
Suasana pagi yang masih segar ini, seharusnya otak masih segar, santai, mudah untuk berpikir, tapi berbanding terbalik dengan suasana ruang rapat guru, pagi-pagi otak sudah sakit di buatnya, telinga terasa panas mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut mereka.
Meja persegi panjang yang panjang, sudah panjang, panjang lagi. Di kelilingi guru-guru,
Afriadi yang duduk di ujung meja, hanya diam mendengarkan perkataan mereka, tangan kanannya memijat pelan kepalanya, tangan kirinya memainkan ponsel, kelihatanya ia pusing jadi mengacuhkan saja.
"... Bagaimana ini, nama sekolah kita tercoreng di masyarakat gara-gara video itu," ucap Raya yang duduk di sebelah kanan Afriadi.
"Hem, itu video sudah tersebar di mana-mana, reputasi sekolah kita bisa hancur," ucap Kamarudin yang duduk di sebelah Raya.
"Ibuku menilai sekolah ini buruk, bahkan tetanggaku juga sudah menilai buruk."
"Iya sama juga denganku. Akhirnya aku yang disalahkan."
"Aku jadi bahan gosip tetangga jadinya."
"Sama aku juga gitu, katanya aku tak bisa mendidik, tak bisa jadi guru."
Keluh guru wanita lainnya.
"Aku juga gitu, bahkan sampai di tuduh yang bukan-bukan lagi sama Bapak Afri," ucap salah seorang guru wanita yang duduk di sebelah Bu Laila tersenyum malu, guru itu sering di sapa Bu Inung.
Semua mata tertuju pada Bu Inung, Afriadi saja melirik tajam, Inung tersenyum getir melihat Afriadi yang menatap tajam, perasaanya tak enak ia seperti berhadapan dengan panglima perang yang kejam dan tak punya hati nurani.
"Siapa pelakunya berani-beraninya dia berbuat begitu, berbuat itu tak berpikir-pikir lagi dampaknya." Raya membentak meja membuat satu ruangan kaget.
"Berbuat itu tak bisa berpikir-pikir lagi apa akibatnya, anak murid yang terlibat dalam kasus ini harus di tangani. Kalau ketahuan pelakunya siapa keluarkan saja langsung.
Murid itu tak punya akal, kah. Sampai melakukan perbuatan yang seperti itu, lebih hina dari binatang lagi," kata-kata kasar Laila sudah keluar.
Afriadi melirik Laila, guru bidang studi bahasa Indonesia yang duduk di hadapan Raya, di sebelah kiri Afriadi.
'Tak punya akal, hina dari binatang lagi' perkataan itu terus berdengung dipikiran Afriadi. Hati Afriadi memanas, Ia tak bisa lagi menahan emosi, "Aku di sebutnya tak punya akal, binatang."
Braaak...
Afriadi membentak meja. Satu ruangan terperanjat, terkejut dibuatnya, semua mata lari melihat Afriadi, mengusap dada mereka.
__ADS_1
"Kenapa?."
"Ada apa?."
Tanya mereka dalam hati.
"Video itu belum tentu membuktikan kalau mereka melakukan perbuatan biadap itu. Itu kan hanya video belum tentu benar, kita cari dulu siapa yang menyebarkan video itu. Saring dulu informasi itu, jangan ikut membicarakan hal yang sama sekali tidak kalian ketahui. Biarlah orang bicara apa, menghina sekolah kita. Ingat saja nanti satu saat kebenaran akan terungkap." dengan nada suara tegas Afriadi menyingung Laila dan semua yang ada di sana. Sontak mereka tertunduk termasuk Laila dia yang paling dalam nunduknya.
"Betul apa yang di katakan Pak Afriadi, belum tentu mereka melakukan seperti yang dalam video. Berprasangkalah yang baik, mungkin saja mereka hanya membuat filem pendek kah itu atau untuk hiburan saja. Tapi salah tanggap oleh masyarakat luas," sahut Sarif yang kebetulan duduk di samping Kamarudin.
"Hiburan gimana, Ustadz. Di berita di jelaskan, narasumber langsung memberitakan dari tempat kejadian. Saya sih gak masalah dengan si penzina itu, mau kena laknat mereka tidak masalah bagi saya. Tapi, ini masalahnya sekolah kita jadi masalahnya." mulut pedas Laila beraksi.
