
Jam 10:08 a.m.
Istirahat pertama Latika dan teman-temannya seperti biasa pergi ke Kantin isi perut.
"Em... Hana, kelihatannya aku tidak jadi mau belajar masak sama kau, dan belajar make up sama Salasiah," kata Latika meaduk-aduk baksonya.
"What?" Salasiah terkejut, mulutnya terbuka, kelihatan bakso di dalam mulutnya yang belum kekunyah.
"Apa?" Hana terkejut sampai ia tak jadi makan, "Kenapa pula?"
"Kemarin rencana jadi, sekarang tidak jadi." Nana menyela, datang dengan membawa nasi kuning ia mendengar kata Latika tadi ketika ia berada beberapa langkah dari meja mereka.
Ia duduk di sebelah Latika.
"Itu. Em... Dia tak beri izin." Latika menjawab.
BAAAK...
"SIAPA?," tanya Salasiah galak membentak meja, Nana yang tadinya mau menyuap nasi ke dalam mulutnya malah tak jadi gara-gara terkejut.
Sangking terkejutnya Latika sampai tergagap-gagap mau menjawab.
Muka Salasiah agak serius.
"Siapa lagi kalau bukan pacarnya." Nana menjawab santai, menikmati makanannya.
"Si bujang lapuk itu!" Hana menyeru galak.
Em... Latika tertunduk tak bisa komen, jika ia komen nanti bisa keceplosan bilang yang sebenarnya pada mereka.
"Berani-beraninya dia tak beri izin, belum pernah kena bacok itu orang," omel Salasiah, meremukan jari-jemarinya.
"Eeeehh... Bukan begitu." Latika mulai panik semua tak berjalan dengan mulus, di kira temannya santai-santai saja.
"Apanya yang bukan...
Itu orang masa iya melarang kau untuk melakukan itu, kan positif, bukan juga negatif. Masa iya tidak dibolehkan." Hana mendelik.
"Aa-" perkataan Latika di potong Nana,
__ADS_1
"Entah itu, orang belum juga jadi suami sudah mengatur-atur kaya gitu..."
"Kau juga kenapa sih minta izin sama dia, dia bukan suamimu, lagian kenapa sih kamu mau nuruti dia? Jangan bertekuk lutu padanya." Salasiah menyela galak, kayak Kak Ros marahi Upin & Ipin.
"Putusin saja." Nana memberi usulan gila, di setujui sama 2 temannya.
Tak sempat Latika bicara mereka terus memotong perkataan Latika, mengomeli Latika, makanan yang tadinya mau dimakan tidak jadi dimakan, mubazir itu makanan.
Di tengah-tengah omelan mereka Salasiah pergi ke Toilet, tidak lama Salasiah pergi.
Dia datang, siapa lagi kalau bukan si murid baru itu, Kina.
Dia menghampiri meja mereka, duduk di sebelah Hana.
Matanya yang sinis melihat ke arah Latika. Entah apa salah Latika, mungkin kalah cantik dari Latika. Hahaha...
Melihat Kina datang Hana dan Nana menyumbat mulut mereka dengan makanan, sibuk dengan makanan mereka yang dari tadi dicuekin.
"Hana, kamu setelah pulang sekolah mau ke mana?," tanya Kina.
"Ah... Tidak ada."
"Em... Boleh sih."
"Beneran."
Hana mengagguk ragu.
Hana dan Nana diajaknya bicara sedangkan Latika tidak, jangankan mau bicara, melihat ke arah Latika saja malas, setiap kali Nana Atau Hana yang mengaja Latika bicara pasti di alihkan oleh Kina.
Kesel juga sih, Latika lebih memilih makan saja.
Sedangkan Salasiah yang habis ke luar dari toilet, berjalan menuju kantin, sebentar dia berhenti di dekat tanaman bunga yang tak jauh dari kantin.
Tangan Salasiah yang gatal, memgambil bunga tersebut, dan mecabut-cabuti kelopaknya.
Pas sekali Afriadi melihat kelakuan anak muridnya yang bertangan jahil itu. Ia mengerutkan dahinya, mendekati Salasiah.
"Ehem..."
__ADS_1
Deheman Afriadi tidak dihiraukan Salasiah.
"Ehem... Lagi ngapain?"
"Eh..." Salasiah membalikan badanya melihat Afriadi, yang menatap malas.
"Eh... Bapak, lagi apa Pak di belakang aku, kangen ya Pak sama aku?"
Goda Salasiah membuat Afriadi menelah ludahnya, menatap tajam Salasiah.
"Becanda pak ✌."
"Em... Kenapa merusak tanaman?"
"Huh... Lagi kesel Pak sama latika."
Afriadi mengerutkan dahinya mendengar nama Latika disebut, rasa penasaran timbul, "Ada apa emangnya?"
"Itu pak latika, dia punya pacar, namanya hampir mirip dengan bapak, namanya Afri yolanda si bujang lapuk..."
Afriadi kesal, dia hanya diam saja mendengar kata-kata Salasiah.
"... Habis jadinya kami membatalkan rencana yang sudah dibuat. Lagian Latika ada-ada saja masa ia harus palkai minta izin segala, padahal hanya pacar, belum juga lagi jadi suaminya sudah seperti itu, apalagi kalau sudah jadi suaminya.
Aku heran juga sama Latika mau saja nuruti omongan orang itu, belum juga lagi jadi suami..."
Afriadi kelihatan kesal sekali, sampai urat disekitar mukanya kelihatan, aura menyeramkan keluar dari tubuhnya.
"... Belum pernah kena bacok itu orang."
Auranya tambah kuat.
"Tapi, ya kalau kesal itu jangan tanaman jadi korban kekesalanmu, rapikan," titah Afriadi, sabar.
"Sabar Afriadi sabar," katanya dalam hati.
Afriadi pergi meninggalkan salasiah seraya mengusap-usap dadanya.
"Haha... Oke pak," teriak Salasiah.
__ADS_1