Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kost


__ADS_3

Selama perjalanan suasana di dalam mobil canggung sekali.


Entah kenapa Latika merasa panas sekali padahal sudah pakai ac, tapi tetap terasa panas. Jantungnya dari tadi bedebar kencang terus.


Latika ingin melepas rasa canggung ini dengan mengajak bicara dia, tapi mulutnya seperti terlem tak bisa dibuka susah sekali mau bicara. Latika memaksakan untuk bicara, tangannya mengenggam erat, matanya meram, dan mulutnya bergerak berusaha untuk bicara.


Afriadi melirik Latika, ia merasa aneh dengan tingkah Latika, 'Apa dia kebelet?' pikir Afriadi.


"Kamu kenapa?," tanya Afriadi terganggu dengan tingkah Latika sesekali melirik Latika lalu fokus ke jalan lagi, "Kebelet atau sakit," kata Afriadi tepat sasaran mengejutkan Latika.


Latika hanya diam menundukkan kepalannya berusaha diam.


"Kamu kenapa? Gelisah sekali." merasa tidak ada respon dari Latika, ia mendelik, "Diajak bicara malah diam aneh," sindir Afriadi menggoda Latika, "Malu ya. Untuk apa malu lagian kita bakal sering bertemu, satu rumah lagi."


Telinga Latika tetasa panas mendengar kalimat yang keluar dari mulut Afriadi, seketika mulutnya yang terasa terlem lepas, "Siapa yang malu, untuk apa malu-malu sama kamu."


"Lalu tadi kenapa?." Afriadi mengungkit membuat Latika bingung mau jawab apa, "Kenapa diam? Tuh kan diam lagi, malu ya." Afriadi memancing Latika supaya mau bicara, sebenarnya ia juga merasa sedikit canggung jadinya mau mencairkan suasana.


"Hegh.. Turunkan aku," pinta Latika tiba-tiba minta turun.


"Apa kau bilang? Turun. Kenapa?." Afriadi kaget dengan permintaan Latika, "Kau sudah naik mana boleh turun sebelum sampai tujuan, lagian kita pulang ke rumah ini. Emangnya kau mau ke mana?." nada suaranya sedikit menaik.


"Aku mau ke kostku." Latika menjawab mau membuka pintu mobil, "Turunkan aku."


Eeee... Afriadi mendadak menghentikan mobilnya, pintu mobil sudah sedikit terbuka Latika mau keluar cepat Afriadi tangan Afriadi menahan Latika sampai ia tersandar, lalu tangan satunya menarik kembali pintu mobil menutup, "Kau marah? Kau mau ke kost bukan? Akan aku antarkan kau ke sana, tapi jangan nekat seperti itu lagi. Bahaya." Afriadi menatap Latika, nafasnya tersengkal menahan marah.


Ehh.. Afriadi kurang nyaman dengan tatapan mata Latika yang tajam menatapnya sepertinya Latika marah, sudah tergambar jelas dari wajahnya, "Jauhkan tanganmu dariku, mesum," omel Latika mengeretak giginya.


Mata Afriadi fokus pada tangannya yang lagi-lagi menempel di atas dada Latika bergerak sedikit.


Kyaaa... Plaak... Teriak Latika tangannya reflek menampar Afriadi.


Ugh... Sakit itu.


Pipi Afriadi merah cepat ia menarik tangannya.


"Ugh... Dasar mesum, otak kotor, modus." Latika menutup dadanya dengan tas sekolahnya takutnya Afriadi mengulangi lagi.


Kata-kata Latika menusuk dada Afriadi, mengelus bekas tamparan Latika, mau marah tapi dia yang salah jadi wajar kalau Latika bilang dia mesum, "Aku antar kau ke kostmu. Di mana alamat kostmu?."


Latika memberitahu alamat kostnya, lumayan jauh juga.


Tampa tunggu lama lagi mobil berjalan menuju kost Latika.


