Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Ulang Tahun Lily 2


__ADS_3

Afriadi membuka helemnya,


mendongak melihat berjuta Bintang menghiasi langit.


Afriadi menghela nafas dalam, berharap malam ini tak terjadi kekacauan yang besar, ia ingin semua berjalan tenang seperti Bintang di langit.


Afriadi merogok Saku jaketnya ambil Masker, cepat ia mengenakan Masker sebelum teman Latika sampai menghampirinya, cepat ia mengenakan Masker. Untung saja tadi dia sempat kepikir bawa Masker, sudah ada pirasat buruk tentang ini.


Afriadi melihat dirinya di spion, merapikan rambutnya.


Latika menghampirinya, menepuk pelan bahu Afriadi, yang di tepuk terperanjat kaget.


"Bang. Bagaimana ini?" Latika panik.


"Tenanglah. Insya Allah, aman." Afriadi turun dari Motornya.


"Woy, cepatlah!" Salasiah meneriaki mereka berdua.


Afriadi meangguk, meyakinkan Latika.


Ia megandeng Latika pergi bersama-sama.


Mereka pergi menuju Taman belakang.


Afriadi tersenyum kaku di balik masker melihat banyak sekali Tamu undangan. Apalagi yang di undang itu sebahagian adalah anak muridnya dan teman Lili, setengah lagi teman-teman Ayah Hadi dan Tetangga.


Sohib Latika berpencar meninggalkan mereka berdua.


"Latika Mas Afri sini." Hadi mengajak mereka berdua, menemui Orang Tuanya di sana.


Mau tak mau mereka berdua ikut.


"Ma Pa." Hadi mendekati Orang Tuanya yang lagi bicara dengan para tamu undangan.


Latika megenggam erat tangan Afriadi, cemas. Afriadi mengusap tangan itu biar Latika gak tegang.


Mama dan Papa Hadi menoleh melihat mereka di belakang. Hadi memberi isarat agar mereka mendekat.


Mereka mendekat, para Tamu yang bicara dengan Papa Mama Hadi menjauh.


"Eh, Latika." Papa Hadi menyapa Latika.


"Ya Allah sudah lama tidak bertemu." Mama Hadi ikut menyapa dengan senyum sempurna.


"Om Tan." Latika menyalami Papa dan Mama Afriadi.


"Eh, siapa ini?" tanya Mama Hadi.


"Ahi iya, siapa ini Latika?" tanya Papa Hadi melihat Afriadi di samping Latika


Tuh kan sudah bertanya-tanya.


Afriadi meambil tindakan, mencuri hati Orang Tua Hadi dengan menyalami mereka.


"Ini Ma, Pacarnya Latika." Hadi mengenalkan.


"Oh." Mama Hadi meangguk.


"Mantap juga Latika sudah bisa punya pacar." Papa Afriadi menepuk punggung Afriadi, melihatnya dari bawah sampai atas.


Latika tersenyum getir, hatinya sudah komat kamit panik.


"Tinggi ya. Gagah lagi. Siapa Nama?" tanya Papa Hadi.


"Panggil saja Afri."


"Oh, Afri. Wah, akan ada calon nantu ini," goda Papa Hadi. Jelaslah Papa Hadi bicara begitu Latika kan sudah ia anggap anaknya.


Tapi, Papa Hadi tak tahu kalau Afriadi bukan calon lagi melainkan sudah menantu.


"Kerja apa?" sambung Papa Hadi.


Afriadi mau jawab, tapi keburu di sela sama Mama Hadi, "Itu kenapa pakai masker. Buka saja."


"Sakit mungkin. Biarkan saja." Papa Hadi menyahut.


"Tapi, aku ingin lihat wajahnya."


"Huuus, gak baik gitu. Kan bagus ia pakai Masker saat sakit jadi orang tidak tertular," bisik Papa Hadi. Sebenarnya ia juga penasaran dengan wajah Afriadi.


"Tapi, Mama penasaran Papa." Mama Hadi balas membisik.


Papa Hadi menggeleng, jangan.


"Latika ikut aku yuk, Lili ingin ketemu kamu, dia memunggumu di kamarnya," ajak Hadi.


Latika mengedipkan matanya beberapa kali pada Afriadi, minta izin ke sana. Afriadi meangguk.


"Aku permisi dulu ya," kata Latika.


"Ya, pergilah Nak," kata Mama Hadi.


Afriadi ingin ikut, tapi dia di tahan sama Papa Hadi. Latika menoleh melihat Afriadi di tahan sama Papa Hadi, itu tangan merangku Afriadi,


"Tinggalkan saja dia, aku masih ingin berbincang dengan dia," kata Papa Hadi


melirik Afriadi.


Latika cemas tinggalkan Afriadi, tapi

__ADS_1


Afriadi malah menyuruh Latika pergi dia tidak apa apa.


Berat hati Latika pergi meninggalkan Afriadi, mengikuti Hadi.


