Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Tersedak


__ADS_3

Hari semakin malam Latika masih berdiri di sana termenung. Ia berdiri kakau di depan pintu, air matanya terus mengalir, teringat dengan kata-kata Pak Imam yang terbayang dalam pikirannya.


Bik Ipah yang menyadari kalau Latika sudah lama tak kembali-kembali, menyusul ke luar. Bik Ipah melihat Latika berdiri didepan pintu, perlahan-lahan ia mendekat, "Non, Non melamun?," tanya Bik Ipah menepak bahu Latika, yang di tepak terperanjat kaget lamunanya terputus.


"Siapa yang datang tadi, Non?," tanya Bik Ipah, berusaha mengajak Latika bicara.


"Pak Imam, Bik," jawab Latika pelan, memelingkan mukanya dari Bik Ipah, menghapus air matanya.


"Non pasti kepikiran dengan kejadian itu. Lebih baik jangan banyak tanya Ipah, nanti Non tambah sedih," guma Bik Ipah dalam hati, menarik tangan Latika mengajaknya makan, "Sudahlah Non jangan dipikirin. Ayo masuk, makan."


Latika memasamg senyum palsu menyembunyikan kesedihannya dari Bik Ipah, mengangguk melangkah masuk. Bik Ipah cepat menutup pintu, menyusul Latika yang sudah jalan dulu, Latika termenung lagi tangannya memegang perutnya, 'Hamil' pikir Latika, termenung. Bik Ipah mengahpiri Latika lagi-lagi tangannya menepuk pelan bahu Latika memutus lamunannya.


Afriadi yang duduk di ruang tamu melirik Latika lewat memegang perutnya, "Kenapa dia pegang perut? Apa lapar?," tanya batin Afriadi, berdiri dari tempat duduknya mengikuti mereka dari belakang.


Latika duduk di meja makan, ia termenung lagi begitu juga Bik Ipah menepak bahu Latika setiap Latika termenung. Ia tidak membiarkan Latika termenung, "Dimakan Non."


Lagi-lagi Latika memasang senyum palsu, mengangguk mulai menyantap makanan yang di sediakan dari tadi. Baru saja mau masukkan makan kedalam mulut, Afriadi datang duduk di dekatnya, ikut makan.


Rasa-rasanya Latika ingin pergi saja. Tapi, Bik Ipah yang mengambil makanan untuk Afriadi memberi kode kepada Latika untuk tetap makan. Lagian perut Latika juga lapar mau tidak mau ia lanjut makan dengan tangan sedikit gemetar memasukkan makanan kedalam mulutnya, ia gerogi makan di dekat Afriadi.


Bik Ipah meletakkan piring yang sudah berisi makanan di depan Afriadi, pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua.


"Kok, perasaanku tak enak ya, seperti ada yang perhatikan aku," gumanya dalam hati, mengunyah makanannya "Apa dia memperhatikanku?," melirik Afriadi.

__ADS_1


Hik.. Ternyata benar dia sedang memperhatikan Latika mata mereka saling bertemu, sontak Latika langsung tersedak, "Ohok.. Ohok.." sendok makan terlepas dari tanganya menutup mulut, mencoba meraih gelas.


Melihat Latika tersedak cepat Afriadi berdiri dari tempat duduknya mengambil gelas minumnya, memeberikannya kepada Latika, "Ini."


Tampa pikir panjang Latika langsung meminumnya.


Hah.. Ia menghela nafas lega, "Terimakasih." tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Afriadi, yang ditepuk melirik tangan Latika yang menepuk bahunya, ketika ia sadar kalau dia menepuk-nepuk bahu Afriadi.


Seketika ia..


Hik.. Hik.. Hik.. cegukan, Latika cegukan.


Afriadi memberinya air minum, "Nih, minum lagi." Kedua tangan Latika langsung menangkap gelas beserta tangan Afriadi ikut terpegang, cepat ia memimumnya.


Hah..


Cepat Latika melepas tangannya.


Hik.. Hik.. Hik.. Latika masih cegukan.


"Jangan pikirkan cegukannya, lanjut saja makan. Nanti juga hilang." kata Afriadi, kembali ke tempat duduknya.


Latika mengangguk melanjutkan makan.

__ADS_1


Menit berlalu.


Mereka sudah selesai makan.


Afriadi berdiri ingin meninggalkan meja makan.


"Tunggu, Pak," tahan Latika, menghentikan langkah Afriadi, "Ada yang ingin aku bicarakan dengan Bapak."


Afriadi membalik badannya, ia diam tampa komen kembali duduk di hadapan Latika, siap mendengarkan.


Latika menghela nafas, mulai bicara, "Aku tahu statusku sekarang. Banyak hal yang belum aku lakukan dan cita-cita yang ingin aku capai. Sekarang saya sudah terikat dengan anda, sebenarnya anda juga masih ingin hidup bebas seperti saya tampa ada beban dan tanggung jawab. Jadi saya ada permintaan dengan Bapak. Saya minta kita jalani hidup masing-masing, Bapak terserah ingin melakukan apa saya tidak melarang juga sebaliknya dengan saya.


Dan Bapak jangan memberitahu teman-temanku kalau aku adalah I-istri Bapak. Aku harap Bapak bisa merahasiakan ini semua ..."


"Aku paham maksudmu. Tapi, aku tidak setuju dengan permintaan pertamamu ... Aku tahu kau tak mau tinggal bersamaku, kau ingin hidupmu seperti dulu tinggal di kost, tapi sekarang tidak boleh tinggal di kost lagi, kau tak boleh bekerja paruh waktu lagi. Mulai hari ini kau tinggal di rumah ini semua kebutuhanmu akan kupenuhi, karena sekarang kau adalah tanggung jawabku." Afriadi menatap Latika serius.


Kepala Latika tertunduk, "Baiklah hanya itu terimakasih atas perhatiannya." ia berdiri dari tempat duduknya melangkah meninggalkan Afriadi. Bik Ipah datang mengemasi meja makan. Afriadi merasa haus setelah bicara, ia mengambil air minum dan memeinumnya.


Baru beberapa langkah Latika berhenti membalikkan badanya, "Oh ya, satu hal yang paling penting, Bapak jangan menyerangku seperti malam itu." perkataan Latika membuat Afriadi terteguh, ia behenti mimum rasa-rasanya air didalam mulutnya ingin keluar, mukanya sedikit merah bersemu ingat kejadian subuh tadi.


Susah payah ia menelan air dalam mulutnya.


Bik Ipah hanya heran melihat ekspresi Tuannya itu, pikirannya melayang mengingat subuh tadi ia melihat Tuannya itu lari terbirit-birit keluar dari kamar Latika. Bik Ipah hanya tertawa geli dalam hati, paham dengan perkataan Latika tadi.

__ADS_1


Ehem.. Afriadi berdehem menatap malas Bik Ipah, yang di tatap terkejut cepat melanjutkan kerjanya membawa piring kotor ke belakang.


__ADS_2