Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Drama


__ADS_3

"Hah... Betul Bu."


"Wah... Horee..."


"Wah..."


Satu kelas heboh mendapat kabar gembira, dari Ibu Laila.


"Seriusan Bu?"


Salah seorang siswi kelas 11 IPA A bertanya.


Laila menjawab ikut gembir juga, "Em... Insaallah."


"Yes... Aku akan mendapatkan peran utama."


"Ye... Mimpi kau."


"Hoh... Aku akan dapatkan peran utama."


Guma setiap Siswa Siswi mereka ingin sekali mendapat tokoh pemeran utama laki-laki dan Perempuan dalam drama.


Ya, kabar gembira dari Bu Laila ialah, kelas 11 IPA A akan mengadakan drama untuk penilaian praktek Bahasa Indonesia.


"Baiklah, jumlah kalian banyak, Ibu bagi kalian jadi 2 kelompok Putri Salju dan Cenderela, cerita favorit Ibu. Ini sudah ada 2 gelas untuk laki-laki dan perempuan, di dalam gelas ini sudah ada nama peran yang akan kalian mainkan...," kata Laila.


"Oke Bu," seru semua murid 11 IPA A.


Bu Laila Membuat nama kelompok dan garis membentuk kotak di papan tulis, di kotak itu akan di tulis nama-nama murid, seluruh murid kelas 11 A disuruh maju mengambil kertas dari dalam gelas yang sudah disediakan di meja depan.


Baru saja disuruh, langsung di serbu berebutan mengambil kertas dalam gelas tersebut.


"WOY... MINGGIR AKU MAU CABUT JUGA."


"AIR PANAS... AIR PANAS... AWAS AIR PANAS MAU LEWAT."


"TEPI... TEPI... GILIRAN SAYA LAGI."


"TEPI WOY... KAMI MAU CABUT JUGA."


Teriak Siswa Siswi berebut pengen mencabut juga, saling senggol-menyenggol, mereka lupa kalau Bu Laila guru Kiler.


Dapat teguran maut dari Bu Laila, "TENAG ANAK-ANAK JANGAN BEREBUT."


Tegurab Bu Laila tidak di hiraukan mereka.


"WOY, JANGAN SENGOL-SENGOL..."


"OI, YANG SUDAH MINGGIIIIIRR.... KAMI MAU CABUT JUGA."


"WOY... JANGAN DORONG-DORONG..."


"ADUH... SESAKNYA...."


Suara teriakan para siswa siswi yang pecah tersebar ke mana-mana. Kelas-kelas di sebelah, bawah,dan atas mereka sampai terganggu dengan suara mereka.


Banyak Siswa Siswi bertanya-tanya.


"Kelas mana yang ribut itu?"


"Apa yang diributkan?"


"Hisss.. Kenapa ribut sih."


"Ada apa ya?"


"Apa yang terjadi?"


Kelas 11 IPA B yang merupakan tetangga kelas 11 IPA A juga terganggu. Para Siswa Siswi mengerutu terganggu, pas pula yang mengajar di kelas 11 IPA B Afriadi.


"Ributnya," guma Afriadi, menghentikan pelajaran. Ia keluar dari kelasnya, menuju kelas 11 IPA A.


Bukan Afriadi saja guru-guru yang lain juga keluar dari kelas mereka, melihat apa yang terjadi di kelas 11 IPA A. Kepala Siswa Siswi memenuhi jendela melihat guru mereka pergi.


Tak jauh guru mereka melangkah meninggalkan kelas, Siswa Siswi yang penasaran ke luar dari kelas menyusul guru mereka dari belakang.


Walau sudah di suruh kembali, mereka tetap bandel ikut melihat.


"TOLONG TERTIB ANAK-ANAK JANGAN DORONG MENDORONG NANTI JATUH..."


Teriakan Bu Laila tidak didengarkan mereka. Sepertinya Bu Laila dipecat jadi guru Kiler.


Latika dan Hadi berdiri di pintu menonton saja, apalah yang bisa mereka perbuat, mereka menunggu semuanya selesai atau ada peluang baru giliran mereka yang mencabut.


Latika menatap Hadi mengankat bahu, begitu juga Hadi.


"Aduh... Semakin kacau, Hadi lakukan sesuatu," perintah Latika pada Hadi.


Hadi menatap Latika malas, yang di tatap tersenyum lebar.


"Lakukan apa?" Hadi bertanya.


"Lakuakan apa saja, kau ketua kelas."


"Hem..." Hadi berpikir dua kali, tak sangka jawabannya, "Biarlah."


"Hiiiss..." Latika mendesis, melangkah maju mendekati kerumunan itu. mencoba untuk menerobos memisahkan mereka.


