
"lepaskan!"
tofan meronta-ronta seperti anak kecil dengan cepat Arisu menyumpal mulutnya dengan gumpalan kain.
"hei... dari mana kau dapat kain itu?"
tanya sun bingung perasaan tak ada yang membawa kain lebih untuk hal semacam ini.
"em... itu aku menemukan kain ini dari baju manusia racun disana"
ucap arisu mengalihkan pandangan cepat membuat sun menepuk jidat bagaimana bisa ada orang seceroboh ini.
mendengar hal itu tofan langsung berusaha melepaskan kain itu dari mulutnya lalu memuntahkan isi perutnya.
"kalian... teman... sia...."
tofan jatuh pingsan membuat semua bersorak senang Hikari dan Arisu langsung melepas tubuh tofan membuatnya langsung terjatuh ke lantai.
"hais.... akhirnya salah-satu masalah selesai"
"baiklah... sekarang kami tanya pada mu apa benar kau butuh penawar dari tubuh racun mu"tanya sun bersandar pada jeruji es santai.
"Ya! jadi kalian tolong mati agar aku bisa hidup normal"
semua langsung tertawa dingin membuat manusia racun itu merinding.
"kau... tau sebenarnya tak ada penawar untuk tubuh manusia racun"ucap moon dingin membuat manusia itu shock.
"kau... kau.. KAU BERBOHONG MEREKA BILANG ADA DAN AKU PERCAYA PADA MEREKA!!!"
"oh.... sobat nasib mu malang sekali"
"eh.... apa yang aku lewatkan"
tofan bangun dari pingsannya tapi langsung di tendang oleh Arisu membuat tofan kembali pingsan dan semua kembali bernafas lega.
"jika kau tak percaya ingin coba aku berani taruhan mereka akan mencari alasan untuk tidak memberikan penawar itu yang memang tidak ada misalnya kau akan di beri misi lagi atau di buang mentah-mentah"
tawar sun langsung di angguki oleh manusia itu.
"jika kau menang kau boleh membunuh kamu tapi... jika kau kalah..."
"apa yang terjadi jika aku kalah"tanya manusia racun itu khawatir membuat sun menyeringai jahat.
"jadi lah teman kami"sun tersenyum bodoh mengulurkan tangannya di antara jeruji itu membuat semua kaget kecuali moon dia hanya tersenyum.
"baik aku menerima taruhanmu"ucap manusia racun menjabat tangan sun entah kenapa ia berharap dirinya kalah.
"kakak...."lirih rose sudah sadar langsung jeruji itu pecah beserta isi ruangan lalu suhu ruangan kembali seperti semula.
"hah... rose"moon menangis memeluk erat tubuh rose membuat rose sesak tapi tetap dia biarkan dia sangat senang kakaknya mengkhawatirkan dirinya lalu membalas pelukan moon.
Setelah lama berpelukan mereka akhirnya melepas pelukannya moon mengusap air matannya.
sun hanya memasang senyum mengejek.
__ADS_1
"kau masih saja cengeng"
tiba-tiba tubuh sun di selimuti es membuat semua kaget.
tak lama es itu meleleh di susul dengan wajah kesal sun.
"kau.... ini tak tau bercanda"
ucap sun kesal menghentak-hentakkan kakinya membuat seisi ruangan itu terkekeh geli.
"hoam... akhirnya aku bangun"
"hei.. sizie bisa tidak perlihatkan buku yang kau dapat dari para bandit itu"
tanya moon hanya dibalas gelengan kepala oleh sizie.
"aku tidak bisa aku tidak bisa mengeluarkan buku itu dari kepala ku"
moon tersenyum mendekat ke arah sizie lalu menekan kuat kening sizie segera tulisan-tulisan china kuno keluar dari otaknya membuat semua kaget moon mengibaskan tangannya segera tulisan-tulisan itu menyatu dan masuk kembali ke dalam kening sizie.
"apa kau merasa lebih baik"tanya moon tersenyum diangguki cepat oleh sizie.
"sangat amat baik! bagaimana cara kau melakukannya"
"ajaran dari mendiang guru kami"ucap moon tersenyum sendu membuat senyum luntur dari wajah sun membuat keadaan mencekam.