Selang beberapa menit kemudian mobil berheniti di depan gang, mobil tak bisa masuk jalannya terlalu kecil.


"Apa ini jalan menuju kostmu? Berarti masuk ke dalam lagi. Sayang, mobil tak bisa masuk." Afriadi melihat keluar jendela, benar jalan yang kecil hanya muat motor saja.


"Iya ini jalan menuju kost, kostnya ada di dalam masuk lagi." Latika mencoba membuka sabuk pengaman, "Iiihh.. Kok, susah sekali," kata Latika dalam hati.


Hem... Afriadi melihatkan, "Begini." tangannya bergerak membukakan sabuk pengaman. Kulit mereka sempat bersentuhan.


Latika menjauhkan tangannya, setelah terbuka ia cepat mau keluar, tapi gerakanya terhenti melihat Afriadi membuka sabuknya, "Kau mau ke mana?"


"Ikut kau lah," jawab Afriadi mengerutkan dahinya.


Sayangnya Latika tidak mengizinkan ia ikut, "Tidak usah ikut, kau di sini saja duduk manis. Kalau kau ikut apa kata orang-orang di kost nanti. Aku ingin keluar dari kost dengan baik-baik, aku tidak mau meninggalkan kost dengan nama baik. Kau bisa pahamkan," tegas Latika minta pengertian dari Afriadi.


"Kau jangan ka-" Afriadi tidak meneruskan kalimatnya mengundang tanda tanya di kepala Latika.


"Aduh, apaan kau ini Af, takut betul dia kabur." Afriadi berseru dalam hatinya, mengusap rambutnya, tersandar.


Latika tahu kalimat akhir Afriadi itu, "Aku tidak akan kabur. Tenang saja aku hanya mengambil barangku dan berpamitan dengan Bu Kost."


Afriadi melirik Latika yang keluar dari mobil, berjalan melewati jalan itu, tak jauh Latika melamgkah ia melihat ke belakang.


Eh... Mata mereka saling bertemu.


Blusss... Rona di wajah mereka kelihatan.


Cepat Latika melanjutkan langkahnya,


Afriadi terus menatap Latika sampai hilang di belokan kiri.


Afriadi menunggu Latika memainkan ponselnya melepas kebosanan, suasana di mobil sepi, "Rasa-rasanya asik bicara dengan dia." batin Afriadi bicara, "Iiiiss.. Apa yang kau pikirkan Afriadi." Afriadi menggeleng kepalnya beberapa kali, menepuk pelan pipinya. 1 jam kemudian.


"Kenapa dia tidak kembali juga?." Afriadi bosan setelah sekian lama menunggu, "Jangan salahkan aku menjemputmu, itu karena kau kelamaan." Afriadi keluar dari mobil, menyusul Latika.


Ia melewati jalan kecil itu, ibu-ibu yang merumpi duduk di teras rumah tertarik pandangannya melihat Afriadi melintas.

__ADS_1


"Woow... Tampan sekali laki-laki itu."


"Ah... Itu... Itu... Mirip artis korea."


"Andai suamiku seperti itu."


"Kenapa dia ke sini?"


"Apa yang dicarinnya ke sini?"


"Ah.. Cari kekasihnya mungkin."


Bisik-bisik ibu-ibu rumpi itu.


Mata mereka terus mengikuti Afriadi.


"Di mana kost anak itu?," guma Afriadi terus berjalan sampai ia menemukan tulisan besar terpampang di depan gerbang pintu kost, pintu gerbang yang terbuat dari kayu, "Kost no put." Afriadi membaca tulisan di pintu gerbang kost, tanda tanya memenuhi kepalanya, "Kost no put, nama yang aneh."


Afriadi membaca tulisan di bawah nama kost, "Putra dilarang masuk."


Hah... Afriadi tak menghiraukan kalimat yang ia baca barusan, melangkah masuk.


Ketika ia masuk ia sudah berjumpa cctv di tepi pojok sana.