Naas Afriadi di tinggal bersama Papa dan Mama Hadi.


"Em... Sudah berapa lama pacaran dengan Latika?" tanya Papa Hadi, mengintrogasi.


Afriadi menghitung, "Hampir 1 tahun."


"What?" Mereka berdua terkejut, lumayan lama juga.


"Wah, lama juga. Langeng ya." Papa Hadi tersenyum melihatkan gigi menyalami Afriadi serentak menepuk bahu Afriadi.


"Itu... Itu... Apa itu ya. Ah, Kamu ketemu Latika di mana? Kenapa sampai bisa jadi pacaran?" tanya Mama Hadi lengkap dengan wajah yang serius.


"Iya, awalnya itu bagaimana? Setahu kami Latika itu tidak mudah untuk pacaran," sahut Papa Hadi.


Afriadi berpikir, sulit bagi kita menceritakan semua, "Pernah dengar, tertabrak cinta, gak?"


"Oh... Haha... Itu mah tahu," kata Papa Hadi menepuk bahu Afriadi, dia tak paham betul maksud Afriadi tertabrak cinta, "Jadi?"


"Ya, seperti itulah."


Beberapa kali Papa Hadi mengedipkan matanya, berharap dapat penjelasan lebih detail.


"Bagaimana bisa?" sanggah Mama Hadi.


Afriadi mendengus, menggaruk kepalanya. Terpasa ia mengarang kayak pelajaran Bahasa Indonesia, "Saya jalan tidak lihat-lihat lagi jadinya waktu itu tertabrak ia di Tangga..."


Afriadi menjelaskan sesingkat-singkatnya supaya tak kebocoran Status mereka.


"Om, Tan." Seorang wanita mendekat bersama Suaminya dan anaknya, menyalami Orang Tua Hadi.


"Eh, Suni. Apa kabar?" sapa Mama Hadi, ia mencubit pipi Anaknya Suni.


Suni Bibi Hadi. Keluarganya hancur beberapa tahun yang lalu saat Hadi memergoki Pamanya main Wanita, sejak saat itulah Rumah Tangganya hancur, oh bukan saat itu tapi sebelum sebelumnya Rumah Tangganya sudah Goyah sering ada pertengkaran. Untung Keluarga Hadi berkuasa jadi mereka bisa merebut hak asuh anak, bagi Suni anak yang terpenting dari pada harta dan sekarang ia mendapat pedamping baru yang menyayanginya dan anaknya.


Di susul di belakang Suni segerombolan orang mendekat, kelihatannya Keluarga Besar Hadi berdatangan.


Di antara mereka ada Kakek bertongkat berpakaian rapi, dia di salami sama Orang Tua Hadi. Kakek itu Ayahnya Mama Hadi, Ayah mertua Papa Hadi.


Afriadi tercengang di balik Masker, gawat ia harus cepat manjauh semua di luar dugaan.


Baru Afriadi berbalik badan, ia sudah di cegat sama Seorang Pria, "Hey! Tunggu."


Langkah Afriadi terhenti.


"Kamu siapa?" tanya Pria itu.


"Calon Nantu," sahut Papa Hadi.


"Untuk Lily?" Salah seorang bertanya.


"Ya tidak lah Lily masih kecil. Dia Pacarnya Latika." Mama Hadi menjelaksan.


Tambah terkejut lagi mereka. Latika anak yang mereka kenal polos, dapat Pacar.


Afriadi diserbu begitu banyak pertanyaan. Bingung juga ia mau jawab apa. Bahkan Afriadi sampai kewalahan menahan mereka yang mau lihat wajahnya.


Naas nasipmu Afriadi.


Sedangkan Latika asik bicara dengan Lily.


"Selamat ulang tahun Lily," ucap Latika.


Lily memeluk Latika, "Sudah lama tidak lihat kakak. Kakak ke mana saja, jarang ke sini?"


"Kakak sibuk," jawab Latika.


Tok... Tok...


Suara pintu di ketuk.


"Hariannya! ayo turun.


Acara akan di mulai." Sahril muncul di balik pintu Kamar Lily.


"Oh iya, kak Sahril. Kakak punya hadiah untuk Lily."


Sahril menggaruk kepalanya, "Ah, itu. Aku lupa bungkus hadiah.


Ha ha ha.."


"Kak Sahril pelit. Sudah tua, pikun."


"Baru tahu Sahril pikun." Hadi meolok-olok.


Sahril menatap tajam Hadi, yang di tatap tertawa bahkan Latika juga ikut tertawa.


Sahrim mencoba menjelaskan, "Bukan begitu, hadiahnya ada, tapi..."


"Tapi, ke tinggal."


"Iya itu"


Lili menatap malas Sahril, "Ya udah, hari ini Lily minta kalian untuk dance bagaimana?"


"Ha, boleh. Iya, kan Latika Hadi." Sahril mengedipkan matanya pada mereka berdua dengan wajah memohon.

