Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kembali Masuk


__ADS_3

Sayangnya liburan sudah habis.


Latika dan Murid lainnya kembali masuk ke Sekolah.


Namun ada yang aneh, Nana kelihatan menghindar dari Latika.


Kata teman Latika Nana di biarkan dulu untuk betenang diri. Namun, mereka kira Nana akan kembali seperti dulu dengan cepatnya namun 2 minggu terakhir ini Nana semakin menjauhi Latika.


Bukan Latika saja 2 temannya akrabnya juga di jauhinya. Nana menjadi penyendiri. Mereka bertiga sudah mencoba mendekati Nana, tapi Nana tetap selalu menghindar dan menjauh.


Latika, Hana dan Salasiah duduk di bawah pohon membahas Nana.


Mereka mengeluh dengan sikap Nana yang mereka kira dia putus cinta jadinya seperti itu sampai berpikir dia akan gila jika dia seperti itu terus.


Latika punya ide untuk minta bantuan sama Sarif setelah ini jam mengajarnya di kelas Latika, lumayan minta dia memberi pencerahan sedikit. Masalah pertemanan.


Mereka pergi meminta itu kepada Sarif.


***


Jam pelajaran Pai. Sarif sedikit memberi nasehat kepada penghuni kelas soal persahabatan.


Selama penjelasan Sarif Nana hanya menunduk, mendengarkan.


Latika, Hana, dan Salasiah berharap rencana mereka berhasil.


Sarif menghabiskan jam pelajarannya dengan menasehati dan sebagai contoh ia bercerita kisah dia dengan temannya yang terpisah jauh setelah pertengkaran mereka,


***


Pulang sekolah, Nana membuka mulut, bicara dengan mereka.


"Kalian." Nana menghentikan langkah ketiga sohibnya, mereka menoleh melihat Nana, "Maaf ya beberapa hari ini aku kasar dengan kalian."


"Gak apa apa Na. Kita kan teman," kata Salasiah menepuk bahu Nana.


"Iya." Hana meangguk membetulkan kata Salasiah.


"Nana-"


Nana memotong kalimat Latika, ia seperti sengaja, "Maaf ya aku harus cepat pergi, ada urusan."


"Nana jangan pikir dia ya, positif saja," kata Salasiah masih mengira kalau Nana putus cinta.


Nana hanya buka mulut sebentar saja. Lalu pergi meninggalkan mereka.


***


Di Rumah Latika tak konsen belajar.


Ia mengganggu kerja di ruang kerjanya. Selama Afriadi bekerja, Latika mengeluh terbaring di sofa.


"Kenapa Dek? Ada masalah?" tanya Afriadi, terganggu dengan keluhan Latika.


"Ho'oh.."


"Masalah apa?" tanya Afriadi lagi, sambil mengetik leptopnya.


"Nana." Latika menjawab singkat.


Gerakan tangan Afriadi terhenti, menutup leptopnya, meranjak menghampiri Latika duduk di tangan sofa, "Kenapa dengan Nana?"


"Dia berubah. Dia selalu menjauh dari kami. Ada merasa Nana kelihatan benci dengan Adek."


"Kenapa Adek beranggapan bergitu?"


"Soalnya setiap kali Adek dekati Nana, dia menjauh laku perkataan Adek selalu dipotong dia."


"Mungkin Nana lagi ada masalah jadi gak mood untuk bicara butuh waktu sendiri.


Lagian Nana tidak punya alasan untuk membenci Adek."


"Hah. Grub sepi Nana tak ada disana. Ponselnya tak aktif. Adek ada firasat buruk. Apa jangan-jangan ada yang mengancam Nana? Jadinya dia begitu.


Tapi, apa yang diancam? Siapa yang mengancam?"


"Jangan souzon. Siapa yang mau mengancam Nana? Dia kan sabuk hitam karate."

__ADS_1


"Dari mana Abang tahu?"


"Nana Sudah menyumbangkan beberapa piala di sekolah dan ..."


Tring..


Ponsel Latika berbunyi.


Ada pesan masuk.


Latika membaca isi pesan itu, dari nomor tak di kenal.


——————————


Unknown


Hati-hati ☠️


——————————


Latika mengerutkan dahinya


"Ha. Bang, lihat ini."


"Dari siapa?"


"Tak tahu nomor tak dikenal. Apa-"


Afriadi mengambil ponselnya scen pesan masuk beserta Nomornya, "Kalau ada pesan seperti ini berarti Adek harus hati-hati. Abang minta teman Abang untuk lacak Nomor ini."


Semenjak ada sms itu Latika dan Afriadi sedikit waspada. Mereka tak tahu niat di balik sms itu, baik atau malah menambah masalah mereka.


***


Di Rumah.


Latika sibuk belajar di meja belajarnya untuk persiapan perang beberapa hari lagi.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Latika di ketuk Afriadi.


"Dek." Afriadi berdiri di belakang Latika.


"Em," guma Latika.


"Fokus.. Fokus.. Fokus.. Fokus.."


Afriadi menganggu kosentarasi Latika,


"Fokus.. Fokus.. Fokus.."


Latika mulai kesal kosentrasinya hilang. Berbalik melihat kesal Afriadi, "Abang."


Afriadi menyeringai berpindah posisi ke samping Latika bersandar di meja belajarnya, Latika kembali fokus pada bukunya.


"Fokus.." Afriadi berbisik di telinga Latika.


"Abaaaangg!" jerit Latika mengusap daun telinganya.


"Haha.." Afriadi tertawa menjauh, keluar dari kamar.


"Huh, ganggu saja," guma Latika, menghembuskan nafas kesal.


