
Canggung, itulah suasana yang meliputi Kasih saat ini. Bagaimana tidak, seorang yang dia anggap profesional sebagai kolega bos sekaligus tunangannya itu ternyata adalah papa kandungnya.
Bahkan sang kakak pula yang sudah mengetahui baru mengatakannya sekarang.
Lantas apa yang harus Kasih lakukan? Bahkan sekedar berekspresi saja sulit.
Namun rasa mual itu kembali datang. Kali ini lebih kuat sehingga mau tak mau Kasih harus minta ijin ke toilet.
"M-maaf, boleh saya ke toilet?" tanya Kasih.
"Iya, silahkan di sana. Alvin tolong antarkan" pinta Aryo yang masih sama canggungnya.
Kasih pun setengah berlari ke toilet dan langsung memuntahkan semua isi perutnya. Entah kenapa dia menjadi begini. Mungkin karena pikirannya yang mendadak syok.
"Kasih, kamu sakit?" Alvin mulai khawatir melihat adiknya yang tampak pucat.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah kak" ujar Kasih.
Keduanya kembali ke ruangan Aryo. Tampak pria itu sedang berdiri dengan tatapan khawatirnya.
"Kasih, kamu tidak apa-apa, nak?" Aryo segera menghampiri Kasih dan mempersilahkan duduk di sofa.
'nak' panggilan yang diucapkan Aryo itu nampaknya membuat Kasih semakin berdebar. Sungguh? Dia benar-benar ayahku? Dia memanggilku seperti itu? Hati Kasih terlalu berkecamuk saat ini.
"i-iya Pak.. Anu.. S-saya baik-baik saja" bahkan Kasih tak bisa berucap dengan benar.
"Kasih, mungkin ini sangat mendadak dan membingungkan untukmu. Tapi sungguh, papa mencarimu selama ini. Dan saat bertemu denganmu papa benar-benar sangat bahagia. Akhirnya aku bertemu anak-anakku." ucap Aryo memulai pembicaraan.
"T-tapi.. Kenapa Kak Alvin tak pernah mengatakannya?" Kasih akhirnya merespon.
Alvin yang awalnya diam mau tak mau harus jujur.
"Maaf, sebenarnya.. Kakak terlalu takut kamu akan meninggalkanku lagi Kasih. Karena kakak belum bisa membahagiakanmu. Apalagi, kakak adalah anak dari pembunuh mama." Alvin tertunduk lesu.
"Kak.. Siapa yang akan meninggalkanmu? Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu. Dan jangan pernah menyalahkan dirimu atas masa lalu." Kasih meyakinkan.
"Tapi.. Kau akan tinggal dengan om Aryo sebentar lagi." ujar Alvin.
"Kak, kenapa harus begitu? Kita bisa bersama. Dan soal Pak Aryo. Maaf aku perlu waktu untuk berpikir." Kasih tak berani menatap Aryo.
Meski terpancar guratan kekecewaan namun Aryo paham. Butuh waktu untuk Kasih mencerna semua ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak, Papa akan menunggumu sampai siap." ujar Aryo berlapang dada.
Kasih hendak berpamitan namun dia hampir lupa tujuan awalnya yaitu meminta tanda tangan persetujuan beberapa berkas proyek.
Kasih pun memberikan berkas itu kepada Aryo untuk dipelajari sebelum dibubuhkan tanda tangannya.
"Terimakasih Pak, maaf jika boleh tolong jangan katakan hal ini kepada Pak Arga dulu. Biar saya yang memberitahunya sendiri. Suatu saat nanti" Kasih pun berpamitan dengan Alvin dan Aryo.
"Biar Alvin mengantarmu Kasih." ujar Aryo.
"Tidak perlu Pak, sudah ada sopir yang menunggu." Kasih pun segera berlalu dari kediaman Aryo.
Saat Melangkah keluar dia berbalik dan menatap sejenak kediaman megah itu. Sungguh, tak pernah sekalipun dia menyangka bahwa dia adalah anak dari pemilik istana tersebut.
Begitu kontras dengan kehidupannya yang sebelumnya itu. Kasih hidup serba terbatas dengan mengais belas kasih seseorang yang bahkan sangat terpaksa merawatnya.
Sekedar makan saja Kasih harus memohon jika ayah angkatnya tidak ada di rumah. Mengingat hal itu membuat Kasih tersenyum getir.
