Takdir Bintang Kembar

Takdir Bintang Kembar
rapat antar guru


__ADS_3

"kau...!!"


mendengar panggilan itu sun dengan cepat merubah wajah nya kembali tertawa "ha.. ha.. sudahlah ayo kembali"


"ugh... aku mau latihan disini..."


"apapun yang kau ingikan ratu ku"ledek sun membuat moon terkekeh.


mereka berhenti di sebuah tanah lapang semacam arena pertarungan rusak yang mereka sudah temukan beberapa tahun yang lalu.


"haih.. masih bagus ternyata" ucap sun tersenyum puas mereka sudah menggunakan arena itu beberapa kali dan.. sudah hampir menghancurkan seluruh kepingan dari arena itu.


"em.. aku tidak yakin ini masih bagus..."


"bukan kah hebat arena ini masih--"


"ssttt...."


satu panah melesat dengan cepat ke arah mereka membuat mereka kaget.


"zap..."


telat beberapa detik saja mungkin panah itu akan menancap di tubuh mereka.


"ssrrkk... sreekk.."


suara gemerisik di semak-semak membuat sun dengan cepat berlari ke arah semak itu menciba memastikan apa yang baru saja mereka alami.


"eh..."


tidak ada siapa pun di semak itu membuat nya heran "aku akan membunuh kalian lain kali"batin seseorang lalu menghilang dengan cepat meninggalkan kabut hitam di sekitar.


"hem.. ini aneh.."gumam sun menggaruk kepala nya bingung lalu kembali ke arena.


"kau menemukan sesuatu?"


"tidak.. mungkin hanya iseng"


"oh.. jadi..."


"apa kau siap?"tanya moon tersenyum memiringkan wajah nya "oh.. tentu kenapa tidak"


"dengan tangan kosong..."tambah sun membuat moon tersentak"ah.. iya.. kita tidak punya senjata" balas moon mengusap kasar wajah nya kenapa mereka memberikan senjata mereka kepada 2 iblis itu.


note author:


bagi yang tidak tau silahkan baca kembali chapter 90.


...----------------...


"mau gimana lagi..."tambah moon memasang kuda-kuda bersiap menerima serangan.


"hiat..."


sun melompat melemparkan tinju yang sudah dilapisi nya dengan qi dengan cepat di hindari oleh moon membuat sun memukul tanah menyebabkam hancurnya tanah di sekitar nya.


"kau meleset"

__ADS_1


"oh..."


"zzttt.."


sun menghilang dengan cepat sudah berada di belakang nya melemparkan tinju nya yang dengan cepat moon mengeluarkan perisai es nya mencoba menahan tinju itu.


"prang!"


"he.. he.. kena kau"


perisai itu hancur berubah menjadi jarum-jarum es yang dengan cepat mengarah pada titik mirendian sun.


"dasar.. aku mulai benci jarum"gumam sun berusaha menghindar tetapi jarum itu tetap mengikuti nya.


"jleb.."


jarum itu menusuk seluruh berubah arah menusuk titik pergerakan tangan dan kaki nya membuat sun memasang tampang kesal 😑 sekarang ia tidak bisa bergerak.


"kau kalah... "


"oh.. ya?"


seluruh jarum es yang menancap pada tubuh nya meleleh membuat moon mengusap kasar wajah nya ia melupakan hal yang penting.


"kau lupa jarum ini terbuat dari es?"


"hais.. kenapa aku bisa lupa elemen utama mu.."


"oh.. ya? kali ini aku tidak akan lengah!"


"cih! itu memang kenyataan kenapa ribet sekali!"


"tofan kau tidak akan bisa akrab jika begini terus!!"


"diam lah Ragina kau ini sangat sulit memahami kanyataa--"


"duar..!"suara ledakan meskipun tidak terlalu keras di telinga mereka tetapi mereka yakin itu bukan ledakan sembarangan.


"eh.. bukan kah itu bertepatan dengan arah pergi nya moon?"ucap Sizie membuat mereka merinding.


"apa kadua gadis itu bertengkar?"tanya tofan membuat sizie dan Ragina kesal "tentu saja! itu semua berkat diri mu!!"


"wah.. sama-sama"balas tofan dengan percaya diri membuat Ragina marah memukul kepala nya.


>>>>>>>


"duar..!"


"wah.. sudah latihan ya..."


"kraus..."


