gak mau, ia tak ada selera makan.
"Isi perut Abang, perut Abang kosong," pujuk Latika dengan nada suara lembut.
"Nanti saja." Suara Afriadi benar-benar berubah, serak hampir hilang.
"Sekali saja." Latika sedikit memaksa mearahkan sendok ke depan mulut Afriadi.
"Sudah dari malam tadi Abang tidak makan, setidaknya makan walaupun sedikit. Makan ya." Latika memaksa.
"Hasuuuh... Uhuk..."
"Nanti semakin parah sedikit saja," pujuk Latika, memaksang wajah sedih menyodorkan sedok berisi makanan pada Afriadi, "Aaa..." Mulutnya ikut terbuka.
Afriadi menghela nafas membuka mulutnya.
"Hwek.."
Baru beberapa suap Afriadi makan sudah muntahkan kembali, Latika sampai terkena sedikit.
Latika memberikan air minum kepada Afriadi, meambil tisu membersihkan mulut Afriadi.
Afriadi kembali baring ia tidak sanggup membuka matanya.
Kepalanya berputar terus.
Latika cepat membereskan bekas muntahan itu.
Jam 07:00 pagi Bu Kost hari ini tidak bisa datang sebab saudaranya sakit dan masuk rumah sakit.
Melihat keadaan Afriadi yang parah Latika memutuskan untuk tidak sekolah. Afriadi diminta untuk pergi ke Rumah Sakit saja tapi ia tak mau, terpaksa
Samsul Latika suruh untuk memanggil Dokter. Berat hati Samsul untuk menggalkan Rumah takut ada yang datang menyerang orang Rumah.
Samsul ingin pergi membuka Pintu Utama, mereka berdua kaget Viana ada di sana ingin menekan bel Rumah.
"Kak Viana." Latika kaget tak habis pikir kenapa Viana bisa ada di sini.
__ADS_1
Bukan karena kebetulan Viana datang, ia datang setelah dapat kabar dari Samsu, pagi tadi Viana memelpon telpon Rumah dan Samsul yang meangkat telpon Rumah jadinya Viana tahu setelah Samsul cerita singkat di telpon.
"Latika kenapa tak bilang sama Kakak..." Viana menguncang kuat tubuh Latika.
Latika menatap Samsul yang di tatap menyengir.
"Saya permisi ya."
"Tunggu," cegah Viana, "Kamu mau ke mana?"
"Panggil Dokter."
"Oh, ya sudah pergi sana cepat."
Cemberut Samsul lihat sikap Viana, ia pergi meninggalkan Rumah memanggil Dokter.
***
Afriadi di periksa dokter.
Latika dan Viana menunggu di luar.
"Latika sejak kapan dia seperti itu?"
"Em... Semalam kak."
"Bagimana bisa?"
"Beberapa hari ini ia sering pulang kehujanan, dan lagi semalam ia tidak terkendali."
"Apa maksudmu?"
"Dia sedikit agresif. Em, kata mas Samsul harus hati-hati dia bisa berbuat apa saja."
"Kenpa dia bisa seperti itu?"
"Entahlah kak. Sehabis pulang mengajar Kina ia sudah seperti itu."
"Siapa Kina?"
"Em... Dia... Em, tetangga Kak."
Batin Viana curiga, "Wah... Jangan-jangan dia melakukan sesuatu kepada Afriadi. Dari ekpresi Latika ia seakan takut pada yang namanya Kina. Kina siapa dia?
Berani-berani ia menganggu Adik iparku yang comel ini. Harus cari tahu ini."
Tak lama Dokter keluar menjelaskan pada Afriadi sakit apa, hanya demam tinggi saja di sertai batuk filek dan Dokter itu memberi tahu Afriadi kurang istirahat ia kesulitan tidur terlalu banyak pikiran... Panjang kali lebar Dokter itu menjelaskan. Dokter itu memberi resep, Viana yang meambil resep itu sekalian antar dokter lalu beli obat.
Latika di Rumah membersihkan Rumah. Sebentar-sebentar ia melihat ke adaan Afriadi.
Setelah Viana membelikan obat, ia bicara dengan Latika sebentar sebelum pergi.
"Latika jaga dia. Rawat dia ya, jangan kau tinggalkan dia Aku tahu dia itu sudah tua bangka pakai banget lagi dan kau masih muda kau bisa meraih apa yang kau mau, tapi aku mohon jangan tinggalkan dia demi kepentingan pribadimu, dia membutuhkanmu. Kau dengarkan apa kata Dokter tadi?"
Latika meangguk, tanpa di bilang pun Latika tak akan meninggalkan Afriadi dalam kondisi apa pun.
"Nanti kalau ada apa-apa jangan segan untuk memanggil kakak. Paggil saja. Oke."
"Oke, kak. Maaf kak, sudah merepotkan." Nada suara Latika semakin ke ujung semakin merendah
"Tidak apa-apa. Aku senang kok. Pergi dulu ya." Viana masuk Ke Mobilnya.
Latika melambaikan tanggan, kembali masuk ke dalam.
__ADS_1