"eh... apa yang terjadi"gumam Ragina bingung.
"apa aku menananyakan sesuatu yang salah?"batin sizie khawatir.
"Ah... maaf... maaf... aku terbawa suasana"
"hei... teman aku bangun lagi"
semua sudah lelah untuk membuat tofan pingsan lagi hanya menghela nafas lelah.
"hei... manusia racun kenapa kau masih di sini..."tanya Ragina bingung bukannya di bisa saja lari untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"em..."manusia racun itu juga bingun kenapa dia tidak lari ya... entah kenapa sangat nyaman berada di sana.
"hei... kau ingin memastikan huh... baiklah moon akan ikut denganmu"
"sun! kenapa aku"
"hem... kalau begitu Arisu kau ikut dengannya"
"eh... baiklah"
"aku! aku! ingin ikut"tofan mengangkat tangannya berulang-ulang membuat sun jengkel.
"baiklah sana jangan membuat masalah"
"Yeah!"
akhirnya mereka bertiga keluar ruangan menuju markas mengikuti manusia racun.
__ADS_1
mereka berhenti di sebuah rumah tua takut ketahuan manusia racun masuk sedangkan tofan menggunkan kekuatan angin nya untuk mengangkat
Arisu menuju genteng rumah mengawasi dari atas.
"hei... aku sudah membunuh mereka sekarang mana penawarnya"
"hem... maaf tapi aku tak bisa memberikan penawarnya sekarang"
"kalian! kalian selalu mengelak apa jangan-jangan kalian tak memiliki penawarnya!!"
"maaf kawan tapi memang kami tak memiliki penawarnya sekarang kau mau apa"
"ka... ka... kalian"
langsung kabut racun menjalar kemana-mana tapi sepertinya semua yang ada di ruangan itu sudah tau segera mereka menelan pil putih.
mereka tak terkena dampak racun itu segera mereka mengepung manusia racun hendak menengkapnya tapi dengan cepat pisau angin membelah kabut membunuh semua yang ada di ruangan menyisakan manusia racun sendiri yang sedang terduduk lesu.
Arisu dengan cepat melapisi tubuh menusia racun dengan air (kecuali kepala) lalu membawa dia kembali ke tempat mereka berkumpul tadi.
saat sampai Arisu menjatuhkannya perlahan membuatnya kehilangan keseimbangan hingga terjatuh saat Ragina hendak membantu moon dengan cepat menghentikannya.
"ada apa?"
"jangan menyentuhnya dia belum bisa mengendalikan racunnya dengan baik"
"lalu bagaimana sekarang ia terlihat tidak baik"tanya Ragina khawatir.
"Pang!!!"
tofan memukul kepala manusia racun dengan tongkat membuat semua kaget melihat manusia racun pingsan dan kadar racun di udara menipis.
"Apa cara ini lebih efektih bukan"
"yah.... meski caramu akan membuatnya kesal saat bangun nanti tapi yah... aku tak ingin mengakui ini tapi kau cukup hebat memikirkan cara seperti itu di saat situasi seserius ini" ucap Arisu di angguki oleh semua yang ada di ruannga.
"yap! aku memang cerdas"
"aku menyesal mengatakan itu"
"cih... kalian tega"
"oh.. aku lupa aku bisa telepati atau menyambungkan batin kalian satu sama lain"
"wah... kurasa itu akan berguna dalam kerja sama kali ini"
"kau bisa membaca pikirannya"
ucap sun sambil menunjuk manusia racun yang sedang pingsan di lantai sizie mengangguk lalu menutup matanya.
"nama rin wang asal keluarga rin keluarga yang sudah mati dalam kejadian pembunuhan berantai darah manusia racun menurun dari ibunya darah penyembuh menurun dari ayahnya selalu di jauhi semua orang setelah keluarga rin mati akibat pembunuhan berantai selalu di anggap alasan kematian dan hilangnnya keluarga rin"ucap sizie sambil menutup mata hidunnya mimisan membuat semua kaget.
setelah membuka mata sizie langsung mengusap hidungnya.
"maaf aku hanya tidak terbiasa mendapat banyak informasi secara bersamaan"
__ADS_1