"Hem... Ada putra yang berani masuk ke kost," ucap seseorang yang duduk di depan komputer melihat Afriadi masuk, tersenyum bengkit dari tempat duduknya.


Pintu Kamar-kamar kost tertutup, dan suasana sepi sekali tak ada penghuni kost yang keluar sepertinya penghuni kost pada kerja atau apalah di luar sana.


Kost yang bertingkat 1 itu sudah kelihatan berumur tapi masih kelihatan seperti kost yang baru dibuat 1 tahun yang lalu, itu karena kost terawat.


Afriadi berjalan melihat-lihat pintu kamar kost yang terbuka, ternyata sampai ke ujung ia baru bertemu satu kamar kost yang terbuka lebar.


Langkahnya berhenti ketika mau mengijak teras kost, ia mendengar Latika menangis tersedu-sedu.


Trik matahari yang panas menyengat kulit kepala Afriadi yang berdiri di bawahnya, angin bertiup kencang menambah suasana kesepian kost.


Syuuuut... Harta karun jatuh dari atas mendarat di kepala Afriadi.


Afriadi mengambil harta karun yang jatuh di atas kepalnya.


Eh... Mata Afriadi menotot melihat harta karun yang jatuh di atas kepalnya itu.


Pengaman segitiga wanita berwarna pink lagi ada pitanya.


Afriadi mendongak melihat ke atas, ternyata gantungan cucian anak kost yang sudah kering


Entah kenapa benda itu bisa terjatuh, mungkin karena angin membuat harta karun itu terjatuh terpisah dari teman-temannya.


Tiba-tiba...


PLAAAKK...


Adududuh....


Suara pukulan yang keras dan jeritan.


Latika yang ada di dalam kamar bergegas keluar mendengar suara itu.


Haa.. Latika terkejut melihat Afriadi di depan kamar kostnya, memegang harta karun yang ia dapat tadi di tangan kirinya, dan di belakangnya seorang wanita paruh baya yang menjewer telinga Afriadi.


Afriadi hanya memasang wajah merintihnya menahan rasa sakitnya pukulan dan jeweran.


"Siapa kau, hah?." berani-beraninya kau masuk ke kost ini, tak baca apa peraturan di depan sana PUTRA DI LARANG MASUK, baca lagi di bawahnya. Tidak bisa baca apa. Penampilan seperti oppa, tapi tak bisa baca..." Latika menahan tawanya melihat ekpresi Afriadi kena marah dengan wanita paruh baya di belakangnya yang menjewer telinganya, "Dan itu apa? Kau laki-laki mesum rupanya ya. He'eh... Berani-beraninya kau..."


Wanita itu memperkuat jewerannya.


Egh... Afriadi menahan sakit, ia melempar harta karun itu pada Latika.


"Maaf Bu saya gak maksud... Aduh... Itu jatuh sendiri, bukan saya yang mengambilnya itu jatuh sendiri. Aduh..." Afriadi merintih menahan sakit kena pukul pakai sapu taman oleh wanita paruh baya itu yang tak lain adalah pemilik kost ini, "Dasar laki-laki hidung belang, makan ini."


Latika menikmati pertunjukan melihat Afriadi kena pukul habis-habisan dengan Bu Kost. Afriadi melepas jeweran Bu Kost lari menjauh darinya, ia tidak mau menyerang Bu Kost.


Terjadilah aksi kejar-kejar antara Afriadi dan Bu Kost. Latika tidak ikut campur memilih untuk menonton saja, tertawa.


Sampai akhirnya Afriadi terjatuh, dan ini kesempatan terbaik buat Bu Kost untuk mengeluarkkan jurus pamungkasnya menghajar laki-laki hidung belang. Daaaaan...


PUNG...


Aduh... Rintih Latika kepalanya kena pukul Bu Kost karena tiba-tiba muncul melindungi Afriadi.

