
Malam yang tegang mereka lewati setiap detiknya dengan penuh harapan dan do'a yang mereka panjatkan kepada Allah untuk mempermudah menyelesaikan masalah yang mereka hadapi ini, Latika berharap betul dengan di iringi tangisan membasahi pipinya, setiap detak jam berdetak jantungnya berdegup kencang.
Apalah jadinya nasip mereka nantinya?
Penjelasan masing-masing saksi di dengarkan.
Menit berganti menit, jam berganti jam.
Setelah mereka mendengarkan penjelasan dari saksi mata sekarang giliran Latika dan Afriadi yang memberikan penjelasan.
Awalnya Latika gagap dalam bicara, kata-kata yang ia keluarkan bergetar, dia masih ketakutan, "... Saya diajak Bapak Afriadi naik ke mobilnya, dia mau mengantarkan pulang saya menerimanya, lama di perjalanan tahu-tauhunya saya sudah berada di daerah ini, ketika mencari tempat yang cukup untuk memutar balik mobil kemi melihat ada orang yang tergeletak di tengah jalan, tiba-tiba segerombolan begal datang membegal kami, mereka mengambil barang kami dan ketika begal itu ingin..." Latika terhenti ia teringat lagi dengan para begel yang hampir menyentuh dirinya dan Afriadi yang menindihnya, matanya tergetar cairan bening hampir tertumpah lagi.
"Begal itu ingin?," tanya Pak Imam meminta Latika untuk melanjutkan perkataannya.
"Begal itu ingin ingin ingin menyentuh saya Bapak Afriadi melindungi saya, tapi sayangnya Bapak terlebih dahulu terjatuh-"
"Wah, pandai juga kau mengarang cerita." seorang wanita datang, suaranya nyaring memenuhi ruangan, para warga jadi takut meliht wanita itu, wanita berbadan besar dan berototkan lemak sambil mengunyah sirih. Mata Pak Kades membulat melihat wanita itu, "Hy! Kalian si pembuat onar, gara-gara perbuatan kalian desa ini akan terkena bencana."
"Hiii... Haaa..." Hampir saja Latika kena lumet oleh wanita itu, untung saja keburu Pak Kades menarik tangan wanita itu, menariknya pulang.
Ya, dugaan kalian benar.
Wanita itu tidak lain adalah Istrinya Pak Kades.
"Ma, kenapa ke sini? Pulang sana," suara Pak Kades mengecil, menarik Istrinya pulang.
"Apaan sih Pa? Lepas." Bu Kades memberontak mita dilepaskan, tidak mau diajak pulang.
Semua mata warga berpindah perhatian pada mereka berdua.
Pak Kades tersenyum getir di lihat para warganya, "Haduh... Buat malu saja," ucap Pak Kades pelan.
Sekarang giliran Afriadi diminta kejelasan.
"... Ya, saya yang mengajaknya untuk mengantarkan ia pulang, tapi saya salah jalan tahu-tahunya saat kami mau mencari tempat yang cukup untuk membutar balik mobil..."
Para warga yang mendengarkan penjelasan Afriadi tidak percaya dengan apa yang dijelaskan.
"Mereka pandai juga merekayasa."
"Iya, pandai juga karang-karang cerita seperti itu."
"Sudah bersalah tidak mau mengaku lagi, masih saja membela diri."
"Lama sekali selesainya."
__ADS_1
Bisik-bisk para warga.
Tidak lama kemudian Pak Kades datang, baru saja datang sudah dicegat oleh pria berkumis tipis, berbadan kekar, siapa lagi kalau bukan Hansip, "Pak, masalah ini harus diselesaikan secepatnya juga, bagaimana pun penjelasan mereka pasti itu alasan saja."
Pak Kades menerobos maju tidak melayani para warga, ia menghampiri Pak Imam, Pak RW, dan warga yang berpengaruh lainnya yang berkumpul di dalam ruang rapat Balai Desa, di sana mereka berbincang-bincang bertukar pendapat.
"Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?," ucap Pak RW minta pendapat dari mereka.
"Setelah mendengar penjelasan dari mereka semua dapat disimpulkan, berkemungkinan mereka melakukan itu, soalnya banyak para saksi yang melihat-" ucap Rawi.
Agus memotong, ia termasuk warga yang berpengaruh didesa, "Tapi, apakah itu benar, bukanya para saksi mencari mereka cukup lama setelah mereka kehilangan sumber suara-"
"Tidak mungkin pria itu melalukannya pasti begal itu yang melakukannya bukankah pria itu pingsan."
"Mungkin selama itu juga mereka melakukanya, terus yang laki-laki pura-pura pingsan, bukanya para saksi sudah melihat wanita itu, hoo..."
"Jadi kesimpulannya pria itu mengajak sang wanita itu, dengan iming-iming ingin mengantarkannya pulang, tapi ia malah membawa sang wanita ke tempat gelap, mustahil pria dewasa seperti dia salah jalan, sekarang zaman era teknologi minta petunujuk di ponsel bisa-"
"Berarti dia modus pura-pura salah jalan, mungkin saja para begal itu kerja sama dengan para begal, supaya ia tidak akan bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu-"
"Kalau dia bersekongkol dengan para begal, maka dia tidak pingsan, dan wanita itu yang pingsan, ketika sang wanita tidak sadar disaat itulah dia melaksanakan niat busuknya itu, lalu beralasan begal."
"Tapi, wanita itu bilang dia tidak melakukannya."
"Hy! Wanita itu pingsan mana terasa."
Haaa... Semua terkejut, tercengang melirik Pak Kades, minta penjelasan.
