Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
5 Tahun yang Lalu 2


__ADS_3

Malam yang panjang sudah berlalu. Kini matahari kembali terbit dari upuk timur.


Ayam berkokok, membangunkan manusia yang terlelap tidur.


Tanggal 5 Mei 20XX.


Afriadi dan orang tuanya melaksanakan sholat subuh berjama’ah.


Afriadi tidak tahu kalau itu adalah sholat terakhir berjama’ah bersama orang tuanya.


Sebelum sholat Riandi, meminta Afriadi untuk menjadi imam, ia ingin melihat anaknya jadi imam.


Afriadi tidak menolak, dan langsung maju mengantikan posisi Papanya.


Mereka melaksanakan sholat berjama’ah.


Setelah mereka sholat mama Afriadi turun ke dapur membantu Bik Ipah memasak makanan, sedangkan Papa dan anak itu, lagi sibuk dengan urusan mereka masing - masing.


Beberapa jam kemudian, Afriadi mengantar orang tua ke terminal


saat sampai di sana sanak saudara, keluarga besarnya berkumpul.


Ariqah keluar dari mobil menyalami mertuanya, Riandi memeluk orang tuanya, Afriadi juga ikut menyalami Kakek dan Neneknya.


Sambil menunggu waktu keberangkatan Afriadi sempat berbicara dengan keluanga besar itu. Berbincang dengan Zawa Adiknya Riandi Bibi Afriadi dan bersama keluarga, kerabat Mamanya dari kampung. Seperti yang di samping Afriadi sebelah kiri orangnya yang kurus tinggi itu bernama Habi paman Afiqah, dari tadi ia berbicara terus menceritakan kisahnya yang luar biasa kepada Afriadi, Afriadi menikmati ceritanya. Ia suka mendengarkan cerita hebat


Dan tak lupa ia mengajak nenek dan kakeknya bicara neneknya mencium pipi cucunya itu, mendo'akan dia. Mereka tahu kalau Afriadi tidak ikut, karena urusan kuliahnya.


Saat tiba waktu keberangkatan, Afiqah terus memeluk erat anaknya itu, baginya Afriadi itu masih anak kecil, rasa khawatir timbul tak tega untuk meninggalkannya.


Riandi juga memeluk anaknya itu, menepuk-nepuk bahu anaknya pergi melangkah masuk bus, langkahnya terhenti, perasaannya mulai tidak enak, tapi istrinya mengajaknya masuk. Ketika sudah berada di dalam mereka melihat anaknya yang melambaikan tangan dengan senyuman yang manis.


Bus berangkat, lambaian tangan yang banyak terlihat di kaca masing - masing bus, yang melambai untuk afriadi.


Afriadi membalas juga dengan lambaian serta rersenyum melepas kepergian mereka.


Setelah Bus jauh berjalan, Afriadi meninggalkan terminal pergi kuliah.


Ada kesalahan fatal saat itu, keadaan bus tidak di periksa lagi sebelum keberangkatan.


Cuaca tidak mendukung kepergian mereka, hujan turun dengan lebatnya, jalanan semakin licin dibuatnya, awalnya kelihatan lancar - lancar saja, Bus nomor 2 berada di belekng Bus nomor 1, sedangkan Bus nomor 3 ini tertinggal jauh dari Bus nomor 1 dan 2. Bus nomor 3 ini melaju secepat mungkin mengejar Bus nomor 1 dan 2.


Ketika bus nomor 1 dan 2 melewati jalan yang curam dan licin, saat ingin berbelok di tikungan yang tajam,


tiba - tiba saja Bus yang ada di depan itu mengila, entah apa penyebabnya.


Teriakan histeris penumpang Bus, dan untung sopir Busnya menginjak rem dengan cepat.


Citttttttt.... Bus berhenti pas di dekat bibir jurang, roda belakang tergelincir ke dalam jurang membuat Bus sulit untuk bergerak ditambah lagi dengan jalan yang licin mempersulit Bus untuk bergerak. Bus nomor 2 berhenti,


anak - anak yang ada di dalam Bus nomor 2 itu tidak tahu apa yang terjadi.


tiba - tiba Bus nomor 3 ini datang melaju dengan cepat, karena ingin mengejar tadi, saat melihat Bus nomor 2 dan 1 berhenti. Sopir Bus keget, kakinya reflek menginjak rem tapi remnya blong, Busnya tidak bisa berhenti, melaju dengan kecepatan yang tinggi. Sopir Bus tak kehabisan akal mesin di matikannya, kecepatan Bus berkurang namun itu tak berguna bus nonor 3 keburu menabrak Bus yang ada di depan sebelum Bus berhenti.


AAAAAAAAAAAAA.....


Terikan histeris penunpang bus.

__ADS_1


Mamanya Afriadi sempat berteriak memanggil nama anaknya. AFRIADIIIIIIIIII....