__ADS_1


Ha... Bu Kost terkejut melempar sapu dari tangannya cepat mengusap kepala Latika, "Aduh, kenapa kau pakai muncul segala, melindungi dia. Sakit..."


Latika mengangguk, Afriadi bangkit dari jatuhnya berdiri di belakang Latika.


Latika merasa sedikit pusing sehingga ia hampir terjatuh tapi untung ditahan Afriadi.


"Sudahku bilang jangan menyusulku ke sini. Aku hanya sebentar saja mengemasi barangku," bisik Latika menyandari Afriadi.


Bu Kost ingin marah melihat Afriadi memegang Latika, tapi ia butuh bantuan Afriadi untuk membawa Latika ke dalam, "Apa yang kau tunggu cepat bawa dia ke dalam."


Latika berjalan perlahan-lahan Afriadi memapahnya membawanya ke dalam kamar kostnya, "Kau terlalu lama jadinya aku menjemputmu." Afriadi membalas bisikan Latika yang beberapa menit lalu yang sudah terlewatkan. 5 menit berlalu.


Latika duduk di samping Afriadi menghadap Bu Kost.


"Siapa kau?," tanya Bu Kost melipat tangannya di depan dada.


"Saya Afriadi, su-" mulut Afriadi tiba-tiba ditutup Latika, menatap tajam Afriadi.


"Apaaa..." Bu Kost mendekatkan telinganya, "Kau siapanya dia tadi?."


Otak Latika cepat bekerja lampu keluar dari kepalanya menandakan ia mempunyai cara untuk menjawab pertanyaan Bu Kost, terpaksa ia mengucapkan kata itu dengan tergagap-gagap, "A-A-A-Abang, d-dia A-Abangku." mata Latika berkedip melihat Afriadi di sampingnya memberi kode. Afriadi hanya diam paham dengan maksud Latika.


Bu Kost terdiam sebentar, hatinya berkata, "Setahuku Latika tidak punya keluarga, tapi sekarang dia membawa kerabat . Apa ini yang menyebabkan Latika tidak pulang berhari-hari, seperti yang ia jelaskan tadi. Ternyata dia berjumpa dengan kerabat mungkin orang ini sulit untuk membuat


Latika percaya kalau dia adalah kerabatnya sehingga butuh waktu berhari-hari untuk membuat Latika percaya." "Habislah, pasti Bu Kost tidak percaya. Alasan tadi dengan sekarang jauh berbeda," seru Latika dalam hati panik, mau bilang apa kalau Bu Kost tidak percaya.


Afriadi santai, melihat jam di tangannya, "Hy! Mau berapa lama kita di sini, sebentar lagi asar." Afriadi menegur Latika dari tadi diam duduk manis menunggu apa, yang di tergur terperanjat menunjuk berang-barang yang sudah dikemas.


"Kerabatmu Latika. Kenapa tidak bilang. Habis jadinya Ibu memukuli dia. Sakit kah?," kata Bu Kost, Afriadi yersenyum kecil menggeleng kepalanya. "Tampan juga ya. Tapi sayang Abangmu itu genit juga, masa iya pakaian dalam wanita diambilnya."


Mulut Afriadi terasa tersumpal tak bisa berkata-kata.


"Kau memang mengambilnya, ya?." Latika tertunduk malu di depan Bu Kost, mengeluarkan suara kecilnya.


Afriadi juga malu mengatakannya berkali-kali, "Aku sudah bilang, benda itu terjatuh sendiri."


"Kau memang otak kotor," kata Latika melirik Afriadi di sampingnya.


Mereka saling mengeluarkam suara kecil agar tidak terdengar Bu Kost, namun nyatanya tetap kedengaran.


"Eee... Latika cantik mulut, panggil Abang sendiri dengan sebutan kau kau. Tak sopan manggil kau kepada orang yang lebih tua darimu. Kalau sudah Abang, panggil Abang saja kenapa harus kau kau," kata-kata Bu Kost membuat Latika menunduk dalam sedangkan Afriadi mengangguk-angguk mengiyakan, "Minta maaf cepat."