"Latika jangan bahaya, nati kau tersengol, dan...." Hadi mencegah Latika.


Namun Naas...


Tidak sempat Hadi menyelesaikan kata-katanya, matanya membulat melihat Latika sudah terdorong.


"Aaaaa..," teriak Latika menutup kedua matanya.


"LATIKA..."


Hadi bergerak gesit dari pintu menyambut Latika.


"Hap..." Latika berhasil ditangkap.


Tapi, bukan Hadi yang menyambut Latika.


Mendengar suara teriakan, semua mata menuju ke arah terikan.


"Hah... Latika." Temannya memanggil nama Latika, terkejut.


"Haa." Satu kelas tercengang melihat Latika bahkan Bu Laila pun ikut tercengang.

__ADS_1


Semua perhatian tertuju kepada Latika dan siapa yang menyabutnya.


"Kenapa kelas ini ri-buuut..." Sarif yang datang memerikas kelas 11 A, terdiri terkejut, tidak bisa memahami keadaan dan apa yang sedang ia lihat. Ia hanya diam dan melihat apa yang terjadi.


"Ada apa in-" Kamarudin datang, ia juga ikut terkejut, cepat menutup mulut agar tidak ceplos, "Hoop."


Begitu juga dengan guru yang lainnya datang, semua langsung tercengang.


Wajah satu persatu anak kelas lainya yang muncul di jendela dan pintu di belakang guru mereka, melihat keadaan di dalam. Mereka yang tak tahu awalnya dan kejadiannya bagaimana hanya tercengang melihat pemandangan yang langka itu..


Sebentar susana terasa hening, senyap.


Latika tidak berani membuka matanya. Ia masih takut, kira ia akan terjatuh. Semua berbisik.


Bisikan mereka terdengar samar di telinga Latika.


"Latika Kau tak apa-apakan?" Suaraa yang terdengar akrab di telinga Latika.


Latika memberanikan membuka matanya.


"Hah..." Matanya membulat sempurna melihat siapa yang menangkapnya, siapa lagi kalau bukan Afriadi.


Dia menangkap Latika, menahan tubuh Latika yang hampir terjatuh dengan kedua tangannya yang bertenger di pinggang Latika, kedua tangan Latika terjatuh berayun, mata mereka saling bertatapan. Jantung Latika bukan main berdetak kencang, lari dari sangkarnya menangkap getaran yang datang dari Afriadi. Wajah Latika memerah, pipi Afriadi merah bersemu.


"Wow...."Sorakan anak murid lainya, disusul dengan tepuk tangan yang meriah.


Plok... Plok... Plok...


Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka tahu hanya acting drama yang mereka baca di papan tulis 'DRAMA' mereka menyangka kalau Afriadi lagi memberikan contoh.


Guru-guru yang melihat juga ikut bertepuk tangan dalam pikiran mereka juga sama seperti itu


Acting mereka berdua bagaikan orang yang sudah propesional.


Latika melihat Hadi memasang ekpresi wajah sulit ditebak.


Afriadi segera melepaskan Latika.


"Latika kau tak apa-apa?," tanya Hadi, datang mendekati, membawanya duduk di kursi.


Latika meangguk, berjalan menuju tempat duduknya, "Ya, aku baik-baik saja."


"Sudah-sudah semua, semua bubar-bubar, masuk ke kelas masing-masing." Kamarudin membubarkan Siswa Siswi di bantu dengan para guru lainnya menyuruh Siswa Siswi kembali ke Kelas.


Setelah semua kembali ke kelas masing-masing dan tempat duduk masing-masing.


"Apa-apaan kalian ini, mendorong teman seperti itu, bahaya tahu.


Jika teman kalian terjatuh, lalu kenapa-kenapa bagaimana? Apa kalian mau bertangung jawab?..."


Afriadi menasehati semua murid yang ada di kelas.


Tidak lama Afriadi menasehati, Sarif datang lagi ikut menasehati, sepetinya Sarif menyadari kalau itu bukan acting tapi, kecelakaan.


Akhirnya nasehat panjang dari guru yang memenuhi kuping penghuni kelas 11 IPA A.


Selang beberapa menit kemudian setelah Afriadi dan Sarif menasehati Siswa Siswi, mereka pergi meninggalkan kelas 11 IPA A.


Saat meninggalkan sekilas Afriadi sempat melirik kearah Latika, ekspresinya kelihatan kesal sekali.


"Lagi apa dia?," gumanya dalam hati.


Tapan matanya yang tajam itu mengerikan sekali untuk di tatap matanya.


Hadi yang ada di sebelah Latika juga menatap Afriadi biasa-biasa saja. Hadi mengira Afriadi kesal gara-gara kejadian tadi, perkiraan Hadi salah besar.