__ADS_1


"Aku ikut saja," kata Hadi tak tahan dengan wajah Sahril persis topeng monyet.


"Kalau untuk Lily boleh," kata Latika.


"Kalau begitu ayo turun."


Langsung segar Sahril, bebas dari tuntutan Hadiah.


Mereka turun ke bawah, menuju tempat Pesta.


Latika menghampiri Afriadi yang duduk sendiri. Kelihatanya lemah sekali Afriadi, di balik Masker wajah Afriadi sudah pecah seribu.


"Siapa dia?" tanya Lily,


"Kakak iparmu." Sahril menjawab.


"Apa!" Lily menatap tajam Afriadi, yang di tatap membalas dengan tatapan tajam juga.


"Yang." Ari muncul di belakang Lily, merangkunya.


"Hiiiis... APA??" Lily melotot, melepas rakgkuan Ari, "JANGAN PAMGGIL AKU YANG! AKU BUKAN YAYANG KAMU."


Afriadi terkejut melihat Lily marah dan Pria yang di sampingnya.


"Loh, kok Yayang marah. Dulu senang di panggil Yang." Ari memasang wajah Imut. Percuma itu tak mempan untuk Lily.


"Agh, Kakak lihat Paman memanggilku seperti itu lagi." Lily mengadu dengan Hadi sambil mengoyang-goyang tangan Hadi.


"Apa urusannya denganku." Hadi cuek.


"Ih, Kakak jahat," kata Lily sebal sama Hadi, menghentakkan kakinya ke tanah, pergi meninggalkan mereka.


"Yang." Ari menghentikan langkah Lily.


Lily menoleh, matanya seperti memancarkan cahaya merah, "Aku mohon Paman jangan panggil aku Yang.


Aku malu temanku banyak."


Cepat Lily pergi menghampiri Orang Tuanya.


"Ahahaha..." Ari tertawa, sekilas pandangannya teralihkan pada Afriadi, ia menatap dengan tajam, meamati dari bawah sampai atas.


"Latika, Pacar kau?" tanya Ari menyerongkan kepalanya.


"Iya." Latika meangguk.


Ari menyodorkan tangannya, meajak kenalan, "Perkenalkan saya Ari Parmansah."


Afriadi menyambut tangan Ari, mengenalkan dirinya, "Panggil saja saya Afri."


Pak... Pak... Pak...


Ari menepuk keras punggung Afriadi. Ada dendam apa Afriadi dengan dia.


"Uhuk.." Sampai terbatuk Afriadi di buatnya. Kelihatanya itu punggung sudah banyak di tepuk makanya Afriadi sampai terbatuk-batuk.


Latika mengusap dada Afriadi, mau di beri minum tapi situasinya seperti ini.


"Tinggi ya."


Tangan Ari bergerak ingin membuka masker Afriadi, untungnya Latika menahan.


"Mas." Latika melotot pada Ari.


"Ahaha... Maaf." Ari menjauhkan tangannya, dia penasaran dengan wajah Afriadi.


Tak lama Acara di mulai setelah para Tamu hadir semua.


Wajah Afriadi kusut di balik masker, akibat menjawab pertanyaan orang tua Hadi.


Sepanjang acara berlangsung Afriadi menempel terus sama Latika, sehingga banyak mata mengarah kepada mereka, macam tak pernah lihat orang dekat saja.


Nana menumpu wajahnya di tangan, memonyongkan mulut, "Haduh, orang itu..."


Salasiah menyambung kalimat Nana, "Menempel terus."


Hana acuh tak acuh, duduk diam dengarkan Mc di depan sana.


Meriah sekali acaranya, sampai taman belakang ini di hias sedemikian rupa. Toh, yang Ulang tahun kan anak bungsu, anak termanja, cucu tersayang, jelaslah dapat perlakuan istimewa sampai acara Ulang Tahun semeriah ini.


"Salasiah apa pikiranmu sama denganku?" tanya Nana, di Papa kirannya terlintas ide jahil.


"Mungkin." Salasiah menyahut, di pikirannya juga terlintas hal yang sama.


"Hehe..." Mereka berdua tertawa, ide jahil yang sempurna.


Hana hanya bingung lihat dua temannya. Apa rencana mereka?


"Bang." Latika mencuil tangan Afriadi yang berdiri di sebelahnya.


Seharusnya mereka duduk seperti yang lainnya, tapi malah berdiri ikut bersama Keluarga Hadi mendampingi Lily. Itu semua atas permintaan Mama dan Papa Hadi yang meminta mereka ikut, mau tak mau Latika dan Afriadi ikut saja.


"Hem," guma Afriadi.


"Adek di suruh tampil. Dence, boleh?" bisik Latika minta izin."


"Sakit," rintih Afriadi pelan.


Rasa sakit di punggung Afriadi belum hilang juga.

__ADS_1


__ADS_2