Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 101 Papa Aryo


__ADS_3

Kasih bernafas lega. Setelah mengecek segala macam persiapan acara besar di perusahaan Arga. Semua sudah sembilan puluh persen tingga pelaksanaannya yang akan diselenggarakan besok sore.


Kasih berharap semua kerja kerasnya kini berbuah manis. Meski rasa lelah melanda dirinya. Dia mengusap lembut perutnya yang masih rata.


"Anak pintar, yang kuat ya bantu mommy. Setelah ini Papa kamu pasti akan menyambutmu dengan senang hati." bisik Kasih.


Sementara Laura sejak kejadian di bioskop kini masih saja kesal dan semakin mengganggu Kasih.


Untungnya semua staf di perusahaan Arga selalu baik kepada Kasih sehingga segala bentuk kelicikan Laura untuk mengacaukan pekerjaan Kasih selalu digagalkan oleh staf lain.


Ujung-ujungnya Laura selalu mengadu kepada neneknya. Dia mengatakan bahwa semua karyawan di perusahaan Arga sudah dipengaruhi oleh Kasih.


"Tidak usah cemas sayang, nenek sudah punya kejutan sendiri untuk wanita sialan itu. Nenek pastikan besok Arga langsung malu dan meninggalkannya." tutur Nenek Arga kepada Laura.


...****************...


Setelah memastikan pekerjaannya selesai kini Kasih bersiap untuk pulang. Arga menghampirinya dengan maksud ingin mengantarkan pulang.


"Ayo sayang aku antar." ujar Arga.


"Aduh sayang maaf ya, aku ada janji dengan Kak Alvin. Ini dia sudah ada di depan jemput aku." ujar Kasih.


"Oh, baiklah.. Aku antar ke depan ya." Arga Meraih tangan Kasih dan menggandengnya. Tak ada kecanggungan lagi bagi mereka menunjukkan kemesraan di depan semua orang.


Sementara Laura yang sejak tadi memperhatikan mulai penasaran dengan sosok yang disebutkan Kasih.


"Siapa Alvin?" gumam Laura.


Diam-diam Laura mengikuti Kasih keluar gedung. Dia melihat Arga dan Kasih yang sedang dihampiri seorang pria. Pria itu tampak sangat familiar bagi Laura.


"Loh, itukan cowok yang waktu itu." Laura begitu terkejut saat mendapati Kasih pergi bersama pria itu. Sementara Arga tampak santai dan tersenyum manis seperti biasa kepada Kasih.


Rasa penasarannya yang tinggi membuat Laura langsung mencari rahu kepada staf lain.


"Eh, siapa pria yang bersama Kasih itu?" tanya Laura kepada salah satu staf.


"Oh, itu Alvin. Kakaknya Kasih." balasnya.

__ADS_1


Laura tercengang mendengar hal itu. Ternyata pria yang berpapasan dengannya itu kakaknya Kasih. Memang setelah bertemu Alvin dia sempat terbayang-bayang wajahnya selama beberapa hari.


Sebenarnya dia sempat berpikir jika tak bisa mendapatkan Arga maka dia ingin mencari Alvin. Tak peduli dengan pendapat neneknya. Dia sudah terpikat oleh pesona Alvin.


.


Mobil melesat membelah jalanan ibukota. Kasih dan Alvin kini sedang menuju kediaman Aryo. Mereka sudah janjian untuk makan malam bersama.


Kasih sudah mulai membuka dirinya untuk Aryo. Berkat bantuan Alvin perlahan dia mulai menerima Aryo sebagai Papanya.


Sampai juga mereka di kediaman Aryo. Alvin dan Kasih langsung masuk ke dalam rumah itu.


Aryo yang sejak tadi menunggu mereka langsung menyambutnya.


"Selamat malam Papa." sapa Kasih.


"Selamat malam anak-anakku." Aryo langsung memeluk putra dan putri kesayangannya.


Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Aryo selain bertemu Kasih dan Alvin begini.


"Ayo silahkan, makanan sudah siap. Pasti kalian lelah seharian bekerja kan?" Aryo langsung mengajak Alvin dan Kasih menuju meja makan.


Beruntung Kasih sama sekali tidak merasa mual saat menikmati Hidangan yang disediakan oleh papanya. Sebenarnya dia ingin memberitahu tentang kehamilannya namun dia tak berani. Dia terlalu takut jika Aryo akan berubah dan marah kepadanya.