Afriadi bukan hanya kesal gara-gara kejadian tadi, tapi lebih dari itu, ada perasaan di lubuk hatinya yang sakit, seperti di sayat-sayat. Melihat dia dekat dengan Latika.


Afriadi menghela nafas pergi meninggalkan kelas 11 IPA A.


"Huh..." Laila menghela nafas berat, ia tahu setelah ini apa yang akan terjadi padanya.


"Nah, ribut lagi, sedap kena marah.


Penghuni kelas hanya terdiam, tidak berkutik sedikit, "Dramanya di batalkan saja."


Laila kesal. Latika menyangka kalau


Laila susah diajak bicara maupun dipujuk kalau dia lagi marah kayak gini.


"Ala... Bu janganlah gitu."


"Ha'ah... Bu janganlah gitu.'


"Kami janji Bu kami tidak seperti itu lagi."


"Ha'ah... Bu, jarang-jarang kita melakukan ini. Semester tadi kelas sebelah Drama, kelas kami tak ada pun."


"Ayolah Bu, jangan dibatalkan.


Sudah lama kami menunggu ini."


Panjang lebar rayuan-rayuan yang diberikan mereka kepada Laila.


"Hah... Percuma kalau sudah begini, susahlah lagi," guma Laila pasrah dengan nasipnya setelah ini.


Oi, perasangka Latika salah besar.


Ternyata Laila temakan rayuan mereka.


Maknanya Laila mau melanjutkan Drama.


"Hah... Ya sudahlah.


Kita akan tetap melakuan Dramamya."


Kabar gembira dari Laila membuat semua anak murid berseru gembira,


"Hah... Semua sudah dapat kertasnya?"


"Sudah." Semua menjawab serempak kecuali Latika dan Hadi.


"Em... Tapi, kok masih tersisa 2, siapa yang belum cabut?," tanya Laila, melihat masih tersisa 1 kertas di masing-masing gelas.


Latika, dan Hadi mengangkat tangan, "Em... Kalian di sana saja, biar Ibu saja yang mencabutkan."


Latika dan Hadi mengangkat bahu.


Bu Laila mulai membuka kertas undian mereka.

__ADS_1


Wah... Hasilnya di luar perkiraan.


"Wah... Beruntung sekali," ucapan Bu Laila membuat satu kelas menjadi penasaran.


Meraka sibuk membuka memeriksa kertas mereka masing-masing.


Oh... Setelah mereka mengetahui peran mereka masing-masing, semua menjadi ruih, sibuk bertanya-tanya, ada yang bahagia dapat pemeran utama dari kelompok Cenderela. Tapi, pemeran kelompok Putri Salju belum diketahui. Itu yang membuat satu kelas riuh bertanya-tanya, menuduh-nuduh satu sama lain.


Sekejap insting mereka bekerja.


Mata mereka semua tertuju kepada Latika dan Hadi.


Salasiah menunjuk Latika dan Hadi,


"Bu... Apa-"


Belum selesai Salasiah menyelasaikan kalimatanya. Bu Laila sudah memotong perkataan Salasiah, "Ya... Benar sekali mereka berdua dapat peran utama dalam cerita putri salju. Selamat ya."


"Haaa..."


"Woow.."


Ekpresi terkejut satu kelas, memberikan tepuk tangan kepada mereka, sebahagian dari mereka iri kepada Latika dan Hadi karena dapat peran sedemikian rupa, peran yang di incar-incar, dan yang diinginkan semuanya


Senang hati Latika jadi pemeran utama dalam drama.


Teng tong...


Bel istirahat berbunyi.


Para guru keluar dari kelas di ikuti murid dari belakang mereka.


Di bagian lain Aftiadi menghentikan Laila masuk ke kantor guru, "Laila bisa bicara sebentar di kantor saya."


"Ya bisa." Laila meangguk, mengikuti Afriadi.


Sesampaunya di kantor.


Afriadi mempersilahkan Laila duduk. "Silahkan duduk."


Laila duduk di kursi seberang Afriadi, bertanya polos, "Ada apa ya Pak?"


"Hah... Bisa jelaskan kepada saya tenatang kejadian tadi." Afriadi menatap tajam Laila minta penjelasan.


"Sudah kuduga," guma Laila pelan, menundukan kepalanya.


Laila menjelaskan, "... Itu bukan disengaja Pak, Latika terjatuh terdorong oleh temanya..."


"Tak bisakah Ibu menertibkan, mereka, untung tadi tidak terjadi apa-apa pada Latika sempat terjadi apa-apa bagaimana?" Afriadi emosi atas kejadian tadi.


Laila panik, memainkan jempolanya, "Maaf Pak, saya sudah berusaha untuk menenagkan para siswa-"


"Anda tahu akibat dari keributan yang diperbuat tadi, kegiatan ajar mengajar jadi terganggu."