"Tapi kan belum tentu mereka melakukannya." Sarif mengangkat bahunya disertai senyum di wajah yang tergambar bercanda, menatap Laila, "Apa kalian ada di sana saat itu? Berprasangkalah yang baik."
Egh.. Wajah Laila merah bersemu 2 orang laki-laki sudah menyerangnya yang satu menatap sinis dan tajam, yang satu lagi menatap + senyuman manis.
Jantung Laila berdebar kencang 2 orang pria itu masih menatapnya, ia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya. Raya yang duduk di hadapan Laila, bingung melihat anaknya itu dan 2 orang pria yang menatapnya, 'Apa mereka menyukai anakku' pikir Raya.
Ya, Laila adalah anak semata wayang Raya. Laila sekarang hanya memiliki seorang Ayah, ibunya sudah meninggal sejak ia kecil, Raya dulu saat Laila masih SD ia sering mengajak anaknya itu main kesekolah ini, ia juga kenal dengan Afriadi, mereka sering bertemu, Laila yang tak tahu perasaan apa yang melandanya waktu itu, ia sering mengintai Afriadi saat di sekolah, kadang bermain bersama, waktu SMA ia sempat satu kelas dengan Afriadi sewaktu kelas 10 Ipa. Tapi, Afriadi saja yang tak terlalu bergaul dengan wanita.
Kamarudin tersenyum tipis, hatinya melihat teman di sebelahnya ini beradu argumen dengan guru yang kiler itu, "Beraninya, temanku ini tak takut memang pemberani."
Waktu terus berjalan dari 07:40 pagi sampai jam 11:00 siang, mereka masih berada di sana, entah apa lagi yang mereka bicarakan guru-guru yang istirahat ikut bergabung juga dalam rapat. Suasana semakin memanas mulut-mulut pedas mereka tak tertahankan lagi, lepas tampa rem. Panas telinga mendengar perkataan mereka. Afriadi yang tak tahan lagi berada disana rasanya kupingnya mau meledak mendengar kata demi kata yang leluar dari mulut mereka. Aftiadi bangkit dari tempat duduknya membersihkan debu-debu hinaan yang merasa menempel di jasnya padahal debu tak ada di jasnya, berjalan keluar meninggalkan ruangan tampa berkutip.
Semua mata guru wanita melijat Afriadi keluar, mata mereka melihat tapi pikiran mereka melayang, "Yah, pergi," seru mereka dalam hati.
Melihat Afriadi keluar, Sarif pun ikut keluar.
"Yah, pergi lagi," seru mereka para guru wanita dalam hati melihat Sarif keluar.
Di luar Sarif mengajak bicara Afriadi dan sambil berjalan menuju kantor.
"Pak, jangan di pikirkan ucapan mereka tadi, dan jangan jadi beban pikiran, ya Pak," ucap Sarif menepuk punggung Afriadi, tersenyum. Yang di tepuk melirik tajam memasang wajah dinginya yang belum berubah, di tambah lagi kusut raut wajahnya, tambah seram lagi melihatnya. Sarif hanya tersenyum getir melihat Afriadi melepaskan tangannya, "Maaf Pak, memukul punggung Bapak. Pasti tak nyaman."
"Tidak apa, itu biasa," ucap Afriadi mulai tersenyum, tapi tak terlalu jelas, tapi jelas di mata Sarif.
Langkah Sarif terhenti, kepalanya tertunduk, ia berseru dalam hati, "Astaghfirullah. Ampuni dosa hamba Ya Allah. Hamba sudah berburuk sangka pada Pak Afriadi, saya kira dia orang yang kejam, tak suka bergaul dengan orang seperti kami, benci dengan kami. Ampuni dosa hamba ya Allah.
__ADS_1
Ampuni hamba yang telah berburuk sangka."
Afriadi yang terus berjalan, merasa kalau orang di sampingnya tadi tak ada. Menghentikan langkahnya, menoleh melihat yang berdiri di belakang tak jauh darinya, Sarif yang berdiri kepalanya tertunduk diam. Afriadi merasa bersalah dengan sikapnya yang dingin terhadap Sarif, ia mendekat.