"Mungkin ini jalan terbaik untuk mereka, kalau kita hukum mereka dengan rajam atau dera tidak mungkin juga memang 4 orang saksi sudah cukup, tapi buktinya tidak ada..." Pak Kades mengusap wajahnya, "Kalau mereka dilepas begitu saja, Hansip dan saksi mata sudah melihat mereka melakukan itu. Dan tidak mungkin juga kita melepaskan mereka sama saja kita mendukung kemaksiatan, mungkin inilah yang terbaik buat mereka. Jika pun wanita itu hamil, sang pria bisa bertanggung jawab."
Pak imam dan yang lainnya mengangguk-angguk membenarkan perkataan Pak Kades, setuju dengan pendapat itu.
Menit berlalu mereka akhirnya keluar dari ruangan rapat Balai Desa, menuju ke arah Latika dan Afriadi yang di kerumuni warga desa yang memanas.
Mata warga yang merah melotot manatap sinis mereka berdua, mulut mereka tidak henti-hentinya bergerak mencela.
Ckreeek... Cekreeek... Warga yang punya ponsel walau butut itu dianggap orang yang kaya di desa sebab tidak banyak warga yang punya ponsel, warga yang punya ponsel bisa dihitung dengan jari. Para warga yang sibuk mengambil foto mereka berdua, ada yang merekam video juga. Latika dan Afriadi menunduk dalam-dalam, supaya tidak kelihatan jelas mereka. Ada juga warga yang iseng mengambil foto dekat-dekat, akhirnya dapat pelototan mata yang tajam dari Afriadi sampai membuat warga itu takut menjauh cepat-cepat.
Sudah dapat foto dan video mereka sebar luaskan, ingin memberitahu kepada dunia yang lebih tepatnya ingin terkenal saja.
Salah satu di antara mereka termasuk juga si Hansip itu yang paling terlalu membuat status dan penjelasan video dan foto itu.
Pak Kades menghampiri mereka berdua, memberitahukan keputusan mereka, "Tuan ... Kami sudah sepakat untuk menikahkan kalian... Nikahi dia."
Sontak mendengar kata itu Latika dan Afriadi terkejut jantung mereka tambah berdetak kencang memompa darah.
__ADS_1
"Nikah!," suara Latika gemetar ia tidak membayangkan akan jadi seperti ini akhirnya.
"Nikah, tidak Pak saya tidak bersedia." Afriadi menolak untuk menikahi Latika.
"Saya juga tidak mau Pak, umur saya masih muda." Latika ikut menolak juga.
"Ketahuan sekali kalau dia tidak ingin bertanggung jawab."
"Hanya tinggalkan bekas saja tanggung jawab tidak."
Ucap para warga.
"Ya, nikahkan saja mereka," teriak Pak Hansip, "Berani berbuat berani bertanggung jawab."
"Betul..."
"Berani berbuat berani bertanggung jawab."
Sorak warga kembali riuh.
"Apakah ini jawaban dari do'aku ya Allah. Kenapa? Kenapa? Kenapa mereka memutuskan untuk menikahkan kami? Kenapa ya Allah? Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa?," protes Latika dalam hati, air matanya tumpah seketika baru saja kering pipinya sekarang basah lagi.
"Ya Allah kenapa jadi seperti ini?," guma Afriadi.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan saat itu mau menolak pernikahan pun tidak bisa dihindari lagi. Terpaksa, mau tidak mah mereka pun dinikahkan.
Mereka dinikahkan oleh Pak Imam.
Pak Kades, Pak RW, dan Pak Rawi di tunjuk menjadi saksi dalam pernikahan mereka. Bukan sembarangan saksi yang di pilih mereka yang di tujuk sudah berpengalaman dalam hal ini dan mereka cukup memahami ilmu agama.
"Ya Allah, engkau maha mengetahui segalanya, engkau yang maha mengatur segalanya. Hamba pasrah kepadamu, jika ini adalah jodohku, kuatkan dan bukalah pintu hati hamba untuk menerimanya, ikhlaskan hamba ya Allah. Hamba menikahinya untuk mendidik, membimbing ia kejalanmu yang lurus, karena ibadah kepadamu, menjalankan sunah nabi." niat dan do'a Afriadi.
Selama akad pernikahan berlangsung air mata Latika terus tumpah mengalir, air mata suci dari seorang gadis yang di tuduh berzina.
Kalimat yang diucapkan Pak Imam diucapkan kembali Afriadi dengan bunyi yang sedikit berbeda dari Pak Imam sebagai tanda ia menerima Latika sebagai Istrinya.
"Bagaimana para saksi?," tanya Pak Imam kepada para saksi.
"Sah..," jawab para saksi, mereka yang menghalalkan suatu barang yang tadinya haram menjadi halal.
2 insan terikat malam itu, terikat dalam ikatan pernikahan.
Latika menangis sejadi-jadinya, ia tidak percaya kalau ia menikahi seseorang yang tidak terlau ia kenali, apalagi kalau orang itu adalah gurunya sendiri.
Ia tidak sanggup menahan lagi kesedihan yang ia rasakan sampai-sampai membuatnya jatuh pingsan saat Afriadi memberikan mahar kepadanya, mahar yang di berikan Afriadi berupa bacaan surah ar-Rahman, al-Mulk, al-Waqiah, dan al-Kahfi.
__ADS_1
Para warga sempat heboh dibuatnya capat para wanita tanggung menolong Latika, Afriadi terus membacakan ke 4 surah itu, walau Latika pingsan.
Malam itu status mereka sudah berubah bukan perjaka dan gadis lagi tapi melainkan Suami Istri.