Hidup yang dijalaninya saat ini benar-benar berbanding terbalik dengan masa lalunya. Sejak bertemu Arga hingga Alvin dia merasa di ratukan oleh dua pria itu.
Rasanya Kasih tak lagi menginginkan lebih lagi. Begini saja sudah cukup membuatnya sangat bahagia. Hanya tinggal satu hal yang lebih membahagiakan nanti adalah dimana dia resmi menikah dengan Arga.
Kasih tampak senyum-senyum sendiri ketika membayangkan dirinya bersanding mesra di pelaminan. Sejenak lupa akan kondisi tubuhnya yang masih lemas.
Dengan langkahnya yang sedikit tertatih akhirnya Kasih terpaksa melepas heels yang dia pakai.
"Mbak Kasih kenapa? Sakit ya?" tanya salah satu staf resepsionis.
"Nggak tau nih bawaannya pusing terus dari tadi." ujar Kasih.
"Mbak pucet banget loh. Mau dibantu ke ruangan mbak?" tawarnya.
"Boleh deh" akhirnya staf tersebut mengantar Kasih ke atas.
"Mbak mau di ruangan mbak sendiri atau di ruangan Pak Arga?"
Kasih berpikir sejenak. Sebenarnya dia ingin ke ruangannya sendiri. Namun dalam kondisinya saat ini dia tak ingin diganggu Laura yang saat ini berada satu ruangan dengannya.
Di ruangan Arga sebenarnya dia masih merasa sungkan. Tapi tak apa lah. Toh Arga tak mungkin marah padanya.
"Di ruangan Pak Arga aja deh." jawab Kasih.
__ADS_1
Setelah memasuki ruangan tersebut dirinya langsung merebahkan diri di sofa. Sambil memikirkan kejadian hari ini. Lama kelamaan dirinya merasa begitu mengantuk dan akhirnya tertidur pulas.
Sementara Arga yang baru saja selesai meeting langsung diberi tahu staf bahwa Kasih sakit dan berada di ruangannya.
Dia langsung berlari dan bergegas menuju ruangannya. Dan benar saja, Kasih sedang tertidur lemas dengan wajahnya yang tampak pucat.
Perlahan Arga mengusap lembut pipi Kasih dan mengecek suhu tubuhnya. Tak begitu demam.
Sementara Kasih yang merasakan belaian lembut di wajahnya pun langsung tersadar. Dia membuka mata dan melihat Arga sudah berada di sampingnya.
"Mas.." panggil Kasih pelan.
"Sayang kita ke rumah sakit ya. Aku khawatir denganmu" pinta Arga dengan nada khawatirnya.
"Tidak, tidak usah mas. Aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan" tolak Kasih.
"Terus gimana sayang? Aku khawatir terjadi sesuatu padamu."
"Boleh aku izin hari ini untuk istirahat di rumah saja?" tanya Kasih.
"Tentu saja sayang, aku antar ke rumah kalau begitu." Tak menunggu lama Arga langsung mengangkat tubuh Kasih dan menggendongnya ala bridal untuk keluar kantor.
Arga tak peduli lagi dengan pandangan orang lain. Yang dia inginkan hanyalah membuat Kasih nyaman dan menuruti segala keinginannya.
Sementara Laura yang hendak mencari Arga pun dibuat terkejut sekaligus memanas dengan pemandangan yang ada.
"K-kalian mau kemana?" Buru-buru Laura menghampiri Arga dan Kasih.
"Mau antar Kasih pulang." ujar Arga tanpa menolehnya.
"Aku ikut." ujar Laura lagi.
Namun balasan Arga hanya dengan pelototan matanya sudah mengisyaratkan bahwa dia tak boleh ikut.
Dengan hati yang dongkol Laura terpaksa menahan diri. "Awas saja, akan ku hancurkan hubungan kalian."
...****************...
Alvin nampak begitu gelisah setelah berbicara dengan Aryo. Saat Kasih pulang tadi Aryo dan Alvin tampak berbicara serius. Hal itu pula yang membuatnya semakin bimbang.
Apalagi disaat dirinya berencana menikahi Ratna, ingin sekali Alvin menyampaikan kepada Kasih tentang kabar ini. Namun setelah apa yang terjadi pagi tadi agaknya Alvin harus menunda lagi niatannya.
__ADS_1
"Tidak sekarang, aku akan memberi tahu Kasih jika sudah dekat saatnya saja."