Tak lama Latika kembali fokus lagi, tiba-tiba Afriadi kembali lagi di depan pintu kamar Latika.


"Fokuuuuuuss.." Afriadi usil gak ada kerjaan akhir akhir ini Latika fokus sekali.


"Abaaaangg.. Jangan ganggu. Adek lagi belajar ini," geram Latika melempar pena kepada Afriadi, yang di lempar kabur lagi.


"Jangan ganggu Adek !!!" teriak Latika.


Tak lama Afriadi datang lagi.


"Dek. Abang mau beritahu Adek, ini soal Na-"


"JANGAN GANGGU." Aura kesal Latika kuat sekali, ngeri Afriadi mau ganggu dia.

__ADS_1


"Lanjut lanjut." Afriadi menyeringai lebar, pergi dari sana.


"Nanti saja Af," kata batinnya membiarkan Latika belajar, duduk di sofa ruang santai meambil majalah di atas meja, melihat-lihat isi majalah.


Sekejap pikiran Afriadi teringat dengan Nana.


Saat itu.


Afriadi sudah tahu siapa yang mengirim pesan.


Semalam sekitar jam delapan malam.


Hasan memberitahu Afriadi memintanya ke Rumah.


Afriadi pergi. Ia tak mengira kalau Hasan mempertemukan ia dengan Dia, Adiknya. Adik Hasan merupakan teman baik Latika, ya dia Nana.


"Af, kau tahu kan ini, dia siapa?" Hasan memperkenalkan Adiknya.


"Ya. Dia muridku Nana, Adekmu. Ada apa kau mempertemukan aku dengan dia?" Afriadi bertanya balik duduk di kursi taman Rumahnya.


"Na bilang yang sebenarnya," kata Hasan pada Nana, "Saya masuk dulu kalian bicara berdua saja." Hasan masuk ke dalam Rumah meninggalkan mereka berdua.


Afriadi menatap Nana di seberangnya, mau tahu apa yang ingin ia sampaikan padanya, "Apa yang ingin kau beri tahu Nana?" tanya Afriadi dengan nada datar.


Nana menarik nafas panjang, bersiap mengatakan yang sebenarnya, "Pak, maafkan saya. Saya yang mengirim pesan itu kepada Latika. Tapi, saya-"


Afriadi sedikit kaget, langsung memotong kalimat Nana, "Kenapa kau melakukan itu?"


"Em, saya.. Saya.. Saya sudah tahu hubungan bapak dengan Latika apa."


"Em," guna Afriadi, sudah tahu akhirnya begini satu persatu orang akan tahu status mereka.


"Awalnya saya tak percaya. Saya marah dengan Latika-"


"Kenapa kau marah dengan dia?" tanya Afriadi.


"Karena, saya dari dulu sudah suka dengan bapak."


Mata Afriadi melotot lihat mata Nana yang tak berbohong, ia tak menyangka kalau dia menyukai dirinya.


"Saya suka dengan bapak, tadinya saya mau mendekati bapak melalui Abang saya tapi setelah saya tahu kalau bapak sudah menikah dengan sahabat saya," nada suara Nana semakin ke ujung semakin merendah, "Tapi, aku sadar kalau di dunia ini bukan hanya bapak saja laki-laki yang tersisa masih banyak laki-laki di luar sana."


Afriadi menghela nafas bersyukur kalau masih ada wanita yang berpikir seperti Nana.


"Jadi itu sebabnya kau mengirim pesan itu kepada Latika," kata Afriadi dengan nada datar.


"Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hubangan Bapak dengan Latika. Saya tidak berniat jahat. Saya hanya mengingatkan Latika untuk hati-hati. Soalnya-"


"Soalnya apa?"


"Saya takut Latika akan mengalami kejadian yang sama saat itu." Nana tahu kejadian Latika di culik dulu, ia tahu dari temannya Hasan, seorang polisi juga ia tahu saat mengantarkan makan siang abangnya ke kantor Polisi tapi abangnya tak ada di sana. Ia bertanya pada teman abangnya, lah dia jadi tahu kalau abangnya itu lagi mencari bukti mengenai penculikan Latika.


"Terus kenapa kau menjauh darinya?"


"Em.. Sebenarnya saya tahu status Latika dengan bapak dari seseorang, dan dikuatkan dengan bukti kasus bapak yang Abang saya tangani. Saya takut orang itu akan menyakiti Latika."


"Siapa orang itu?"


"Saya tak ingat. Jadinya saya menjauh dari Latika, untuk tahu siapa orang itu."


"Untuk apa kau lakukan itu, aku sudah ada melindungi Latika."


"Hah, bapak bilang melindungi, saat Latika di tawan Kina bapak di mana? Saat Latika di ancam Kina Bapak di mana?"


Kata-kata Nana ada benarnya juga,"Egh. Itu dulu-"


Nana memotong kalimat Afriadi,


"Saya melakukan ini semua untuk Latika, dan untuk membuktikan pada Abang, saya seperti dia dan untuk menenangkan diri saya, butuh waktu lama bagi saya juga untuk melupakan bapak."


"Kau harus berhenti melakukan ini, habiskan waktu kau bersama mereka sebelum kalian tidak punya waktu bersama lagi," nasehat Afriadi.


Brak...


Nana membentak meja,


"Iya, saya tidak akan mundur, sudah jauh langkah yang saya ambil. Jika saya mundur berarti semua sia-sia. Saya harap bapak paham."

__ADS_1


Dari hari itu Afriadi sudah tahu alasan Nana menjauh. Sekarang yang menjadi persoalan, siapa orang yang memberitahu Info kepada Nana?


__ADS_2