"Ada apa? Kenapa berhenti?," tanya Afriadi berdiri di depannya.
Sarif mengangkat kepalanya, ia melihat wajah Afriadi yang tadi dingin sekarang sudah mulai tersenyum, akrab, Sarif membuka mulutnya mulai bicara, "Maaf sebelumnya, Pak."
"Maaf untuk apa?," tanya Afriadi melipat tangannya di depan dada, mengerutkan dahinya.
"Itu, saya sudah berprasangka buruk dengan Bapak, saya kira Bapak orang yang kejam, tak suka bergaul dengan kami semua ...," ucap Sarif mengakui kesalahannya, awalnya Afriadi sempat terteguh mendengar pengakuan Sarif. Ia sadar kalau selama ini ia bersikapa dingin tak banya bicara dengan guru-guru lainnya, dari awal masuk ke sini ia hanya mengenal Raya sedikit guru lama semasa Ayahnya mengurus dulu, sekarang banyak guru baru. Afriadi yang selama ini acuh tak acuh pada semua penghuni sekolah, mungkin karena itulah yang menyebabkan para guru berprasangka buruk, takut-takut segan dengan Afriadi. Ia belum terbiasa dengan semua ini.
***
Kebetulan jam istirahat para murid menghabiskan waktu istirahat mereka. kantin sekolah, teman-teman dekat Latika berkumpul dimeja kantin menyantap makanan yang mereka beli.
Nana dan Salasiah berebut saos, Sahril main game sambil makan. Hana fokus pada makanannya.
Sedangkan Hadi termenung memainkan makanannya, batinya galau, "Ternyata Latika tidak sekolah hari ini. Kenapa ya?"
Teman-teman Hadi berpindah perhatian kepada Hadi, keheranan melihat Hadi seperti itu.
***
Sedangkan di rumah Latika masih terbaring tak berdaya di rumah, Bik Ipah selama sepagian ini mengkompres Latika. Pagi tadi Latika sudah makan sedikit bubur dan obat, sekarang jadwalnya makan siang.
Latika menatap lamat-lamat wajah Bik Ipah wanita paruh baya itu, wajahnya yang keriput tergambar jelas, di tambah lagi dengan raut wajah kelelahan bercampur cemas.
Bik Ipah sudah menjadu pembantu di rumah ini cukup lama sejak Afriadi masih bayi dia sudah ada di sini. Suaminya ada di kampung, suaminya dan orang terpecaya Afriadi mengurus persawahan dan perkebunan Afriadi di kampung.
Tangan keriputnya memegang sendok siap untuk menyuapi Latika.
"Aak.. Non. Biar Bibik yang suapi, setelah ini Non bisa makan obat," ucap Bik Ipah.
Latika menggeleng tak mau, ia tak bisa berkata-kata, hidungnya tersumbat, tengorokannya gatal sampai membuat suaranya hampir hilang, suhu badannya menaik. Jadinya ia tak banyak bicara, sulit baginya untuk bicara. Ia berpaling arah membelakangi Bik Ipah, air matanya tumpah lagi. Bik Ipah menaruh mangkuk bubur itu di meja kecil sebelah tempat tidur, tangannya memebetulkan posisi kompres Latika.
"Non, Non jangan banyak bersedih, ikhlaskan saja semuanya. Mungkin ada hikmah dibalik ini semua. Non, Allah itu maha mengetahui suatu hal yang terbaik baik hambanya. Allah maha mengatur segalanya. Dan Allah juga yang maha memberi rezeki termasuk jodoh, ini semua sudah Allah yang atur, jadi Non bersyukur dan ikhlas menerimanya. Jika sudah sampai jodoh Non, mau bagaimana pun Non menolakanya dan lari, niscaya Allah akan menyatukan Non dengan cara yang tak terduga sama sekali. Non paham maksud Bibik kan? Jangan kalau Non tak akan di cintai. Cinta ada karena terbiasa Non," ucap Bik Ipah menasehati Latika serempak dengan tangannya membelai kepala Latika.
__ADS_1
Perkataan Bik Ipah ada benarnya juga, Latika dapat menerima perkataan itu, rasa sesak di dadanya perlahan menghilang.