"Maaf Pak, saya tidak akan mengulainginya lagi."


Tidak lama kemuadian Raya datang, "Assalamu'alaikum..."


Jawab penghuni ruangan, "Wa'alaikumssalam..."


Raya masuk duduk di samping Laila, bertanya padanya, "Laila, apa benar yang dikatakan Ustadz Sarif dan Kamarudin, kalau dalam kegiatan ajar mengajar kau tadi ada masalah keributan?"


"Benar ayah." Laila tertunduk menjawab.


Selama jam istirahat Laila di ruangan Afriadi, mendengarkan nasehat dari 2 orang Pria.


★★★


waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah waktunya pulang.


Latika tidak pulang ke rumah dulu ia tinggal di sekolah ikut kegiatan. Katanya kalau pulang cukup menakan waktu.


Hadi juga tidak pulang, jadinya Latika ada teman. Hadi tidak pulang karena dia tidak mau mengantar Adiknya les.


Hari ini selama jam istirahat teman-teman Latika selalu di dekat Kina.


Latika ingin ngobrol saja tidak dibolehkan sama dia malah Kina membawa jauh-jauh teman Latika.


Hana sempat menolak, Nana juga, kalau Salasiah apa lagi, dialah yang paling kuat menolaknya.


Tapi, apalah daya, Kina seperti membisikan sesuatu kepada teman Latika, sampai mereka bertekuk lutut pada Kina. Kina dapat membawa mereka jauh dari Latika.


Kenapa Kina memilih mendekati teman Latika? Karena, di Kelas dia dijauhi teman sekelasnya. Maklum 11 IPA B Siswi-Siswinya kuran lebih kayak Kina, bohay dan bebas. namun sebebas-bebasnya mereka tidak seperti Kina pilih-pilih teman, hasilnya Kina di jauhi. Ada satu alasan lagi yang membuat dia dijauhi, katanya Kina itu menakutkan.


Jadinya Kina mendekati teman Latika yang sesuai dengan kriteria temannya, kaya. Kina kenal dengan Hana dan dia tahu banyak tentang Hana. Rupa-rupanya Kina dulu temanan dengan Hana waktu SD dan mereka tidak pernah bertemu lagi setelah Kina pindah sekolah. Kina punya senjata rahasia memaksa teman Latika jadi temannya.


Tapi, Kina tetap populer dikalangan erbanding para Siswa kelasnya, banyak banget yang mendekatinya kayak Artis di kerumuni fens.


Begitulah. Tapi, Latika tidak sendirian lagi Hadi ada di sisinya, dia mau bersama Latika


Kalau diingat-ingat dulu Latika dan Hadi tidak sedekat ini, mereka selalu saja bertengkar.


Hari ini setelah melakukan kegiatan, istirahat beberapa menit. Mereka duduk di bawah pohon depan kelas 10 IPA A. Bercerita masa lalu, kalau dikenang masa lalu itu, membuat mereka hanya tertawa terbahak-bahak saja mengenang tak percaya kalau dulu mereka seperti itu.


"Hahaha..." Mereka tertawa akrab.


Oi, Latika tidak menyadari sesuatu, ada orang di atas sana mengawasi mereka, di lantai 3 kelas 12 IPA A.


"Ternyata begitu..."


Waktu berlalu begitu saja. Waktu cepat sekali berlalu kayak kilat saja.


Sudah waktunya pulang dari kegiatan.


Semua Siswa Siswi yang ikut kegiatan pulang ke rumah masing-masing, seperti biasa Latika menunggu Mang Juneb di gerbang, dan seperti biasa pula Hadi menawarkan tumpangan pada Latika.


"Ikut," tawar Hadi, motornta berhenti di depan Latika. Hadi seperti Dilan dengan Motor yang serupa dan jaket yang serupa namun sayang rambutnya botak seperti rumput yang baru tumbuh.


"Oh, tidak. Terimakasih Hadi, tapi aku sudah pesan ojek." Latika menolak dengan sopan, pandangannya teralihkan pada Mang Juneb yang mendekat dengan motornya


L?"Tuh, dia sudah datang."


Tunjuk Latika pada Mang Juneb yang sudah datang, berhenti di depannya.


"Terimakasih ya Hadi. Aku dulu, ya?" Latika memasang helem yang diberikan Mang Jubeb.


Hadi meangguk, batinya berseru seperti kenal dengan Mang Juneb,


"Perasaan tukang ojeknya itu-itu terus."

__ADS_1


Latika menaiki motor Mang Juneb, dan mereka pergi.


Raut muka Hadi kelihatan sedih melihat Latika yang senakin menjauh.


__ADS_2