
"Emmmm..." Sakira membuka matanya, bangun, menggucak matanya melihat kiri kanan tidak ada siapa-siapa.
"Mamah!!! Huwaaaa...!!!"
Sakira menangis melengking di kamar.
Latika dan Afriadi yang lagi tadarus di bawah mendengar samar-samar suara tangisan. Cepat mereka menyudahi tadarus menaruh Al-Qur'an pada tempatnya lalu berambus pergi.
Saat sampai di depan kamar mereka lihat Sakira yang masih nangis di tempat tidur. Oh ya pintu kamar terbuka.
Cepat mereka masuk, Latika langsung menggendong Sakira memenangkannya, "Diam ya sayang, tadi mama lagi ngaji sayang..." Latika memujuk.
"Celub ba." Afriadi celub ba celub ba membantu diemin Sakira.
Yah, lumayan lah Sakira mulai diem apalagi sudah dibuatin susu Afriadi.
"Bang, main dengan Sakira dulu ya. Adek mau buat makanan untuk Sakira," kata Latika.
Afriadi meangguk meambil Sakira dari Latika.
"Sayang dengan papa dulu ya, mama buat sarapan dulu," kata Latika sebelum pergi.
Hening sesaat.
Apa yang bisa Afriadi lakukan untuk hibur anak kecil yang baru bangun ini.
Mereka saling menoleh melihat satu sama lain.
"Mau mainan?" tawar Afriadi.
Sakira merekahkan dan menggenggam tangannya, menandakan dia mau.
__ADS_1
"Yuk, kita cari."
Selang beberapa waktu.
Pukul 7 pagi.
"Pa Pa, mamam." Sakira menawarkan Afriadi makan dia. Latika menoleh melihat suaminya tak jauh dari mereka lagi mengancing lengan baju.
Afriadi tersenyum mendekati mereka yang duduk di kursi meja makan.
Bik Ipah dan Sari juga ada di sana, biasa kalau sudah ketemu mainan gak mau beranjak pergi jauh-jauh.
"Pagi sayang," sapa Afriadi mencium pipi emping Sakira.
"Pa pa mamam," tawar Sakira sekali lagi menyorong sendok pada Afriadi.
Afriadi membalas dengan senyuman, "Makanlah sayang. Makan yang banyak biar cepat gede."
Afriadi duduk Latika menyiapkan makanan Afriadi.
"Bang hari ini kan Adek libur, boleh ya bawa Saskia jalan-jalan?" tanya Latika.
"Boleh." Afriadi menjawab.
"Ikut!" seru Sari heboh mau ikut juga.
"Tak boleh," canda Latika.
"Issss...," desis Sari mulutnya ikut penyot.
"Emang kau tak kuliah hari ni Sari?" tanya Afriadi.
__ADS_1
"Gak, hari ini libur."
Afriadi manggut-manggut.
***
Pukul 07:30 pagi
Di sekolah, Afriadi mengadakan razia besar-besaran. Bukan murid saja guru, Mak cik kentin, dan penjaga sekolah ikut dirazia.
Afriadi dibantu para guru yang sudah dirazia dengan hasil nihil membantu merazia murid, penghuni kantin, dan penjaga sekolah.
Razia kali ini bukan seperti biasanya, kali ini yang dirazia tato. Tato di leher.
Siswa dan guru pada bingung dengan razia dadakan ini.
Waktu berlalu, semua sudah dirazia dan hasilnya nihil tidak ditemukan tato dileher penghuni sekolah.
Bayinya sudah protes, 'Masa sih gak ada'
Afriadi yang tak percaya turun tangan sendiri meriksa guru baru yang ia curigai Agustian. Iya membuka paksa baju Agustian di depan para guru laki laki.
Hasilnya nihil, lehernya benar-benar mulus gak ada bekas tato. Afriadi mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya.
Jiwa jantan Afriadi terasa retak setelah dengar pertanyaan dari Agustian,
"Kenapa rindu ya dengan tubuhku? Sampai buka paksa."
Urat kesal Afriadi muncul ingin rasanya ia meninju itu mulut.
Para guru yang lain hanya menatap malas Agustian, sudah paham kalau ini akan terjadi.
__ADS_1
Untung Afriadi masih bisa sabar hadapi orang seperti dia, kalau tidak mungkin sudah baku hantam. Sekolah jadi tempat ring tinju.