Biarkan saja entah sampai kapan dia memendamnya. Dia masih ingin menikmati momen-momen yang sempat hilang dari masa kecilnya.


Selesai makan malam Aryo mengajak Kasih untuk duduk berdua. Sementara Alvin masih sibuk menelepon seseorang.


"Sayang, bagaimana persiapan Gala perusahaan Arga?" tanya Aryo setelah selesai menikmati makanannya.


"Semua sudah siap Pa, tinggal eksekusi besok. Do'akan semua lancar ya Pa" ujar Kasih.


"Tentu saja, Papa akan do'akan yang terbaik untukmu sayang. Tapi jangan capek-capek ya..sebenarnya Papa tidak tega lihat kamu bekerja begini." ujar Aryo.


"Tidak apa-apa Kasih bekerja Pa, toh Mas Arga juga tidak pernah memberikan pekerjaan yang berat-berat. Aku senang bekerja karena punya kesibukan." ucap Kasih.


"Baiklah kalau itu maumu. Papa hanya bisa mendukungmu Kasih. Dan soal rencana pernikahanmu bagaimana?" tanya Aryo.

__ADS_1


"Setelah acara Gala ini kami akan segera mempersiapkan semuanya. Rencana bulan depan jika tidak ada halangan Pa." ujar Kasih.


Sebenarnya ada kegelisahan di lubuk hati Aryo. Dimana dia belum dikenalkan Kasih kepada Arga sebagai Papanya. Dia tak ingin memaksa Kasih dalam hal ini. Aryo takut hal itu akan membuat Kasih menjadi semakin tertekan.


"Pa, nanti jika waktunya sudah tepat aku ingin mengenalkan Papa kepada Mas Arga. Dan aku ingin Papa mendampingiku saat menikah nanti." Kasih berbicara seolah tahu apa yang sedang di pikirkan Aryo.


"Kasih, Papa sangat senang mendengarnya. Tentu saja sayang, Papa pasti akan mendampingi mu. Arga pria yang baik, Papa sudah mengenalnya sejak lama." Aryo tak kuasa menahan kebahagiaannya. Tak sadar air mata keluar dari sudut netranya.


Melihat Kasih Aryo selalu teringat akan Hana, tak disangka buah cinta mereka tumbuh menjadi sebuah berlian yang begitu cantik.


"Papa kenapa?" tanya Kasih dengan suara lembutnya.


"Kamu mengingatkan Papa akan Mamamu nak, dia pasti sangat bangga melihat putrinya tumbuh secantik ini" ucap Aryo berkaca-kaca.


"Papa sangat mencintai Mama?" tanya Kasih sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aryo.


"Hmm.. Mama mu adalah perempuan yang sangat luar biasa." ungkap Aryo sambil mengusap lembut kepala Kasih.


Sementara Alvin yang baru saja menelepon hendak kembali menemui Aryo dan Kasih.


Namun dia terhenti setelah melihat ayah dan anak itu sedang bermanja. Ada rasa haru menyelimuti dirinya. Dia begitu senang melihat Kasih dan Papanya bisa dekat seperti itu.


Namun jauh di dalam benaknya dia merasa sedih juga. Sesayang apapun Aryo kepadanya Alvin masih saja dia merasa canggung. Andaikan dia seperti Kasih, lahir sebagai darah daging Aryo.


...****************...


"Sayang, kau terlihat sangat cantik. Bidadariku pasti yang terbaik." Arga tak berhenti memuji Kasih yang saat ini sedang bersiap untuk acara Gala.


Dia mengenakan gaun berwarna putih tulang se lutut. Warna kesukaan Arga saat Kasih memakainya.


Sangat pas di tubuh Kasih. Auranya terpancar berkali-kali lipat. Dan sungguh, Arga semakin tidak sabar untuk menikahi gadis pujaan hatinya itu.


"Mas, aku gugup." ujar Kasih yang terlihat gelisah sejak tadi.


"Gugup kenapa sayang? Tidak usah khawatir. Semua akan berjalan lancar." Arga meyakinkan Kasih.


"Jangan terlalu banyak pikiran sayang, nikmati saja semuanya malam ini. Aku yakin kerja kerasmu akan terbayar. Terimakasih ya, sudah menjadi wanita terhebatku. Aku janji setelah ini hanya akan fokus kepadamu." Arga mengusap lembut pipi Kasih. Kemudian memeluknya dengan penuh cinta.

__ADS_1


Tak ada hal terbaik selain pelukan hangat Arga yang begitu menenangkan.


...****************...


__ADS_2