
"hais... Mereka memang sangat kepo"
"eh...."
sun terkejut melihat moon dan rose memandanginya tajam.
"eh.. apa yang terjadi pada kalian?"
"kakak! kenapa kau tidak memberitahu kalo kakak bisa mengendalikan emas aku sangat ingin melihat itu!"
sun tersenyum lalu melempar 5 koin emas koin itu melayang lalu berubah menjadi cair lalu menyatu membentuk patung kelinci kecil lalu memberikannya pada rose.
rose sangat senang lalu melempar-lempar patung kelinci emas itu.
"kakak aku ingin tidur dengan kak Ragina dan kak sizie ya!"
"baiklah..."moon tersenyum lembut.
"cup♥"satu kecupan mendarat di pipi rose membuat rose memerah lalu moon mengeluarkannya dari pagoda.
>>>>>>
"eh... kakak semua masih di sini"
"ya kami menunggu moon dan sun kenapa wajah mu memerah"tanya Arisu.
"aku baru saja di cium di pipi oleh kak moon hal itu membuat rose sangat senang"
mereka membayangkan adegan yang di katakan rose tadi lalu membayangkan diri mereka di posisi rose membuat mereka memerah.
kuro tak merasa peduli hanya diam lalu pergi ke kamar di susul oleh semua berlari dengan wajah memerah membuat kuro hanya menghela nafas apa yang terjadi?kenapa mereka seperti itu? pertanyaan itu muncul tiba-tiba di kepala kuro.
>>>>>>
"ctang!"
suara pedang saling beradu dalam ruang pelatihan pedang yang belum terkena darah terus menyerang satu sama lain.
"jleb!"
satu tebasan pedang sudah menusuk di lengan sun membuat pedang itu meleleh seketika ketika terkena darah.
"prang!"
"hais... ini lama-kelamaan membosankan harus mengganti pedang setiap saat"
protes sun membanting pedang kesal.
moon hanya menghela nafas
"hais... ini juga darah orang tua kita apa yang kau proteskan apa kau ingin menyalahkan orang tua kita karena memiliki darah unik seperti ini?"
"em... tidak juga sih tapi jika sampai kita ketahuan hanya karena darah ini
bisa-bisa kita di buru sekutu kegelapan lagi dan aku tak ingin repot"
"maka jangan terluka pada saat turnamen"
"ya... iya akan kuingat"
__ADS_1
"oh iya,sun saat aku mencoba bermain dengan cincin yang di berikan guru aku menemukan kristal tambahan di dalamnya tapi aku bingung cara membuatnya bekerja?"
"em... aku sudah mencoba segala cara meneteskan darah-"
"kau hanya memikirkan meneteskan darah saja kan?"
"ah... kau benar"
"coba kau ingat-ingat moon apa yang mrmbuat kristal pertama berfungsi"
"em... air mata?"
"yap! kau benar sekali dan bagaimana cara agar air mata kita kembali keluar"
"entahlah kau tau?"
"tentu saja!"
sun menyemprotkan cairan pada mata mon membuat mata moon memerah mengeluarkan air mata segera air itu menetes pada berlian kedua.
lalu sebuah hologram kembali muncul itu dewi perak melihat dewi perak tersenyum membuat air matan sun mengalir tanpa sebab lalu menetes pada berlian keduanya tapi tak langsung menimbulkan reaksi.
"hai... moon apa kau sudah melupakan gurumu ini pasti belum bukan? jangan pantang semangat boleh kah guru mu ini menitipkan sesuatu tolong pukul guruku yang ceroboh itu semoga kalian selalu tersenyum ingat se... la... lu... tersenyum baiklah selesai guru merindukanmu...."
tapi anehnya hologram itu tak langsung menghilang hal itu tak di pedulikan oleh moon yang sedang menangis keras.
sun hanya diam termangu di sana tak lama sebuah hologram dewa emas muncul.
dewa emas tampak memasang raut wajah mengejek andalannya hal itu membuat sun tersenyum.
"hei! murid sialan kau pasti merindukan aku bukan katakan yang sejujurnya saja
hologram itu tak langsung menghilang membuat sun bingung tapi tak di pedulikan nya dia hanya memiringkan senyuman lalu memerhatikan wajah itu lekat-lekat.
"BO!!!"
"KYAAAAA...."teriak moon keras membuat sun kaget hingga terjatuh.
"ADA APA!!"
"tadi... hologramnya tiba-tiba berkata
Bo!"
"eh... aku tau mengkin itu hanya
akal-akalan guru agar kita tidak terlalu tegang"
"hei mana ada dasar murid sialan!"
"heh... kau bisa berbicara hologram"
"kau harusnya kaget dasar murid durhaka"
"em.... wah... aku takut sekali"ucap sun menutup mulutnya menahan tawa.
"*moon ini hanya sisa roh yang kami kurung di cincin ini saat kalian bisa menguasai kekuatan yang kami berikan otomatis segel itu terlepas tapi.... roh kami hanya akan bertahan satu bulan tapi menurut kami itu cukup untuk meluangkan waktu bersama kalian"
ucap dewi perak tersenyum.
__ADS_1
"jadi kalian harus mencari kan boneka untuk roh kami yang sementara*"
"em.... kami sudah menemukan bonekanya apa kau akan masuk sekarang?"
"panggil aku guru dasar murid durhaka"
"eh... apa salah ku coba!"
"guru aku sudah menyiapkan dua boneka apa guru ingin memasukinya sekarang"
"trimakasih banyak moon"
roh dewi perak dan dewa emas perlahan masuk ke dalam boneka khusus yang di sediakan pagoda langsung boneka itu berubah wujud menjadi dewa emas dan dewi perak.
moon menutup mulut nya menangis lalu berlari memeluk erat dewi perak.
sun hanya mengangkat sebelah alisnya ketikan melihat dewa emas muncul kembali dalam kehidupannya serasa takdir memang mempermainkan mereka.
"hei... contohi saudarimu"
sun tersenyum mengejek lalu menjulurkan tangannya kepada dewa emas.
"senang bertemu anda kembali....."
"guru"
tanpa menjabat tangan sun dewa emas langsung memeluk sun erat sun hanya diam air matanya kembali membasahi pipinya.
"aku ini lemah sekali"batin moon dan sun bersama.
"baiklah... bukankah roh jika ingin menetap di dunia harus meminta izin dulu ya?"tanya moon penasaran.
"itu karena raja ming mengizinkan kita selama 2 bulan untuk bertemu kalian"
"raja ming siapa lagi itu?"
"bug!"
"aduh guru datang-datang selalu memukul kepala ku"ucap sun memegangi kepalanya sakit.
"bodoh! itu adalah penentu surga dan neraka raja ming yang agung"
"huek!"
sun rasanya ingin muntah bersamaan dengan moon menatap aneh dewa emas.
"hei... hati-hati jika berbicara tentang dia ya... dia bisa melihat semua catatan hidupmu termaksud yang di bicarakan sekarang"
"jangan dengarkan dia nak raja ming tak bisa melihat hal ini jika kalian keturunan dewa abadi dan agung juga kalian juga bertubuh yin dan yang murni bukan"
ucap dewi perak tersenyum mengusap rambut moon lembut membuat sun dan moon kaget.
"APA!!!"
>>>>>>
"hachu!!"
"ada seseorang yang berbicara buruk tentangku"
__ADS_1
"kau ini aneh sekali apa kau pernah bersin beberapa abad ini? harusnya sih kau tak bisa sakit apa lagi bersin?"