Teriakan itu sampai kepada Afriadi yang berada di perpustakaan, suara yang samar-samar terdengar di telinganya ia yang berada jauh mamanya, merasakan getaran batin yang kuat membuat jantungnya terkejut, bergetar, dan perasaan cemas melanda dirinya pikirannya terus terbayang keluargannya, terutama ibunya.


BRAAAKKKK....


Tabrakan yang keras pun terjadi, ketiga Bus tersebut jatuh kejurang, berguling - guling menghantam pohon.


BAARRR.... DARRRR..... DARRRR....


Bus berhenti berguling, sebahagian penumpang tidak sadarkan diri sedangkan penumpang lainnya yang setengah sadar mencoba keluar dari Bus.


Tiba - tiba saja


terdengar suara ledakan.


BUMMMM.... Bus nomor 2 meledak disusul Bus nomor 1 dan 3.


Semua penumpang yang ada di sana tewas, tidak ada satu pun yang hidup, termasuk orang yang di cintai Afriadi papa dan mamanya.


Keluarga besar Afriadi tewas semua di sana, tidak ada lagi kerabatnya yang tersisa.


Rencana mereka yang awalnya ingin reuni tapi, Allah mempunyai rencana sendiri.


Hujan turun dengan lebat disertai petir yang menyambar dengan galaknya.


Berjam demi jam berlalu, Afriadi yang tidak mengetahui kecelakaan yang menimpa keluarga besarnya, pulang ke rumah, sekitar jam 3 sore.


Ketika sampai di rumah, Afriadi masuk ke kamarnya. Di lihatnya ponselnya yang berada di atas meja kecil sebelah tempat tidur.


"Ini dia. Pantas saja ada kurang seharian ini, ternyata dia ada di sini."


tangannya ingin mengambil ponsel tapi teralihkan dengan foto keluarganya ia mengambil foto duduk di kursi memegang foto orang tuannya.


"Agh... Kenapa perasaanku tidak enak ya? Dari tadi sudah." Afriadi menghela nafas pendek melihat langit-langit kamar, pikirannya terbayang lagi akan keluarga besarnya.


Tap... Tap...


Langkah kaki bergema di langit-langit rumah, langkah kaki yang cepat berlari menaiki anak tangga.


Tokkk... Tokkk....


Ketukan pintu yang keras, mengagetkan Afriadi. Iya tahu kalau itu Bik Ipah, di rumah hanya ada dia dan Mang Juneb ada di depan, "Masuk Bik pintunya tidak dikunci."


Kreeet...


Bik Ipah membuka pintu berlari kecil menuju Afriadi, nafasnya yang tidak beraturan memanggil Afriadi, "Den... Den... Den..."


Em... Afriadi menoleh melihat wajah Bik ipah yang panik, "Ada apa Bik, panik amat?," tanya Afriadi tersenyum kecil berguarau.


"Den... Tuan dan Nyonya, Den..." Bik Ipah kesulitan bicara, sejenak ia berhenti mengatur nafasnya.


"Iya... Saya tahu, Mama dan Papa lagi reuni bareng keluarga." Afriadi menyeriangai, menatap kembali foto orang tuanya.


"Bukan den." Wajah bik Ipah kelihatan panik sekali, suaranya bergemetar. Air mata yang tak sanggup ia tahan lagi meneteskan membasahi pipinya.


"Bukan apa Bik?." Afriadi berseru menoleh ke belakang, melihat Bik Ipah menangis, "Kenapa menangis Bik?."

__ADS_1


"T-tuan dan N-nyonya k-kecelakaan den..." Rasa sesak di dada membuat Bik Ipah sussah bicara, memberitahu Afriadi.


Mendengar kata Bik Ipah, sontak Afriadi terkejut, foto yang ada di tangannya terlepas terhempas ke lantai, tangannya bergemetar. Jantungnya berdetak kencang, bangkit dari tempat duduk, pikirannya sudah lari mengingat orang tuanya. Ia berlari keluar rumah, menghampiri mobil dan langsung pergi ke tempat kejadian, tempat yang Bik Ipah katakan, selama perjalanan air matanya keluar membasahi pipinya, pikiranya terbayang kebersamaan dengan mama dan papanya,


Karena tidak fokus Afriadi hampir saja mengalami kecelakaan.


Tetttt.... Klakson mobil di hadapannya berbunyi nyaring, Afriadi salah masuk jalur. Cepat ia membutar kemudinya menghindari mobil itu masuk ke jalurnya, Afriadi terus menambah kecepatan mobilnya.


Ketika sampai di tempat kejadian, wartawan, polisi dan tim evakuasi sudah ada di sana, garis kuning polisi sudah ada di sana mengelilingi lokasi kejadian, mayat - mayat telah dievakuasi.


Afriadi yang melihat itu, langsung menerobos masuk garis polisi, awalnya Afriadi sempat dicegat oleh polisi, tapi dengan tenang ia mengaku kalau dia adalah keluarga korban, polisi pun langsung mengizinkan Afriadi masuk.