Latika mendengus sebal dipaksa minta maaf sama Bu Kost, Afriadi meangkat alisnya tersenyum tipis menanti kalimat minta maaf Latika, "Maaf ya, Abang."


Afriadi tersenyum puas.


Selang berapa menit kemudian.


Latika berpamitan dengan Bu Kost, "Bu Latika pamit. Latika harus ikut Abang, maaf Bu ya jika Latika ada salah dengan Ibu."


"Pergilah Nak, baguslah dia ada jadi kau ada yang jaga. Pesan saya pada kalian jangan sering bertengkar karena masalah sepele, saling menghargai satu sama lain, tidak ego, dan ini untuk kau Latika hormati Abang kau dia keluarga satu-satunya lagi nanti kau kualat." pesan Bu Kost pada mereka, Latika memeluk Bu Kost sebentar. Tak kuasa Latika menahan air matanya, rasa-rasanya ia tidak mau meninggalkan Kost ikut dia kembali ke rumah ia ingin di sini saja.


"Sudahlah, Nak. Jangan menangis lagi, kau sudah ada kerabat yang akan menjagamu," kata Bu Kost menghapus air mata Latika.


Latika berhenti memangis melihat Afriadi, yang di lihat memalingkan pandangannya tak kuasa melihat wanita menangis.


"Em, Bu itu barang punyaku dulu, berikan saja sama orang yang membutuhkan, saya hanya membawa ini saja." Latika melihatkan tas sekolahnya yang terisi penuh.


"Em, yalah. Mungkin di rumah Abangmu sudah ada disediakan semua." Bu Kost mengambil tas Latika di berikan kepada Afriadi, "Ini bawakan, tak mungkin Adikmu yang membawannya bukan."


"Ee, saya bisa sendiri." Latika menahan Bu Kost, tapi Bu Kost tidak mendengarkan Latika tetap menunggu Afriadi mengambil tas Latika. "Aduh, gawat bisa marah nanti dia." Latika berseru dalam hati. Cepat ambil Latika sebelum dia yang mengambilnya." tangan Latika baru ingin mengambil sudah terlebih dahulu Afriadi


mengambil tasnya di tangan Bu Kost.


"Ya sudah kami pamit undur diri.


Assalamu'alaikum." kata Afriadi singkat, meninggalkan Kost sebelum penghuni kost lainnya datang.


"Wa'alaikumssalam," jawab Bu Kost, "Ha, kau apa lagi cepat ikut Abangmu sebelum ketinggalan." Bu Kost menyenggol Latika agar cepat mengejar Afriadi jangan berdiri di sana saja memperhatikan, "Oi, bujang ini Adek kau ketinggalan."


Hah... Afriadi mendesah menghentikan langkahnya berbalik badan, memanggil Latika seperti memanggil anak kecil, "Adek, sini cepat."


Latika tak berani mendekat melihat Afriadi memanggilnya seperti anak kecil dengan nada suaranya yang lemah lebut membuat Latika tambah takut untuk mendekat apalagi di tambah dengan senyuman yang menurut Latika senyuman kematian.


"Cepat ke sana." Bu Kost menyenggol Latika, yang di senggol berjalan lambat mengikuti Afriadi dari belakang dengan kepala yang tertunduk.


Afriadi melambaikan tangan kepada Bu Kost, Latika dengan rasa berat ikut melambaikan tangan juga.


Bu Kost tersenyum lebar membalas dengan lambaian juga berteriak, "Hati-hati di jalan ya."

__ADS_1


Bu Kost masih berdiri di sana melihat mereka menghilang setelah melewati gerbang kost, tidak sangka kalau air mata Bu Kost menetes, "Huuuu... Tidak ada lagi yang menemaniku nonton korea lagi."


__ADS_2