"kadua gadis itu latihan atau berkelahi?"tanya Nisa sembari mengunyah apel nya.


"aku tidak tau perasa kedua gadis itu sulit di tebak lagi pula hanya kadua murid lama ku yang tau lebih dalam tentang mereka"balas dewa waktu membuat Ther terdiam sejenak.


"maksud mu emas dan perak kau sempat berkata bahwa mereka sedang bersantai di alam baka"

__ADS_1


"ya.. sangat sulit untuk membujuk Raja Ming dia bukan anak kecil lagi"


"aku pernah bertemu dengan nya.. dia orang yang... bertemperamen.. tinggi"ucap Eredhel membuat mereka semua terkekeh geli.


"kau tau hanya dewa matahari yang bisa mengalahkan temperamen nya itu..."


"ya.. serigala sialan itu be--"


"apa kalian melupakan sesuatu?"tanya Amfitrite membuat keadaan menjadi hening.


"benar kita disini untuk membahas kekuatan mereka"tambah prime membuat dewa waktu menghela nafas.


"sebenarnya... selain kedua gadis kembar itu.. yang lain nya hanya memiliki satu elemen utama--"


"brak!"


"APAAA!!!"teriak Nisa menggebrak meja membuat mereka tersentak.


"em.. yah.. tetapi.. ada dua.. murid.. selain mereka.. kalian pasti menyadari mereka bukan?"


"maksud mu kedua anak lelaki yang satu mengenakan penutup kepala dan satu nya lagi selalu memiliki aura suram dan pandangan kosong"tebak Amfitrite diangguki oleh dewa waktu "aku curiga dengan mereka.. aku tidak dapat merasakan.. ataupun menebak satu pun elemen ataupun jurus khusus yang mereka miliki"


"em.. aku tau mereka mencurigakan.. tetapi bukan kah terlalu dini untuk hak seperti itu mereka... hanya ada yang berumur 10 tahun.." lirih Eredhel ia tidak ingin anak-anak itu mangalami masalah.


"haih.. siapa nama nya tadi.. hah! iya sun dan moon astaga.. dewa matahari sialan itu tidak bisa memberikan nama yang unik sedikit..."


"lupakan bagaimana mereka?"tanya Amfitrite tersenyum ia merasa tertarik dengan kedua gadis itu.


"yah... aku tidak heran mereka dapat menguasai seluruh elemen ibu mereka yang baik hati sudah mengumpulkan itu susah payah.. demi anak nya" jawab dewa waktu membuat Eredhel tertegun.


"aku baru ingat kapan kau akan mengirim anak-anak itu ke dimensi lain untuk menjalankan misi?"tanya prime membuat ther kesal.


"kau gila mereka bisa mati bahkan jika baru sampai disana!!"


kabut darah memenuhi ruangan itu membuat Nisa mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya "uhuk.. kau bisa hilangkan ini.. kau benar-benar harus mengkontrol emosi mu"


"tapi biar kata coba lagi pada saat itu hanya kebetulan!!"balas prime ikut berseru kali ini kabut merah itu menghilang berganti dengan kencang nya angin yang berputar mengelilingi ruangan itu.


"kalian.. tenang lah..."lirih Eredhel halus tentu tidak dapat di dengar oleh dua musuh pebuyutan itu.


"em.. mari kita selesai kan deng--"


"DIAM!!! DEWA WAKTU!!"teriak mereka bersamaan membuat dewa waktu bungkam mengangkat tangan nya menyerah.


sedangkan Amfitrite hanya diam dia sangat lelah mengurusi pertengkaran ini.


"BRAAAK!!!"


Nisa menggebrak meja kali ini membuat meja itu hancur berkeping-keping membuat Ther dan prime terdiam seketikan.


Nisa bangun dari kursi berdiri sebagai penengah pertengkaran.


"grap!"


dengan secepat kilat Nisa sudah menggenggam kerah baju mereka membuat mereka menelan ludah kasar "glek.."


"dengarkan baik-baik kalian.. aku hanya ingin hari yang tenang.. membahas masalah yang wajar dan dengan KE-A-DA-AN wajar jadi..jika kalian berisik seperti tadi aku bisa berjanji mengirim kalian ke belahan dunia lain!"ancam Nisa dengan wajah menyeramkan membuat kedua orang itu menurut layak nya binatang yang takut dengan pemilik nya "ba.. ba.. ik Nisa.."

__ADS_1


__ADS_2