Afriadi berjalan mengitari mayat mayat yang ada di sekitarnya, wajah - wajah ini, wajah yang baru saja di lihat, wajah yang baru saja melambaikan tangan, wajah yang baru saja berkenalan, yang baru saja diajak bicara,


tapi sekarang wajah ini berlumuran darah, terbakar, hanya menahan air matanya melihat mayat keluarganya terbaring kaku di tanah.


Afriadi tidak bisa menahan lagi air matannya, tangis pecah setelah melihat mayat orang tuanya berada di hadapanya. Ia bertekuk lutut di depan raga orang tuanya yang tak berdaya, kaku. Tubuh dan tangan Afriadi bergetar menyentuh pipi yang berlumuran darah, perasaan baru saja semalam ia menghabiskan waktu bersama, bercanda.


pendengarannya seakan tak berfungsi, tak mendengar lagi keributan wartawan dan bermacam-macam suara yang ada di sekitarnya, yang ia dengar hanya suara samar orang tuanya memenuhi telinganya. Memori kenangan terbuka berhamburan memenuhi otaknya, memutar satu persatu kenangan ia bersama orang tuanya.


"Ma... Pa... Ini Afriadi. Bangun Ma... Bangun Pa..."


DAAAR...


Petir menyambar galak di langit disertai guntur.


Hujan terus turun membungkus kesedihan dan duka Afriadi.


***


Esoknya, semua mayat keluarga besar Afriadi sudah di kuburkan. Afriadi masih duduk termenung melihat tempat peristirahatan Mama dan Papanya. Orang yang selalu berada di sisinya sudah pergi untuk selamanya. Warga satu persatu bubar. Sebelum Pak Imam menasehati Afriadi, sulit baginya menerima nasehat dalam keadaan yang seperti ini.


"Tuan ayo pulang. Biarkan Mama dan Papa Tuan istirahat dengan tenang," suara Bik Ipah yang bergemetar habis menangis.


Afriadi mengikuti perkataan Bik Ipah, dengan lesuh ia melangkah pulang, meninggalkan makam orang tuanya.


Mang Juneb membawa mobil, ia tidak memberikan Afriadi membawa mobil dengan keadaan sekarang takutnya nanti akan terjadi kecelakaan, jadinya Mang Juneb yang membawa mobil.


Sesampainya di rumah Afriadi tidak bicara sepatah kata pun kejadian itu benar - benar memukul hatinya sampai hancur, bukan hanya kehilangan mama dan papa, Afriadi juga kehilangan keluarga besarnya, sekarang ia tak punya kerabat lagi. Begitu besar cobaan yang ia terima.


Berhari - hari Afriadi mengurung diri di kamar. Bik Ipah yang cemas akan sikapnya itu mulai menasehati, dengan bantuan seorang wanita temannya Afriadi namanya Naila gadis berparas cantik jelita. Dia selalu menemani Afriadi mengajaknya bicara walau selalu diacuhkan, pelan-pelan mereka menasehati. Afriadi tidak mungkin mau menerima nasehat dari mereka dalam keadaan yang seperti itu, jika sudah seperti itu nasehat seperti apapun tidak akan ia terima.


Setelah beberapa hari di lewati.


Afriadi tetap sama saja. Mungkin butuh waktu lama untuk melepaskan orang yang disayanginya itu.


Sekarang hanya Bik Ipah dan Mang Juneb yang menemani Afriadi di Rumah.


Satu bulan berlalu Afriadi sudah mulai mengiklaskan mereka semua pergi, selama satu berbulan bulan Naila sering berkunjung melihat keadaannya dan memberi warna kembali di hidupnya.


Selama itu Afriadi menaruh rasa padanya, mulai ada rasa di antara mereka. Ketika mereka saling mengetahui kalau mereka saling menyukai satu sama lain. Dan Afriadi mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.


Namun sayangnya mereka tidak berjodoh, tepatnya seminggu sebelum pernikahan. Naila sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan Afriadi. Ia meninggal karena kecelakaan jatuh dari atas gedung apartemennya, sempat di bawa ke Rumah sakit namun naas nyawa Naila tak tertolong.


Hatinya kembali hancur, ia harus melepas lagi orang yang paling ia sayangi yang selalu ada di sampingnya saat ia susah dan senang, yang memberi warna dalam hidupnya.


Kini sudah pergi meninggalkan ia selamanya.

__ADS_1


Hari-hari yang berwarna kembali buram, sifat Afriadi berubah menjadi pendiam dan pemurung. Sifatnya yang dulu ia kubur dalam-dalam sampai satu hari nanti akan ada yang mengembalikan sifatnya.


Itulah kejadian masa lalu Afriadi yang masih membekas di ingatannya, kajadian 5 tahun yang lalu yang menewaskan orang tuanya beserta keluarga besarnya dan kekasihnya.


__ADS_2