
"Hah... Oppa...," panggil Latika di dalam mimpi, ia melihat oppa - oppa korea yang tampan yang mengelilinginya memberikan buga.
Kyaaaa... Haha... Jerit Latika perasaan senang yang ia rasakan.
Tiba- tiba...
Suasana berubah, wajah oppa berubah pucat, hawa dingin yang ia rasakan, suara kilat menyembar di belakangnya.
Ketika ia membalikan badan, Latika terkejut dan langsung menciut, melihat Afriadi yang menjadi raksasa bertanduk, dan bertaring, membuat Latika takut.
Matanya yang merah menatap Latika dengan tajam.
"KERJAKAN PR MU!!!," suaranya bagaikan petir menyambar membuat Latika merinding, nafas mulutnya menerpa kencang mereka semua diterpa angin kencang membuat oppa - oppa menjauh melayang dari Latika.
Haaaah.... Latika terbangun dari mimpinya.
Melihat jam di dinding, ternyata sudah subuh.
Latika mengambil ponselnya,
ternyata ponselnya mati, batrainya habis mungkin karena tidak ia matikan hidup semalaman.
Latika pergi memberi makan ponselnya, sebebtar Latika termenung melihat ponselnya.
"Kalau diingat-ingat dulu aku sangat susah untuk membeli kouta internet..."
Latika mengingat kembali, masa - masa saat ia masih menjadi anak kost.
Dulu Latika sangat susah untuk membeli kouta internet, baginya kouta internet semua mahal, seakan - akan itu tidak adil baginya. Kouta internet yang sering ia beli, murah dan bersahabat dengan kantongnya, hanya kouta internet malam, yang menurutnya murah.
Yah... Hanya kouta itu yang sering ia beli.
Setiap malam ia terpaksa harus bangun demi main, gara - gara kelaukannya itu, ia sering sekali tertidur di kelas, dan sering terlambat ke sekolah.
Dan lagi... Dulu kalau ia mau nonton tv, yah... Dia tinggal pergi kerumah Bu Kost, maklum di kost tidak ada tv, jadi terpaksa harus numpang nonton rumah Bu Kost.
Yah... Thaulah, kalau Bu Kost itu paling suka dengan filem korea, yang ada oppa - oppanya, setiap kali Latika nonton pasti yang diputar filem korea, makanya sekarang Latika suka dengan oppa. Hah... Latika ketularan Bu Kost.
Tassscc... Lamunan Latika terputus.
Ia baru mengingat kalau PR belum diselesaikan.
Dengan cepat Latika mengerjakan PR.
Tidak lama Latika mengerjakan PR, suara azan berkumandan di masjid.
Latika berhenti sebentar mengerjakan PR, dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat.
Beberapa menit kemudian...
Setelah Latika selesai sholat ia kembali mengerjakan PR.
Otaknya yang masih terasa encer sekali, dengan mudah, dan cepat Latika bisa mengerjajan PR.
Setelah itu Latika pergi mandi bersiap-siap sekolah, jam sudah menunjukan pukul 06:15 pagi, Latika turun untuk sarapan, saat sampai di meja makan Bik Ipah, dan Afriadi menatap Latika dengan tatapan yang terkejut.
Mereka berdua saling melirik, ingin bertanya.
Perasaan Latika agak aneh, tapi Latika tidak peduli ia duduk saja, dan menyantap makanannya, selama Latika makan Afriadi terus melihat Latika membuat Latika risih.
Tidak lama kemudian setelah selesai sarapan.
Latika bangkit dari tempat duduknya, siap untuk berangkat, "Pergi dulu ya...
Assalamu'alaikum..."
"Tunggu dulu." Afriadi menghentikan langkah Latika, " Mau ke mana?."
Latika membalikan badannya, "Ya... Mau sekolah... Mau ke mana lagi. Tak lihat apa sudah rapi gini. Ha... Abang tidak siap - siap pergi ke sekolah?."
"Emmm.... Untuk apa?
Emang... Hari ini hari apa?." Afriadi menyipitkan matanya tersenyum lebar.
Latika menjawab pd, "Hari ini hari ming-" Latika tidak melanjutkan katanya, ia baru sadar kalau hari ini hari minggu.
"Astagufirullah ... hari ini hari minggu.
Aaghhh... Malunya, mau taruh di mana muka ini rasanya." batin Latika bersorak, segera ia lari ke kamar, menganti pakaiannya. Tak keluar lagi.
Afriadi tertawa kecil melihat tingkah Latika, Bik Ipah juga ikut tertawa.
Setelah kejadian tadi Latika tidak keluar kamar, karena malu.
"Haduh... Malu sekali rasanya.
Kalau dengan Bik Ipah sih tidak apa - apa. Tapi, ini dengan dia, haduh... malu sekali" Latika duduk tersandar di bawah tempat tidur, tangannya memeluk kekiknya, kepalanya menunduk menumpu di atasnya.
TRINGGG...
Pesan masuk di ponsel Latika.
Kepala Latika terangkat, tangannya meraba-raba tempat tidur meraih sesuatu tasnya, tangannya bekerja mencari ponsel dalam tas.
Di lihatnya pesan dari grub WA masuk, " Em... Pesan dari grub."
Latika mengetik-ketik keyboard membalas pesan.
*Grub 4 kecebong*
HANA
Pagi Semua.
ANDA
__ADS_1
Pagi juga.
SALASIAH
Pagi juga semua, π.
NANA
Emm...
HANA
Baru bangun tidur ya?.
ANDA
Engak kok...
NANA
Emm...
SALASIAH
Hana tahu saja.
HANA
Hari ini kita keluar yuk.
NANA
Em...
SALASIAH
Tidak bisa.
Aku habis kena marah dengan orang tuaku π.
ANDA
Kenapa?.
SALSAIAH
Aku ketahuan mau keluar malam tadi.
NANA
Em...
ANDA
Kasihan...
HANA
NANA
Em...
ANDA
Ah... Iya Hana.
Em... Boleh tidak kau ajarkan aku masak.
Kaukan pintar masak.
HANA
Em... Boleh...
Tapi, tumben kau mau belajar masak.
ANDA
Aku mau belajar daja, nanti kita berumah tangga, kalau aku tidak bisa masak bagaimana?.
Jadi aku mau belajar dari sekarang.
SALASIAH
Ohhh... Panjang juga pikiran kau Latika, samapai kau mikir ke situ.
NANA
Em....
HANA
Boleh... Nanti kita belajar.
ANDA
Betul ini?.
HANA
Betul.
ANDA
Ah... Makasih.
__ADS_1
SALASIAH
Aku mau juga belajar, boleh Hana?.
HANA
Boleh...
NANA
Emm...
ANDA
Ah... Iya Salasiah.
ANDA
Boleh tidak kau ajarkan aku make up.
SALASIAH
Wah... Tumben.
ANDA
Haha... Mau belajar saja.
SALASIAH
Boleh....
HANA
Aku mau belajar juga, ajarkan ya... Salasiah.
SALASIAH
Wahahah... Boleh.
NANA
Em...
SALASIAH
Kau ini Na, em...em...em... Terus π¬.
NANA
Em...
SALASIAH
Cari gara - gara ini anak π.
NANA
Em...
SALASIAH
Mau kena jitak ini anak π.
NANA
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
Em...
SALASIAH
NANAAAAA!.
NANA
π
HANA
π¨
ANDA
π
***
__ADS_1
Yah... Itulah isi chat 4 kecebong.
Latika dan Hana hanya melihat chat Nana, dan Salasiah yang bertengkar tertawa terkikik kikik.